
**Sebelum dan sesudah baca, jangan lupa like like like ya kakak-kakak.
Terima kasih atas dukungannya.
Happy reading guys ❤️😘
***
Keane selesai mandi, dilihatnya kearah tempat tidur sudah dalam keadaan kosong. Saat dia bangun tadi, Mada masih bergulung dibawah selimut.
Keane mengambil baju yang sudah disediakan oleh Mada untuk dikenakannya kekantor, yaitu kemeja dan celana jeans. Keane tidak suka kekantor dengan mengunakan jas, karena tidak leluasa. Karena Keane sering keluar lapangan meninjau proyek yang ditanganinya.
Cklek..
Pintu kamar terbuka, dengan kedatangan Mada.
"Kak, jangan kelamaan didepan kaca. Nanti pecah kacanya" ledek Mada.
"Bagaimana penampilan kakak?" Keane berdiri didepan Mada, dengan bergaya seperti model sedang memperagakan pakaian.
"Hemm.." Mada menatap Keane, dia mengamati dari atas sampai bawah.
"Lumayan, dari 1 sampai 10. kakak dapat nilai 7" kata Mada.
"Hanya 7? tidak bisa, nilai harus 10" ujar Keane, kembali menatap kearah kaca.
"Kenapa kak Keane berubah menjadi genit? suka dandan, mencurigakan ini. Tidak bisa dibiarkan, aku harus menyelidiki. Siapa yang harus kubawa untuk menyelidiki, Jessie. Dia menjaga Tante, Vania. Ah..anak itu terlalu pendiam. Vely juga yang bisa diajak menjadi detektif" dalam benaknya Mada.
"Kak, awas ya. Jika diluar sana kakak itu genit-genit dengan para gadis. Mada akan demo didepan gedung perusahaan, Mada tidak perduli jika dikatakan orang tidak waras!" seru Mada sembari berkacak pinggang, matanya setengah mendelik menatap Keane.
"Kakak tidak pernah genit ya." kedua tangannya menangkup pipi Mada, kemudian mendaratkan kecupan kebibir Mada.
"Jangan pikirkan yang aneh-aneh, istri satu saja tidak habis. Untuk apa mencari yang lain, tidak perlu kita cari penyakit" ucap Keane.
"Sudah, tenang saja. Hati ini sudah dipesan oleh Papa David, hanya untuk putrinya. Anak depan rumah" kata Keane.
Mada tertawa mendengar ucapan Keane.
"Kenapa kakak tidak tolak?"
"Untuk apa ditolak, gadis itu lumayan cantik. Angka satu sampai sepuluh, gadis itu mendapatkan angka tujuh. Hemm.. cukuplah"
"Balas ya, karena tadi Mada memberi Keane angka 7"
"Tidak! ayo kita turun, mommy dan Daddy sudah nunggu kita" Keane mengandeng Mada untuk turun kebawah.
"kak, nanti Mada minta izin ya. Mau kerumah sakit"
Keane menghentikan langkahnya, dia menoleh kearah Mada yang berada disisinya.
"Mada sakit?" Keane melekatkan jemarinya kekening Mada.
"Tidak panas" ucap Keane.
"Kak Keane lupa ya? Tante Yuni sakit, kasihan Jessie sendiri. Rodrick pasti bekerja" kata Mada.
"Oh iya, lupa. Dengan siapa kerumah sakit? apa dengan mommy?" tanya Keane.
"Dengan Vely, hari ini dia pulang" beritahu Mada.
"Vely pulang?"
"Iya, kak Dama keluar kota. Vely tidak ikut" kata Mada.
" Baiklah, hati-hati. Jangan nyetir mobil sendiri, pakai sopir." titah Keane.
"Baik Boss"
Keduanya bergandengan tangan Menuju ruang makan.
"Pagi boy" sapa Richard.
"Pagi Dad, mom" balas Keane.
"Pagi" sahut Aisha.
"Mana semua?" tanya Keane.
Di meja makan hanya ada Richard dan Aisha.
"Kenway dan Vania pergi kerumah orang tuanya" jawab Aisha.
"Kapan?" tanya Richard.
"Pagi sekali tadi " jawab Aisha.
"Kenapa pagi sekali mom, apa Kway ada jadwal terbang pagi?" tanya Keane, seraya menyesap susu coklat yang baru dibuatkan oleh Mada.
"Vania tadi sempat cerita, keluarga dari Papa Julio tadi malam datang mereka menuntut ingin mengambil Julio." cerita Aisha.
"Sudah tidak waras keluarga itu, anak sudah besar. Baru mereka ingin menuntut" kata Richard.
"Apa kita diam saja Dad?" tanya Keane kepada Richard.
"Hubungi Kenway, tanyakan. Apa yang bisa kita bantu, jika mereka butuh lawyer. Suruh tim lawyer perusahaan untuk membantu" kata Richard.
"Mom, kami nanti ingin kerumah sakit. Mommy akan kekantor menghantarkan makan siang untuk Daddy?" tanya Mada.
"Iya, sebelum itu. Mommy mau pergi dengan Alana" kata Aisha.
"Kenapa mas say, mas takut. Alana bawa Aish kemana gitu?" goda Aisha.
"Mas takut, Alana itu tidak berubah. Bawa mobil sesuka hatinya, kemarin saja kata Dony. Dia menerobos lampu merah, dan dikejar polisi" kata Richard.
"Jangan nyetir sendiri, pakai sopir" titah Richard.
🌟✍️✍️✍️
Usia pernikahan penerus keluarga Hutama sudah memasuki dua bulan setengah, apa yang diharapkan oleh David belum ada tanda-tandanya. Keane masih adem ayem, begitu juga dengan Dama.
"Dam, kau periksa ke dokter. Mungkin ada kelainan dalam organ penerus bangsa" kata David, pada hari itu mengunjungi putra dan menantunya.
"Organ penerus bangsa?" Dama tidak mengerti apa yang dikatakan oleh David.
"Itu" tunjuk David kebagian bawah Dama.
"Papa! Dama sehat-sehat saja tidak ada yang aneh" kata Dama.
"Kalau Vely Papa tidak curiga, mas besan itu sangat subur. Anaknya saja sampai kembar tiga, keluarga kita yang Papa khawatirkan" kata David.
"Pa, kami menikah belum sampai setahun. Papa sabar ya, Dama pasti kasih cucu ke Papa nanti" Dama melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Pergi kalian honeymoon" titah David .
"Honeymoon? Vely belum ada waktu luang, ini saja dia sedang ujian" kata Dama.
"Kalau begitu, kapan Papa punya cucu. Mas besan sudah di panggil Opa, masa Papa kalah"
"Oh.. Papa bersaing dengan Daddy?"
"Iya lah! masa Papa kalah terus"
"Papa itu ditakdirkan untuk kalah terus, cewek saja Papa kalah. Mommy Aisha saja tidak bisa Papa dapatkan" dalam benaknya Dama.
Dama tersenyum kecil melihat Papanya ngedumel.
"Kenapa tersenyum? senang ya, lihat Papa kalah dengan mas besan?"
"Dama tidak menertawai Papa, papa masih mau disini atau mau pulang. Dama mau jemput Vely, kemudian pulang" kata Dama.
"Pulanglah, untuk apa Papa disini. Lebih baik Papa pulang, mungkin saja Papa bisa nambah momongan"
"Baguslah pa, Dama do'akan. Biar apa yang papa inginkan terkabul" kata Dama .
"Dama tidak malu, punya adik masih kecil?" tanya David.
"Tidak! untuk apa malu, itu hak setiap orang untuk memiliki anak. Papa mampukan membiayai satu anak lagi, tapi anak itu harus dari Mama ya Paa" kata Dama.
"Hehehe, kamu licik. Mama sudah tidak mau punya baby lagi, sekarang kami mengharapkan dari kalian saja."
***
Setelah merawat Mamanya, Jessie selalu mengunjungi klinik. Seperti hari ini, Jessie berangkat mengunjungi Rodrick dengan membawa makan siang untuk Rodrick.
"Selamat siang!" sapa Jessie.
"Selamat siang Bu nyonya dokter" balas Umar.
"Mas Umar, kenapa panjang sekali. Cukup panggil Jessie ya"
"Oke, Jessie ya" ucap Umar.
"Jessie saja mas, jangan pakai ya. Titik !"
"Mana Rosay, mas Umar ?"
"Didalam, Boss lagi badmood" ucap Umar.
"Kenapa?" tanya Jessie.
"Tuh.. gara-gara mangga tetangga" Umar menunjuk kearah sebelah klinik.
"Kenapa dengan mangga tetangga?"
"Pak Dokter nyuruh saya manjat untuk ngambil mangga, tapi tidak boleh beritahu yang punya. Lah.. berarti saya nyolong mangga kan Jess?"
"Iya, tapi kenapa tidak boleh beritahu kepada yang punya pohon?" tanya Jessie.
"Nggak tahu, sudah sedeng Pak dokter. Kelamaan bergaul dengan hewan" kata Umar.
"Cepat tangani Pak dokter, jangan kelamaan badmood nya," kata Umar.
"Saya masuk kedalam dulu, semoga tidak bad mood lagi ."
🌟🌟🌟🌟
**Bersambung 😘
Jangan lupa like ya kakak-kakak reader, tetap semangat dan selalu menjaga kesehatan.
Terima kasih**...
Terima kasih atas dukungan kakak semua, cerita ini ditawari untuk menjadi novel cetak. But author tidak terima tawaran tersebut.
Ada dua alasan, satu. cerita ini sudah dikontrak platform dan kedua. Kalau ini di cetak, tidak boleh tamat disini. Kasihan reader yang sudah mengikuti cerita. Jika tidak tamat disini. 🥰