Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 29 Kedatangan Richard


Happy reading guys ❤️


🌟🌟🌟


Richard menyusuri lorong rumah sakit, matanya celingukan mencari ruangan tempat Alana dirawat.


"Mana ruangannya, kenapa lupa aku untuk menanyakan lantai berapa."


Richard melihat seorang perawat, dan menanyakan nomor ruangan yang dicarinya.


"Sial, sudah keliling. Ternyata dilantai atas."


Richard naik lift, ketika sampai ke lantai yang ditujunya. Richard mencari nomor ruangan Alana.


"Itu dia " Dengan cepat Richard berjalan menuju ruangan Alana dan langsung membukanya, tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Richard terkejut saat melihat, sosok gadis yang sedang tidur diranjang. Begitu juga orang yang berada dalam ruangan tersebut, saat melihat Richard yang terpaku didepan pintu terbuka lebar.


"Richard..!" kakaknya dan Abang iparnya kaget begitu melihat siapa yang membuka pintu dan berdiri terpaku menatap kearah Alana yang sedang tidur.


"Kapan kau pulang ?" tanya Abang iparnya.


Richard tidak menjawab pertanyaan Abang iparnya, matanya terus menatap Alana. Dan dengan perlahan-lahan berjalan mendekati Alana yang sedang tidur.


"Richard.." mama Alana bangkit dan menghampiri Richard yang berdiri disisi ranjang Alana.


"Kenapa aku tidak diberitahu ?" tanya Richard pelan, hampir berbisik.


"Maaf, kami tidak ingin menganggu pekerjaan mu," ucap papa Alana.


Richard menatap Alana, ada perasaan berkecamuk didadanya. Saat dilihatnya kondisi Alana dengan kaki dan tangan diperban.


"Bagaimana keadaannya ?" tanya Richard.


"Kondisinya tidak mengkhawatirkan lagi, tinggal pemulihan saja," beritahu mama Alana.


"Alana pasti senang melihat dirimu ada disini," kata papa Alana.


"Kapan kau sampai ?" tanya kakaknya.


"Aku sudah hampir seminggu, disini," jawab Richard, dan matanya masih meneliti semua luka yang ada di badan Alana.


"Sudah seminggu, dan kau tidak memberikan kami kabar kepulangamu. Apa mama juga tidak tahu ?" tanya mama Alana.


"Tidak ada yang tahu, aku ingin memberikan kejutan kepada Alana saat ulangtahunnya."


"Kenapa kita lupa, hari ini ulang tahun Alana !" seru mamanya.


"Mungkin karena kita sibuk memikirkannya, sampai lupa. Bahwa hari ini dia ulang tahun," kata papa.


"Alana pasti lupa, bahwa hari ini dia ulang tahun," ucap mama Alana.


"Apakah, luka diwajahnya akan berbekas ?" tanya Richard, dia takut wajah Alana akan ada bekas luka. Karena bagi seorang gadis, wajah adalah yang utama.


"Kata mama tidak akan menimbulkan bekas yang terlalu," ucap mama Alana.


"Oh iya, mama pakar bedah plastik." baru sadar Richard, bahwa mamanya. Spesialis kecantikan.


"Kaki dan tangannya, apakah tidak akan ada masalah ?" tanya Richard lagi.


"Tidak ada, kaki dan tangan tidak ada kelainan," jawab papa Alana.


"Rich, dalam rangka apa kau kembali ?" tanya mama, dan menarik kursi untuk duduk Richard.


"Aku sudah memindahkan usahaku kesini ."


"Apa ! kenapa kau tidak mengatakan kepada kami?" tanya kakaknya.


"Sebenarnya, sudah setahun usaha ku yang disana aku pindahkan," kata Richard.


"Kenapa, apa ada masalah ?" tanya papa Alana.


'Tidak ada mas, hanya ingin mengembangkan sayap disini ," ucap Richard.


"Mama pasti senang, anak laki-lakinya sudah kembali. Siap-siap kau Rich, pasti banyak anak gadis teman mama akan datang kerumah ," ucap kakaknya.


"Aku tidak tinggal bersama mama," kata Richard.


"Kau tinggal dimana, kalau tidak tinggal dirumah ?" tanya kakaknya.


"Apartemen, dekat dengan kantor ," kata Richard.


"Mama pasti akan marah," ucap kakaknya.


"Aku sudah dewasa kak, biarkan aku menjalani hidupku sendiri."


"Kau juga sudah tua, sudah bisa mencari istri." celetuk kakaknya.


"Kak Chintya sama dengan mama, kalau ketemu yang dibahas menikah saja," ucap Richard.


"Kenapa dia lama sekali bangun ?" tanya Richard, karena Alana tidur dengan pulas. Saat mereka berbincang-bincang, dia juga tidak merasa terganggu.


"Kalau mas dan kak Chintya mau pulang, pulang saja. Biar aku yang menunggu disini," ucap Richard.


"Ayo pa, kita pulang dulu . Kita beli kue untuk ulang tahun Alana, kita suruh datang Aisha dan Mayang."


"Nggak apa-apa, kamu jaga Alana. Tidak sibuk dikantor ?" tanya papa Alana.


"Sudah ada Tony mas, dia selama ini yang mengurus perusahaan disini."


"Tony masih betah bersamamu ?" tanya kakaknya, karena dia tahu. Richard termasuk pria yang Moody.


"Kenapa tidak betah, kalau tidak salah aku tidak akan marah-marah."


"Jaga Alana, jangan kasih dia keluar," ucap kakaknya.


"Bagaimana bisa keluar, apa kakak lupa. Bagaimana bentuk anak manja kakak itu." tunjuk Richard kearah Alana.


"Mungkin dia minta kau gendong."


"Tidak usah ngada-ngada kak, sudah cepat pergi." usir Richard kepada kakak dan kakak iparnya.


Richard menarik kursi untuk duduk didekat ranjang Alana, sambil menunggu Alana bangun Richard melihat pesan yang masuk ke ponselnya.


"Mama, Alana mau minum." terdengar suara Alana minta minum, dan matanya masih terpejam.


"Kalau mau minum, ambil sendiri. Ngebut bisa, masa ambil minum tidak bisa ."


Mendengar suara laki-laki dan suara itu sangat familiar di telinganya, mata Alana terbuka dan betapa kagetnya dia melihat Richard duduk disisi ranjangnya. Dan sedang memandang dirinya.


"Om Richard..!" seru Alana dan ingin bangun.


"Hei..mau kemana anak nakal ?" tanya Richard.


"Aduh.. lupa Om.." nyengir Alana, saat dia melupakan bahwa dirinya saat ini belum bisa untuk bangkit dari ranjang.


"Om, Alana haus."


Richard mengambil gelas dan menuangkan air hangat dan memberikannya kebibir Alana dengan mengunakan sedotan.


"Sudah Om." Alana melepaskan sedotan dari bibirnya.


"Om, kapan pulang? apa Om tahu Alana insiden ?"


"Om tidak tahu kamu itu insiden, tidak ada yang mengabari tentang kecelakaan ini. Om ingin memberikan kejutan dengan pulang mendadak, ternyata.. bukan Alana yang kaget. Om yang terkejut melihat kamu begini."


"Maaf Om, sudah membuat Om kaget." Alana berkata dengan suara yang pelan, karena keadaan lehernya yang belum nyaman untuk berbicara.


"Kamu ini, tidak boleh lagi bawa mobil sendiri. Mau kemana-mana harus diantarkan oleh supir," ucap Richard dengan tegas.


"Hih.. Om Richard, Alana bukan baby ya. Kemana-mana harus disupirin." bibir Alana cemberut.


"Tidak ada bantahan.."


"Sebell !" seru Alana.


"Ini juga demi keamanan mu," ucap Richard.


"Iya om."


***


"Mau apa kita kesini ?" tanya Lily setelah melihat Gaby membawa masuk mobilnya menuju parkiran rumah sakit.


"Apa kau sakit Gaby ?" tanya Eline juga.


"Kita mau melihat Alana, aku ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Sebelum dia naik keatas kita harus ngucapin selamat jalan ." ngekeh Gaby saat mengatakannya.


"Dia lagi sakit untuk apa kita cari masalah, apa kau tidak takut. Nanti ketemu dengan orang tuanya ?" kata Lily.


"Tenang, nanti jika ada orangtuanya. Kita tunjukkan, bahwa kita itu anak baik-baik."


"Kalau Alana pernah menceritakan tentang kita bagaimana ?" tanya Eline.


"Dasar penakut !" jengkel Alana kepada kedua temannya tersebut.


"Ayo kita turun, jangan penakut." Gaby membuka pintu mobilnya dan kemudian keluar, dan diikuti oleh kedua temannya.


"Kau tahu nomor kamarnya ?" tanya Lily.


"Sebelum kesini, sudah aku cari nomor kamarnya."


"Ini kamarnya." Gaby berhenti didepan kamar Alana dirawat.


Tanpa mengetuk, Gaby membuka pintu kamar Alana.


Alana dan Richard melihat kearah pintu yang terbuka.


"Kau..!" seru Alana, saat melihat musuhnya datang.


Bersambung...