
Jumpa lagi dengan author receh, cerita hanyalah untuk hiburan. enjoy saja bacanya kakak-kakak.
Tetap selalu menjaga kesehatan keluarga kita.
Happy reading ❤️.
***
Berkas pernikahan Dama dan Vely sudah selesai, Richard tidak perlu mengurusnya. Hanya Keane dan Mada yang harus diurus oleh Richard, semua urusan diurus oleh Tony. Karena semua berkas yang dibutuhkan untuk mengurus izin menikah lengkap. Hanya butuh waktu sebentar, semua urusan untuk izin menikah sudah selesai.
Izin dari dokter dan manajemen rumah sakit sudah dikantongi, akhirnya pernikahan dadakan bisa dilakukan di rumah sakit. Sebelum David operasi jantung.
Mada memakai baju kebaya putih, mode desainnya sama dengan yang dipakai oleh Vely. Karena waktu yang mepet, untung stok baju pengantin banyak di butik Tante Sudung.
Tante Sudung datang kerumah sakit dengan membawa baju pengantin Vely dan Mada, setelah dihubungi oleh Alana.
"Aduh.. kenapa mendadak sekali Lo jeng Alana, napas ini sudah tinggal separuh saja lagi. Saya ngebut seperti ingin ikut kejuaraan balap motor" kata Tante Sudung.
"Maaf ya, sudah ngerepotin bawa baju kesini. Ada urgent, terpaksa nikah dipercepat. Dan diadakan di rumah sakit," kata Alana.
Alana menceritakan kenapa pernikahan dipercepat.
"Semoga Pak David, sehat ya. Dan operasinya lancar."
"Amin " sahut Alana.
Akhirnya, jam tujuh malam. Pernikahan dadakan dilakukan didalam ruangan tempat David terbaring.
Mada meminta izin menikah kepada Papanya dengan cucuran air mata yang berlinang dipipinya.
"Mada, setelah ini. Kau harus menuruti Keane ," ucap David, tangannya yang bebas dari infus mengelus rambut putrinya.
"Papa, maafin Mada ya. Mada anak tidak berbakti, sudah membuat Papa sakit," ucap Mada dengan mencium tangan Papanya memohon restu.
"Sudah, jangan nangis. Mada tidak salah, yang salah Papa. Terlalu sibuk dengan bisnis, sehingga lalai untuk menjaga putri papa ini."
"Om cepat sehat ya, Keane akan menjaga Mada. Jangan khawatirkan Mada lagi, cukup Om pikirkan kesehatan Om saja" ucap Keane.
"Jangan panggil Om, panggil Papa ya. Keane sebentar lagi akan menjadi putra Papa David," kata David.
"Baik Om, eh.. Papa ," ujar Keane sambil tawa kecil, karena salah memanggil David.
"Sudah mas, jangan banyak bicara dulu. Nanti sesak napasnya." ingatkan Mayang.
Setelah Mada dan Keane keluar, selisih jeda waktu setengah jam Dama dan Vely masuk kedalam ruangan perawatan David.
"Papa, semangat ya ," ucap Dama seraya memeluk dan mencium kedua tangan Papanya.
"Iya, Papa semangat. Jaga Vely ya, jangan sakiti hatinya. Dan sampai air mata keluar dari matanya, Vely sudah seperti anak ketiga bagi Papa dan Mama." pesan David kepada Dama.
"Iya Paa," sahut Dama.
Selesai Dama, Vely maju kedepan. Seperti Dama, Vely memeluk David dan mencium kedua tangan David.
"Om harus kuat ya, kami masih butuh Om untuk membimbing kami " kata Vely.
"Jangan panggil Om lagi ," kata David kepada Vely.
"Ya Om Papa," ujar Vely, terhias senyum dibibirnya.
"Om Papa ?" ujar Mayang.
"Papa ." Vely mengulang panggilannya terhadap David.
David dan Dama tersenyum menatap Vely yang tersenyum malu-malu.
"Boy, Papa mau secepatnya gendong cucu" kata David.
Deg...
Dama mengaruk-garuk rambutnya, sedangkan wajah Vely bersemburat merah merona.
"Kenapa boy ?" tanya David.
"Mas, belum nikah. Sudah minta cucu, biar mereka berdua dulu pacaran. Mereka tidak pacaran, sekarang mereka pacaran halal. Urusan anak, tunggu dua atau tiga tahun lagi. Mereka masih muda" kata Mayang.
David ingin berbincang lagi, tetapi Mayang menghentikannya. Dan memerintahkannya untuk beristirahat.
Dengan keadaan masih lemah, suara yang pelan. David sendiri yang menikahkan putrinya Mada.
Penghulu memberikan bimbingan kepada David dan Richard, apa yang harus dikatakan pada saat ijab qobul. Karena keduanya, ingin menikahkan anak-anaknya sendiri.
"Bisa kita mulai, karena jam 10 malam nanti Pak David akan didorong kedalam kamar operasi," ujar dokter yang akan menjadi saksi nikah bagi kedua pengantin.
"Ayo Keane duluan" titah Richard"
Keane berjalan menuju ketempat tidur David, sedangkan Mada duduk di samping ranjang Papanya. Tangannya memegang tangan Papanya yang dipasangi infus.
Keane menggenggam tangan David.
Dengan suara yang pelan, David mulai menikahkan putrinya.
Keane dengan lantang berkata.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mada Ayuna putri Alamsyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Keane lantang dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah...!" sahut saksi.
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada ditempat.
Keane beranjak mendekati Mada, dan Keane menyematkan cincin ke jari manis Mada. Cincin yang baru dibelinya tadi. Lalu Mada mencium tangan Keane dan Keane mencium kening Mada.
Mada juga menyematkan cincin yang diberikan oleh Mama ke jari kelingking Keane.
Selesai pernikahan Keane, dilakukan pernikahan Dama dan Vely.
Seperti Keane dan Mada, Richard sendiri yang menikahkan putrinya.
"Dama Putra David Alamsyah, saya nikahkan dan kawinkan putri kandung saya Lovely Cristina Hutama binti Richard Hutama dengan mas kawin sebelas juta delapan ratus ribu rupiah dibayar tunai," ucap Richard dengan lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lovely Cristina Hutama binti Richard Hutama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai ," lantang dan satu tarikan napas, berhasil di ucapkan Dama.
"Bagaimana saksi? apa sah ?" tanya penghulu.
"Sah!" seru saksi.
Dama menarik napas dengan perasaan yang lega, sesaat tadi Dama nervous menyerangnya. Karena genggaman tangan Richard yang kencang menggenggam tangannya, seakan-akan Richard mengintimidasi nya melalui genggaman tangan.
Dengan menekan perasaan nervous, Dama berhasil mengucapkan kalimat sakral.
Dama menyematkan cincin di jari manis Vely, begitu juga dengan Vely. Menyematkan cincin dijari Dama.
Perasaan gembira dan sedih menghinggapi perasaan setiap orang yang ada dalam ruangan tersebut.
"Selamat cucu Oma," ujar Larasati yang baru saja tiba, saat ijab qobul Keane tadi Larasati dan Sony belum tiba, ijab qobul Dama. Larasati dan Sony baru tiba.
"Terima kasih Oma, Opa" ujar Vely.
Senang, karena putri dan putra mereka akan memasuki fase kehidupan yang baru. Perasaan sedih, karena David akan melakukan operasi.
Mayang terlihat murung, tidak ada senyum diwajahnya. Aisha dan Alana selalu berada disisinya.
Richard dan Dony menemani David, mereka berdua memberikan semangat kepada David untuk semangat menghadapi meja operasi.
"May, David tidak akan apa-apa. David masih muda, lihatlah Papa mas Richard. Umur 70 tahun, dia berhasil melewati operasi jantung," kata Aisha.
"Iya May, Opa itu dua tahun yang lalu baru operasi jantung untuk memasang stent. Lihatlah, Opa sehat saja ," ujar Alana juga.
"Aku takut." Mayang menatap kearah David yang ditemani oleh Richard dan Dony.
"Jangan takut, lihatlah. Besok David sudah bisa ganggu mas Richard lagi," kata Aisha.
Pintu terbuka dengan masuknya beberapa suster dengan membawa brankar.
"Permisi Pak, Bu. Kami ingin membawa pasien untuk bersiap-siap" ujar suster.
"Mas ." Mayang memeluk David.
"Jangan nangis Yang, aku akan keluar dari bilik operasi," ujar David.
"Aku tunggu kau Vid," ujar Richard.
"Semangat Bro" ucap Dony.
Brankar membawa David menuju ruang operasi, didepan ruang operasi. David melambaikan tangannya. Seraya berkata.
"Aku akan kembali!" David melambaikan tangannya.
Pintu terbuka, suster membawa David masuk. Lambaian tangan David terlihat, sampai pintu tertutup. Lambaian tangan David tidak terlihat lagi.
Mayang terduduk dilantai, kakinya lemas seketika.
"May, ayo. Jangan begini." Aisha dan Alana mengangkat Mayang untuk berdiri, membawanya untuk duduk .
"Maa, Papa pasti kembali kesini kita. Papa tidak akan mau melihat kita sedih," kata Dama optimis.
"Iya Maa, Papa akan bisa melewati ini semua," Mada duduk dilantai depan Mayang.
*
*
*
*
**Bersambung 😘
Jangan lupa untuk selalu menekan tombol like ya kakak-kakak, biar author semangat ✍️**.