Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 75 Minta kawin


Hai jumpa lagi dengan author recehan, happy reading guys.


****


Keheningan dalam perjalanan, tiba-tiba dipecahkan dengan perkataan Alana yang lagi-lagi membuat Om Richard nya seperti akan mengalami serangan jantung mendadak.


"Om." panggil Alana sekali, tetapi Richard tidak mendengarkan. Karena konsentrasi dengan kemudi.


"Om ." ulang Alana kembali.


"Mas say, panggil Alana ," ujar Aisha.


"Apa Al, sudah lapar ? Nanti kita mampir didepan." kata Richard.


"Tidak Om, Al mau kawin Om ," ucap Alana dengan santai.


Ciitttt....


Richard merem mendadak mobilnya, sehingga Alana yang tidak menggunakan seatbelt meluncur jatuh kelantai mobil.


"Awa...!" teriak Aisha yang kaget.


"Om ! Alana belum kawin, jangan main rem saja !" seru Alana dan kembali duduk.


"Al, kenapa sekarang ucapanmu yang keluar dari dalam mulutmu selalu kacau." Richard melihat kebelakang, begitu juga dengan Aisha.


"Kacau bagaimana, Alana serius Om. Al mau kawin, Om bilangin ke mama dan papa ya. Al cemburu lihat kemesraan Om dan Tante kecil," kata Alana.


"Kawin..kawin, yang kawin itu hewan. Apa kau hewan Al ," ucap Richard sambil melanjutkan perjalanan mobilnya kembali.


"Jadi apa yang harus Alana bilang ?" tanya Alana.


"Menikah Al ," kata Aisha.


"Bilangnya saja tidak bisa, gitu minta nikah ," ujar Richard.


"Ah..sama saja kawin dan nikah, sama-sama urusan dikasur ," kata Alana.


"Al, kenapa sekarang bicaramu suka sekali asal, kenapa kau tidak seperti Asay yang bicara yang tidak absurd?" kata Richard.


"Om, setiap orang itu beda. Kalau kami sama, kami itu kembar. Iya kan Tante kecil," kata Alana.


"Om bagaimana, mau kan Om bilang ke mama dan papa. Kalau Alana mau minta di nikahkan ," kata Alana.


Aisha hanya tersenyum mendengar permohonan Alana yang sangat lucu menurutnya.


"Bilang sendiri, yang mau nikah siapa?" tanya Richard.


"Alana ," jawab Alana.


"Nah itu tahu," kata Richard.


"Alana keponakan Om, sudah seharusnya Om bantu Alana. Ya Om.. please !" Alana memijat-mijat pundak Richard dari belakang.


"Kenapa kau mendadak ingin nikah Al ?" tanya Aisha.


"Kan seru Aish, nanti kita punya anak besar bersama. Mereka bisa bersahabat seperti kita ," kata Alana.


Pipi Aisha merona merah, mendengar ucapan Alana yang menyinggung masalah anak.


"Karena alasan itu kau ingin menikah?" tanya Richard sembari melirik Aisha sekilas.


"Tidak juga Om, Al takut nanti Dony di ganggu oleh perempuan nggak jelas diluaran sana," kata Alana.


"Kau Aisha, kau harus jaga Om Richard. Jangan sampai ada wanita penggoda diluar sana yang siap-siap ingin menerkam Om Richard." ingatkan Alana.


Aisha melihat kearah Richard.


"Al, kau jangan mengada-ada. Asay jangan dengarkan apa yang dikatakan Alana. Di dalam otaknya ini penuh dengan imajinasi yang sangat merugikan kehidupan," kata Richard, tangannya yang sebelah meraih jemari Aisha dan meletakkannya keatas pahanya.


"Nah..ini yang membuat Alana ini segera kawin, hups...nikah maksudnya," kata Alana, yang melihat kemesraan yang dipertontonkan Richard dari bangku depan.


"Ah..Alana tidur saja, kasihan mau pegangan tangan. Tapi tidak ada tangan yang bisa dipegang," ujar Alana sembari menutup matanya, dan menyandarkan kepalanya.


"Mas say." Aisha menarik tangannya dari genggaman tangan Richard.


****


Mayang berkali-kali mengintip melalui jendela tempat Dia melakukan terapi kepada pasiennya, sehingga rekan kerjanya menjadi heran dan ikut-ikutan mengintai apa yang dilihat oleh Mayang.


"Mayang, apa yang kau lihat?" tanya Rita rekan kerjanya.


"Hus..kau membuat aku kaget saja," ujar Mayang dengan mengusap-usap dadanya.


"Ada apa, apa ada yang menarik dilapangan parkir ?" tanya Rita.


"Ada penguntit," kata Mayang.


"Mana, apa kau punya hutang?" tanya Rita.


"Jangan asal ya!"


"Terus siapa yang menguntitmu ?"


"Mahluk edan !" kata Mayang.


"Hemh..apa ada cowok yang mengejar-ngejar dirimu ?" tebak Rita.


Mayang berjalan santai menuju ke tempat motornya terparkir, Dia tidak menyadari ada sepasang mata dan bibir yang tersenyum menatap dirinya saat Dia keluar dari dalam ruangan terapi sampai ketempat motornya terparkir.


"Aw..maling !" teriak Mayang, ketika ada yang merampas kunci motor yang dipegangnya.


"Hahahaha! akhirnya, kau kena juga Baby," ucap suara yang merampas kunci motornya.


"Kau!" Mayang melotot melihat wajah David yang tertawa didepannya, dan tangannya menggoyang-goyangkan kunci yang ada ditangannya.


"Kembalikan !" Mayang berusaha mengambil kembali kunci tersebut, tetapi David menaikkan kunci keatas. Walaupun Mayang bertubuh lumayan tinggi, tetapi Dia tidak bisa menjangkaunya.


"Kembalikan monyet tengil!" teriaknya dengan kesal.


"Oh no..! kau menghindari aku baby." alis David naik turun, dengan senyum dibibirnya.


"Siapa yang menghindar, aku sibuk," kata Mayang.


"Kenapa pesanku hanya kau baca, tidak kau balas ?" tanya David.


"Pesan? pesan apa?" tanya Mayang balik dengan heran.


"Mana ponselmu ?"


Mayang memberikan ponselnya kepada David.


"Ini ." David menunjukkan pesan darinya, yang ada diponsel Mayang.


"Ini darimu, mana ku tahu. Aku juga heran membaca nama kontak ini, calon suami idaman. Hih.. percaya diri kali ," ujar Mayang, saat melihat kontak atas nama David .


"Hei, kapan kau memasukkan namamu kedalam ponselku?" tanya Mayang kepada David, karena seingatnya. Dia tidak memiliki nomor David.


"Rahasia, ayo kita pulang. Aku sudah lapar, kau lama sekali didalam. Aku sudah kepanasan diluar sini," kata David dan langsung naik motor Mayang.


"Hei.. apa yang kau lakukan?" tanya Mayang, karena David sudah duduk ditunggangan kesayangan Mayang dan mesin motor sudah hidup. Tinggal menunggu siempunya motor duduk diboncengan belakang.


"Aku yang akan membawanya, ayo naik." David memakai helm yang dibawanya.


"Hih.. pemaksaan!" gerutu Mayang, dan duduk diboncengan. Dia duduk agak kebelakang, agar tidak terlalu dekat dengan David.


"Sudah baby, pegangan," kata David.


"Sudah cep..aw..!" teriak Mayang, ketika David mengegas. Dan Mayang hampir mendarat di aspal, jika Dia tidak sigap memeluk pinggang David dengan erat.


"Kau..!" Mayang mencubit perut David dengan gemas.


"Sorry baby, biar kita mesra begini ," kata David sambil menggenggam tangan Mayang yang melingkar diperutnya.


"Jangan pegang-pegang!"


"Jangan marah-marah baby, nanti cepat tua. Kita belum punya anak, baby sudah tua ." gurau David..


"Menyebalkan ." dalam benaknya Mayang.


****


Mobil sudah memasuki area kampung Aisha, dan Alana sudah benar-benar tertidur. Sejak dia berkata ingin tidur agar tidak melihat kemesraan Aisha dan Richard, Alana benar-benar tidur. Dan terbangun saat mereka ingin mengisi perut saja.


"Sejuk ya tinggal disini, lingkungannya masih asri," ujar Richard.


"Iya mas ," jawab Aisha.


"Say ." sambung Richard, karena Aisha melupakan sayangnya.


"Hehe..mas say ." ulang Aisha.


"Di persimpangan tadi, sepertinya peternakan ya ?" tanya Richard.


"Ya, itu peternakan sapi. masih muda yang punya," kata Aisha.


"Muda, ganteng ?" tanya Richard.


"Iya ganteng, karena laki-laki," kata Aisha.


"Asay, jangan puji-puji laki-laki lain didepan suamimu ini ," ujar Richard.


"Aaa... pemiliknya sudah punya istri mas say, anaknya ada empat," kata Aisha.


"Empat, rajin sekali cetak anak ya ?"


"Hih..mas say ini, orang banyak anak diledek ," ucap Aisha.


"Nggak ngeledek, iri saja. Mas say satu juga belum ," kata Richard.


"Mungkin nanti, bisa berguru dengan pemilik peternakan itu ," kata Richard.


"Dengan mas Galuh?"


"Galuh namanya ?" tanya Richard.


"Iya."


"Nanti kita kesana ya, kenalan ," kata Richard.


Bersambung...