
Tetap semangat dan selalu menjaga kesehatan.
Happy reading guys ❤️
***
Jessie merasa kesal, karena atas permintaan Rodrick untuk buang air kecil dibalik pohon. Dia akan mendapatkan hukuman.
"Pak Dokter yang nyuruh saya buang air disitu pak, kalau mau dihukum. Jangan saya saja, Pak dokter juga " kata Jessie tidak mau disalahkan.
"Itu juga karena kamu mau buang air, makanya saya suruh disitu!" Rodrick tidak mau dipersalahkan.
Keduanya saling berdebat, mengeluarkan argumen. Tidak mau salah.
"Diam!" seru orang yang membawa tombak dan yang berbicara dengan mereka.
"Karena kalian sudah berani menganggu kesucian pohon itu, kau....!" laki-laki yang membawa tombak kepada Jessie.
"Saya ? Pak Dokter!" Jessie bersembunyi dibelakang Rodrick, dengan ekspresi wajah yang pucat.
"Ya kau! karena telah mengencingi pohon, akan diberi hukuman.!!"
"Hukuman? hukuman apa Pak?" tanya Rodrick.
"Dia harus menanam seratus pohon!" titah laki-laki tersebut.
"Seratus pohon?" kaget Jessie dengan hukuman yang harus diterimanya.
"Tapi pak, saya bukan mengencingi pohon. Saya kencing di sekitar pohon" kata Jessie.
"Kamu melawan? naik jadi 150 pohon!" seru pria tersebut.
Sedangkan beberapa pria yang mengelilingi Rodrick dan Jessie, menatap Jessie dengan pandangan mata yang bernafsu.
Melihat pandangan mata para pria terhadapnya, Jessie mendekatkan badannya ke tubuh Rodrick.
Rodrick merengkuh Jessie kedalam pelukannya, Jessie merasa aman dalam dekapan Rodrick.
"Pak Dokter, Jessie takut" bisik Jessie.
"Tenang, kau pasti aman" kata Rodrick.
"Pak, tidak mungkin seorang wanita menanam pohon sebanyak 150. Apa tidak ada jalan lain Pak" kata Rodrick.
"Tidak ada, karena Nona ini sudah berani buang najis di pohon keramat!" seru laki-laki tersebut.
"Hanya pohon pak, nggak mati juga pohonnya. Kencing saya di tanah juga bapak, bukan di pohon. Saya bukan pipis di pohon seperti doggy bapak." Jessie memberanikan diri untuk mengeluarkan suara dengan takut-takut dan lembut.
Suara Jessie gemetar, karena gugup. Melihat wajah para pria yang berwajah sangar menatap kearahnya.
"Ayolah Pak, tidak mungkin tidak ada solusi yang lain. 150 pohon, bukan sedikit itu Pak. Kita laki-laki juga tidak mungkin bisa melakukannya sendirian" kata Rodrick.
"Hemm! begini saja, ada satu solusi. Kalian bayar orang-orang ini untuk menanam pohon, bagaimana?" usul laki-laki tersebut.
"Bayar!" Jessie mendongak menatap wajah Rodrick.
"Iya! mau tidak? kalau tidak mau, ayo tanam pohon sepanjang jalan ini." titah laki-laki itu kepada Jessie.
"Kenapa harus aku saja? Pak Dokter juga harus ikut, Pak dokter yang nyuruh Jessie pipis dibalik pohon" Jessie menolak melakukan sendiri, karena Jessie merasa Rodrick juga ikut bertanggungjawab.
"Kau juga mau" jawab Rodrick.
"Gimana nggak mau, sudah kebelet" sahut Jessie.
"Sudah siap berdebat ? bagaimana mau bayar atau menerima hukuman nanam pohon?" tanya laki-laki tersebut, sembari mengelus janggutnya.
"Kami bayar saja," ucap Rodrick.
"Pak Dokter, saya nggak bawa uang," kata Jessie.
"Saya bawa uang" kata Rodrick.
"Berapa?"
"Lima juta " ujar laki-laki itu, dan menunjukkan kelima jemarinya.
"Lima juta!? teriak Jessie.
"Iya, kenapa? terlalu sedikit? biar kami naikkan."
"Tidak..tidak! itu kebanyakan, bisa minta discount" kata Jessie.
"Tidak bisa ! itu sudah discount, pohon itu sudah berumur ribuan tahun. Kena kencing manusia, bisa-bisa umurnya berkurang." pria tersebut menolak untuk memberikan discount, permintaan Jessie.
"Baiklah kami bayar " ujar Rodrick.
"Pak Dokter, saya tidak ada uang segitu banyak? itu gaji saya tiga bulan" kata Jessie.
"Bayar...bayar..!" pria itu mengulurkan tangannya, meminta uang kepada Jessie dan Rodrick.
"Pak Dokter!"
"Biar aku yang bayar ," kata Rodrick.
"Mana uangnya ," ujar pria tersebut dengan tidak sabar.
"Sabar Pak, akan kami bayar. Apa tidak ada discount" ujar Rodrick.
"Tidak ada discount, kalau tidak sanggup bayar. Dan tidak sanggup untuk menanam pohon, ada syarat lebih mudah. Yaitu, kau harus menjadi istriku!" jari telunjuk pria tersebut menunjuk Jessie.
"No! tidak mau !" melengking suara Jessie menolak keinginan pria itu.
"Hehe....!" pria tersebut menunjukkan giginya yang kuning karena tembakau, seraya mengelus janggutnya yang panjang.
"Hei..! kau menghinaku ? apa mau ditambahkan lagi hukumannya?" mata pria tersebut setengah melotot melihat Jessie.
"Sudah paduka, mereka tidak bisa bayar. Bawa saja wanitanya untuk menjadi istri paduka yang ke sepuluh" ujar orang yang berada dibelakang pria tersebut.
"Istri ke sepuluh? gila, apa orang ini merasa di jaman kerajaan Pak Dokter? mereka memanggilnya paduka?" bisik Jessie pada Rodrick.
"Diam Jessie, kau jangan menambah mereka marah lagi. Apa kau mau menjadi istrinya?" kata Rodrick.
"Ogah Pak dokter, pinjamkan Jessie uang ya Pak dokter" kata Jessie.
"Bagaimana?" tanya pria tersebut.
"Saya tidak bawa uang sebanyak itu, saya kasih tiga juta dulu ya. Nanti sisanya saya transfer" kata Rodrick.
"Ok, ini nomor rekening bank. Transfer sekarang.!" titah pria tersebut.
Rodrick mengeluarkan ponselnya, dan mengirimkan uang ke nomor bank yang diberikan oleh pria tersebut.
"Sudah masuk" kata Rodrick.
Rodrick mengeluarkan dompetnya, dan mengeluarkan uang yang ada di dompet. Dan memberikan kepada pria tersebut.
"Sudah! kalian tidak perlu menanam pohon lagi, silakan tinggalkan tempat ini. Dan ingat, jangan lakukan lagi!" ujar laki-laki itu.
Jessie dengan cepat bergegas menuju mobil, dan masuk kedalam.
"Pak Dokter cepat!" teriak Jessie, ketika dilihatnya Rodrick masih berada didekat orang-orang tersebut.
"Iya"
Rodrick membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam, kemudian mobilnya mulai bergerak meninggalkan orang-orang yang masih berada ditempat.
"Aghhh..!" teriak Jessie gemas.
"Ini gara-gara Pak dokter, aku jadi punya hutang!"
"Kalau tidak aku bayar, apa kau mau menjadi istri ke sepuluh pria itu?"
"Ogah !" ketus Jessie.
"Ini semua gara-gara Pak dokter!" tuduh Jessie.
"Salahkan kandung kemih mu! kenapa dia full." balas Rodrick.
"Minta Mama atau Papa? ahh.. pasti Jessie di berikan ceramah tujuh hari tujuh malam!"
Rodrick tersenyum melihat Jessie ngedumel sepanjang jalan.
"Kita tidak jadi ketempat peternakan?" tanya Jessie.
"Tidak mungkin lagi, sudah jam berapa ini " ucap Rodrick.
"Pak Dokter, hutang Jessie berapa?"
"Lima ." Rodrick menunjukkan lima jemarinya.
"Ah.. miskin Jessie seketika!" lemas Jessie, bahunya menurun.
Terlihat smirk disudut bibir Rodrick seraya melirik Jessie sekilas, ada apa dengan Rodrick. Senyum dibibirnya sangat mencurigakan.
Setelah mendrop Jessie kerumah neneknya, Rodrick melanjutkan jalan mobilnya. Dalam perjalanan senyum terus merekah dibibirnya, dan siulan keluar dari bibirnya.
***
Rodrick yang sedang gembira, begitu juga dengan kedua saudara kembarnya.
Keane pulang dari apartemen, mengantarkan Mada. Baru dia pulang kerumahnya.
Masuk kedalam rumah, Keane bernyanyi-nyanyi kecil.
"Keane." panggil Aisha, merasa heran. Karena tidak biasanya, Keane bernyanyi-nyanyi kecil.
"Mommy, apa Daddy belum pulang?" tanya Keane.
"Belum, sini Kean" Aisha menyuruh Keane duduk disampingnya.
"Baguskan?" Aisha menunjukkan dekorasi tempat resepsi yang mereka lakukan tadi.
"Bagus Mom" sahut Keane .
"Kenapa sunyi, Vely kemana ?" tanya Keane.
"Pergi ikut Dama, mungkin karena itu Mas say pergi kesana ," ucap Aisha.
"Tujuan Daddy sama dengan tempat yang Dama dan Vely tuju ?" tanya Keane .
Aisha menganggukkan kepalanya.
"Daddy.. Daddy..!" ngekeh Keane, begitu juga Aisha.
"Dama ingin berduaan dengan Vely gagal" batin Keane menertawai Dama.
*
*
*
Bersambung 😘
Maaf typo ya, karena typo adalah sahabat penulis 😀✌️