Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 244 Bertemu??


Semangat selalu, dan selalu utamakan keselamatan keluarga kita. Kita harus optimis, hari esok akan lebih bahagia.


Happy reading guys ❤️.


**


Richard dan Dony terus mengamati layar monitor laptop, dalam layar terlihat anak dan menantunya sedang melamun. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka.


"Hei..kita tidak menghubungi ponsel istri kita? apa kalian ada yang sudah menghubungi?" Kenway tiba-tiba teringat, dia lupa untuk menghubungi ponsel Vania.


"Iya, aku lupa" Rodrick mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas dekat dia selonjoran.


Tangan dan matanya langsung bekerja, tangannya menekan nomor telepon sang istri. Matanya nyalang menatap kelayar ponsel.


"Tidak di angkat, mereka meninggalkan kita. Kita menjadi duda, baru menikah tadi pagi. Kita harus menjadi duda, hari juga belum berganti tanggal." Rodrick meluncurkan kakinya.


"Hus..! bicaramu Drick, kau yang jadi duda. Aku tidak mau, besok istri-istri kita pasti akan kembali" ujar Kenway yang optimis, besok Vania akan kembali.


"Apa ini karma untukku? karena sudah memaksa Jessie? tapi aku tidak berniat jahat, ini semua sudah disetujui oleh Papa Rafa dan Mama Yuni" batin Rodrick.


"Kita istirahat saja dulu, besok kita laporkan ke polisi. Jika tidak ada yang muncul besok" kata Keane seraya masuk kedalam kamar mandi.


"Kita tidur disini ya kak Keane, biar kita tidak terpisah. Bagaimana jika kita terpisah, salah satu dari kita juga raib" kata Kenway.


"Terserah" sahut Keane.


Rodrick merebahkan diri ditempat dia duduk tadi, dilantai yang dilapisi karpet.


Kenway beranjak naik keatas ranjang yang luas, dia telungkup, sedangkan Dama merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya menatap langit-langit kamar.


"Kway, geser dikit" ujar Keane, karena Kenway merebahkan tubuhnya ditengah-tengah ranjang.


Kenway menggesekkan tubuhnya kepinggir ranjang, dan memejamkan matanya.


"Sial! seharusnya bisa tidur berpelukan dengan Vania, ini Vania hilang. Awas kalau aku tahu ada yang berbuat iseng, tidak akan aku kasih ampun." kesal Kenway dalam benaknya.


Ditempat Richard dan Dony berada.


"Mereka tidur " kata Dony.


"Iya, sekarang kita juga tidur" kata Richard seraya bangkit dari duduknya, dan melakukan perenggangan otot. Karena duduk terlalu lama, membuat tulang-tulangnya terasa kaku untuk dibawa bergerak.


"Kita tidur dimana Om?" tanya Dony.


Bukan tanpa alasan dia bertanya begitu, kedua tempat tidur di kamar tempat mereka berada saat ini sudah dikuasai oleh para wanita.


"Tempat tidur, atau kau mau tidur di bathtub di dalam kamar mandi terserah. Yang pasti aku akan tidur dengan Asay" ujar Richard seraya masuk kedalam kamar utama.


Dony menatap Richard yang melangkah menuju kamar utama.


"Pasti Om Richard lupa" tertawa kecil Dony, matanya terus mengikuti langkah kaki Richard menuju kamar tempat Aisha tidur.


Cklek..


Richard membuka pintu kamar, dia berhenti didepan pintu. Richard menatap kearah tempat tidur.


Dia melihat Aisha, Alana dan juga Vely tidur satu tempat tidur. Dan Mada tidur di sofa.


"Aduh..!" Richard menepuk jidatnya, dia lupa. Para menantunya berada didalam kamar, yang ada di lantai paling atas hotel tersebut. Ruangan ini di khususkan untuk pemilik hotel, Papa Richard. Jika ingin menginap.


"Kenapa aku lupa? sial !" Richard menutup pintu, dan memutar badannya.


"Kita tidur dikamar ujung " kata Richard seraya menuju kamar yang ketiga, karena kamar kedua ditempati oleh Vania dan Jessie.


"Susah sendiri kan" gumam Dony mengikuti Richard menuju kearah kamar.


Dalam kamar ada dua ranjang, yang tidak terlalu besar.


"Om, apa tidak terlalu sempit ditempati Om tempat tidurnya?" tanya Dony, karena badan Richard cukup tinggi.


"Tidak apa-apa, ditekuk saja kakinya. Apa mau tidur di sofa? sama saja panjangnya dengan tempat tidur ini."


Richard merebahkan tubuhnya, kakinya sedikit menggantung.


Dony juga mengikuti Richard, kakinya juga sedikit menggantung.


Akhirnya keduanya masuk kedalam mimpi, dalam posisi tidur yang kurang nyaman.


Pagi tiba, Richard dan Dony yang tidak bisa tidur dengan nyaman akhirnya terbangun begitu subuh tiba.


Begitu juga dengan Aisha, karena hari ini dia dan Richard akan pulang kampung Aisha. Karena waktu pesta kemarin nenek tidak ikut, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk nenek berjalan jauh dengan kondisi pisik yang baru sembuh dari sakit.


"Mas, jam berapa kita berangkat?" tanya Aisha.


"Asay, berangkat duluan ya. Bawa mereka semua kekampung" titah Richard kepada Aisha.


"Siapa?" tanya Aisha yang tidak mengerti siapa yang harus dibawa kekampung.


"Para menantu kita, dan Vely" kata Richard.


"Kekampung?" tanya Vely.


"Hore!" Vely sangat gembira, karena sudah lama tidak kekampung.


"Kakak ipar senang kan? bisa pulang kampung" kata Vely kepada Jessie.


"Senang, tapi Mama dan Papa masih tinggal di tempat nenek. Belum pulang kesana " ucap Jessie.


"Untuk apa Om? semalam saja mereka sudah ketiduran disini, suami mereka tidur dikamar mereka sendirian. Apa mereka tidak berbulan madu?" tanya Alana.


"Biar mereka menjenguk nenek, minta restu. Bulan madu kekampung juga bagus " jawab Richard.


"Bulan madu kekampung? Om Rich ada-ada saja, dia saja bulan madu ke negara orang" gumam Alana.


Aisha tidak mengerti jalan pemikiran Richard, saat ini. Semalam dia mengumpulkan menantu dan putrinya saat malam pertama, sekarang menginginkan mereka pergi kekampung menjenguk sang nenek.


"Mereka sudah kenal nenek dan minta restu saat lamaran kan ?" kata Aisha.


"Minta restu lagi tidak apa-apa kan" sahut Richard.


"Mas say tidak ketempat nenek ?" tanya Aisha.


"Belakangan, nanti kami nyusul" kata Richard, dan kemudian keluar dari dalam kamar untuk mengunjungi Keane dan saudaranya dilantai bawah.


Dony juga mengikuti Richard, untuk melihat keadaan keempatnya.


"Baiklah" sahut Aisha.


"Ivan boleh ikut kan ?" tanya Ivan putra Alana.


"Jangan nakal ya, mama dan papa tidak ikut" ingatkan Alana kepada Ivan.


"Maa, Ivan bukan anak kecil lagi yang harus di jaga. Sebentar lagi Ivan sudah masuk universitas" kata Ivan.


"Baiklah, besok Mama dan Papa akan berangkat ke Jerman. Baik-baik ikut dengan dengan Oma Aish kekampung," kata Alana.


"Baguslah Ivan ikut kekampung, dari dirumah hanya sendiri" kata Ivan.


"Tante kecil, kalau Ivan nakal. jewer saja telinganya.


**


Richard sampai didepan kamar Keane, dan membuka pintu kamar dengan menggunakan kartu.


Cklek...


Richard membuka pintu kamar, dan melihat keempat masih dalam posisi tidur.


Rodrick tidak tidur dilantai lagi, sekarang dia tidur dikursi dengan posisi duduk.


Plok..plok..plok..


Tepuk tangan 3× bergema didalam kamar, membuat keempatnya langsung membuka matanya.


"Daddy..!" sontak Rodrick berlari memeluk Richard.


"Akhirnya, ada satu orang yang kembali!" seru Rodrick dengan perasaan gembira.


"Ada apa?" tanya Richard pura-pura tidak tahu.


"Daddy! Rodrick menjadi duda sebelum malam pertama!" seru Rodrick dengan menunjukkan ekspresi wajah lucu.


Dony tertawa mendengar perkataan Rodrick, sedangkan Richard hanya tertawa dalam hati.


"Apa Daddy baik-baik saja?" tanya Keane seraya mendekat.


"Baik-baik saja, ada apa?" tanya Richard.


"Vely hilang" kata Dama.


"Jessie juga Daddy" beritahu Rodrick.


"Vania juga" kata Kenway.


"Mada juga, begitu juga dengan mommy dan kak Alana " kata Keane.


"Alana! siapa yang berani menculiknya?" pura-pura kaget Dony.


"Mommy kalian juga di culik? tidak mungkin" kata Richard.


"Kami sudah kekamar mommy, tidak ada Dad" kata Kenway.


"Mommy pulang kampung" kata Richard.


*


*


Bersambung 😘