Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 23 Usaha David


Gaby tertawa kesenangan, karena salah satu orang yang dibencinya dalam keadaan kritis. Walaupun rasa bencinya tidak seperti dengan Aisha, tapi dia senang dengan nasib sial yang dialami Alana.


"Apa Alana akan masuk neraka, jika dia mati ? dia kan anak baik Gaby?" tanya Eline kepada Gaby yang asik menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti irama music yang keras dari ruang DJ.


"Kalau aku bilang dia masuk neraka, ya..masuk neraka. Jangan kau bantah." ketus suara Gaby kepada Eline.


"Bukannya kita yang akan masuk neraka ?" sekali lagi keluar dari mulut Eline, kalimat yang membuat Gaby melayangkan tangannya kekepala Eline. Membuat Eline mengaduh kesakitan.


"Aduh Gaby ! kenapa kau memukul kepalaku." Eline mengusap-usap kepalanya yang menjadi korban tangan Gaby.


Gaby tidak merespon, dia turun kelantai menerobos kerumunan yang sedang asik bergoyang. Kemudian dia meliuk-liukkan tubuhnya yang ditutupi baju yang lumayan sangat minim.


"Kau Eline, harus menjaga perkataanmu. Apa kau mau geger otak, akibat kena pukulan tangan Gaby terus-menerus ," ucap Lily yang tadi duduk ambil jarak dengan Gaby, karena dia takut. Tangan Gaby yang sesuka hatinya memukul tanpa ampun, apa yang dekat dengan dirinya.


"Aku berkata yang benar, Alana orang baik. Kita ini yang jahat, aku rasa juga Aisha tidak pernah mengusik kita," ucap Eline dengan wajah tanpa bersalah, telah mengeluarkan pendapatnya.


"Itu menurut pendapat mu, kalau Gaby merasa dia yang selalu yang benar. Sedangkan orang lain itu selalu pihak yang salah." Lily berkata kepada Eline, agar Eline berhati-hati saat berkata kepada Gaby.


"Lama-lama aku takut berteman dengannya," ucap Lily .


"Aku juga ," jawab Eline.


"Tapi mau bagaimana lagi, dia yang membiayai semua keperluan kita. Kita harus bersama, sampai kita bekerja. Dan tidak membutuhkan keuangannya lagi." kata Lily.


Gaby masih asik dengan goyangannya dilantai dansa, dia tak menyadari ada tangan-tangan nakal yang menggerayangi tubuh sintalnya. Tapi dia tidak merasakan, karena pikirannya sudah dipenuhi dengan alkohol.


****


Sudah satu satu malam, Alana terbaring diruang ICU. Kedua orangtuanya sudah diizinkan untuk membezuk anaknya.


"Al, anak mama," ucap Mama Alana, saat pertama kali diizinkan untuk melihat keadaannya.


"Bagaimana keadaannya Dokter ?" tanya papa Alana.


"Alhamdulillah pak, sekarang keadaan sudah stabil. Pendarahan di otaknya sudah tidak mengkhawatirkan." Dokter menerangkan kondisi Alana kepada papa dan mamanya.


"Tapi kenapa dia belum sadar juga Dokter , dan ini alat-alat apa ini ?" tanya mama.


"Ini semua tadi dipakai untuk memantau kondisinya Bu, tapi ini sudah tidak diperlukan lagi. Hanya alat bantu nafas yang masih digunakan." terang Dokter kepada Mama.


"Sayang, cepat sadar. Banyak orang yang menunggu diluar sayang, Aisha juga ada diluar. Kau pasti senang, temanmu Mayang ternyata dia bekerja disini. Kalian bertiga akan berkumpul kembali." tangan mama mengelus pipi Alana yang dibalut dengan perban.


"Pipinya, apakah akan meninggalkan bekas Dokter ?" tanya mama.


"Iya Dokter, apakah luka di pipinya akan meninggalkan bekas ?" tanya papa juga.


"Ada pak, tapi nanti lama-kelamaan akan hilang. Dokter Sonya bisa menghilangkan bekas itu semua ," ucap Dokter kepada Mama dan papa Alana.


"Siapa Dokter Sonya, apa dia pakar untuk menghilangkan bekas ini ?" tanya mama.


"ibu tidak kenal dengan Dokter Sonya, tapi dia bilang pasien ini cucunya ?" tanya Dokter dengan perasaan yang heran dan bingung.


"Sonya...?" ulang mama Alana, dan berusaha untuk mengingat nama Sonya.


"Hei..ma, itukan nama mama ." papa Alana mengingatkan istrinya yang lupa dengan nama mamanya sendiri.


"Aduh.. kenapa sampai lupa dengan nama mama sendiri." Mama Alana menepuk jidatnya.


"Bapak dan ibu sudah terlalu letih, saya sarankan bapak dan ibu istirahat saja. Putri itu sudah stabil, dia belum bangun karena efek obat yang dikonsumsinya," ucap Dokter kepada keduanya.


Setelah mendapatkan keterangan yang cukup memuaskan dari Dokter, orang tua Alana sedikit bisa bernafas dengan lega.


Ketika keluar dari ruang ICU, banyak pasang mata yang menunggu kabar dari kedua orang tua Alana yang baru saja menjenguknya didalam.


"Keadaan Alana sudah semakin stabil, dan pendarahan yang ada di kepalanya sudah benar-benar berhenti. Kita tinggal menunggu dia siuman saja," kata papanya Alana.


Puji syukur keluar dari mulut-mulut yang menunggu Alana diluar ruangan.


"Sekarang Alana sudah stabil, Aisha pulanglah. Kamu sudah satu harian disini, jangan nanti Alana Sehat kamu yang jatuh sakit. Kami juga akan beristirahat di hotel sebelah ," ucap mama.


"Kamu Dony, kembalilah keruangan mu. Wajahmu juga belum terlihat sehat benar," kata papa kepada Dony.


"Baik Om." David mendorong kursi roda Dony kembali kedalam ruang rawatnya, dan sebelum kembali dia sempat berbicara dengan Aisha.


"Aisha, tunggu aku mengantarkan Dony. Biar aku mengantarkan kau kembali ," ucap David kepada Aisha.


"Tidak usah David, aku bisa pulang sendiri." tolak Aisha, karena dia tahu David juga sangat letih.


"Ini sudah malam Ais, kau pulang sendiri. Bagaimana jika nanti ada orang jahat diluar sana ," ucap Dony kepada Aisha yang menolak keinginan David untuk mengantarkan dirinya pulang.


"Aisha pulang bersama diriku," ucap Mayang yang tiba-tiba datang.


"Hih...si jutek, ganggu saja. Mau dua-duan dengan Aisha terganggu ini." Dalam benaknya David, dan matanya melirik Mayang. Tapi Mayang pura-pura tidak melihatnya.


"Rasain..emang enak, aku gagalkan keinginan mu dekat-dekat dengan Aisha batal." terlihat senyum tipis dibibir Mayang, yang senang sudah berhasil membuat David kesal.


"Aku pulang dengan Mayang saja, lagi pula arah rumah kita beda. Sedangkan dengan rumah Mayang kami searah."


"Ayo Aisha." Mayang menarik lengan Aisha.


"Om, Tante Aisha pulang dulu. Besok sepulang kuliah Aisha kembali kesini ," ucap Aisha kepada kedua orang tua Alana.


"Hati-hati dijalan, Mayang. jangan ngebut ya." ingatkan mama Alana, dia masih trauma dengan yang berbau kecelakaan.


"Ok Tante, tenang. Mayang kalau bawa mobil seperti siput," kata Aisha.


"Hehe..iya Tante, lomba dengan nenek-nenek saja aku kalah." balas Mayang sembari Nyengir.


Dalam perjalanan menuju rumah Aisha.


"Pelan dikit Mayang, jangan kita nanti nginap disebelah ranjang Alana diruang ICU ." ingatkan Aisha, yang merasa bahwa Mayang melarikan mobilnya diatas rata-rata.


"Kau bilang aku bawa mobil seperti siput ."


"Apa aku harus bilang yang sebenarnya, bahwa kau itu sama dengan Alana yang bawa mobil seperti sedang mengejar mantan yang kabur bawa uangmu."


"Apa mantanmu kabur bawa uangmu Ais..?" tanya Mayang dan sudah mengurangi kecepatan mobilnya.


"Hih..mantan dari mana, cowok saja tidak ada."


"Sepertinya, di sombong itu menyukai dirimu ," ucap Mayang.


"Siapa sombong?" tanya Aisha.


"Itu temanmu David."


"Dia tidak sombong," kata Aisha.


"Cie...cie..belain ya.." ledek Mayang.


Bersambung


Jangan lupa untuk menekan tombol like 😄 terima kasih.