
Kalau suka dengan ceritanya, bantu like ya kakak❤️❤️.
***
Aisha turun dengan setengah berlari, menyambut kedatangan Alana. Seperti sudah tidak bertemu dengan Alana bertahun-tahun.
Richard yang mengikutinya dari belakang, juga heran.
"Al !" seru Aisha dan langsung memeluk Alana.
"Hei Non, hei salah. Nyonya, kenapa ? apa kau ribut dengan Om Richard ?" tanya Alana, yang kaget mendapatkan pelukan dari Aisha.
"Alana ! pertanyaan mu itu !" Richard yang menjawab pertanyaan Alana, yang menyusul Aisha dari belakang.
"Sorry Om !" nyengir Alana.
Aisha mengurai pelukannya, dan menatap wajah Alana dengan penuh kerinduan.
"Ayo kita sarapan dulu ." Aisha mengandeng Alana dan melewati saja Richard tanpa melihat kearahnya.
"Ada apa dengannya ?" heran Richard.
Di meja makan, Aisha mengambilkan sarapan Richard. Yaitu roti bakar dan telur setengah matang.
"Al, mau sarapan apa ?" tanya Aisha.
"Aku sudah sarapan dirumah, Aish. Aku ikut kursus memasak, sekarang aku sudah bisa goreng telur !" ujar Alana dengan perasaan yang bangga.
"Kursus, hanya untuk bisa menggoreng telur ?" tanya Richard.
"Om, menggoreng telur itu bukan hanya asal menggoreng. Ada trik nya agar enak ," kata Alana.
"Apa trick ya ?" tanya Aisha.
"Tricknya, gorenglah telur jangan dengan cangkangnya !" kata Alana Alana dengan gaya seperti sedang mengiklankan satu produk.
"Goreng telur, memang tidak ikut cangkangnya Al ," kata Aisha.
"Tapi, aku pertama kali goreng telur. Cangkangnya ikut. Dan itu sangat tidak enak !" seru Alana.
"Semua orang juga tahu, goreng telur dengan cangkangnya tidak enak !" tertawa Richard melihat keponakannya.
"Om, boleh minta tolong ," kata Alana kepada Richard.
"Apa ? jangan minta istri Om tidur denganmu dirumah ," kata Richard.
"Hehehe..kok Om Richard tahu ya !" ngekeh Alana.
"Om tahu, isi dalam pikiran mu !" Richard mengacak-acak rambut Alana.
"Hih.. Om kusut nih...!"
"Pulang dari fitting baju, antarkan Aisha pulang langsung kerumah ya. Jangan mampir kemana-mana ," kata Richard.
"Kalau ingat Om ," jawab Alana, untuk menggoda Richard.
"Awas, kalau tidak nurut. Om tidak izinkan lagi pergi kemanapun ." ancam Richard.
"Mas say !" rengek Aisha.
"No ! tidak ada bantahan ," ujar Richard.
"Hih.. nyebelin ," ucap Alana dengan suara yang sangat sangat pelan.
"Om dengar Al " ujar Richard.
"Oh..satu lagi, hampir Al lupa. Mayang mengatakan mereka sudah pindah ke dekat rumah Om Richard, rumah yang mana Aish ?" tanya Alana.
"Rumah depan ," jawab Aisha.
"Depan itu ?" tanya Alana tidak percaya.
"Iya ," jawab Aisha.
"Seru ya bisa tinggal berdekatan, Om. Ada nggak yang kosong didekat sini, Al juga mau tinggal didekat Om dan Aisha ," ucap Alana tiba-tiba.
"Apa ! Tidak bisa, cari perumahan yang lain saja !" tolak Richard.
"Om Rich !" seru Alana Dengan mendelik.
"Kenapa kalian mau saling berdekatan, apa kalian tidak bosan. Bertemu terus menerus ?" tanya Richard.
"Tidak !" jawab Alana dan Aisha bersamaan.
"Kalian seperti anak kembar ," ujar Richard.
"Om, sudah jam 7:45. Apa Om tidak kerja ?" tanya Alana.
"Mengusir Om ini ?" tanya Richard.
"Nggak Om, ini rumah Om. Masa Al usir ," jawab Alana.
Richard bangkit, sebelum pergi. Richard mengulang kembali pesannya.
"Ingat, langsung pulang !" kemudian Richard keluar, menuju ketempat mobilnya terparkir.
Sebelum Richard masuk kedalam mobilnya, kepala muncul dari pintu kecil dari sebelah post satpam.
"Bocah tengil ." guman Richard.
David menghampiri Richard dan senyuman dibibirnya.
"Hai mas besan !" sapa David.
"Berubah lagi, sekarang mas besan ." guman Richard.
"Salam kenal mas besan, saya tetangga depan. Mau kenalan ," ucap David.
"Dari segitu banyaknya bertabur perumahan, kenapa harus kau yang menjadi tetangga ku ," kata Richard kepada David .
"Aku juga heran mas besan, kenapa kita juga menjadi tetangga. Mungkin kita memang sudah ditakdirkan untuk menjalin hubungan persaudaraan, dengan cara kita menjadi besan ," kata David.
"Bagaimana, jika kau besanan dengan Alana saja ." selesai berkata Richard masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan David.
"Boleh juga usul mas besan, satu besanan dengan Dony. Dan yang satu dengan mas Rich, aku harus cetak anak dulu ." David kembali dengan cepat kerumahnya.
"Silahkan pak ," jawab Pak Mun, yang sudah kenal dengan tetangga depan yang sangat friendly dengan dirinya.
***
Sebelum menuju butiq, Alana dan Aisha mampir kekampus dahulu. Untuk menemui dosen pembimbing.
Karena dosen pembimbing mereka sama, Aisha dan Alana masuk secara bersamaan.
"Kenapa kalian masuk secara bersamaan ?" tanya Bu Marisa dengan menatap Aisha dan Alana, Secara bergantian, sembari memeriksa skripsi keduanya.
"Biar cepat urusannya Bu, kami ingin pergi ke butiq," jawab Alana .
"Lebih penting beli pakaian, atau urusan skripsi kalian ini?" tanya Bu Marisa .
"Hemhh.? Alana mengusap-usap dagunya sembari berpikir.
"Keduanya Bu, kalau skripsi untuk supaya selesai kuliah. Kalau ke butiq , biar Alana cepat dihalalin Bu !" ucap Alana dengan bibir yang tersenyum.
"Halalin ?" heran Bu Marisa dengan kelakuan Alana yang terkenal sedikit badung, tetapi pintar.
"Bu, Alana mau nikah !" nyengir Alana dan menunjukkan cincin dijemarinya.
"Aaaa...!" mulut Bu Marisa terbuka lebar.
"Bu tutup mulutnya, nanti lalat masuk ." gurau Alana
Bu Marisa menutup mulutnya, dan menatap wajah Alana.
"Kamu itu masih muda, kenapa ingin menikah cepat. Contoh Aisha, Dia masih sibuk ngurus kuliahnya !" seru Bu Marisa, dan menatap wajah Aisha.
Aisha menundukkan kepalanya, ia merasa malu. Karena Bu Marisa membuat dirinya menjadi contoh.
"Hahaha..! Bu, Al ini yang terlambat. Alana lebih tua, sudah dilangkahi dengan Aisha!"
"Apa maksudmu ?" tanya Bu Marisa kepada Alana.
"Al !" Aisha berusaha untuk menghentikan ucapan Alana.
"Nggak apa-apa Aish, Bu Marisa mulutnya nggak bocor kasar ," kata Alana.
"Kamu ! mengejek ibu ya !" semprot Bu Marisa kepada Alana.
"Peace Bu !"
"Gini ya Bu, Aisha itu sudah sold out. Sudah laku, Alana kalah !" kata Alana.
Aisha hanya dapat mengaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.
"Kamu sudah menikah Aisha ?" tanya Bu Marisa kepada Aisha.
Aisha hanya menganggukkan kepalanya.
"Dasar! mulut Alana, bocor kasar ." gerutu Aisha dalam benaknya.
Bu Marisa hanya dapat menggelengkan kepalanya, Dia tidak habis pikir. Kenapa dua mahasiswi cantik dan pintar, begitu cepat menikah.
"Ternyata, kalian berdua sudah mendahului ibu ," ucap Bu Marisa
"Maaf Bu, stok pria dalam keluarga Alana sudah habis. Yang terakhir sudah dipesan oleh ibu Aisha ," ujar Alana.
"Aww...!" cubitan kecil mendarat di lengan Alana.
"Tante kecil, kenapa Al dicubit !" ringis Alana.
"Mulut !" delik Aisha.
"Tante kecil ?" bertambah heran Bu Marisa, dengan kedua mahasiswi dihadapannya tersebut.
"Aisha menikah dengan Om Alana Bu, tapi Om Al masih muda ya !" ujar Alana.
Aisha hanya dapat menepuk jidatnya.
"Sudah kan Bu, kami permisi dulu. Nanti kami akan perbaiki apa yang salah ." Aisha langsung menarik tangan Alana untuk keluar dari dalam ruangan Bu Marisa.
"Kau ini Al, semua kau ceritakan kepada Bu Marisa !" ujar Aisha.
"Nggak apa-apa Aisha, kita berbagi cerita gembira. Ayo let's go ." Alana mengandeng tangan Aisha.
****
Laporan Bu Yanti, kepada mama Richard. Membuat mama Richard menyeret putri sulungnya untuk datang kerumah Richard.
"Aisha, Richard !" teriak keduanya dengan heboh.
"Nyonya, Den Richard dan Aisha tidak ada dirumah !" ucap Bu Yanti yang datang dari dapur, karena mendengar suara mama Richard dan kakaknya.
"Pergi !"
"Iya Nyah, kalau Den Richard kekantor. Kalau Non Aisha, pergi dengan Non Alana ," kata Bu Yanti.
"Iya maa, Alana tadi pamit. Mau kekampus, kemudian ke butiq. Bersama dengan Aisha" kata Chintya.
"Kamu ini, kenapa tidak bilang dari tadi !"
"Mama sih, narik Chintya. Lihat nih, Chintya masih pakai daster ." Chintya menunjuk daster yang dikenakannya saat ini.
"Bu Yanti, coba ceritakan. Apa yang terjadi dengan mereka berdua ?" tanya mama Richard.
Bu Yanti menceritakan semua, apa yang dilihatnya.
"Pasti Aisha hamil, karena mama dulu begitu saat hamil Richard," kata mama Richard.
"Dasar Richard, tahu nya buat saja ," ujar Chintya.
"Bagaimana Dia tahu, Dia belum pernah punya istri. Sedangkan Aisha masih muda, Bu Yanti. Sore nanti kami akan kesini lagi ."
*
*
*
Bersambung guys ❤️❤️