
Semoga kita semua tetap dalam keadaan sehat selalu, dan tetap menjaga jarak aman.
Happy reading guys ❤️
**
Kenway tidak menyangka, Vania yang baru 18 tahun. Telah memiliki seorang putri.
"Hai Ken, akhirnya kau datang juga ." suara Marco yang menyapanya dari belakang, membuat pandangan Kenway beralih kepada Marco.
"Ada apa ?" tanya Marco, karena melihat kebingungan di wajah temannya tersebut.
Setelah melihat keberadaan Vania, diteras samping bersama dengan baby Julio. Marco tahu apa yang ada dalam pikiran Kenway.
"Ayo kita duduk disini ." Marco membawa Kenway duduk agak menjauh dari tempat duduk Vania dan baby Julio.
"Pasti Vania mengatakan bahwa itu bayinya kan ?" tebak Marco.
"Iya, apa bukan bayi Vania?" selidik Kenway.
"Bukan, itu keponakan kami ," kata Marco.
"Keponakan? anak ?" Kenway menunggu jawaban dari mulut Marco.
"Corrie." jawaban Marco membuat Kenway kaget, dan tidak percaya. Apa yang baru saja didengarnya.
"Corrie !?" kaget Kenway mendengar perkataan Marco, dia tidak menyangka gadis manis yang dikenalnya dulu. Ibu dari anak yang diberi susu oleh Vania.
Marco menceritakan apa yang menimpa Corrie saat baru masuk kuliah.
"Saat melahirkan bayinya, Corrie tidak bertahan. Dia meninggal." cerita Marco dengan perasaan yang sedih.
"Apa laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab?" tanya Kenway.
"Tidak ! laki-laki itu kabur. Kami juga tidak mengenalnya, sekarang Vania yang mengurusnya. Sedangkan Mama dan Papa, belum bisa menerima kehadiran anak Corrie." cerita Marco.
"Kak Marco, tolong jaga Julio. Vania ingin kebelakang sebentar." Vania meletakkan baby Julio dipangkuan Marco.
Mata Kenway mengawasi pergerakan Vania yang berada didekatnya, saat memberikan baby Julio kepada Marco.
"Dia masih muda, dan mau memegang tanggung jawab mengurus bayi yang bukan anaknya." batin Kenway.
Kenway menghampiri Marco dan mengusap pipi baby Julio.
"Boleh ku gendong ?"
"Kau sudah ingin punya baby?" goda Marco seraya memberikan baby Julio kepada Kenway.
"Bisa ?" tanya Marco.
"Bisa, aku dulu suka gendong adekku. Waktu itu aku masih kecil lagi." Baby Julio anteng didalam pelukan Kenway, sampai dia tertidur.
"Tidur," ujar Vania saat melihat, baby Julio sudah terpejam.
"Tidur! kau bisa jadi babysister, bisa membuat baby cepat tidur." gurau Marco.
Vania mengambil baby Julio, saat mengambil baby Julio. Wajah keduanya saling bertatapan, Vania mengambil baby Julio dan kemudian masuk kedalam rumah.
"Vania sangat sayang dengan baby Julio, sampai-sampai dia ingin cuti kuliah. Tapi kami tidak mengizinkan, dan diambil pengasuh untuk menjaga baby Julio saat Vania pergi kuliah." cerita Marco.
"Kasihan, masih kecil sudah kehilangan orang tuanya," kata Kenway.
"Kami tidak mengawasi Corrie, karena dia dulu anak yang pendiam. Kami tidak mengira, begitu dia masuk ke universitas dan jauh dari keluarga. Hal memalukan ini yang dilakukannya," kata Marco.
"Vania kuliah dimana?" tanya Kenway.
"Dulu dia dapat universitas negeri diluar pulau, tapi karena Corrie melakukan hal memalukan. Papa dan Mama tidak mengizinkan Vania jauh, akhirnya Vania kuliah didekat sini. Biar bisa kami pantau, kami tidak ingin kehilangan lagi ," jawab Marco.
"Kak, Vania mau belanja dulu ya. Tolong lihat Julio," kata Vania.
"Jauh nggak?" tanya Marco.
"Nggak kak, mau beli susu Julio. Sudah habis " kata Vania.
"Naik apa? mobil dibawa Papa dan Mama."
"Ojek saja, nggak jauh," sahut Vania.
"Biar aku antar, aku juga ada yang mau dibeli." Kenway menawarkan diri untuk mengantarkan Vania.
"Tidak usah kak." tolak Vania.
"Biar diantar Kenway, biar cepat pulang ." titah Marco.
Karena desakan Marco, akhirnya Vania mau pergi bersama dengan Kenway.
Dalam mobil hanya keheningan yang ada, Vania menatap kearah luar jendela mobil. Sedangkan Kenway fokus dengan kendaraannya, sesekali melirik kearah Vania.
"Van !" panggil Kenway.
"Ya kak ," sahut Vania dengan melihat kearah Kenway sekilas, kembali menatap kedepan.
"Apa kau tak khawatir, orang salah paham. Saat kau mengakui baby Julio sebagai baby mu ?" tanya Kenway.
"Biar saja, baby Julio memang putraku. Walaupun bukan aku yang mengandungnya, tapi saat dia masih berada dalam kandungan kak Corrie. Aku yang mengurus mereka berdua," kata Corrie.
"Apa kau tidak khawatir, kau masih kecil. Dan sudah punya baby, orang beranggapan kau pasti gadis nakal?" Kenway melirik Vania.
"Untuk apa perduli dengan perkataan orang, Tuhan tahu. Aku tidak seperti itu, itu cukup bagiku kak ," kata Vania.
Kenway tidak memperpanjang percakapan lagi sampai mereka di Mall.
Kenway terus berada disamping Vania, saat Vania mencari susu dan makanan baby untuk baby Julio. Mereka terlihat seperti pasangan muda yang membeli perlengkapan bayi, untuk baby mereka sendiri.
"Baby Julio sudah setahun kak ," sahut Vania.
"Apa bagus makanan kotak begini?"
"Sesekali tidak apa-apa," sahut Vania.
"Mommy ku, selalu masak untuk adikku," kata Kenway yang mengingat Aisha selalu masak sendiri makanan untuk Vely.
Vania menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Kenway.
"Kak Ken punya adik kecil?" tanya Vania.
"Dulu, 17 tahun yang lalu ," ujar Kenway sambil tertawa kecil.
"Oh... Vania kira sekarang ini ." Vania melanjutkan langkahnya, mencari kebutuhan untuk baby Julio.
"Ini tidak perlu?" Kenway iseng menunjuk kearah pompa ASI.
"Kakak!" wajah Vania bersemburat merah merona.
"Kakak tahu itu untuk apa?" tanya Vania dengan mendelik menatap Kenway.
"Tahulah! memang kakak bodo, mommy dulu ada begitu juga ," kata Kenway.
"Kalau tahu, kenapa kakak tanya ke Vania. ASI siapa yang mau Vania pompa?" manyun bibirnya.
"Hehehe...!" Kenway mengaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah membayar di kasir, Vania menuju kearah pakaian bayi. Dan membeli jaket Hoodie untuk baby.
"Biar kakak yang bayar."
"Tidak usah kak !" tolak Vania.
"Tidak apa-apa, anggaplah sebagai kado untuk baby Julio," kata Kenway.
Vania tidak membantah dan menunggu dibelakang Kenway.
Kenway mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang cash untuk membayar jaket yang dibeli oleh Vania.
"Ini " Kenway memberikan paper bag berisi jaket, kepada Vania.
"Terima kasih kak," ujar Vania.
"Barang yang ingin kakak beli apa ?" tanya Vania, karena Kenway tidak membeli apapun juga.
"Tidak jadi, tadi mau beli buku. Vely mesan minta dibelikan buku, tapi tiba-tiba dia membatalkannya," kata Kenway.
"Vely?"
"Vely, adik bungsu." beritahu Kenway.
"Kita makan dulu, kakak lapar ." Kenway mengelus perutnya.
"Kakak belum makan malam?" tanya Vania.
Kenway menggelengkan kepalanya.
"Ayolah."
Keduanya menuju restoran yang ada di Mall.
**
Setelah bercerita didalam kamar Mada, Vely ingin pulang kerumahnya.
"Wah.. sudah malam !" seru Vely, saat melihat jam menunjukkan pukul 9 malam.
"Aku pulang ya, aku sudah ngantuk." sambung Vely.
"Besok jadikan, aku bosan dirumah terus " kata Mada.
"Ok, bye.."
Vely keluar dari dalam kamar Mada, rumah Mada dalam keadaan sepi. Karena kedua orangtuanya Mada sedang berada dirumah Neneknya.
Ketika melewati kamar Dama, tiba-tiba orang yang dihindarinya keluar dan menarik Vely masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu.
"Kak Dama !" mata Vely melotot.
"Kenapa menghindari kakak?" tanya Dama.
"Nggak ada !" Vely mendorong tubuh Dama yang memepetnya, sampai badan Vely mentok didinding.
"Kalau tidak, kenapa tinggal ditempat Oma ?" tanya Dama, wajah Dama mendekati wajah Vely. Sehingga napas Dama terasa di wajah Vely.
"Kak Dama ." Vely menundukkan wajahnya.
Tangan Dama mengangkat dagu Vely dan...
Cup
"Ingat, bibir ini sudah kak Dama beri stempel...
*
*
Bersambung 😘..
Bantu..like..like...