Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 59 Dikira TkI


Jumpa lagi dengan author recehan, seharga kerupuk 😀.


Happy reading guys.


***


Aisha berhenti melangkah, tangannya mencekal lengan Richard. Sehingga Richard berhenti juga melangkah.


"Om, kita tidak usah beli cincin kawin disini. Tempat ini pasti mahal Om, lihat saja pengunjungnya pasti orang-orang berduit. Sayang, uang yang Om hasilkan waktu bekerja diluar negeri untuk membeli cincin di tempat ini," ucap Aisha dengan suara yang sangat pelan.


"Bekerja diluar negeri, siapa ?" tanya Richard.


"Om lah, masa Aisha."


Richard memikirkan ucapan Aisha, dan dia tersenyum saat tersadar bahwa Aisha tidak mengetahui apa pekerjaannya.


"Apa dia mengira aku kerja diluar negeri sebagai TKI, apa Alana mengerjain dirinya?" dalam benaknya Richard.


"Ais, Alana pernah bilang.Apa yang kulakukan di luar negeri?" tanya Richard.


"Alana bilang, Om diluar negeri kerja. Untuk mengubah nasib dan untuk memperbaiki keturunan, tapi kenapa Om tidak membawa orang asing pulang untuk jadi istri?"


"Kamu kan setengah bule, untuk apa bawa dari luar," kata Richard menggoda Aisha.


"Saya bukan bule Om, kata ibu dulu. Saat hamil Aisha, ibu sangat mengidolakan tokoh James Bond."


"Jadi Ais, tidak tahu kerja saya diluar negeri?" tanya Richard lagi.


"Alana nggak bilang, dan Aisha nggak pernah tanya."


"Sudah ya Om, kita keluar saja. Kita beli di pasar saja, disana juga cantik-cantik. Nggak kalah dari sini, disini hanya menang merek dan tempat Om." Aisha tetap kekeuh untuk membawa Richard keluar.


"Alana pasti bilang, aku menjadi TKI diluar. Dasar keponakan nakal." dalam benaknya Richard.


"Ayo Om." Aisha memutar langkahnya, tetapi Richard menarik dirinya untuk kembali masuk.


"Sudah, tenang saja. Mama dan papa yang memberikan kita uang untuk membeli cincin kawin," kata Richard.


"Hih.. Om, mau nikah masa pakai modal orang tua." celetuk Aisha.


"Nggak apa-apa, sesekali kita ngerampok mama dan papa," ujar Richard seraya tertawa.


"Om ini, ngomong ngerampok terus. Nanti orang-orang sini mengira kita spesialis perampok toko perhiasan," ujar Aisha.


"Ha..ha..aku ingin menjadi spesialis ngerampok hati Aisha saja, Boleh ?" goda Richard, membuat pipi Aisha merona mendengar gombalan Richard.


"Hih..si Om, beraninya hanya gombalan anak kecil." gerutu Aisha.


"Anak kecil yang sudah bisa buat anak kecil ." balas Richard.


"Aduh.. Om!" Aisha kaget mendengar ucapan Richard.


"Kenapa, emang benar kan. Aisha sudah bisa buat kan ?"


"Hih..." Aisha meninggalkan Richard dan berjalan mendekati bagian cincin yang berkilauan.


"Hei jadi kita beli disini, tadi katanya mau beli dipasar saja ?" tanya Richard.


"Kata Om tadi mau merampok, ayo kita rampok," balas Aisha.


Richard tertawa mendengar ucapan Aisha, dan tangannya mengucek-ngucek rambut Aisha. Richard merasa melupakan urusan pekerjaan kantor saat bersama Aisha.


"Kenapa aku suka jika bersama dengan Aisha, aku melupakan dirinya. keputusan yang kuambil ini semoga tidak salah," ucapan dalam benaknya Richard, seraya dia menatap Aisha yang asik menatap cincin dihadapkan.


"Ada yang bisa saya bantu Pak, Bu ." seorang pegawai toko menghampiri Richard dan Aisha.


"Saya sudah pesan," kata Richard.


"Atas nama siapa pak ?" tanya pegawai tersebut.


"Tony ."


"Oh pak Tony, ayo kita kesini pak." pegawai tersebut membawa Aisha dan Richard kedalam satu ruangan dan memperlihatkan cincin yang tertata diatas meja.


Richard dan Aisha duduk dan memperhatikan cincin tersebut.


"Mbak, kira-kira berapa harga ini ." jemari Aisha menunjukkan cincin yang kecil dan ada batu kecil diatasnya.


"Mau yang ini ?" tanya Richard.


"Ya Om, yang ini saja. untuk apa yang besar ," kata Aisha, setelah pegawai tersebut memberitahukan harga cincin tersebut.


Richard mengambil cincin tersebut dan memasukkannya ke jari Aisha.


"Sangat cantik, cocok dengan jemari ibu ini ," kata pegawai tersebut.


"Mbak, jangan panggil ibu. Saya masih muda." protes Aisha.


Richard tertawa, karena Aisha memprotes panggilan yang diberikan pegawai itu.


"Maaf Nona," jawab pegawai tersebut kepada Aisha.


Aisha melepaskan cincin dari jarinya.


"Sudah yang ini saja ." Richard mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartunya.


"Hanya ini saja, kalung tidak mau Pak ? Lihat ini Nona sangat cocok dileher Nona." pegawai itu kemudian mengeluarkan satu set kotak yang berisi cincin, kalung dan gelang.


"Tidak.. tidak mbak, ini sudah cukup. Kalau ini juga kami beli, setelah menikah nanti kami tidak punya uang untuk membeli makanan," kata Aisha dengan mendorong kotak perhiasan yang diberikan pegawai tersebut kepada dirinya.


Richard tersenyum, melihat kearah Aisha saat menolak satu set kotak perhiasan yang ditunjukkan gadis pegawai tersebut.


"Sudah Om, ayo kita pergi. Nanti mereka ini menunjukkan semua perhiasan yang ada dalam toko ini untuk kita beli." tangan Aisha mencolek lengan Richard.


"Sudah yang itu saja dulu, nanti jika istri saya berubah pikiran. Kami akan kesini lagi," kata Richard.


Selagi menunggu barang yang mereka beli di persiapkan, Aisha melihat-lihat kalung liontin yang sangat unik. Yaitu gambar malaikat kecil.


"Mau?" tanya Richard, karena melihat mata Aisha berbinar melihat liontin tersebut.


"Tidak Om, pasti mahal. Cincin yang kecil itu saja seharga 1,2 juta. Apalagi liontin seperti ini. Pasti harganya diatas 2 juta ," kata Aisha.


"Kalau kau tahu harga cincin yang kau pilih tadi lebih mahal dari liontin ini, kau pasti membatalkan membelinya." monolog dalam benaknya Richard.


"Minat dengan liontin ini Nona?" tanya gadis pegawai dengan membawa tas yang berisi cincin yang mereka beli tadi.


"Tidak mbak, cukup. Kami permisi, ayo Om." Aisha menerima tas berisi cincin dan kemudian keluar dari dalam toko.


'Kenapa buru-buru?" Aisha menarik tangan Richard.


"Nanti mereka menawarkan barang-barang lagi," kata Aisha.


Richard tertawa dengan tingkah laku Aisha, yang sangat menggemaskan menurutnya.


"Ayo kita makan dulu ." Richard menggenggam jemari Aisha dan membawanya kedalam satu restoran yang ada di hotel tersebut.


"Mau makan apa ?" tanya Richard.


"Ais, nggak tahu mau makan apa." mata Aisha menatap buku menu yang ada ditangannya.


"Mau mana nasi atau spaghetti?"


"Spaghetti saja Om."


Selagi menunggu pesanan mereka datang, Aisha sibuk membalas pesan dari Alana dan Mayang.


"Ais."


"Ya." Aisha mengangkat kepalanya dari menatap ponselnya.


"Nanti kita akan tinggal di apartemen, setelah kita menikah," kata Richard.


"Bukannya tinggal di apartemen itu membutuhkan banyak biaya Om, kalau kita tinggal dirumah biasa. Kita bisa nanam sayuran Om, jadi kalau mau masak tidak perlu beli. Ais dan ibu juga nanam sayuran, sering kami tidak perlu beli," ujar Aisha.


"Untuk urusan biaya hidup, Ais tidak usah pikirkan. Biar itu menjadi tugas suamimu ini, suamimu ini masih sangat kuat ." Richard menepuk dadanya.


Aisha menunduk malu, mendengar Richard menyebutkan dirinya sebagai suami.


"Om Alana ternyata tidak jaim." dalam pikiran Aisha.


Bersambung guys..