
**Happy reading guys...
***
Mark mendengar suara dari dalam kamar mandi, dan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
"Gaby..Gaby ! keluar Gaby, ini Mark Gaby ." ketukan dan panggilan dilakukan Mark, tetapi tidak ada suara sahutan dari dalam kamar mandi.
"Gaby..!" teriak Mark dengan suara yang nyaring.
Tetapi tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi, membuat Mark cemas dan khawatir.
"Gaby, aku hitung sampai tiga ya. Jika tidak kau buka, aku akan dobrak pintu ini ." lagi-lagi tidak ada pergerakan dari dalam, yang ada hanya suara air mengalir.
"Satu, dua..." tangan Mark memegang handle pintu.
Cklek...
Pintu kamar mandi tidak dikunci oleh Gaby, Mark kaget melihat Gaby.
"Gaby..!" Mark keluar dari dalam kamar mandi, dan mengambil selimut. Dan kembali lagi kedalam kamar mandi.
Mark mematikan shower, dan menutup tubuh Gaby dengan selimut yang diambilnya tadi.
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau duduk dibawah shower. Lihatlah, badanmu sudah dingin seperti es ." Mark meletakkan Gaby di sofa, kemudian berlari mengambil air hangat.
"Minum ." perintah Mark.
Tetapi tidak ada respon dari Gaby, pandangan matanya kosong. Tidak ada air mata yang keluar dari kedua bola matanya.
"Gaby..!" Mark meletakkan air hangat yang diambilnya tadi.
"Gab..hei Gaby..!" Mark menggoyang-goyangkan badan Gaby, agar Gaby sadar, tetapi tetap saja tidak ada respon dari Gaby.
Plakk....
Mark menampar wajah Gaby, agar Gaby tersadar.
"Haaarghhg....!" Gaby tersadar, dan begitu melihat Mark. Dia langsung memeluk Mark dengan erat.
"Gaby..tenang !" Mark balas memeluknya dan berusaha untuk membuat Gaby menjadi tenang.
"Kotor..aku kotor !" seru Gaby, disertai suara tangisan yang cukup memilukan.
"Huss..sudah Gaby, ini sudah terjadi. Kan sudah kubilang, jangan ke club. Kenapa kau masih nakal juga," ucap Mark sambil menepuk-nepuk pundak Gaby.
"Kita pulang, pakai ini. Aku tadi membelikan baju untukmu, buang saja baju kotor ini ." Mark memberikan paper bag yang ada diatas meja.
"Aku takut pulang !"
"Kalau tidak pulang, kau mau kemana ?" tanya Mark.
"Aku akan mencari pria itu!" seru Gaby.
"Kau tahu siapa pria itu ?"
"Pasti Andi dan temannya ."
"Sudah ku bilang jangan dekat-dekat dengan mereka, kau itu tidak bisa dikasih tahu. Sudah terjadi begini..?" Mark menghela napasnya dengan Kasar.
"Malam itu kau tidak sadar ?" tanya Mark.
"Aku mabuk ."
"Dasar pemabuk !"
"Cepat ganti bajumu, aku pergi sebentar ." Mark pergi keluar dari kamar.
****
Aisha berbaring sembari memainkan ponselnya, Dia berbalas pesan dengan Alana dan Mayang.
"Mas say..!" Aisha kaget, ketika tiba-tiba ada tangan yang merampas ponselnya.
"Jangan bilang Alana, kita pergi honeymoon besok," kata Richard.
"Nggak mas say, kami hanya membahas tentang David mas say ," kata Aisha.
"David ! jangan dekat-dekat dengan bocah tengil itu !" seru Richard dan ikut berbaring di ranjang.
"Mas say, Aish nggak dekat-dekat dengan David. Mayang hanya cerita, kalau David selalu mengikutinya." Aisha bangkit dari baring dan duduk disamping Richard.
"Bagus, Dia tidak akan mengejar-ngejar istri mas say ini !" Richard memegang kedua pipi Aisha dan menguyel-nguyelnya.
"Mas say, pipi Aish turun nanti !" Aisha mundur duduknya, sehingga pipi terhindar dari tangan nakal Richard.
Richard bangkit dan memberikan ponsel Aisha kembali.
"Ingat, jangan beritahu Alana kita mau pergi ," ujar Richard.
"Kita mau pergi kemana mas ?" tanya Aisha.
"Rahasia ." kemudian Richard keluar dari dalam kamar.
****
Josh duduk di balkon, pandangan matanya menatap jauh kedepan. Dia tak menyadari dua pasang mata menatap dirinya.
"Ed, kau dekati Daddy. Apa yang dipikirkannya ."
"Biarkan saja mom, Daddy pasti merasa berat untuk kembali," kata Edward.
"Ed, coba hubungi Aisha. Mungkin bisa bertemu, sebelum kita kembali ," ucap Evelyn.
"Oke mom ." Edward masuk kedalam kamarnya, untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Aisha.
****
Disinilah mereka bertemu, di satu restoran yang dipesan oleh Richard untuk pertemuan Josh dan Aisha. Sebelum Josh kembali ke negaranya.
"Aisha, ini !" Josh menyerahkan dua kartu kepada Aisha.
"Apa ini ?" tanya Aisha tidak mengerti.
"Selama ini, Daddy tidak pernah memenuhi semua kebutuhanmu. Daddy harap Aisha mau menerimanya, pakailah untuk membiayai segala kebutuhanmu dan untuk biaya pendidikan. Daddy dengar Aisha masih kuliah," kata Josh.
Aisha melihat kearah Richard, apa yang harus dilakukannya.
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya." Aisha mendorong kembali kartu tersebut.
"Aisha ." terlihat kekecewaan dari raut wajah Josh, saat Aisha tidak menerima pemberiannya.
"Uncle, sekarang Aisha sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai Suami. Semua keperluan Aisha sudah menjadi tugas saya sebagai Suami, maaf Aisha tidak bisa menerimanya ," ucap Richard, untuk membantu Aisha berbicara.
"Walaupun saya tidak kaya, tapi saya berjanji untuk membuat Aisha tidak hidup dalam kekurangan ." sambung Richard kembali.
"Tapi..." Josh ingin berbicara, tetapi Evelyn memegang tangan Josh.
Josh melihat Evelyn, dan melihat Evelyn menggelengkan kepalanya. Agar Josh jangan memaksa Aisha untuk menerima uang darinya.
"Baiklah ." Josh mengambil kartunya dan memasukkan kedalam saku jaketnya.
"Ayo kita makan, ini hari terakhir aku menikmati makanan Indonesia ." Edward mengambil sate dan mulai memakannya.
"Sangat enak, sis. Apa nama makanan ini ?" tanya Edward.
"Itu sate ," jawab Aisha.
Setelah dua jam, akhirnya pertemuan mereka berakhir.
"Aisha, boleh Daddy memelukmu untuk terakhir kalinya ?" mohon Josh.
Richard mendorong badan Aisha, dan Aisha menghampiri Josh.
"Terimakasih ," ucap Josh sembari memeluk Aisha.
Aisha juga memeluk Evelyn dan juga Edward.
"Daddy harap, kalian mau datang ke Swiss ."
"Baik uncle, nanti jika kantor tidak sibuk. Dan Aisha tidak sibuk dengan kuliahnya, kami akan kesana," kata Richard.
"Janji ya ," kata Edward.
"Iya janji ." Richard yang menjawab, sedangkan Aisha hanya diam.
***
Hari memasuki dini hari, tetapi Aisha belum bisa juga untuk memejamkan matanya.
Aisha berguling kesana-kemari, boneka hello Kitty menjadi gulingnya.
"Kenapa tidak bisa tidur ." guman Aisha.
Aisha melirik Richard yang sudah tidur sedari tadi, karena besok mereka pagi-pagi sekali sudah harus berangkat.
Aisha bangkit dari ranjang dan beranjak turun, Aisha menuju sofa dan menghidupkan televisi. Aisha takut Richard terganggu tidurnya, suara televisi di tiadakannya.
Begitu melihat televisi, mata Aisha lama-lama menjadi redup. Akhirnya Aisha tertidur di sofa dalam posisi duduk.
Richard terbangun, saat tangannya meraba kesisinya dan tidak ditemukannya Aisha.
"Asay ." Richard melirik kesamping dan tidak melihat keberadaan Aisha.
"Kemana Dia ?"
"Asay ?" Richard melihat Aisha tertidur pulas di sofa, dan menghampirinya.
"Kenapa tidur disini ." Richard mengangkat Aisha kembali ke ranjang.
"Pasti Ia tidak bisa tidur, karena besok mau pergi ." guman Richard dengan tersenyum.
Richard kembali melanjutkan tidurnya, dan memeluk Aisha masuk kedalam pelukannya.
Bersambung....