
Hari masih begitu pagi, suasana dikediaman Nenek Aisha sudah ramai. Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Aish, apa kau gugup ?" tanya Alana, begitu Aisha keluar dari dalam kamar mandi.
"Sedikit,' jawab Aisha.
"Semoga dilancarkan semuanya hari ini ," kata Mayang.
"Amin," jawab Aisha dan Alana.
Pintu kamar terbuka, dan terlihat nenek Aisha masuk dengan membawa kotak berada dalam genggamannya.
"Aish, sini." nenek memanggil Aisha dan menepuk-nepuk kasur disebelahnya, agar Aisha duduk disisinya.
"Ambil ini ." nenek memberikan kotak yang dibawanya ke tangan Aisha.
"Apa ini nek ?" tanya Aisha, dan mengonjang-gonjangkan kotak tersebut ketelinganya.
"Bukalah ."
Aisha membuka kotak yang diberikan nenek kepada dirinya tadi, secara perlahan-lahan.
"Nenek !" mata Aisha terbelalak melihat isi kotak tersebut.
Alana dan Mayang mendekati Aisha, dan melihat isi kotak yang dibuka oleh Aisha.
"Wow.. sangat cantik dan unik!" seru Alana, saat melihat benda yang ada didalam kotak tersebut.
"Sangat cantik nek, dan unik. Pasti ini buatan lama ya kan nek ? Terlihat dari desainnya ,' ujar Mayang.
"Ini barang peninggalan keluarga, dan ini diserahkan pada cucu perempuan yang akan menikah secara turun temurun," kata nenek.
"kenapa diserahkan kepada Aish nek, kenapa tidak kepada ibu ?"
"Dari ibumu sekarang berlanjut kepada mu Aish, dan nanti jika kau punya anak perempuan. Kau harus menyerahkan kepada anak mu juga.,' kata nenek.
Mendengar nenek berkata Anak, Aisha menjadi malu, dan pipinya bersemu merah merona.
"Huh nenek, belum nikah juga. Sudah diingatkan anak." dalam benaknya Aisha.
"Aish, kau harus segera punya anak perempuan. Biar nanti kalung ini bisa menjadi miliknya," kata Alana dan terus memandangi kotak berisi kalung.
"Huh...!" dengus Aisha.
"Kau harus tancap gas untuk mencetak Aisha kecil," ujar Alana dan terlihat bibinya nyengir menatap Aisha.
"Nek, bagaimana jika Aisha punya anak kembar. Apa mereka nanti tidak saling berebut ?" tanya Mayang.
"Orang jaman dulu tidak terpikirkan keturunan mereka nanti ada yang kembar, bagus juga pemikirannya ," ujar nenek kepada Mayang.
"Otak Mayang lagi lancar nek ," kata Alana.
"Otakku sedari dulu lancar terus non !" balas Mayang lagi.
"Sudah, jangan saling berbalas yang tidak ada faedahnya ," kata nenek.
"Kalian sudah mandi ? apa kalian nanti akan begini saja, saat teman kalian ini menikah ?" kata nenek sambil menatap keduanya dari atas sampai bawah, karena Alana dan Mayang masih memakai baju tidur. Dan wajahnya terlihat masih wajah bantal.
"Oh.. tidak nek, kami juga mau cantik. biar bisa menggaet cowok tampan yang datang ke pesta Aisha !" seru Mayang, dan langsung lari masuk kedalam kamar mandi.
"Tidak usah cari lagi, nanti kau dengan cucu nenek saja ," kata nenek.
"Apa nek ?" Mayang membuka kamar mandi, dan menunjukkan wajahnya sedikit.
"Nanti Mayang dengan cucu nenek saja ." ulang nenek kembali ucapannya.
"Siapa nek ?" tanya Mayang.
"Tadi kau bilang otakmu lancar, apa yang dikatakan nenek saja kau tidak tahu," kata Alana.
"Hih..! aku tahu Al, cucu nenek yang mana ?" kata Mayang.
"Nenek punya cucu laki-laki berapa nek ?" tanya Alana.
"Cuma satu ," jawab Nenek.
"Nah dengar tu dengarkan, cucu nenek hanya satu yang laki-laki," kata Alana.
"Mas Wisnu," kata Aisha.
"Nek, mas Wisnu terlalu cakep nek. Apalah Mayang ini, hanyalah insan yang tidak berpunya. Yang ada hanya badan ini berbalut kulit yang setengah gelap ," ucap Mayang keluar dari dalam kamar mandi.
"Hihihi..baca puisi non ." goda Alana, sedangkan Aisha dan nenek tertawa melihat gaya Mayang yang berbicara dengan menggerakkan tangannya. Seperti sedang baca puisi.
Obrolan pagi hari antara nenek dan cucunya terhenti, saat terdengar suara ketukan dan pintu kamar terbuka dengan masuknya ibu bersama dengan MUA yang akan mendadani Aisha dan teman-temannya.
"Kenapa belum mandi ?" tanya ibu Aisha.
"Tante, Aisha sudah mandi. Dia nggak sabar mau cepat-cepat dihalalin Om Richard." goda Alana.
"Alana !" seru Aisha dengan mendelikkan matanya.
"Sorry Tante Aisha ." Alana mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Mandi sana, biar Aisha selesai dandan. Kalian berdua selanjutnya," kata ibu Aisha.
Mayang kembali masuk kedalam mandi.
"Nenek dan Tante nggak dandan ?" tanya Alana.
"Ibu ," ujar Larasati.
"Al, mandi dikamar nenek saja," kata ibu Aisha.
"Sini saja Tante, Mayang itu mandi tidak lama ," kata Alana.
"Ais, minum dulu ini." ibunya menyerahkan segelas susu, Aisha mengambilnya dan menghabiskannya dengan sekali teguk.
"Sudah, mulai saja Mbak" ujar Larasati kepada perias pengantin.
******
"Mbak, make-up nya jangan menor ya. Jangan seperti mau ngelenong" kata Aisha.
"Iya..tenang saja, ini pengantin. Tidak dandan juga sudah cantik," kata perias pengantin tersebut memuji kecantikan Aisha.
"Jelas cantik mbak, calon Tante aku ini ," kata Alana.
"Tante ?" ujar perias tersebut.
"Calon suami pengantin cantik ini, adalah Om tersayang ku mbak," kata Alana .
"Maaf ya, apa nggak ketuaan calon suaminya ?" tanya asisten perias itu.
"Mbak, Om aku masih muda. Dia itu telat nongol, sehingga kami itu tidak jauh umurnya."
"Berapa?" tanya perias itu, yang kepo ingin tahu umur Richard.
"31 tahun ."
"Lagi mateng-matengnya itu," ujar Asistennya.
"Emang mangga," ujar perias tersebut.
"Enak ya, dapat suami yang sudah kita kenal keluarganya," kata asisten tersebut.
"Sungguh beruntung kamu," ujar perias tersebut.
Aisha hanya menampilkan senyum tipisnya.
"Apa aku sungguh beruntung, seperti yang dikatakannya." monolog dalam benaknya Aisha.
Pintu kamar mandi terbuka, dan terlihat Mayang keluar dari dalam.
"Masuk Al ," ujar Mayang.
"Ok boss ."
****
David dan Dony sudah berangkat sejak satu jam yang lalu.
"Dav, apa kau kuat melihat Aisha dimiliki oleh orang lain?" tanya Dony.
"Sebelum akad, aku masih memiliki kesempatan. Mungkin saja orang tua itu pingsan, dan tidak bisa melanjutkan pernikahannya." ngekeh David.
"Doa mu sungguh sadis!" ujar Dony.
"Dalam cinta, sah-sah saja aku berdoa seperti itu. Mungkin saja ada keajaiban."
"Makin ngelantur ," ujar Dony.
"Om dan Tante tidak datang ?" tanya David mengenai orang tua Dony.
"Mereka menjemput teman dulu, baru ketempat Aisha ."
****
Alana berlari menuju kamar Aisha.
"Aish..! rombongan pihak laki-laki sudah tiba !" seru Alana dari depan pintu kamar.
"Al, kau itu sebenarnya dari pihak mana ?" tanya Mayang.
"Aku dari pihak Aisha saat ini, dan selesai akad nanti aku akan berada di pihak laki-laki. Aish..! kau sungguh cantik !" seru Alana, yang melihat Aisha sudah menggunakan baju kebaya putih.
"Terimakasih Al," ujar Aisha.
Ibu Aisha masuk kedalam, dan terlihat wajahnya bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Dia sedih Aisha menikah tanpa didampingi oleh ayahnya.
"Aisha, sebentar lagi Aish akan menjadi milik orang ," ujar ibunya.
"Bu, walaupun Aisha sudah menikah. Aisha tetap putri ibu ," ucap Aisha.
"Maafkan Aisha Bu, yang sering membuat ibu selalu khawatir," kata Aisha, sambil mencium tangan ibunya.
"Sudah, jangan tangis-tangisan lagi." ujar nenek.
"Sudah mau mulai akadnya Bu ?" tanya Laras kepada ibunya.
"Iya, kita tunggu disini saja. Selesai nanti baru kita keluar ," kata nenek
**Bersambung guys..
Siapa tamu yang akan membuat terguncang** ??