
Betapa kagetnya Richard mendengar perkataan pak Umar, dia yang berencana memberikan kejutan di hari istimewa keponakannya. Dia sendiri yang mendapatkan kejutan.
"Kenapa tidak ada yang memberikan kabar kepada ku ?" Richard memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Saya tidak tahu Den, Nyonya dan Tuan juga tidak kembali kerumah ."
"Mama dan papa juga disana ?" tanya Richard kepada satpam rumah kakaknya tersebut.
"Itu juga saya tidak tahu Den, sejak Non Alana mengalami musibah. Tidak ada yang pulang dan yang datang kesini, pernah sekali pulang. Itu juga hanya mengambil baju, kata Tuan mereka nginap disebelah rumah sakit tempat Non Alana dirawat." cerita pak Umar.
"Rumah sakit apa pak ?"
Pak Umar memberitahukan tempat Alana dirawat.
"Apa bapak tahu, bagaimana kondisinya sekarang ?" tanya Richard, dia takut menerima kenyataan yang akan dilihatnya nanti.
"Sekarang saya juga tidak tahu Den, tapi empat hari yang lalu. Tuan bilang Nona Alana berada diruang ICU " ucap pak Umar.
"Ah...!" teriak Richard, begitu mendengar cerita pak Umar. mengenai kondisi Alana.
"Saya mau kerumah sakit sekarang ." tanpa mendengar ucapan pak Umar, Richard berlari menuju mobilnya yang terparkir didepan pintu pagar rumah kakaknya.
"Den Richard, makin ganteng saja ." pak Umar bicara sendiri, sembari memandang mobil Richard yang sudah tidak terlihat dari pandangan matanya.
"Siapa makin ganteng pak, tumben bapak muji-muji ?" istri pak Umar yang bekerja sebagai tukang masak dirumah keluarga Alana datang menghampiri suaminya.
"Heh..ibu, ngagetin saja." pak Umar mengelus dadanya, karena kaget tiba-tiba istrinya sudah berada dibelakangnya.
"Itu, Den Richard," ucap pak Umar.
"Den Richard pulang ?" tanya istrinya.
"Iya tuh, katanya mau buat superris untuk Non Alana yang hari ini ulang tahun," kata pak Umar.
"Apa superris pak ?" tanya istrinya dengan bingung, mendengar ucapan pak Umar yang tidak pernah didengarnya.
"Mboh..ya Den Richard yang bilang, mungkin bahasa tempat tinggal Den Richard selama ini. Dimana itu ?" tanya pak Umar kepada istrinya.
"Yah..mana saya tahu pak, saya tahu ya dapur dan kasur saja ," ucap istri pak Umar.
"Cie..istri bahenol ku mancing-mancing ya, kangen ya." pak Umar mengedip-ngedipkan matanya, dan tangannya menowel-towel lengan istrinya.
"Heh bapak, sudah tua masih genit-genit juga. Awas ya kalau genit dengan pembantu sebelah yang janda itu, tak potong entek itu pusakanya." istri pak Umar memperagakan tangannya seperti ini memotong sesuatu.
"Aduh..Bu, gilo ini ku ." Pak Umar menutupi area sensitifnya dari incaran mata istrinya yang tajam.
"Awas, jangan macam-macam.."!" ancaman diberikan istrinya, sebelum dia kembali kearea kekuasaannya yaitu dapur.
"Iya Bu, anu ku hanya trisno Karo..." ucapan pak Umar terputus, karena istrinya berbalik badan dan membulatkan matanya menatap pak Umar.
"Serem.." pak Umar ngicing kabur ke markasnya, yaitu pos satpam.
"Sudah tuek..masih sok romantis-romantisan segala, Trisno...Trisno. Kenapa nama mantanku disebut-sebut ." ngedumel istri pak Umar sambil berjalan kembali ke dapur.
****
Lily dan Eline berjalan santai menyusuri trotoar depan kampus, sudah satu hari ini mereka menjauh dari Gaby yang sedang kusut otaknya.
Selama ini Lily dan Eline, selalu menumpang hidup enak dengan Gaby. Gaya hidup glamor Gaby berpengaruh terhadap Lily dan Eline yang berasal dari keluarga yang sederhana. orang tua Lily dan Eline hanya pegawai negeri.
"Lily, capek pulang jalan kaki ." rengek Eline dan memijat-mijat betisnya yang memakai high heels.
"kamu itu kenapa kuliah memakai sepatu high heels, seperti mau ke pesta saja ." gerutu Lily yang terpaksa berjalan pelan-pelan.
"Kalau pakai sepatu plat, aku kelihatan pendek," ucap Eline.
"Emang pendek, mau pakai apa juga tetap pendek." ledek Lily
"Sesama kaki pendek jangan saling menghina " ucap Eline.
"Ayo lanjut jalannya, kalau kelamaan berhenti sampai kapan kita sampai dirumah" kata Lily.
"Ayo kita naik taxi saja " ucap Eline.
"Kau banyak uang ?" tanya Lily.
"Nggak ada ."
"Ayo, kita berteman dengan Gaby lagi. Aku capek jalan." Eline terus ngedumel sambil berjalan mengikuti Lily dari belakangnya.
"Kau sudah lupa, kepalamu itu sudah sering jadi korban tangan Gaby. Apa ingin kau geger otak dulu..." omel Lily.
"Nggak apa-apa kepalaku jadi korbannya, yang penting kita jangan pulang jalan kaki begini. Pulang pergi kuliah jalan, jajan ke kantin hanya bisa minum air mineral dan beli gorengan." Eline mengeluarkan keluh kesahnya.
Saat Eline sedang mengeluarkan curahan hatinya, tiba-tiba mobil berhenti didekat mereka berada.
"Oh..sial..!" Gaby." bisik Lily kepada Eline.
Pintu mobil terbuka, dan muncul seraut wajah yang menatap kedua temannya dengan tatapan mata yang tajam.
"Kenapa kalian berdua tidak kelihatan dikampus ?" tanya Gaby, tangannya diletakkan nya di pinggangnya.
"Kami tadi tidak ke kampus ." kata Lily.
"Ya... Gaby, kami tidak ke kampus." Eline mendukung ucapan Lily.
"Kalau tidak ke kampus, kenapa kalian berada didekat area kampus ?" tanya Gaby.
"Kami..kami.." terbata-bata Eline, dia bingung ingin memberikan alasan apa lagi.
"Kami telat, karena jalanan macet. Kami tidak masuk ," ucap Lily.
"Kalian mau kemana, kenapa tidak menghubungi aku ?"
"Ponsel ku habis baterai" ucap Lily.
"Aku tidak ada paket Gaby," alasan Eline.
"Ayo kalian naik ." perintah Gaby.
"Mau kemana ?" tanya Lily dan Eline secara bersamaan.
"Ikut saja, aku ada janji dengan seseorang. Masuk." ulang Gaby kepada keduanya.
Dengan cepat Eline dan Lily berlari menuju kemobil Gaby.
Eline langsung berlari ke pintu mobil jok belakang, membuat Lily kesal. Dia yang duduk didepan bersama Gaby gadis tempramental.
***
Hanya menempuh waktu dua puluh menit, Richard sudah sampai kerumah sakit. Begitu mobil terparkir sempurna, Richard langsung turun dan setengah berlari menuju meja resepsionis dan menanyakan ruangan ICU.
"Ruangan ICU bagian mana ?" tanya Richard.
"Mau bezuk keruangan ICU pak ?" tanya bagian resepsionis.
"Kalau saya tanya, ya jelas saya mau bezuk." jengkel Richard dengan pertanyaan bagian resepsionis.
"Bagian ICU tidak bisa suka hati kita bezuk pak, jam bezuk pagi sudah lewat. Nanti sore lagi."
"Kenapa begitu repot..!" seru Richard.
"Siapa nama pasiennya pak, mungkin dia tidak di ruang ICU lagi ." bagian resepsionis tetap sabar melayani Richard yang sudah mulai emosi, karena tidak diinginkan menjenguk.
"Alana Maureen," kata Richard.
gadis resepsionis mencari nama pasien melalui komputer nya.
"Atas nama Alana Maureen, sudah keluar dari ICU pak. Sekarang dia di kamar Bunga Dahlia no 2." beritahu gadis resepsionis.
Mendengar Alana tidak diruang ICU lagi, perasaan Richard menjadi lega dan wajahnya sudah terlihat cerah tidak seperti tadi lagi.
Tanpa mengucapkan terimakasih, Richard langsung berlalu saja dari bagian resepsionis.
"Untung ganteng.." ujar gadis tersebut, dan temannya yang bersama dengannya tadi tertawa mendengar temannya ngedumel.
"Mungkin dia khawatir, karena Mendengar kekasihnya berada dalam rumah ICU ." kata rekannya.
"Sabar...sabar.."
...**Next...
Hai semua reader bantu like and rate ya trims**.