
**Cerita hanyalah untuk hiburan, bacanya santai saja.
Happy reading guys ❤️**
****
Dalam kamar Aisha semakin ramai dengan kedatangan nenek dan Larasati.
"Aish !" nenek dan Larasati secara bergantian memeluk Aisha.
"Akhirnya, nenek masih diberikan kesempatan untuk melihat cicit," kata nenek kepada Aisha dan Richard.
"Nenek akan melihat, bukan hanya satu cicit saja nek. Nenek pasti akan melihat cicit-cicit nenek lahir setiap tahun !" kata Richard.
"Huh..mas say ! emang enak hamil tiap tahun ." gerutu Aisha.
"Bagus..bagus, nenek suka. Banyak anak banyak rezeki ," kata nenek.
"Nenek suka Aish " kata Richard.
"Maunya mas say !"
Para wanita berkumpul di dekat ranjang Aisha, sedangkan para pria berkumpul di sofa. Suasana didalam ruang rawat inap Aisha menjadi sangat ramai, sehingga mendapatkan teguran dari suster yang Mengganti infus Aisha.
"Maaf ya, bapak-bapak dan ibu-ibu. Jangan terlalu ramai didalam ruangan ini, biar pasien dapat beristirahat ," kata suster tersebut.
"Maaf suster ," kata mama Richard.
Satu demi satu meninggalkan ruang inap Aisha, tertinggal nenek dan Larasati.
"Ibu dan nenek pulang kerumah saja, biar Tony nanti mengantarkan nenek dan ibu kerumah " kata Richard kepada nenek.
"Biar kami disini saja " kata ibu Aisha.
"Tidak usah Bu, biar disini Richard saja. Besok pagi kami juga sudah pulang," kata Richard.
"Iya Bu, kasihan nenek kalau tidur disini. Nggak nyaman tidur di sofa," kata Aisha juga.
"Bu, Aish. ingin makan pepes ikan patin ," ujar Aisha dengan malu-malu.
"Ini pasti cicit nenek yang ingin makan ya ," kata nenek Aisha.
Aisha menganggukkan kepalanya.
"Biar besok ibu masakkan," kata ibu Aisha.
Pintu kamar terbuka, wajah Sony muncul.
"Om Sony, Richard kira Om sudah balik ," kata Richard.
"Tidak, Om tadi keluar ada yang mau dibicarakan dengan mas Rendra," kata Sony.
"Bagaimana, ibu dan Laras pulang atau nginap di sini?" tanya Om Sony.
"Rich, suruh pulang saja Om. Kasihan nenek tidur disini, ini lagi nunggu Tony untuk mengantarkan nenek dan ibu untuk pulang kerumah," kata Richard.
"Biar Om saja yang mengantarkannya" kata om Sony.
"Boleh Om, Tony juga masih ada kerjaan dikantor" kata Richard.
"Aish, ibu dan nenek balik dulu. Besok ibu masakkan pepes ikannya ," kata ibu kepada Aisha,
"Iya Bu ," sahut Aisha.
"Sudah istirahat ya, jangan pikirkan apapun juga. Biar cicit nenek sehat didalam sini " ujar nenek sembari mengelus perut Aisha.
Aisha menganggukkan kepalanya.
"Akhirnya, tinggal kita berdua. Asay mau makan apa ?" tanya Richard.
"Nggak mau makan apa-apa mas ," kata Aisha.
"Mas, bisakah Aish duduk di sofa. Punggung Aish panas, berbaring terus " kata Aisha.
"Nanti mas tanya suster dulu." Richard keluar dari dalam kamar, tidak lama kemudian masuk kembali bersama dengan suster.
"Apa ibu tidak merasa pusing lagi ?" tanya Suster.
"Tidak pusing lagi sus, punggung saya panas. Karena berbaring terus," kata Aisha.
"Kalau begitu tidak apa-apa pak " suster membantu dengan membawa infus yang masih terpasang ditangan Aisha.
Richard mengangkat Aisha, mendudukkannya di sofa.
"Terimakasih suster ," kata Aisha.
"Sama-sama Bu, nanti jika butuh apa:apa. Silakan tekan bel ini ya pak, Bu " kata suster sebelum keluar dari dalam kamar.
"Masih panas punggungnya ?" tanya Richard, sambil memijat-mijat punggung Aisha.
"Tidak lagi mas ," sahut Aisha.
"Mas, kira-kira laki atau perempuan yang ada didalam sini ?" tanya Aisha kepada Richard.
"Apa saja mas suka ?" tangan Richard mengusap-usap perut Aisha.
"Anak Daddy, laki atau perempuan ?" tanya Richard dengan mendekatkan mulutnya keperut Aisha.
"Keduanya Daddy ," jawab Aisha dengan menirukan suara anak kecil.
"Kembar ? kita tidak ada keturunan kembar mas ," kata Aisha.
"Tidak ada keturunan, tidak menutup kemungkinan punya anak kembar ," kata Richard.
Aisha tidak dapat membayangkan mempunyai anak kembar, pasti badannya akan bulat seperti tong .
"Kalau Aisha hamil anak kembar, Aish pasti akan gendut seperti tong. Awas mas say jika melirik wanita lain yang langsing !" mata Aisha menatap wajah Richard dengan tatapan mata yang horor.
"Satu ini saja nggak habis-habis, untuk apa mas melirik yang tidak halal diluar sana " kata Richard.
Richard melabuhkan bibirnya dileher Aisha, Richard mengendus-endus. Membuat Aisha merasa geli.
"Mas ! geli ah !" Aisha mendorong wajah Richard yang nempel di lehernya.
"Aish, Seperti. Bercinta dirumah sakit membuat andrenalin kita naik ya, perlu kita coba." bisik Richard.
"Mas say ! jangan mulai ya. Didalam ini ada calon baby kita ya, jangan sampai nanti anak Aish tertular mesum seperti Daddy-nya ini " Aisha ingin bangkit, tapi tangan Richard memeluknya dengan erat.
"Mau kemana ?" tanya Richard.
"Mau mengungsi, disini ada pengganggu ," kata Aisha.
Richard tertawa lebar.
"Mas main-main saja, tidak mungkin mas ngajak Aish ehemm..ehem dirumah sakit ," ujar Richard.
"Anak Daddy mau makan apa ?" tanya Richard.
"Sepertinya anak Daddy ingin makan buah melon, sawo dan pisang ," jawab Aisha dengan menirukan suara anak kecil.
"Banyak sekali, apa anak Daddy ingin jualan didalam perut mommy ?" Richard memberikan kecupan diperut Aisha.
"Nak, Daddy jahat. Daddy bilang anak mommy mau jualan didalam perut, besok kita pulang dari rumah sakit. Kita tidak usah pulang kerumahnya Daddy ya, kita pulang kerumah Oma saja ," ujar Aisha.
"Ini anak Daddy yang ngambek atau mommynya ?" tanya Richard.
"Keduanya !" jawab Aisha.
***
Didalam kamar, David sudah standby rebahan di ranjang.
Ketika Mayang keluar dari dalam kamar mandi, Mayang melihat David senyum-senyum menatap kearah Mayang.
"Kenapa Dia senyum-senyum sendiri, apa David terkena penunggu rumah sakit ." batin Mayang.
"Yang, sini !" David menepuk-nepuk kasur disebelahnya.
"Mencurigakan orang ini ." batin Mayang.
"Ada apa, apa kau membutuhkan sesuatu ?" tanya Mayang.
"Yang, mas besan sudah berhasil mencetak generasi penerus. Kita kapan Yang ?" tanya David.
"Kita kapan-kapan saja boleh ," sahut Mayang.
"Malam ini boleh Yang ?" tanya David .
"Malam ini ? hemhm.. sepertinya belum bisa ," jawab Mayang.
"Kenapa Yang, apa masih palang merah ?" tanya David.
"Iya " sahut Mayang.
"Kenapa palang merah terus Yang ?" heran David.
"Waktu itu palang merah, kenapa tidak siap-siap ?" tanya David sambil menatap Mayang dengan tatapan mata yang menyelidiki.
"Bohong !" seru David.
"Ini tidak bohong, yang dulu yang bohong " ujar Mayang .
David bangkit dari ranjang dan beranjak mendekati Mayang yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Mau apa ?" tanya Mayang, melihat David mendekati dirinya.
"Aku ingin lihat, apa benar kau palang merah ?" terlihat senyum dibibirnya.
"Jangan dekat, aku tendang ya !" Mayang memberikan gerakan kuda-kuda untuk melakukan perlindungan.
Tetapi David tidak gentar, ia terus melangkah mendekati Mayang yang berdiri untuk kabur.
"Kau tidak akan pernah bisa lepas Yang ," ujar David.
Ketika Mayang ingin kabur keluar dari dalam kamar, David dengan cepat meloncat dan menyambar lengan Mayang.
"Kena kau !" seru David dengan suara yang sangat senang.
*
*
*
...Bersambung.....
Maaf jika banyak typo ya 🙏