Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 93 Terimakasih


Alana pulang kerumahnya, dan hari sudah mulai senja. Alana pulang dengan bersiul-siul, walaupun nada siulannya tidak jelas apa yang keluar dari bibirnya.


"Paa, dengar. Sepertinya Alana sudah pulang, dengar suara siulannya, sepertinya anak kita lagi gembira ," ucap mama Alana.


Wujudnya belum terlihat, tapi suara siulan cemprengnya sudah terdengar sampai keruangan keluarga.


"Mama cemas paa, jangan-jangan Alana betul-betul betul melamar Dony !" seru mamanya.


"Nggak apa-apa dong maa, tandanya anak kita pemberani !" ujar papa Alana.


"Huss..pemberani apanya, yang ada kita yang malu. Anak gadis melamar .." ucapan mama terhenti, Alana sudah berada di dekat mereka dengan bibir nyengir.


"Hai...mama dan papa, Alana ada permintaan !" seru Alana dengan menampilkan wajah yang serius.


"Nah..maa, tebakan mama betul ." bisik papa Alana.


"Aduh..malu kita dengan calon besan ." mama Alana menepuk jidatnya.


"Kenapa maa, pusing ya ?" tanya Alana seraya mendekati tempat duduk mama dan papa.


Alana meletakkan bokongnya diantara mama dan papanya.


"Nak, kenapa gembira. Apa ada kabar gembira ?" tanya papa .


"Hemhh.. begini papa, tadi Alana jalan-jalan dengan Dony" ujar Alana.


"Terus..! jadi Alana melamar Dony ?" tanya mamanya dengan tidak sabar.


"Jadi, tapi kata Dony. Dia yang ingin melamar ," ucap Alana dengan santainya.


"Alana !" mamanya menutup wajahnya.


"Apa yang Alana ingin katakan kepada mama dan papa ?" tanya papanya.


"Al ingin bayi !"


Huuk...huuk..


Mama dan papa Alana kaget, sampai terbatuk-batuk. Begitu mendengar ucapan Alana yang menginginkan seorang bayi.


"Kenapa ?" Alana melihat kearah mama dan papanya secara bergantian.


"Al, kalau ingin bayi. Kita tunggu kabar bahagia dari Richard dan Aisha ya, kalau Alana belum boleh punya bayi sekarang ini," kata mama Alana, dan menggenggam tangan putri semata wayangnya.


"Alana harus menikah dulu." sambung papanya.


"Bayinya bukan dari Alana maa, tapi dari mama dan papa ."


"Apa !" teriak mamanya .


Sedangkan papanya, hanya dapat menggaruk-garuk rambutnya. Walaupun tidak terasa gatal.


"Kenapa ? pulang-pulang terus ingin bayi, apa Dony tidak mau menikah ?"


"Bukan maa, kalau Alana menikah dengan Dony. Nunggu dua atau tiga bulan, keburu Aisha hamil ."


"Apa hubungannya dengan Aisha, heit.. tunggu dulu. Apa ini ada hubungannya dengan kepergian Richard honeymoon tanpa mengatakan apapun kepada Alana ?" tanya mamanya.


Alana menganggukkan kepalanya.


"Al, nggak mau kalah. Al nanti punya adik Bayi, Om Richard nggak bisa sombong !"


"Aduh..anak papa, segitu kesalnya kepada Om nya ." tertawa papanya.


"Bukan kesal lagi, tapi super-super kesal !"


Alana bangkit dari duduknya, dan menatap wajah keduanya.


"Alana mau adik !" Alana pergi meninggalkan kedua orangtuanya, yang bingung menatap Alana.


"Paa, lihat anakmu !" seru mama Alana.


"Anak kita berdua maa, adonannya kita yang buat ," kata papa Alana.


"Papa tuh salah menggoyang, bukan mama yang salah mengandung !" mama Alana pergi meninggalkan suaminya.


"Salah menggoyang, salah mengandung. Apa maksudnya ?" bingung papa Alana.


***


Richard dan Aisha makan malam terakhir di langit Inggris.


Dibawah gemerlap bintang di langit, Richard membawa Aisha berdansa.


"Mas say, Aish tidak bisa berdansa ," ujar Aisha.


"Nggak apa-apa, pelan-pelan saja ." Richard memeluk Aisha dan membawanya mengikuti irama musik yang mengalun dengan merdu.


"Aduh..maaf mas ." kaki Aisha menginjak kaki Richard, hampir membuat Aisha terjatuh.


"Begini saja, naikkan kaki Asay kekaki mas ." titah Richard.


"Nanti sakit kaki mas say ," ujar Aisha.


"Nggak, ayo ."


Aisha menaikkan kakinya menginjak kaki Richard, dan Richard memeluk pinggang Aisha kedalam pelukannya. Sehingga tidak ada jarak memisahkan kedua badan Richard dan Aisha.


"Aisha, terimakasih. Telah mau menerima orang tua ini ." bisik Richard.


"Mas ." Aisha mendongak melihat wajah Richard.


"Siapa bilang mas say tua, mas itu Mateng. Aish merasa terlindungi, berada disisi mas say ." balas Aisha.


Karena Aisha tidak pernah mengenal sosok ayah, begitu menikah dengan Richard. Aisha merasa ada yang melindunginya dan menyayanginya.


"Apa Asay benar-benar bahagia menikah dengan mas ?" tanya Richard.


Aisha menatap wajah Richard, dan menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih ."


Richard memegang dagu Aisha, dan mendekatkan bibirnya. Richard mendaratkan kecupan ke bibir Aisha dengan lembut dan tidak terburu-buru.


Ciuman dibawah langit London, dan diiringi alunan musik biola. Membuat Richard dan Aisha melupakan orang-orang yang berdansa bersama dengan mereka. Aisha terhanyut dengan belaian bibir dan belaian tangan Richard dipunggungnya.


Tautan bibir keduanya terlepas, begitu alunan musik biola berhenti.


Richard membawa Aisha kembali ke meja mereka.


"Mas say, terimakasih. Hari ini hari yang tidak bisa Aish lupakan ," ujar Aisha.


Richard meraih jemari Aisha, dan menariknya kearah bibirnya. Dan mendapatkan kecupan.


"Mas yang harus mengucapkan terimakasih, terimakasih. Karena telah mau menjadi istri mas, Terimakasih ."


Cup


Cup


Dua kecupan mendarat di jemari Aisha.


"Ayo kita kembali ke hotel, besok pagi-pagi sekali. Kita harus berangkat ke bandara."


Dengan berjalan kaki, Richard dan Aisha menuju hotel. Karena jarak tempat mereka makan malam, tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap.


***


Tus..


Ciitttt....


Mobil yang dikendarai David dan Mayang oleng, karena tiba-tiba mobil ban David meletus.


"Aaaarghhh...!" Mayang kaget, mendengar suara letusan.


"Siapa yang menembak kita !" seru Mayang panik .


"Bukan tembakan, ban mobil meletus."


"Aku kira kita diserang begal!" ujar Mayang.


David keluar dari dalam mobil, diikuti oleh Mayang.


"Sial! teriak David.


"Ada apa, jangan bilang kau tidak ada ban cadangannya ?" tanya Mayang, saat didengarnya David berteriak setelah melihat bagasi mobilnya.


"Ada bannya, tapi aku lupa menempel ban cadangannya," kata David.


"Apa ! kenapa kau begitu ceroboh ? bagaimana sekarang ?" tanya Mayang dengan melotot melihat David.


"Dengan terpaksa kita menunggu orang untuk membantu kita ," kata David.


"Kalau tidak ada orang yang lewat bagaimana ? ini sudah jam berapa ? ah... kenapa aku sial sekali ." Ujar Mayang dan menendang mobil David yang kempes.


"Tenanglah, pasti akan ada orang yang menolong kita," David kembali masuk kedalam mobilnya.


"Kalau tidak ada, apa kita harus bermalam disini ?" omel Mayang.


"Iya, sepertinya. bencana ini membuat kita tidur bersama ." tawa David.


"Hei.. kapan kita tidur bersama !" ketus suara Mayang.


"Ini, jika tidak ada yang menolong. Terimakasih ban, kau telah melakukan perbuatan yang baik !" kata David.


"Dasar orang edan !"


Mayang mengeluarkan ponselnya.


"Tidak ada signal, daerah antah berantah mana kita ini. Apa jalan ini sudah benar, kenapa tidak ada mobil yang lewat ?" mata Mayang melihat keluar dari kaca mobil.


David mengambil tasnya dari tempat duduk belakang, dan mengeluarkan botol minum dan roti.


"Minum ." David memberikan minuman dan roti kepada Mayang.


"Kenapa kau ada minuman dan roti, aku curiga. Jangan-jangan ban meletus kau sengaja ?"


"Mayang, segitunya kau menilai diriku. Di mobil ini aku sering menaruh minuman dan roti, karena aku sering kelaparan. Aku tidak merencanakan ini semua ."


**Bersambung...


Terimakasih atas like dan komentar ❤️❤️❤️**