Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 243 Ada yang Julid


Tetap sehat selalu kakak-kakak reader, salam sayang selalu. Dan tetap semangat.


Happy reading guys ❤️


***


Para gadis putri klien Richard, merasa kecewa. Karena putra Hutama sudah sold out semua, tidak ada yang tersisa.


"Kita terlambat, mereka bertiga sudah menikah. Aku tertarik dengan putra tertua, dia seorang bisnisman. Seperti Tuan Richard Hutama" ujar salah satu kliennya, yang di undang Richard.


"Besannya Tuan Richard Hutama, sepertinya tidak dari kalangan pengusaha" ujar seorang lagi.


"Besan Tuan Richard itu seorang pengusaha, dia pemilik restoran. Dan restorannya itu dirintisnya sejak dia masih sebagai mahasiswa" ujar seorang lagi.


"Dari mana Tuan tahu?" tanya rekannya bicara.


"Karena saya ada kerja sama dengan besan Tuan Richard, dan anaknya itu. Yang menikah dengan putri Tuan Richard adalah pengusaha muda dalam bidang kuliner" ujar orang itu lagi.


"Oh..saya kira kalangan biasa," ujar pria yang datang bersama istri dan putrinya.


Klien Richard datang dengan membawa putri masing-masing, karena mereka mengetahui bahwa ada satu putra Richard yang belum menikah. Ternyata, hanya kekecewaan yang ada. Ketiganya sudah sold out.


"Anak kedua Tuan Richard menikah dengan janda?" tanya rekan bisnis Richard kepada istrinya.


"Apa? sayang sekali, lebih baik tadi dengan putri kita" ujar istri rekan bisnis Richard.


"Janda juga tidak apa-apa Ma, itu tandanya Tuan Richard bukan orang yang mengekang kehidupan anak-anaknya. Yang penting anak bahagia" kata suaminya.


Istrinya melengos mendengar perkataan suaminya.


"Janda! seperti tidak ada gadis saja " gerutu istrinya.


Bukan tanpa sebab banyak mulut lambe nyinyir bersuara nyelekit, karena baby Julio tidak mau pisah dari gendongan Vania dan Kenway.


Alana yang mendengar perkataan orang tersebut berhenti.


"Ada apa Om, Tante?" tanya Alana kepada sepasang suami istri tersebut, karena dia juga mengenal orang tersebut. Karena keduanya teman arisan mamanya.


"Hei..Alana !" keduanya kaget, melihat Alana berada dibelakang mereka duduk.


"Tante Marrisa bilang apa tadi?" tanya Alana.


"Tidak ada Al," ucap Marrisa dengan perasaan gugup, karena ketahuan membicarakan anak-anak Richard.


"Oh..! Alana kira ada yang mau Tante tanyakan, dari pada ghibah nggak jelas dan tambah dosa lebih bagus tanya langsung saja Tante" kata Alana.


Dari kejauhan, Ivan melihat raut wajah Alana yang tidak biasa saja. Bergegas menghampiri Mamanya.


"Ada apa Maa?" tanya Ivan.


"Tidak ada apa-apa, permisi Tante Om. Jika tidak ada yang ingin ditanyakan" Alana dan Ivan berlalu meninggalkan Marrisa dan suaminya.


"Mama kalau ngomong lihat tempat, lihat. Keponakan Richard, kelihatan marah dengan kita" ucap suaminya.


"Mama bilang yang benar, anak ganteng begitu! nikah dengan janda."


"Itu anak kedua Tuan Richard, menikah dengan janda!" ujar Mamanya kepada putranya.


"Janda? siapa? Vania!" ujar putrinya.


"Sania kenal?" tanya mamanya.


"Tidak begitu kenal, tapi dia bukan janda Maa. Anak yang bersamanya itu, anak kakaknya yang sudah meninggal" kata Sania.


"Tuh..kan ! Mama sudah dosa, Julid sama orang," ujar suaminya.


Wajah istrinya masih mode cemberut, tidak terima disalahkan.


Keempat pasang pengantin, tersenyum menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Hanya Jessie yang terlihat cemberut, memandang wajah Rodrick sesekali. Karena Rodrick selalu menggodanya jika tidak ada tamu undangan memberikan ucapan selamat.


"Jes..Jes..!" Rodrick metowel-towel lengan Jessie.


"Apa?" mata Jessie bulat sempurna memandang wajah Rodrick.


"Ayank lapar ," ujar Rodrick, dengan menunjukkan wajah memelas.


"Ayank..ayank! siapa ayank?" Jessie memanyunkan bibirnya.


"Jes! bibir jangan di gitukan. Khilaf nanti ayank," ujar Rodrick gemas melihat bibir pink Jessie manyun.


"Pak Dokter jangan macam-macam ya!" ancam Jessie.


"Nggak Jes, hanya satu macam saja. Ingin..." Rodrick mengerucut bibirnya kearah wajah Jessie.


"Ingin apa?" tanya Jessie jutek.


"Cup..cup..kiss..kiss..ciumlah dikit saja..!" mata Rodrick mengedip-ngedip genit menatap wajah Jessie.


"Pak Dokter kemasukan roh pohon ya?"


"Tidak Jes, ayank kemasukan roh cintamu!" goda Rodrick.


Blush..


Pipi Jessie memerah, mendengar gombalan receh Rodrick.


*


*


*


Bersambung 😘


Terima kasih atas like, komentar dan vote 👍


Maaf masih ada typo, maklum. typo itu sahabat para penulis..