
Selamat membaca, ini hanya cerita rekaan. Tidak menutup kemungkinan ada kisah hidupnya seseorang seperti dalam cerita ini diluaran sana.
****
Dalam club's Sevens, seorang gadis tertawa gembira. Dan ditangannya tergenggam segelas minuman beralkohol, sesekali bibir merahnya menyesap minuman tersebut.
"Kenapa kau tertawa terus Gaby ?" tanya teman prianya.
"Kau mau tahu saja, itu rahasia ku ," ucap Gaby.
"Ah..kau tidak setia kawan, berita menyenangkan itu harus disebarkan. Jangan kau nikmati sendiri ," kata pria tersebut.
"Jika berita itu tersebar, orang itu besoknya harus kehilangan nyawanya. Apa kau mau mengalaminya dan kehilangan nyawamu ?" tanya Gaby kepada pria tersebut.
"Ups.. tidak, aku masih mau hidup. Aku masih mau bersenang-senang, kau simpan saja sendiri rahasia mu itu," ucap pria tersebut.
"Kalau kau masih mau hidup, tutup mulutmu." Gaby meletakkan satu jemarinya bibir pria tersebut.
"Oke..oke..! mana kedua temanmu ? sudah jarang kulihat kau datang bersama mereka ."
"Mereka sudah menjadi anak rumahan, mereka mau masuk surga ," ucap Gaby sembari ngekeh dengan keras, karena efek minuman sudah mencemari kewarasannya.
"Kapan kau akan seperti mereka ?"
"Tunggu kambing tidak takut hujan." tertawa keras Gaby dan berdiri dan kemudian turun kelantai untuk menari bersama orang-orang yang sudah dalam keadaan tidak sadar.
"Ayo Mark, untuk apa kau duduk disitu terus. Apa kau sudah tidak kuat berdiri !" teriak Gaby sembari meliukkan badannya mengikuti irama musik.
"Dasar orang tidak waras," ucap pria tersebut.
"Hei..Bro, siapa gadis sexi itu ?" dua orang pria menghampiri Mark yang duduk sendiri sambil mengamati Gaby bergoyang .
"Siapa ?" tanya Mark balik.
"Yang duduk bersama denganmu tadi ?"
"Oh itu, Gaby ," ujar Mark.
"Gaby, gadis yang sexi ," ucap orang tersebut, dan matanya menatap Gaby dengan tatapan mata tidak berkedip.
"Sangat sexi ." bisiknya kepada temannya yang duduk disampingnya.
"Kalian, jangan mengusiknya. Gaby gadis yang sangat arogan dan sombong, dan dia dari keluarga terpandang. Jangan sesekali menganggu dirinya, kalau ada rencana kalian mengganggunya. Urungkan, Keluarga kalian akan mengalami nasib yang buruk ." ingatkan Mark kepada kedua pria tersebut.
"Oh ya, kenapa aku semakin ingin menahlukkannya. Semakin sombong gadis, semakin semangat aku untuk memiliki dirinya ," ucap pria tersebut, pandangannya tidak lepas dari Gaby.
"Terserah kalian, aku sudah memperingatkan kalian ," ucap Mark sebelum bangkit dan berlalu dari hadapan kedua tersebut.
"Gaby, ayo kita pulang ," kata Mark, dengan setengah berteriak. Karena music yang terlalu keras.
"Apa ?" tanya Gaby.
"Pulang, kau sudah mabuk. Nanti kau akan dikurung orangtuamu," kata Mark, dan menarik tangan Gaby untuk keluar dari club's seven.
"Aku belum mau pulang." Gaby berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Mark.
"Ayo.." Mark terus menarik tangannya dan kemudian mendorongnya masuk kedalam mobil.
*****
Mobil membawa Richard menembus macetnya jalanan ibukota.
"Tony, percepat laju mobil ini ," kata Richard.
"Pak, jalan begini padat. Bagaimana kita bisa cepat ," ucap Tony yang duduk didepannya, sedangkan Richard untuk dibelakang.
"Kenapa waktu aku ingin cepat sampai rumah, orang juga keluar rumah ." Richard menggerutu dibelakang.
Tony dan supir hanya dapat saling bertukar pandangan, dia tahu boss nya ingin cepat sampai kerumah keponakannya.
"Sam, kau cari jalan pintas yang tidak macet ," kata Richard kepada supir.
"Kemana orang ini semua, kenapa mereka tidak dirumah saja. Buat macet saja." Richard kembali mengomel .
"Pak Richard ini, kenapa marah orang keluar rumah. Apa dikiranya hanya dia yang boleh menggunakan jalan ini ." dalam benaknya Richard.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam setengah, karena jalanan yang padat merayap. Akhirnya mereka tiba, begitu tiba dirumah kakaknya. Richard langsung membuka pintu mobilnya dan langsung berlari masuk kedalam rumah kakaknya.
"Richard, kenapa kau lari-lari?" Chintya kaget, melihat adiknya datang dengan berlari.
"Hemh..kak, mana Alana ?" tanya Richard dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Dalam kamarnya, ada apa ?" tanya Chintya kepada Richard.
"Nggak apa-apa kak, aku janji dengan Alana. Dalam waktu satu jam sudah sampai rumah."
"Kau jangan terlalu memanjakan Alana Richard ," kata Chintya.
"Pasti Alana tidak mengatakan kepada mamanya ." monolog dalam pikiran Richard.
"Kak, aku ketemu Alana dulu. Nanti dia akan marah ." Richard berlalu dari hadapan kakaknya.
"Richard, kau sudah makan ?" tanya Chintya.
"Sudah kak ." jawab Richard.
***
Mata Richard terbelalak menatap gambar yang ditunjukkan Alana kepada dirinya.
"Baca Om ." Alana menyerahkan surat tersebut, dan saat membacanya. Terlihat wajah Richard yang marah.
"Siapa yang melakukan ini semua, orang yang melakukannya pasti orang gila." kata Richard.
"Om, kasihan Aisha Om," ucap Alana, dan matanya sudah mengalir air mata yang bening.
"Om akan kerumah Aisha ," ucap Om Richard.
"Aisha tidak ada dirumahnya Om, kami kehilangan kontak dengan Aisha. Ponselnya tidak bisa dihubungi hampir dua Minggu ini ." Alana menceritakan apa yang dia lakukan dalam mencari keberadaan Aisha.
"Selain rumahnya, apa ada tempat yang lain yang bisa kita datangi ?"
"Kami mengira mungkin dia berada dikampung Om, tapi kami tidak tahu letak kampungnya ," kata Alana.
"Apa sudah pasti ini perbuatan gadis itu ?" tanya Richard kepada Alana, yang mengatakan kepada Richard bahwa dalang semua ini pasti Gaby.
"Pasti Om, tidak salah lagi. Om ingat waktu Al masih berada dirumah sakit, ada gadis yang ngaku-ngaku sebagai teman Al. Dia itu sangat membenci Aisha ." cerita Alana.
"Oh gadis itu ." Richard mulai mengingat tentang Gaby.
"Kita laporkan kepolisi saja ," kata Richard.
"Dia melarang kita melaporkan ke polisi, dia masih ada gambar-gambar Aisha. Bagaimana jika dia menyebarkan gambar itu, pasti Aisha akan hancur Om."
"Kita harus bertemu dengan Aisha, baru kita ambil tindakan. Orang seperti itu jangan dibiarkan begitu saja, dia akan semakin sewenang-wenang saja ," ucap Richard.
"Al sudah menghubungi Dony Om, orang tuanya Dony mungkin tahu kampung orang tuanya Aisha," kata Alana.
"Ini juga kesalahan Alana Om, waktu Gaby datang kerumah sakit. Al telah membuat dirinya marah. Dia ingin mendekati Om, dan Alana bilang bahwa Al sudah menjodohkan Om dengan Aisha. Mungkin karena itu dia melakukan ini semua." cerita Alana.
"Alana..! kenapa kau lakukan ini, kau sudah tahu dia sangat membenci temanmu ?" Richard berdiri dan berjalan mondar-mandir didepan keponakannya yang hanya dapat menundukkan kepalanya, dengan perasaan yang bersalah terhadap Aisha.
"Maaf ." suara Alana pelan.
"Hanya dengan kata maaf tidak bisa mengembalikan yang sudah terjadi, Aisha sudah mengalami kekerasan." Richard menarik nafas dengan kasar, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Om pulang dulu, kalau sudah tahu alamat Aisha. Kasih kabar biar Om kesana ," ucap Richard, dan mengecup pucuk kepala Alana. Dan kemudian keluar dari dalam kamar keponakannya.
Bersambung....