Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 45 Ancaman


Jumpa lagi dengan cerita recehan.


Happy reading guys


****


Ponsel Alana bergetar, dan terlihat kiriman gambar Aisha dengan disertai tulisan berupa ancaman.


"Ingat, aku nggak main-main. jika kau melapor, aku pastikan temanmu hancur..! dan Tidak ada satu pria pun yang akan mau bersamanya. Ingat !!"


"Gila ini orang ! aku harus mengirimkan pesan ini kepada Om Richard." Alana mengirimkan pesan yang diterimanya kepada Richard.


Richard yang masih berada dalam mobilnya, dan belum jauh dari rumah kakaknya kesal dan marah saat membaca ancaman yang diterima Alana.


"Tony, kau selidiki teman kampus Alana yang bernama Gaby." perintah Richard.


"Gaby siapa pak, nama Gaby banyak ?" tanya Tony dari bangku depan.


"Kau tanyakan kekampus, masa untuk mencari informasi begitu saja kau tidak bisa !" ujar Richard dengan suara yang keras.


"Baik pak, apa perlu malam ini juga pak ?" tanya Tony.


"Apa malam ini, kampus masih buka ?" semprot Richard lagi dengan perasaan yang kesal, karena terkadang Tony pada bulan tua rada lemot otaknya.


"Tidak pak ," jawab Tony.


"Itu kamu tahu, kenapa sampai di Indonesia kamu itu tidak gesit lagi ?" tanya Richard kepada Asistennya.


"Nggak makan keju berkualitas lagi ." tapi hanya dalam benaknya, karena kalau sempat dia berani mengeluarkan isi pikirannya. Bisa-bisa dia akan dikirim kembali keluar negeri, seperti ancaman yang diterimanya jika dia berbuat salah.


"Maaf pak " hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


"Cepat selidik, besok pagi hasilnya sudah sampai diatas mejaku ." Richard menyandarkan kepalanya, dan matanya terpejam.


"Hih..gila pak boss, kampus tutup malam begini. Besok pagi hasil sudah ada diatas meja ," ucap Tony dengan suara yang pelan, sedangkan supir hanya tersenyum menatap Tony yang mengaruk-garuk rambutnya yang tiba-tiba gatal.


****


"Gaby Wiguna, sepertinya namanya sangat familiar ?" kata Richard, setelah membaca hasil penyelidikan yang diberikan Tony.


"Orang tuanya seorang pejabat pak ," ucap Tony, setelah melihat Richard berpikir mengenai nama Wiguna.


"Oh ya, anak pejabat seperti ini. Mari kita bermain nona, kau mengusik keluarga ku . Aku tidak akan tinggal diam ." Richard menutup berkas penyelidikan tentang Gaby dan memasukkannya kedalam laci meja kerjanya.


"Apa selanjutnya pak boss ?" tanya Tony.


"Kita lihat, apa yang ingin dilakukannya lagi ," kata Richard.


Richard mengambil ponselnya yang bergetar dari atas meja dan melihat pesan masuk dari Alana.


"Ayo kita pergi ." Richard langsung bangkit dan bergegas keluar dari ruangan kerjanya.


"Kemana pak ?" Tony mengikutinya dari belakang.


"Ikut saja," ujar Richard.


"Yang menghandel semua tugas dikantor siapa pak ?" tanya Tony yang mengikuti Richard dari belakang.


"Serahkan semua kepada Bram ," ucap Richard dengan langkah panjang berjalan keluar dari perusahaannya.


"A..a..tunggu pak, saya keruangan pak Bram dulu." Tony memutar langkahnya dan dengan setengah berlari menuju keruangan Bram.


Sembari mengetuk, Tony membuka ruangan Bram. Tanpa menunggu yang punya ruangan memerintahkan dirinya masuk .


"Pak Bram, ini semua file saya serahkan kepada bapak. Pak Richard memerintahkan pak Bram menghandel kerjaannya hari ini ." selesai berkata Tony langsung melesat keluar dari ruangan kerja Bram.


Bram hanya terpelongong memandang asisten Richard yang keluar dari ruangan kerjanya tanpa dia sempat berkata apapun juga.


"Apa-apaan ini ? kenapa mereka buru-buru seperti dikejar setan saja ," ucap Bram sambil mengambil file yang diserahkan Tony tadi.


"Ahh... terpaksa lembur aku ini, nasib jadi bawahan ." Bram memijat-mijat keningnya yang mumet seketika, melihat pekerjaannya sendiri juga belum selesai. Dan ditambah lagi dengan pekerjaan Richard yang harus ditanganinya.


"Kalau tahu begini jadi bawahan Richard, lebih bagus aku dikampung jadi RT." ngedumel Bram.


****


Pintu ruangan Josh terbuka, muncul dua wajah yang dari kemarin hilang tidak nampak batang hidungnya.


"Dad.." sapa Edward sambil menunjukkan senyum diwajahnya.


Dia tahu bahwa Daddy nya marah, karena ponselnya tidak aktif sejak semalam.


"He..he.." Edward hanya menampilkan senyum diwajahnya.


Melihat Evelyn juga datang dengan menampilkan senyum nya, Josh semakin bertambah jengkel. Karena sejak pagi kemarin keduanya hilang tidak bisa dihubungi.


"Sorry Josh ," ujar Evelyn dan menarik kursi dan kemudian duduk didepan meja kerja suaminya.


"Ed, serahkan kepada Daddy mu ." perintah mommy nya.


"Apa ?" tanya Edward yang sedang asik melihat kearah Yacht yang terlihat dari ruang kerja Daddy-nya.


"Amplop tadi ," kata mommy nya.


"O..o.." Edward mengeluarkan amplop besar dari balik jaketnya dan memberikannya kepada Daddy-nya.


"Apa ini ?" Josh menerimanya.


"Buka saja ," kata Evelyn.


Josh dengan pelan-pelan dan sedikit ragu membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya.


"Ini.." mata Josh melihat visa dan paspor atas nama istri dan anaknya.


"Ayo kita ke Indonesia, aku tidak ingin melihat dirimu terus merasa bersalah ," kata Evelyn.


Air mata Josh jatuh tanpa bisa dapat ditahannya.


"Dad, ayo kita mencarinya. Kami akan bersama Daddy. Kami tidak akan marah dan kecewa, itu masal alu Daddy." Edward datang menghampiri Daddy-nya dan memeluknya.


"Terimakasih ," kata Josh dengan pelan, dan matanya menatap Evelyn yang tersenyum menatap dirinya.


"Kapan kita berangkat ?" tanya Edward.


"Kalian jahat, kalian sudah mengurus surat-surat kalian. Sedangkan punya Daddy belum ," ucap Josh.


"He..he.. sorry Dad, kami ingin memberikan kejutan untuk Daddy. Ayo kita urus sekarang punya Daddy ," kata Edward.


"Pergilah, biar disini mommy yang ngurus," ucap Evelyn.


Josh keluar dari ruangannya dengan perasaan gembira, dan sebelum keluar dia mencium istrinya dan berkata.


"Terimakasih."


"Aku senang, kau tersenyum kembali." monolog dalam pikiran Evelyn saat melihat anak dan putranya hilang dari hadapannya.


***


Dalam perjalanan, Richard terpaksa putar balik kendaraannya. Setelah Alana merengek minta ikut.


"Alana, kau masih sakit ," ucap Richard begitu turun dari mobilnya dan melihat Alana dan kakaknya duduk menunggu kedatangannya.


"Richard, kau benar akan pergi kesana untuk mencari Aisha ?" tanya kakaknya.


"Iya kak, orang itu telah melibatkan Alana. Bagaimana jika orang itu melakukan kepada Alana seperti yang dilakukannya terhadap Aisha ?"


"Kebangetan itu orang ya, anak siapa dia itu. Apa dia tidak takut jika dia atau saudaranya yang mengalaminya," kata Mama Alana dengan suara yang penuh emosi.


"Dan kamu Nona, masih sakit begitu. Mau ikut," kata mamanya.


"Al tidak mau tahu, Alana mau ikut. Kalau Om tidak mau bawa Al, Dony yang akan membawa Alana," ancam Alana.


"Panjang umur dia ," ucap mamanya, begitu melihat mobil Dony tiba dan terlihat David juga ada bersamanya.


"Apa orang tua itu akan ketempat Aisha juga ?" tanya David kepada Dony.


"Mungkin.." jawab Dony dan kemudian keluar dari dalam mobilnya.


"Huhh.. sainganku ikut juga, aku tidak boleh kalah dengan Om tua itu ." David ikut turun.


"Apa kalian akan kerumah Aisha juga ?" tanya Om Richard kepada Dony.


"Iya Om, David sudah tidak sabar ingin ketemu Aisha. Apa Om akan kesana juga ?" tanya Dony.


"Iya.." jawab Richard.


...**Bersambung.....


Cerita alur lambat, kalau mau alur cepat. Baca cerpen**..