Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 58 Jahil Richard


Hai...


jumpa lagi dengan author receh nih..


Happy reading guys.


***


Begitu selesai fitting baju, Richard langsung menarik tangan Aisha untuk mengikutinya.


"Hei Rich, mau kau bawa kemana calon mantu mama? kami hari ini mau pergi shopping," ucap mamanya, begitu melihat Richard main bawa Aisha.


"Mama pergi shopping dengan kak Chintya saja, Rich ingin pergi kesatu tempat yang tidak boleh ada yang tahu ," ujar Richard.


"Hei Rich, jangan macam-macam ya. Kalian itu belum sah ." ingatkan kakaknya.


"Kak Chintya, adekmu ini lama tinggal diluar negeri. Tapi masih memegang adat ketimuran ya ," jawab Richard.


"Ais, jangan mau ya. Jika laki-laki itu bawa kamu ketempat yang aneh-aneh." ingatkan kakaknya Richard kepada Aisha.


"Iya." jawab Aisha pelan, dia sedikit gugup. Karena Richard memegang tangannya terus.


"Jika dia macam-macam, beri tendangan ke area itu nya Aisha." bisik mama Richard kepada Aisha, membuat Aisha menjadi tertawa.


"Mama bilang apa Ais?" tanya Richard dan menatap wajah Aisha dengan insten, membuat Aisha menundukkan kepalanya.


"Tidak ada," jawab Aisha dengan menunduk, tapi ada senyum dibibirnya. Yang tidak dilihat Richard.


"Mama tidak ada bilang apa-apa, hanya pembicaraan kaum wanita. Sudah sana pergi, dan cepat antar Aisha kembali. Nanti nenek membatalkan pernikahan mu, jika kau telat mengantarkan Aisha," kata mamanya.


"Kalian berdua yang membuat aku telat mengantarkan Aisha pulang," ujar Richard sebelum keluar dari dalam butiq.


"Kenapa kita maa ?" tanya Chintya kepada mamanya.


"Mana mama tahu, tanya Richard. Jeng Vera, keluarkan baju-baju yang cocok dengan menantu saya tadi ," kata mama Richard kepada Vera.


"Mama mau borong baju untuk Aisha ?' tanya Chintya.


"Hemh " jawab mamanya, yang sibuk memilah-milah baju yang ingin dibelinya.


"Chintya belikan juga maa."


"Kamu beli sendiri, uang suami kamu banyak," jawab mamanya.


"Hih..mama, mentang-mentang mau dapat anak baru. Anak lama dilupakan, cucu mama belikan. Nanti dia cemburu," kata Chintya.


"Tentu, mama tidak pernah lupa dengan cucu mama yang hanya satu itu ." sindir mamanya.


"Mama, Chintya bukannya hanya ingin punya satu anak saja. Tapi bagaimana lagi, Kalau hanya itu yang dikasih Tuhan. Nanti suruh Richard dan Aisha buat cucu untuk mama dan papa yang banyak," kata Chintya sambil merangkul bahu mama dari belakang.


"Ya..ya, kita suruh Richard buat kesebelasan. Untung Aisha masih muda, masih ada kesempatan untuk mencetak anak banyak ," ujar mama Richard sambil tertawa.


"Biar ramai nanti jika kita kumpul keluarga," kata Chintya.


****


Richard mengemudikan mobilnya dengan santai, sehingga Aisha merasa boring. Karena Aisha merasa Richard mengemudikan mobilnya mengalahi nenek-nenek bawa mobil, saking lambatnya.


Richard sesekali melirik Aisha, yang terus memandang kearah samping.


"Ais, apa tidak sakit lehermu ?" tanya Richard, Setelah hampir lima belas menit terjadi keheningan didalam mobil.


"Apa ?" tanya Aisha yang tidak mencerna apa yang baru saja dikatakan Richard kepada dirinya, karena keasyikannya dalam lamunannya.


"Itu leher, apa tidak sakit ? terus melihat kesamping saja ?" ulang Richard perkataannya tadi.


Aisha menatap kedepan.


"Ha..ha..Aisha, kamu sangat menggemaskan." tangan Richard mengusap-usap rambut Aisha.


"Hih.. Om ini, suka sekali mengelus rambutku. Apa dikiranya aku ini anak kecil." monolog dalam benaknya Aisha.


Richard kembali fokus dengan stir mobilnya, ketika mendekati hotel yang cukup terkenal. Richard mengemudikan mobilnya menuju ke hotel tersebut.


Richard melirik Aisha, dia tahu Aisha takut ketika Richard mengarahkan mobilnya menuju hotel.


"Seru kali ya, ngerjain Aisha ." terlihat smirk disudut bibirnya Richard.


"Ngapain kita kesini Om ?" tanya Aisha, dengan perasaan khawatir. Dia ingat dengan penculikan yang terjadi kepada dirinya.


Richard tidak menjawab, membuat Aisha semakin takut dan kedua tangannya saling meremas.


"Om, kenapa kita kesini ?" terdengar suara Aisha yang gemetar.


"Ingin menculikmu, karena ada kesalahan yang sudah Aisha lakukan," kata Richard dengan tegas.


"Banyak, baru saja Aisha sudah melakukan kesalahan-kesalahan lagi," ujar Richard.


Richard membawa mobilnya menuju parkir dilantai paling atas gedung hotel, dan kemudian menghentikan laju mobilnya.


"Ayo kita turun ." Richard mengajak Aisha untuk turun, tetapi Aisha tidak bergerak sedikitpun.


"Apa aku lakukan seperti yang dikatakan Tante, tendang itunya si Om. Kalau si Om meninggal bagaimana? masa aku jadi janda sebelum menikah." dalam benaknya Aisha.


"Ayo." Richard tahu, Aisha merasa takut untuk turun dari mobil.


"Ais mau pulang Om ."


"Ayolah, kita sudah sampai sini. Kita bersenang-senang dulu sebelum pulang," Richard terus menjahili Aisha yang semakin ketakutan, tangannya memegang seat belt dengan erat. Dia takut jika Richard nanti akan membuka seat belt nya.


"Tidak Om, Ais mau pulang saja." Aisha sudah hampir mengeluarkan air matanya, sehingga Richard menghentikan untuk menggoda Aisha.


"Ais, maaf. Kita kesini hanya untuk mencari cincin pernikahan saja, di hotel ini ada toko perhiasan yang sangat terkenal ," ujar Richard seraya menangkup wajah Aisha yang khawatir.


"Om jahat.." tangisan Aisha keluar begitu saja, sehingga Richard menarik badannya agar bisa dipeluknya.


"Sorry ya ." Richard melerai pelukannya.


"Jahat..!" Aisha mendorong dada Richard dan membuka pintu mobil dan kemudian keluar.


Richard membuka pintu dan keluar.


"Hapus tuh..air mata, nanti dikira orang aku culik anak orang ."


"Biar, biar Om digebuki massa." celetuk Aisha.


"Nah ini sudah melakukan kesalahan lagi ," ujar Richard.


"Apa salah Aisha lagi ?" tanya Aisha.


"Cari sendiri." Richard meraih jemari Aisha dan membawanya meninggalkan tempat parkir.


"Apa salahku ?" Aisha mencoba mengingat apa yang telah dilakukannya.


****


Oke, kita lihat persiapan keluarga Josh menuju Indonesia dulu yok.


"Josh, apa sudah ada kabar dari Indonesia ?" tanya Evelyn.


"Belum, lokasi tempat kami tinggal dulu sudah berdiri bangunan pencakar langit," kata Josh.


"Apa tidak ada yang bisa kamu tanyai temanmu yang ada di Indonesia ?"


"Aku sudah kehilangan jejak mereka, ada satu teman akrab kami. Tapi aku lupa siapa nama belakangnya," kata Josh.


"Coba suruh Edward cari melalui nama yang diingat saja," kata Evelyn.


"Dimana carinya?"


"Melalui media sosial," kata Evelyn.


"Oh ya, kenapa bisa lupa." Josh berlalu menuju Kekamar Edward, tetapi sebelum dia sampai kekamar anaknya. Evelyn sudah memanggil dirinya.


"Josh, Edward tidak di rumah ."


"Kemana dia ?"


"Pergi bersama dengan teman-temannya," kata Evelyn.


"Aku keluar sebentar." Josh keluar dari dalam rumahnya.


***


Richard membawa Aisha memasuki ruangan yang cukup besar, dan ruangan tersebut dipenuhi dengan berbagai macam bentuk perhiasan yang sangat berkilau.


"Om, kita mau ngapain kesini ?" tanya Aisha yang terpukau melihat perhiasan yang sangat cantik dan elegan tersusun rapi dalam ruang kaca.


"Kita mau merampok perhiasan, untuk cincin kawin kita nanti ." gurau Richard.


"Apa !" Aisha menghentikan langkahnya, dan menarik tangan Richard untuk berhenti.


"Om, jangan ngerampok Om. Ais tidak butuh cincin kawin," ujar Aisha dengan tatapan mata yang polos menatap Richard.


"Tapi aku ingin memberikan cincin kawin ," ucap Richard yang ingin tertawa, melihat wajah Aisha.


"Beli yang imitasi saja Om ," kata Aisha lagi.


Bersambung...