
Lanjut lagi dengan cerita Aisha and the friends ya.
***
Dibelahan seberang laut yang sangat jauh dari Indonesia, seorang pria tiba-tiba bangun dan langsung duduk di ranjang.
"Ah.. hanya mimpi, seperti kenyataan saja."
"Apa yang terjadi, kenapa dadaku terasa tidak nyaman ?" Josh memegang dadanya yang terasa tidak nyaman dan sedikit berdegup sangat kencang.
Josh mengambil gelas air minum yang ada diatas nakas dan langsung meminumnya sampai habis.
"kenapa mimpiku sangat aneh, siapa dia ? kenapa dia menatapku dengan tatapan mata yang sangat menyedihkan ." Josh mengusap wajahnya, saat dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Josh beranjak dari tempat tidurnya.
"kenapa Evelyn bangun sangat pagi sekali ." Josh Melihat ranjang disebelahnya kosong.
Selesai mandi Josh keluar dari dalam kamar dan melihat suasana rumah yang lengang seperti tidak berpenghuni.
"Kemana mereka berdua ." Josh mencari keberadaan istri dan anaknya sampai ke halaman belakang, tetapi wujud keduanya tidak kelihatan.
"Kemana mereka, semalam mereka tidak ada mengatakan ingin kemanapun juga ," ucap Josh dan berjalan menuju kedepan rumah, dan dia tidak melihat keberadaan kendaraan Edward di gerasi.
"Kemana mereka pagi-pagi sekali ?" Josh memijat keningnya yang terasa pusing.
Josh menutup pintu rumahnya dan berjalan menuju kantornya yang tidak jauh dari rumahnya berada.
Dalam waktu lima menit, Josh sampai dikantornya, dan didepan kantornya berjajar Yacht dengan berbagai macam tipe dari yang kecil sampai yang besar. Josh mempunyai usaha yang tidak bisa dibilang kecil yaitu menyewakan Yacht kepada para turis-turis yang ingin berlayar.
Josh membuka pintu kantornya dan terlihat Lima orang pegawainya yang sedang berada ditempat sedang sibuk bekerja.
"Susan, apa tadi Edward dan Evelyn datang kesini ?" tanya Josh.
"Tidak ada pak ," jawab Susan.
"Ya sudah, lanjutkan kerjamu ." Josh masuk kedalam ruangannya dan memulai dengan kesibukannya.
"Kemana mereka ?" pertanyaan dalam benaknya.
****
Richard membuka laci mejanya dan mengambil selembar gambar Jeslyn bersama dengan dirinya, saat gambar diambil mereka sedang liburan ke Mongolia. Bukan liburan tetapi Jeslyn ada misi kemanusiaan dan Jeslyn mengajak Richard agar mengerti dengan pekerjaan yang dilakukannya.
"Sepertinya aku harus benar-benar melupakan dirimu ," ucap Richard sambil memandang gambar yang ada dalam genggaman tangannya.
"Kenapa selalu mereka meninggalkan aku ," gumannya.
Suara ketukan dipintu ruang kerjanya, membuat lamunannya terhenti. Dia mengembalikan gambar Jeslyn kembali kelaci mejanya dan menguncinya.
"Masuk ."
Pintu terbuka dan muncul Tony dengan membawa agendanya hari ini.
"Pak, ada undangan dari client." Tony memberikan undangan berwarna pink kepada Richard.
"Acara apa, kenapa undangannya ini berwarna pink ," kata Richard, dia hanya memegang dan tidak membukanya.
"Itu pak.. hemhm.. ." Tony berat untuk mengatakannya.
"Apa Tony, kenapa jadi gagu kau ?" tanya Richard.
"Itu pak, undangan pernikahan Pak Guntur ," kata Tony.
"Oh..Pak Guntur mau menikahkan putrinya, hei.. bukannya putri pak Guntur masih kecil ?" Richard membuka undangan tersebut, dan betapa kagetnya dia. Saat melihat nama clientnya yang tertera disitu.
"Dia yang menikah !?" ucap Richard setelah membacanya.
"Iya pak, dan ini pernikahannya yang ketiga ," kata Tony.
"Kita saja belum menikah, pak Guntur sudah mau tiga ." celetuk Tony tanpa bisa ditahannya.
"Kenapa ? apa kau mau menikah, menikah saja. Tidak ada yang melarang." Richard meletakkan undangan tersebut.
"Bagaimana bisa menikah, pulang kerja saja jam sepuluh malam baru tiba dirumah. Sepertinya aku akan seperti pak boss, ngejomblo seumur hidup ." hanya berada dalam benaknya Tony.
"Kenapa diam ?" Richard melirik kearah asistennya.
"Nggak ada apa-apa pak ." geleng Tony.
"Apa agenda saya hari ini ?" tanya Richard.
Tony mengatakan semua agenda Richard hari ini.
"Malam hari tolong diundurkan besok ," kata Richard.
Richard mengambil undangan lagi, dan terlihat tawa dibibirnya.
"Kenapa begitu mudah untuk membagi cinta ," gumamnya.
***
Kita lihat perkembangan Aisha dulu guys.
Aisha dibawa ke Yayasan, nenek dan Larasati tidak mau meninggalkan Aisha sendirian. Mereka berdua terus bersama dengan dirinya.
"Aisha..." Dokter memanggil namanya, tetapi Aisha tidak merespon panggilan tersebut.
Dirinya terus memeluk lengan Wisnu, sehingga Wisnu tidak bisa meninggalkan dirinya saat berjumpa dengan Dokter Jiwa.
"Aisha ." Dokter mengulangi sapaannya, dan sapaan kedua baru ada respon. Aisha melihat kearah Dokter walaupun dalam keadaan takut, dia menatap Dokter dari dalam pelukan Wisnu.
"Jahat..," ucap Aisha dengan setengah berbisik.
"Siapa yang jahat ?" tanya Dokter tersebut lagi.
"E..e... nggak tahu ," jawab Aisha.
"Apakah Aisha sering mendapatkan bullying dilingkungan sekitar ?" tanya Dokter.
"Bullying ? apa itu ?" tanya nenek yang tidak mengerti arti bullying.
"Itu seperti gangguan atau ejekan dari lingkungan ?" kata Dokter.
"Tidak ada Dokter, Aisha tidak pernah mengatakan apapun ," ucap Larasati.
"Bagaimana lingkungannya kampus ?" tanya Dokter lagi.
"Tidak ada, Aisha sangat akrab dengan teman-temannya ," jawab Larasati.
Dokter bangkit dan berjalan menuju lemari dan mengambil file dan kembali.
Dokter membaca file tersebut, dan menatap kearah Wisnu dan kemudian nenek dan Larasati.
"Apa yang ditakutkan, itu tidak terjadi. Aisha tidak mengalami pelecehan ," kata Dokter, setelah membaca rekam medik Aisha yang telah dilakukan.
"Apa..!" Nenek dan Larasati terkejut dan mereka saling berpandangan, begitu juga dengan Wisnu.
"Aisha tidak mengalami pelecehan seksual," kata Dokter sekali lagi.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah ," ucap nenek dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, perkataan Dokter membuat perasaannya sedikit gembira.
"Betulkah Dokter ?" tanya Larasati.
"Betul Bu, Dokter Vita yang telah melakukan pemeriksaan ini semua ," kata Dokter Samudra.
"Ini kami lakukan atas permintaan Wisnu ," ucap Dokter Samudra.
"Maaf nek, Bu. Wisnu ingin melaporkan kasus yang menimpa Aisha, makanya Wisnu meminta melakukan pemeriksaan menyeluruh," kata Wisnu.
"Sepertinya orang yang melakukan ini, hanya ingin menakut-nakuti Aisha. Sehingga Aisha merasa dia sudah diperkosa ," ucap Dokter.
"Kurang ajar orang itu, aku akan membuat perhitungan dengannya ," ucap Wisnu dengan penuh kemarahan dan suara yang keras, sehingga Aisha yang berada dalam dekapannya kaget dan menangis ketakutan.
"Maaf Aisha, mas tidak marah kepada Aisha. Jangan takut ya ." Wisnu berusaha untuk menenangkan Aisha, tetapi Aisha makin menangis dan histeris.
"Bawa kekamarnya saja Wisnu ," kata Dokter Samudera.
Wisnu mengendong Aisha yang menangis histeris, dan dari belakang nenek dan Larasati mengikutinya.
Sekali lagi, hanya suntikan obat penenang yang dapat menenangkan Aisha.
"Aisha tidak bisa mendengar suara yang keras ," kata Rafa setelah menyuntikkan obat penenang.
"Apa keberadaannya disini tidak makin memberatkan kondisinya, disini selalu terdengar suara teriakan dan tangisan ?" tanya nenek kepada Rafa.
"Kamar ini kedap suara nek ," kata Wisnu.
"Dalam gedung ini hanya orang yang sudah bisa digabungkan dengan orang lain yang bisa tinggal disini ," ucap Rafa.
"Iya nek, sekarang kami sudah memisahkan pasien yang berat dan ringan," kata Wisnu.
"Baguslah, nenek takut Aisha akan kaget mendengar suara keras ."
Bersambung...