
Happy reading guys ❤️
**
Setelah mendapatkan teguran dan wejangan dari Dama, Mada juga mendapatkan teguran juga dari Keane. Setelah dia turun menuju ruang makan.
Mada selesai berdandan dengan seadanya, langsung turun. Begitu tiba dilantai bawah, Mada melihat Keane berada di meja makan. Hanya ada Dama dan Keane, sedangkan kedua orang tua mereka. David dan Mayang masih berada dikediaman kedua orang tua David.
"Pagi" sapa Mada kepada Dama dan Keane.
"Pagi " balas Keane.
"Mada, selesai sarapan. Siap-siap ya." titah Keane kepada Mada.
Seraya mendudukkan bokongnya, Mada bertanya kepada Keane.
"Mau kemana kak Keane?" tanya Mada.
"Kita mau menjemput grandfa dan uncle Edward" kata Keane.
"Opa bule sampai hari ini?" Mada dan Vely memanggil Daddy dari pihak mommynya Opa bule.
"Iya" senyum kecil dibibir Keane, mendengar Mada memanggil grandfa dengan panggilan Opa bule.
"Oma bule ikut?" tanya Mada lagi.
"Katanya tidak ikut, karena tidak ada yang mengurus usaha penyewaan kapal. Tapi mommy sudah mengancam grandma, jika tidak datang. Mommy tidak mau mengunjunginya kesana lagi," kata Keane.
Setelah terakhir Daddy-nya ke Indonesia, Aisha dan Richard sudah mengunjungi Daddy dan adiknya dua kali. Yaitu saat pernikahan Edward dan saat Daddy-nya sakit.
Mada hanya mengambil sepotong roti, dan minum coklat.
"Kenapa hanya itu, makan nasi goreng itu juga ." titah Dama kepada Mada, matanya menatap wajah Mada dengan tajam. Sehingga Mada menurut apa yang disuruh Dama.
"Keane, kau jangan lembut dengan anak ini. Anak ini harus di kerasin, lihatlah. Kita selalu mengikuti keinginannya, apa yang terjadi!" seru Dama kepada Keane.
"Kau juga harus begitu kepada adikku, Vely itu anak kecil yang manja. Karena banyak yang menyayanginya, sehingga sedikit susah diatur" ucap Keane kepada Dama, mengenai Vely.
"Kita saling bertukar tanggung jawab ya" tertawa Dama, begitu juga dengan Keane.
Sedangkan Mada, hanya menunjukkan raut wajah yang cemberut Nasi goreng yang sudah berada di piringnya, hanya diaduk-aduk tanpa dimasukkan kedalam mulutnya. Mada merasa bertambah orang yang mengawasinya, walaupun dulu Keane juga sudah ikut mengawasi setiap langkahnya.
Keane melihat Mada hanya memainkan sarapan di piringnya, bibir Mada manyun.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Keane.
"Kak Keane kenapa tidak makan?" tanya Mada, tidak menjawab pertanyaan Keane terlebih dahulu.
"Kakak sudah sarapan di rumah, makan. Jangan seperti orang tidak dikasih makan, malu. Anak pemilik restoran, anaknya saja kurus. Tidak berbentuk begitu!" kritikan pedas keluar dari mulut Keane.
"Aaa..! kurus ?" Mada melihat kearah tubuhnya.
"Kakak itu harus pakai kaca mata! kurus apanya? lihatlah !" Mada bangkit dari duduknya dan menunjukkan tubuhnya yang berisi menurut Mada.
"Sudah makan, badan tiang listrik saja bangga" ujar Dama.
Keane tertawa, mendengar ucapan Dama yang diperuntukkan untuk mengejek Mada.
Dengan bibir ngerucut, Mada mengunyah nasi goreng. Mada menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya dengan porsi sesendok penuh. Membuat pipi Mada menjadi tembem.
Keane dan Dama hanya saling tukar pandangan, bibir mereka tersenyum. Melihat Mada.
"Sudah, aku duluan. Istriku sudah menunggu" kata Dama.
"Bukannya, Vely sudah libur kuliah. Sudah selesai ujian," kata Keane kepada Dama.
"Lupa " Dama menepuk jidatnya, seraya meninggalkan Keane dan Mada.
Sepeninggal Dama, hanya kebisuan yang ada di meja makan. Keane sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Mada masih dengan nasi goreng yang tinggal sedikit.
Mada menggeser piring, setelah selesai menyantap nasi gorengnya.
"Kakak tunggu didepan" Keane keluar, dan menunggu Mada didekat mobilnya didepan rumah Richard.
Begitu Mada datang, Keane menyuruhnya untuk bergegas masuk kedalam mobil.
"Ayo"
Mada masuk kedalam mobil, dan kemudian Keane.
"Kita kekantor dulu, karena grandpa tiba jam 12 siang" kata Keane.
"Kekantor?" tanya Mada.
"Malu, Mada tidak pernah kekantor kakak. Nanti Mada dipelototi para fans fanatiknya kak Keane" ucap Mada.
"Fans fanatik? emang kakak artis? ada-ada saja isi otak ini ?" jemari Keane menunjuk kepala Mada.
Mada nyengir.
Setelah setengah jam dalam perjalanan, mereka akhirnya tiba di gedung perusahaan.
Tangan Keane meraih jemari Mada, dan mengandeng Mada memasuki area lobby perusahaan.
Melihat kemunculan Keane dengan seorang gadis, muncul pertanyaan yang berseliweran didalam benaknya pegawai yang belum tahu. Bahwa mereka sudah menikah, dan seminggu lagi resepsi mereka di gelar.
"Kak, lepaskan" Mada berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Keane, tetapi genggaman tangan Keane erat menggenggam jemari tangannya.
"Kenapa?" Keane melirik Mada.
"Malu, lihat. Mereka melihat kearah kita" ujar Mada.
"Biar saja, mulai sekarang biasakan untuk menjadi sorotan mata orang. Kita juga tidak berbuat salah, kita halal. Apa yang di malukan?" kata Keane.
Sampai didalam lift, tangan Keane tetap menggenggam jemari Mada.
"Seperti mau nyebrang saja, pegangan tangan" batin Mada.
Didepan ruang kerja, Jack sudah menunggu kedatangan Boss nya.
Keane masuk kedalam ruangan kerjanya, tangan Mada masih dalam genggaman tangannya.
"Si Boss, seperti takut kehilangan istri saja. Dalam ruangan saja, tangan istri tidak dilepaskan" dalam benaknya Jack, melihat Keane terus menggenggam jemari Mada.
"Kak ." Mada menggoyang-goyangkan tangannya.
"Duduk dulu, tidak akan lama" ujar Keane dan melepaskan pegangan tangannya.
Jack menyerahkan tas tabung tempat menyimpan gambar, yang dibawanya kepada Keane,
Keane kemudian mengeluarkan gambar desain dari tas tabung tersebut.
Keduanya dengan serius melihat desain yang terbentang diatas meja kerja Keane.
Kening keduanya mengkerut, menatap gambar desain tersebut.
"Ada yang aneh?" tangan Keane bersedekap didadanya, matanya lurus menatap desain.
"Iya Boss," sahut Jack, dia juga seperti Keane. tangan bersedekap didadanya, kening mengkerut.
Mada melihat apa yang dilakukan Keduanya, diam-diam mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar Keane.
Mada tersenyum melihat gambar Keane yang di potretnya secara diam-diam.
"Ternyata, kerjaan Kak Keane sungguh berat. Mungkin rambut kak Keane akan memutih belum saatnya." batin Mada.
Mada terus tersenyum melihat ponselnya, Keane melihatnya. Dan merasa heran, apa yang membuat Mada tersenyum ? hal apa yang membuat Mada tersenyum, sehingga membuat Keane penasaran.
"Aku belum bisa menemukan apa yang kurang dalam gambar ini, kau berikan ke bagian tim desain. Diskusikan, dua hari lagi kita bahas didalam meeting" titah Keane.
Jack keluar dari dalam ruangan kerjanya Keane, dia sempat melihat. Mada tertawa sendiri menatap kearah ponsel yang dipegangnya.
Begitu Jack keluar, Keane langsung menekan remote. Dan pintu langsung terkunci secara otomatis.
"Apa yang dilihatnya, kenapa dia tertawa melihat ponselnya?" gumam Keane.
Keane berjalan dengan perlahan mendekati Mada, dan melihat apa yang menjadi bahan tertawaan Mada.
"Ternyata, dia mengambil foto kami secara diam-diam"
Keane merampas ponsel Mada, dan duduk disisinya. Kemudian mengangkat Mada untuk duduk dipangkuan Keane.
"Kak Keane!" Mada panik dan kaget, tiba-tiba tangan Keane merampas ponselnya. Dan mengangkat tubuhnya, disini dia berada. Diatas pangkuan Keane.
Tangan kekar Keane melingkar di pinggangnya.
*
*
*
Bersambung 😘🙏