Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 180 sakit benaran


Lanjut dengan fosesif para orang tua yang punya anak cewek, bukan dunia halu. Dunia nyata juga sering terjadi. Orang tua itu lebih keras dalam menjaga anak-anak, terutama anak cewek.


Happy reading.


***


Mada masih berusaha untuk membuat David sadar, tanpa disadarinya. Mata David tadi terbuka sekejap, dan Mada tidak melihat. Hanya mata Richard dan Dony yang menyadarinya.


"Betul Om, David sepertinya hanya pura-pura pingsan ." bisik Dony kepada Richard.


"Sudah diduga, sepertinya. Akal licik David bisa kita tiru, mungkin saja ada manfaatnya bagi kita nanti." balas Richard.


"Anakku cowok semua Om ," kata Dony.


"Cowok, cewek sama saja. Jangan izinkan jauh dari kita ," kata Richard.


"Kway jauh ." ingatkan David mengenai Kway kepada Richard.


"Aku tidak khawatir, ada Om nya Edward yang menjaganya," kata Richard.


"Papa, Mada janji. Tidak akan kuliah jauh dari Papa ," ucap Mada sambil menangis.


"Betul ?" mata David terbuka sempurna.


"Papa sudah sadar ." Mada terlihat gembira.


"Om, Papa sudah sadar ." beritahu Mada kepada Richard dan Dony.


"Iya, Om lihat. Papa Mada sudah lebih dari sadar, dan terlihat seperti tidak sakit saja ." sindir Richard.


"Vid, apa tidak perlu kami bawa kau kerumah sakit? mungkin saja ada kelainan di jantung mu ?" tanya Dony.


"Tidak.. tidak..! aku hanya sedikit terkejut tadi ," ujar David .


"Betul? jangan sampai nanti jantungmu bermasalah," kata Richard.


"Betul ! Mada, Papa tidak apa-apa. Istirahat sebentar, Papa akan fit kembali ," kata David.


"Sungguh Paa?"


"Betul, apalagi mendengar Mada mengurungkan niat untuk pergi sekolah keluar. Papa langsung sehat ," kata David.


"Dasar tukang acting, buat khawatir Saja." batin Richard.


"Mada, bisa tinggalkan Papa dulu. Papa mau bicara dengan mas besan dan Om Dony ," kata David.


"Baik Paa ." Mada beranjak keluar dari dalam kamar Papanya.


"Kau sungguh-sungguh Papa yang sangat licik, tega kau menipu kami. Dengan berpura-pura pingsan," kata Richard.


"Aku kira, kau mau pindah ke atas ," kata Dony.


"Maaf, kalau kalian berada dalam posisi aku. Kalian pasti akan gusar, anak cewek mau pergi jauh dari kita. Ke negara lain lagi, bagaimana jika pulang dia bawa orang asing sebagai suami. Dan bawa anak lagi ? oh.. tidak! tidak bisa aku bayangkan." David memijat pelipisnya.


"Kau mencari penyakit sendiri, belum tentu Mada seperti itu," kata Dony.


"Apa bisa bilang begitu, karena kau tidak punya anak cewek. Bagaimana jika nanti anakku jatuh kedalam pelukan pria beristri? Mas besan, kita nikahkan saja Mada dan Keane sekarang ," ucap David.


"Apa ? Mada baru 17 tahun, apa tidak kasihan ?" tanya Dony.


"Kenapa kasihan? Mada menikah, bukan dibuang. Menikahnya juga, suaminya depan rumah, lima langkah sudah sampai ," kata David.


"Mas besan, kenapa diam saja ?" David memandang Richard.


"Kau bicara dengan Rodrick dan Keane," kata Richard.


"Untuk apa Rodrick ?" tanya David.


"Bukannya dulu kau berminat Rodrick sebagai menantumu?" tanya Richard.


"Mada tidak cocok dengan Rodrick, mas besan. Mada itu hanya nurut dengan Keane ," kata David.


"Kau bicara dengan Keane ." titah Richard.


***


Aldo sedang berada di kantornya, hari ini Aldo melakukan wawancara kepada pekerja yang bertugas untuk menjadi tour guide.


Pagi-pagi sekali, Aldo sudah berada dikantor.


"Aldo, pelamar sudah datang semua.ini data-datanya." Aryo, asisten yang dipilih Aldo untuk membantunya. Walaupun masih seumuran dengan Aldo, tetapi kemampuan kerja Aryo tidak diragukan lagi.


Dan Aryo juga adalah sahabat Aldo, sehingga Aldo mengajaknya untuk bekerja di perusahaan travelnya.


"Ini sepertinya cocok ." Aldo memberikan beberapa berkas lamaran kepada Aryo.


"Iya Do, bisa bahasa Prancis juga ," kata Aryo, setelah melihatnya.


Keduanya pergi ketempat para pencari kerja, menunggu untuk melakukan wawancara.


Satu persatu para pelamar diwawancarai Aldo dan Aryo.


"Kau !" begitu melihat, seorang gadis yang masuk kedalam ruangan tempat wawancara dilakukan.


"Anda !" gadis itu juga terkejut, melihat Aldo yang akan mewawancarainya.


"Aida Prameswari." Aldo membaca data-data Aida.


"Kuliah saya sudah mau selesai Pak, dan saya ingin mencari uang. Untuk membantu perekonomian keluarga," jawab Aida.


"Jangan panggil bapak, panggil saja Aldo," kata Aldo kepada Aida.


"Kau bisa bahasa Prancis ya, selain Inggris?" tanya Aryo.


"Iya, aku sangat suka belajar bahasa asing ," sahut Aida.


"Selamat bergabung !" Aldo mengulurkan tangannya kepada Aida.


"Aku diterima ?" tidak percaya Aida.


"Iya, kau diterima bukan karena kita teman satu kampus, tapi karena kami membutuhkan. Banyak turis asing berasal dari Prancis, keahlian mu dalam berbahasa Prancis itu yang membuat kami menerimamu ," kata Aldo.


"Terima kasih, aku akan mengeluarkan semua kemampuan ku ," kata Aida.


"Besok kau sudah bisa mulai kerja." titah Aldo.


****


David menemui Keane dan mengutarakan keinginannya, agar Keane menikahi Mada secepatnya.


Keinginan David membuat Keane kaget, karena tidak mengira secepat itu menikah dengan Mada yang baru berusia 17 dan baru selesai SMA.


"Om, apa tidak terlalu cepat. Mada masih muda Om, keinginannya pasti masih banyak yang belum terwujud," kata Keane .


"Sudah menikah juga masih bisa memenuhi keinginannya, Keane. Apa kau tidak menyukai Mada ?" tanya David.


"Bukan tidak suka Om, tapi Mada masih terlalu muda untuk menikah. Bagaimana kalau bertunangan saja dulu Om." usul Keane, agar dirinya dan Mada bertunangan dulu.


"Jika Mada benar-benar siap, baru kita menikah ," kata David.


"Baiklah ," sahut David.


***


Karena takut Mada tidak ingin bertunangan dengan Keane, David melakukan drama kembali.


Tanpa ada yang tahu, David melakukan tricknya. Yaitu pura-pura sakit, tetapi ternyata. Kepura-puraan David, menjadi kenyataan. David benar-benar mengalami sakit dibagian dadanya.


"Sakit May..!" David memegang dadanya, dan terasa nyeri sampai kepunggungnya.


"Mas Dav, jangan bohong lagi !" melotot Mayang.


"Serius May !" keringat dingin David.


"Ada apa Maa ?" tanya Dama yang baru kembali dari cafetaria yang launching hari ini.


"Sakit Dam." David memegang dadanya.


"Betul sakit ?" wajah Mayang mulai terlihat panik.


"Kita kerumah sakit Paa." Dama memapah David untuk berangkat kerumah sakit.


Sampai dirumah sakit, dokter langsung memeriksa kondisi David.


"Apa bapak terlambat makan hari ini?" tanya dokter.


"Iya dokter, hari ini pembukaan cafetaria. Sehingga sibuk," jawab David.


"Asam lambung bapak naik, jangan telat makan lagi ya ," kata dokter.


"Hanya asam lambung ya, tidak perlu dirawat dokter ?" tanya David.


"Tidak pak," jawab dokter.


"Tapi saya mau dirawat dokter ," kara David.


"Dirawat? biasanya, orang tidak suka dirawat. Kenapa bapak minta dirawat ." heran dokter.


"Rawat saja dokter, mungkin nanti malam. Penyakit saya kambuh lagi."


"Baiklah, bapak dirawat ," jawab dokter.


"Dok, tolong. Jangan beritahu, saya hanya sakit asam lambung kepada keluarga saya," kata David.


"Kenapa ?" tanya dokter.


"Tidak apa-apa Dok, bilang saja penyakit saya ini tidak boleh stres ," kata David.


"Dokter, tidak boleh berbohong Pak" kata dokter.


"Dokter tidak berbohong, dokter hanya bilang saya tidak boleh stres. Kalau stres nanti asam lambung saya kambuh lagi .


"Baiklah pak " dokter meninggalkan David.


*


*


*


Bersambung 😘