Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 48 kedatangan sahabat


Larasati duduk disamping samping Alana.


"Bukankah ini..?" Larasati lupa dengan nama Mayang yang dulu sering datang kerumahnya.


Mayang Tante ," ucap Mayang.


"Mayang, Tante lupa. Sudah lama tidak kerumah," kata Larasati.


"Mayang kuliah dikota asal Mayang Tan..," kata Mayang.


"Tante, mana Aisha ?" tanya Alana dan matanya terus memperhatikan keluar, dia mengharapkan Aisha muncul dari belakang ibu Aisha tadi.


Larasati menarik napas, dia melirik kearah ibunya.


"Maaf, jika saya ikut campur. Kami sudah tahu apa yang menimpa Aisha Bu. Nek ," kata Richard membuka suaranya.


Nenek dan Larasati kaget, mereka saling pandang.


"Alana menerima ancaman, orang itu mengirimkan gambar-gambar Aisha saat tidak sadar." Richard mengeluarkan gambar yang diterima Alana dan memperlihatkannya kepada nenek dan Larasati.


Nenek dan Larasati menerima dan melihat gambar tersebut.


"Astaghfirullah..!" nenek mengusap-usap dadanya.


"Bu..!" shock Larasati melihat gambar Aisha, walaupun tertutup selimut. Terlihat Aisha tidak memakai busana, terlihat bahu putih Aisha yang tidak tertutupi oleh selimut.


"Bukan ini saja yang Alana terima, masih ada ancaman yang terkirim ke ponselnya Alana ," kata Richard, dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pesan yang diterima Alana.


"Ya.. Allah, apa mau orang itu ?" tanya Ibu kepada Richard.


"Larasati, pergi ke Yayasan. Jemput Ais ." perintah nenek.


"Ais tidak disini nek ?" tanya Alana.


"Dia di Yayasan." kata nenek.


"Boleh kita ke sana nek?" tanya Mayang.


"Tidak usah, biar Aisha saja kesini. Di sana tidak nyaman untuk kita mengobrol seperti ini ." kata Nenek.


"Boleh saya ikut ?" tanya David kepada ibunya Aisha.


"Jangan ! tunggu disini saja ," nenek takut Aisha belum mau untuk menerima orang bertemu dengan dirinya, sehingga dia tidak mengizinkan siapapun untuk bertemu dengan Aisha


Larasati bergegas keluar, menuju ke Yayasan. Sedangkan nenek meraih ponselnya dan berusaha untuk menghubungi Wisnu.


Ketika hubungan telepon tersambung, dengan cepat nenek memerintahkan Wisnu untuk kembali.


***


"Kenapa kita tidak boleh ikut ?" tanya David kepada Dony.


"Mungkin jauh," jawab Dony.


"Bisa kita mengunakan mobil ," ucap David yang penasaran kenapa mereka tidak diizinkan menemui Aisha di Yayasan.


"May, apa kau tidak penasaran. Kenapa kita tidak boleh ke Yayasan untuk menemui Aisha ?" David bertanya kepada Mayang.


"Mungkin, di Yayasan banyak wanita. Sehingga jika kau datang, mereka akan menggerumunimu ," ucap Mayang dengan menjahili David.


"Gila..!" semprot David, dan kemudian bangkit dan berjalan keluar untuk melihat-lihat sekitarnya rumah nenek Aisha.


"Apa yang kau tanyakan kepada Mayang tadi ?" tanya Dony yang mengikutinya dari belakang.


"Aku penasaran, apa ada yang terjadi dengan Aisha. Melihat nenek dan ibunya Aisha sangat mencurigakan ," kata David.


"Apa yang kau curigai ?"


"Entahlah, hatiku berkata ada yang tidak benar. Semoga tidak ada yang terjadi kepada Aisha."


"Bagaimana, jika..." Dony menghentikan ucapannya, saat melihat ibu Aisha kembali. Dan disampingnya berjalan dua orang,yang seorang memakai baju Dokter dan yang satu memakai celana panjang dan jaket hodie menutupi badannya dan kepalanya. Sehingga orang tidak tahu dia seorang wanita atau pria, karena baju menutupi lekukan badannya.


"Ayo ." tangan Larasati menarik Aisha untuk masuk.


"Ayo jangan takut ," ucap Dokter Yuni yang mendampingi Aisha yang masih belum bisa untuk bertemu dengan orang banyak.


Melihat kedatangan Larasati, nenek bangkit dan meraih tangan Aisha dari genggaman tangan Larasati.


Orang-orang yang berada dalam ruangan menatap ibu Aisha yang datang bersama dengan Dokter, dan seseorang yang memakai baju jaket hodie tertutup. Sehingga tidak ada yang mengetahui siapa yang berada dibalik jaket Hoodie tersebut.


"Ayo, jangan takut. Buka jaketnya ya ." nenek berusaha untuk membuka jaket yang dipakai Aisha, tetapi Aisha memegangi dengan erat.


"Ya sudah, kalau tidak mau dibuka." nenek membawa Aisha duduk didekatnya.


"Nek..?" Alana membuka suaranya, dan menatap Aisha. Yang tidak dikenalinya, karena tertutup Jaket hodie yang dikenakannya.


"Ini Aisha ," kata nenek sambil memeluk cucunya.


"Aisha !?" Alana dan Mayang kaget melihat Aisha yang menutupi sekujur tubuhnya dengan jaket.


"Kenapa ? Aish..," Alana mengambil kruk dan berdiri dengan dibantu oleh Richard, dan berjalan mendekati Aisha yang duduk dengan menundukkan kepalanya. Sehingga wajahnya tidak terlihat.


"Ais.." Mayang duduk dilantai dan tangannya meraih kedua tangan Aisha kedalam genggamannya.


"Aisha.." Alana duduk disamping Aisha, setelah nenek menyuruh untuk Alana duduk disamping Aisha .


Nenek duduk disamping Richard, dan menceritakan kondisi Aisha yang sempat depresi dan kehilangan ingatannya.


"Hai..kawan, kau jahat. Kenapa kau pergi tanpa kabar, apa kau tidak mau berteman dengan kami lagi ?" Alana menangis, begitu juga dengan Mayang.


Sedangkan Dony dan David berdiri terpaku, dia tidak tahu apa yang harus diucapkannya.


Mereka tidak mengira, apa yang terjadi kepada Aisha. Membawa perubahan besar terhadap kehidupan Aisha.


David memutar kepalanya dari memandang Aisha, dia mengusap sudut bola matanya yang sudah basah.


"Sabar Vid ," ucap Dony dan menepuk-nepuk pundak David.


"Aku akan membalaskan ini semua kepada Gaby, kalau emang dia yang melakukannya ," ucap David.


"Kita akan menyelidiki ini semua," kata Dony.


"Ais, apa kau tidak ingin melihat kami. Kami rindu Ais ," Alana memeluk Aisha, begitu juga dengan Mayang.


Terdengar suara Aisha yang menangis, dan tangannya terangkat dan memeluk kedua temannya.


"Ais..Ais..!" seru Alana dan Mayang secara bersamaan.


"Kami rindu " ucap Mayang.


Larasati yang duduk disampingnya, secara sedikit demi sedikit membukakan penutup kepala Aisha. Dan terlihat wajah Aisha yang suram, yang biasanya cerah kini terlihat pucat tidak bercahaya.


"Ais, kenapa kau tidak mengatakan kepada kami. Apa kau tidak menganggap kami sebagai saudaramu ?" tanya Alana.


Aisha tidak mengeluarkan sepatah katapun juga, dia hanya mengeluarkan isakan tertahannya dimulutnya.


Saat Alana dan Mayang berbincang dengan Aisha, nenek dan Richard beranjak sedikit menjauh. Nenek dan Richard berbicara dengan serius, Entah apa yang mereka bicarakan.


Wisnu masuk kedalam rumahnya dengan setengah berlari, karena dia tidak tahu apa yang terjadi dirumahnya. Nenek hanya menyuruh dirinya untuk segera pulang.


"Ada apa ?" mata Wisnu menatap tamu yang berada didalam rumahnya.


"Wisnu, sini nak ." nenek memanggil Wisnu agar mendekat.


"Ais.. tidak apa-apa ?" tanya Wisnu kepada Aisha, dan Aisha hanya menggeleng tidak melihat kearah Wisnu.


"Ada apa nek ?" tanya Wisnu.


"Duduk dulu ." Wisnu duduk didepan Richard.


"Kenalkan ini Om Alana, kau tahu Alana kan," kata nenek.


Wisnu melihat kearah Alana.


"Kenapa dengan Alana ?" Wisnu melihat tangan Alana masih di gibs.


"Kecelakaan, sebulan yang lalu ," kata Richard.


"Wisnu, Alana menerima ancaman ."


Richard menceritakan ancaman yang diterima Alana, dan menunjukkan gambar dan pesan yang dikirimkan oleh orang yang telah menculik Aisha.


Bersambung..


Please like like like