
Tetap semangat selalu, dan selalu menjaga kesehatan kita sekeluarga.
Happy reading guys.
***
Selesai mandi, Rodrick merasakan tubuhnya sedikit nyaman. Hari tugasnya sangat berat, dimana dia pergi mengunjungi satu peternakan sapi. Dia dipanggil karena ada sapi yang melahirkan tidak bisa dilakukan sendiri, karena posisi anak sapi yang sungsang. Jadi dokter hewan itu bukanlah pekerjaan yang santai saja.
Rodrick mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, setelah kering. Rodrick merebahkan tubuhnya di ranjang.
Dia memiringkan tubuhnya, menghadap kearah Jessie yang memunggunginya. Matanya sedikit demi sedikit mulai terpejam.
Dertt.. dertt..
Getaran ponselnya, yang diletakkannya di atas nakas. Membuat Rodrick membuka matanya kembali.
"Siapa lagi? semoga tidak pasien lagi" gumamnya.
Rodrick mengambil ponselnya, dan tertera mertua.
"Papa!" Rodrick bergegas mengangkat sambungan telepon dari Papa mertuanya, ada perasaan tidak enak terlintas didalam pikirannya.
"Halo Pa" sahut Rodrick.
"Drick, apa Jessie ada di dekatmu?" tanya Papa Jessie.
"Ada Paa, ada apa? apa mama baik-baik saja?" tanya Rodrick to the point langsung.
"Mama operasi malam ini" beritahu Papa Jessie.
"Apa!?" sontak kaget Rodrick.
"Sudah selesai operasi, tapi ada pendarahan. Dan sekarang mama berada diruang ICU" ucap Papa Jessie.
"Kenapa tidak beritahu kepada kami Paa?" tanya Rodrick sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Permintaan mama Drick, dia tidak ingin melihat Jessie sedih saat dia didorong keruang operasi" beritahu papa Jessie.
"Kami segera kerumah sakit Paa" Rodrick memutuskan hubungan telepon.
"Jess.. Jessie!" Rodrick memangil dan menepuk lengannya.
"Jess...bangun " ucap Rodrick.
"Apa Pak dokter, mau minta jatah? Tuh minta dengan ular yang Pak dokter peluk-peluk tadi" ucap Jessie masih dengan mata terpejam.
"Ini otak, ngeres saja pikirannya. Bangun! kita harus kerumah sakit!" seru Rodrick.
"Rumah sakit? Nenek !" Jessie terduduk, menatap Rodrick yang duduk disisi tempat tidur.
"Nenek sakit?" tanya Jessie.
"Cepat" Rodrick mengganti bajunya, dan memasukkan baju ganti untuknya dan Jessie.
Jessie membuka pakaiannya di walk on closed, dia tidak perduli lagi. Ada Rodrick yang sedang berbicara di telepon.
Skip
Tiba dirumah sakit, Jessie turun dari dalam mobil. Diikuti oleh rombongan keluarga Hutama, minus Dama dan Vely.
"Papa!" Jessie memeluk Papanya.
"Bagaimana keadaan nenek?" Jessie masih mengira nenek yang sakit.
"Bukan nenek yang sakit, tapi mama" beritahu Papanya.
"Mama!" Jessie menangis meraung-raung, dia tidak perduli lagi ada mata yang memandangnya.
"Jessie, tenang " Rodrick memeluk erat tubuh Jessie.
"Sakit apa mbak Yuni mas?" tanya Aisha.
"Kanker usus" sahut Papa Jessie.
"Mama!" tangisan Jessie makin menjadi.
"Jessie, sayang. jangan nangis, mama tidak apa-apa" ujar Aisha, dia meraih tubuh Jessie untuk dipeluknya. Dan membawanya duduk di kursi depan ICU.
"Keane, beli teh hangat" titah Richard kepada Keane, setelah merasakan tangan Papa Jessie terasa sangat dingin saat dipegangnya tadi.
Brak..
Jessie pingsan, luluh lunglai tubuhnya jatuh dari kursi ke lantai. Aisha yang duduk disisinya sontak kaget.
"Jessie!" tangan Aisha kalah cepat dengan luluhnya tubuh Jessie kelantai.
Rodrick yang berbicara dengan Papa mertuanya kaget, dan berlari menghampiri Jessie dan mengangkatnya.
"Drick, bawa Jessie pulang saja. Papa takut, dia akan sakit nantinya" titah Papa mertuanya.
"Jangan pulang mas, nanti semakin sedih dia, sebelah rumah sakit ada hotel. Bawa ke sana saja" kata Aisha.
"Iya Paa, Rodrick bawa ke hotel saja ya" kata Rodrick.
"Ayo Drick" Aisha menemani Rodrick ke hotel, sedangkan Richard tinggal di rumah sakit bersama dengan Rafa. Papa Jessie.
Skip
Setelah meletakkan Jessie diranjang, Aisha kembali kerumah sakit.
"Mommy kembali kerumah sakit ya Drick, besok saja kalian kerumah sakit" kata Aisha.
"Ya mom"
Sepeninggal Aisha, Rodrick merebahkan tubuhnya didekat Jessie. Rodrick mengelus rambut Jessie.
"Semoga saat tersadar nanti kau tidak marah, karena dibawa ke hotel" bisik Rodrick, kemudian mendaratkan kecupan keningnya.
"Jessie" Rodrick menenangkan Jessie.
"Dimana ini?"
"Hotel" sahut Rodrick.
"Kenapa hotel, Jessie mau ketemu mama!" Jessie menangis, sampai tersedu-sedu.
"Besok kita ketemu mama, hari ini belum bisa" kata Rodrick.
"Tidak mau!" Jessie ingin bangkit dari ranjang.
"Jess..! ini sudah malam !" keras suara Rodrick, karena Jessie Keukeh ingin pergi kerumah sakit.
"Jessie mau kerumah sakit! Jessie akan tunggu didepan ICU!"
Jessie tetap ingin turun dari ranjang, sembari bercucuran air mata. Jessie berontak, sehingga Rodrick keteteran memegangnya.
Tidak ada jalan lain, Rodrick memeluk Jessie dibawah tubuhnya. Tubuhnya menghimpit badan Jessie, satu tangannya memegang wajahnya. Kemudian Rodrick mendaratkan kecupan dibibir Jessie, dan meraup bibir Jessie. Sehingga Jessie yang tadinya berontak, sekarang luluh diam.
Rodrick terus melakukan kecupan dan gigitan-gigitan kecil di tubuh Jessie, sehingga Jessie terbuai dengan apa yang dilakukan oleh Rodrick. Keduanya melupakan sesaat mengenai Mamanya, apa yang terjadi dirumah sakit.
Pakaian bertebaran dicampakkan oleh tangan Rodrick yang aktif, sehingga keduanya saling lomba untuk polos.
Setelah sama-sama polos, belaian lembut tangan Rodrick membuat tubuh Jessie menggeliat. Terdengar suara ******* saling lomba dari kedua anak manusia yang baru mengenal hal yang halal, dilakukan sepasang suami dan istri.
Jessie melupakan sakit, ketika Rodrick melakukan penyatuan. Tubuhnya menerima apa yang Rodrick lakukan, hentakan demi hentakan dilakukan Rodrick tidak membuat Jessie sadar. Apa yang sedang dilakukan oleh Rodrick terhadap tubuhnya.
Setelah melakukan pergulatan panjang, akhirnya dua tubuh yang tadinya bersatu. Kini lerai, keduanya menatap ke langit-langit atas kamar.
Rodrick melirik kearah Jessie.
"Maaf, seharusnya aku menenangkanmu. Bukannya mengambil kesempatan dalam kesedihanmu Jess" ujar Rodrick.
Jessie tidak merespon ucapan Rodrick, entah apa yang ada didalam pikirannya. Apa dia mendengar apa yang dikatakan oleh Rodrick apa tidak.
"Rosay." gumam Jessie tiba-tiba.
"Apa?" Rodrick tidak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Jessie.
"Hemh.." Jessie menoleh kearah Rodrick.
"Apa yang Jessie katakan tadi?" tanya Rodrick.
"Yang mana?"
"Kalimat yang tadi itu" ujar Rodrick.
"Rosay." ucap Jessie, mengulang perkataannya tadi.
"Iya, siapa Rosay?" tanya Rodrick.
"Oh...itu, Jessie terinspirasi oleh mommy dan Daddy. Mas say dan Asay. Mereka romantis, seperti pasangan muda. Ada panggilan kesayangan" kata Jessie.
"Rosay apa?" tanya Rodrick.
"Rodrick sayang" ucap Jessie.
"Hahahaha" tawa Rodrick.
"Jadi Jessie tidak marah dengan apa yang baru saja kita lakukan?" tanya Rodrick, yang merasa takut Jessie marah.
"Untuk apa marah, itu sudah kewajiban Jessie. Jessie yang harusnya minta maaf, sudah melalaikan kewajiban Jessie untuk melayani suami. Mama sudah mengingatkan Jessie untuk selalu patuh kepada suami, maafkan Jessie" Jessie meletakkan kepalanya di dada Rodrick.
"Terima kasih, karena sudah mau menerima Rodrick sebagai suami" ucap Rodrick, tangannya merengkuh Jessie dengan erat dalam dekapan. Rodrick memejamkan matanya.
Tiba-tiba Jessie melepaskan diri dari dalam pelukan Rodrick, Jessie duduk. Tangannya menarik selimut untuk menutupi dadanya, yang masih polos tanpa ditutupi sehelai benang. Hanya selimut yang menutupi tubuhnya.
Jessie beringsut menggeser badannya, dengan perlahan-lahan Jessie turun dari ranjang.
"Mau kemana?" Rodrick membuka matanya yang hampir tertidur, karena tadi malam dia tidak bisa tidur.
"Mau kerumah sakit, Jessie kangen Mama" ucap Jessie.
"Tidur dulu, rumah sakit juga belum buka untuk menjenguk pasien. Tidurlah" Rodrick meraih tubuh Jessie, menidurkannya keatas dadanya.
"Tidur" jemari Rodrick mengusap-usap lengan Jessie, sehingga Jessie tidur dengan sendirinya.
Setelah tidak ada pergerakan dari tubuh yang tidur dalam dekapannya, Rodrick melepaskan pelukannya. Kemudian dia turun dari ranjang, terlebih dahulu membetulkan posisi selimut Jessie.
Rodrick masuk kedalam kamar mandi, setelah selesai membersihkan tubuhnya. Rodrick duduk di sofa, tangannya memegang ponsel dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana Pa, apa Mama sudah sadar?" tanya Rodrick.
"Belum, bagaimana Jessie? apa dia sudah tenang?" Papa mertua Rodrick, dokter Rafa menanyakan kondisi putrinya. Yang tadi histeris, begitu mengetahui Mamanya terkena penyakit kanker usus.
"Sudah tenang Pa, sekarang lagi tidur. Sebentar lagi kami kerumah sakit, biar Papa bisa istirahat" kata Rodrick.
"Baiklah" sahut Papa mertua Rodrick.
🌟
🌟
🌟
**Bersambung dolo...
Author minta like...like.... like 😄✌️
Banyak author nulis itu satu bab setiap hari, karena author juga kesibukan di dunia nyata. seperti kakak-kakak reader ada pekerjaan di dunia nyata, kami juga begitu.
Kalau tidak sibuk, mungkin bisa banyak bab update.
Maaf jika ceritanya boring, seperti yang dikatakan seorang reader. Maklum, penulis baru. Baru belajar ngehalu, semoga hidup kakak tidak seboring cerita ini. ✌️✌️😂😂🙏🙏