Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 191 kabur


Tetaplah menjaga kesehatan dan patuhilah protokol kesehatan, virus itu memang ada.


Happy reading guys ❤️


***


Dama terus maju dan Vely mundur, sehingga badan Vely mentok didinding.


"Kakak mau apa ?" gugup Vely, menerima tatapan mata Dama yang tajam menatap wajahnya.


"Vely kenapa tinggal lama dirumah Oma ?" tanya Dama.


Tangan Vely mendorong tubuh Dama yang tidak berjarak lagi dari tubuhnya, tetapi semakin Vely mendorong. Semakin menempel tubuhnya dengan Dama.


Jarak wajah mereka hanya sejengkal, napas Dama terasa diwajah Vely ( Dama tidak menjaga protokol kesehatan nih🤣)


Vely menundukkan kepalanya, karena Vely gugup menatap wajah Dama tidak berjarak lagi dari wajahnya.


Dama mengangkat dagu Vely, sehingga wajah mereka sekarang saling menatap.


Vely merasakan jantungnya berdetak sangat kencang, tangan Vely memegang dadanya.


"Kak Dama !" lirih suara Vely.


Cup


Dama mendaratkan kecupan sekilas dibibir Vely.


Mata Vely membesar, mulutnya terbuka lebar.


"Ingat, bibir ini sudah kakak beri stempel pemilikan. Tidak ada yang boleh memberikan stempel lagi ," ujar Dama dengan menampilkan senyum kecil dibibirnya.


Mata Vely tidak berkedip menatap Dama, mulutnya masih terbuka.


"Hei..!" Dama menepuk dengan lembut pipi Vely.


Bukannya tersadar, badan Vely luruh kelantai. Jika tidak sigap Dama, badan Vely sudah terduduk dilantai.


"Vely..!" kaget Dama, melihat Vely pingsan.


"Aduh..!" Dama mengendong Vely, dan membaringkan tubuhnya keatas sofa yang ada didalam kamarnya.


"Vely..Vely..! jangan pingsan, baru dikecup sebentar sudah pingsan. Belum saling berkaitan lidah kita ," ujar Dama sambil menepuk pipi Vely.


"Apa yang harus kulakukan, minta tolong Mada. Ah...bisa menjadi bahan tertawaan aku ." Dama bicara sendiri.


"Minyak..aku nggak ada minyak! mungkin Bi Tuti ada ." Dama bergegas mencari Bi Tuti, pembantu dirumahnya.


Dama keluar dari dalam kamar untuk mengambil minyak gosok. Agar Vely tersadar.


Begitu Dama keluar dari dalam kamar, Vely langsung berdiri dan berlari keluar dari dalam kamar Dama.


"Ah..aku harus kabur." suara hati Vely.


Vely berlari dengan mengendap-endap menuju kedalam rumahnya, dan langsung naik menuju kamarnya. Vely mengunci pintu, kemudian naik keatas ranjang dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.


"Ahh..kak Dama ! mau mencium kenapa nggak bilang dulu. Ah..malunya ," ujar Vely seraya mengusap bibirnya yang baru disentuh oleh bibir Dama.


Begitu mendapat minyak gosok, Dama dengan cepat kembali masuk kedalam kamarnya.


Melihat pintu kamarnya terbuka, Dama heran. Apalagi saat melihat Vely tidak ada didalam kamarnya lagi.


"Kemana dia ? apa ? Vely, dia pasti pura-pura pingsan. Sial..! aku sudah dikerjain anak itu ." gerutu Dama.


"Awas kau besok Vely, bukan hanya sekilas ku beri stempel. Aku kubuat kau tidak melupakan stempel ku itu !" seru Dama seraya berjalan menuju balkon kamarnya, Dama memandang kearah kamar Vely.


Vely tidak dapat memejamkan matanya, matanya terbuka lebar. Mengingat kecupan Dama.


"Ahhh! kak Dama, kau sudah mencuri start. Kau membuat ku tidak bisa tidur !" geram Vely.


"Bibir ini sudah kena virus!"


"Apa kak Dama suka dengan ku? kalau dia tidak suka, tidak mungkin dia main sosor seperti angsa ?"


"Kalau kak Dama tidak suka dengan ku, aku sudah rugi. Bibir ku sudah tercemar ."


"Dasar Dama !" teriak Vely dengan keras, dan bantal ditempelkannya diwajahnya. Agar teriakannya tidak terdengar keluar dari dalam kamarnya.


Setelah puas mengumpat, akhirnya Vely memejamkan matanya.


Kita tunggu hari esok, apa yang akan terjadi saat Vely bertemu dengan Dama.


**


Keesokan harinya, semua orang sudah melakukan aktivitas yang dilakukan setiap pagi. Vely masih berada dalam dunia mimpinya, matanya tidak bisa terbuka. Walaupun suara mommynya sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar.


"Belum bangun juga ?" tanya Richard yang baru keluar dari dalam kamarnya.


"Belum mas, tangan Aish sudah sakit ini. Ngetuk pintu kamar Vely " kata Aisha.


"Sudah biarkan saja, mungkin tadi malam Vely larut tidurnya," ujar Richard.


"Bagaimana nanti kalau Vely jadi kost, siapa yang akan membangunkannya. Bisa-bisa anak itu ketinggalan klas terus ," ujar Aisha seraya mengikuti Richard turun kebawah.


"Resiko anak kost, biar belajar bangun pagi dia ."


***


"Hei..ada apa ?" tanya Rodrick.


"Dok... dibelakang.. belakang!" wajah Jessie pucat, jemarinya menunjuk kearah belakang.


Umar muncul dari belakang dan membawa seekor ular sanca.


"Jangan mendekat! jangan mendekat !" teriak Jessie sambil bersembunyi dibalik badan Rodrick.


"Kau takut dengan ular itu ?" tanya Rodrick.


"Iya Dok, siapa yang tidak takut dengan hewan jelek itu. Kenapa hewan jelek itu ada disini Dok, semalam tidak ada?" tanya Jessie, badannya bergidik melihat ular itu melilit badan Umar.


"Tadi malam ular itu diantar pemiliknya, dia tidak mau makan," ujar Rodrick, dan mendekati ular yang dipegang oleh Umar.


"Hih.. siapa yang hobi melihara binatang melata itu, huh..!" seru Jessie, dan bergeser menjauh.


"Ayo sini, badan ular ini sangat lembut," kata Rodrick, agar Jessie mau menyentuh ular itu.


"Tidak! aku tidak mau !" tolak Jessie.


"Kau mau kerja disini, tapi takut dengan ular ," kata Rodrick.


"Aku tidak mau dekat dengan binatang itu, bawa menjauh !"


"Dok, itu pemiliknya ." tunjuk Umar kepada seorang wanita yang baru saja masuk.


"Bagaimana Dok, apa Susi sudah mau makan?" tanya wanita tersebut.


"Sudah, hanya ada luka di mulutnya," kata Rodrick.


"Wanita gila! peliharaan yang sungguh sangat aneh! lebih bagus pelihara burung. Ini ular ." batin Jessie.


Setelah wanita dan ularnya pergi, baru Jessie berani bergerak.


"Ini ular!" seru Rodrick sembari melemparkan tali hitam dan panjang, membuat Jessie berteriak.


"Aww....!" teriak Jessie histris.


Rodrick dan Umar tertawa senang melihat Jessie teriak dan loncat ketakutan.


Begitu tersadar bahwa yang dilemparkan Rodrick hanya tali, Jessie melotot menatap Rodrick dan Umar yang tertawa.


"Kalian mengerjaiku ya ?" jengkel Jessie.


"Maaf Nona Jessie, dokter yang menyuruh saya untuk melemparkan tali itu," ujar Umar, dan menunjuk kearah Rodrick yang masih tertawa kecil.


"Kau..!" Jessie gemas dan mengejar Rodrick, Rodrick masuk kedalam ruangannya dan menguncinya.


"Dok.. dokter!" teriak Jessie dari luar.


"Sudahlah Nona, kalau Pak Dokter sudah mengunci pintunya. Pasti dia tidak akan mendengarnya, karena dokter selalu mendengar music dengan memakai headset," kata Umar.


"Sial ! baru seminggu kerja disini, aku bisa kena serangan jantung !" gerutu Jessie.


"Mas Umar, apa disini sering menerima pasien ular ?" tanya Jessie.


"Selama klinik ini dibuka, baru dua kali. Tapi ularnya tidak dibawa kesini, dokter yang datang kesana ," kata Umar.


"Semoga tidak ada pasien ular lagi " kata Jessie.


***


"Vely, kita mau nonton apa ?" tanya Mada.


"Nggak tahu ," sahut Vely.


"Bagaimana kalau kita nonton film beranak dalam kubur." terdengar suara dari belakang, tepat ditelinga Vely.


Deg..


Jantung Vely berdetak kencang, mendengar suara orang yang telah membuat dia tidak bisa memejamkan matanya.


"Kak Dama!" seru Vely.


"Kak Keane!" seru Mada.


"Kami diperintahkan Daddy dan mommy untuk mengawasi kalian berdua," kata Keane.


Keduanya menjadi lesu, karena mengira. Bahwa mereka bebas dari pengawasan hari ini .


*


*


*


Bersambung 😘


Bantu like.. like setelah membacanya ya Terima kasih ❤️🙏