
Jumpa lagi dengan author, masih semangat guys. Selalu jaga kesehatan.
Happy reading ❤️
***
Mayang terus melaju membawa mobilnya, menerobos jalanan yang sedikit lengang. Karena lewat jalur sibuk, pegawai sudah masuk dan begitu juga para pelajar.
Begitu tiba didepan rumah sakit, Mayang langsung turun dan lari masuk kedalam rumah sakit. Dan kembali dengan beberapa suster yang membawa brankar.
Suster menuntun Aisha untuk berbaring diatas brankar dan langsung membawa Aisha keruang bersalin. Karena Dokter Hana, putri Dokter Herman sudah menunggu. Saat dalam mobil Aisha mengirimkan pesan kepada Dokter Hana, pengganti Dokter Herman yang pensiun.
Begitu tiba didalam ruang bersalin, pembukaan Aisha sudah pembukaan enam.
"May, tolong hubungi Mas Richard lagi. Masa dia tidak ingin melihat anaknya lahir ." titah Aisha kepada Mayang, yang menemani dirinya didalam ruangan bersalin.
"oke ." Mayang keluar dari ruang bersalin untuk menghubungi asisten Richard, tapi sambungan teleponnya tidak terhubung.
"Neng, ini kunci mobil." bapak satpam mengembalikan kunci mobil kepada Mayang, karena tadi Mayang tidak bisa memarkirkan mobilnya. Mayang minta tolong kepada seorang satpam untuk memarkirkan mobilnya (dalam dunia nyata, jangan dilakukan, apa yang dilakukan Mayang. Bisa-bisa mobil anda sudah dibawa kabur😀🤭)
"Terima kasih Pak," kata Mayang dan kemudian memasukkan tangannya kedalam saku baju yang dikenakannya, dan memberikan uang kepada bapak Satpam.
"Terima kasih Neng ." kemudian Pak satpam pergi dengan tersenyum senang, karena membawa satu lembar uang biru.
Mayang kembali menghubungi ponsel asisten Richard, Tony. Tetap seperti tadi, tidak dapat dihubungi.
"Kenapa tidak bisa dihubungi."
Mayang membuka ponselnya dan menghubungi Alana.
"Al, kerumah sakit ! Aisha ingin melahirkan ," ucap Mayang langsung, tanpa sempat Alana mengucapkan salam.
"Apa ? melahirkan? bukannya akhir bulan ?" tanya Alana kepada Mayang.
"Mana tahu aku, baby sudah mau nongol saja. Cepat datang, Mas Richard tidak bisa dihubungi. Kau telpon juga Oma ya ." Mayang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Mayang kembali menghubungi ponsel asisten Richard Tony, dan kali ini Tony menjawab.
"Pak Richard sudah dalam perjalanan kerumah sakit ," jawab Tony.
"Ok." Mayang ingin memutuskan sambungan teleponnya, tapi terdengar suara Richard yang ingin bicara dengan Mayang.
"Tunggu! jangan diputuskan dulu. Pak Richard ingin bicara ," kata Tony.
Tony menyerahkan telponnya kepada Richard, yang duduk dikursi belakang dengan perasaan yang cemas.
"Bagaimana keadaan Aisha ?" tanya Richard kepada Mayang.
"Aisha tidak apa-apa, pembukaan enam tadi ," kata Mayang.
"Apa pembukaan ?" tanya Richard, karena sewaktu kelahiran sikembar. Tidak ada Richard mendengar istilah pembukaan.
"Pembukaan jalan lahir Mas Rich ," kata Mayang.
"Sudah mau lahir ? bilang kepada Aisha. Jangan lahirkan dulu !" titah Richard.
"Mas Rich, kalau sudah mau lahir. Tidak mungkin bisa ditunda-tunda lagi ," jawab Mayang.
Terdengar suara Richard yang memerintahkan Manuel untuk mempercepat jalan mobilnya, sebelum sambungan teleponnya terputus.
"Bagaimana bisa ditunda baby-nya mau keluar, lucu sekali Mas Richard,." tawa sendiri Mayang mengingatkan perkataan Richard.
"Emang keberangkatan ."
Mayang berdiri dan sesekali duduk, perasaannya was-was. Karena sendiri menunggu Aisha.
Perasaan Mayang akhirnya lega, setelah kedatangan Alana dan Mamanya. Dan kemudian mertuanya, Mama Richard dan Papa Richard.
"Bagaimana, apa sudah lahir ?" tanya Mama Richard kepada Mayang.
"Belum, tadi saat tiba disini. Sudah pembukaan enam ," kata Mayang.
"Tidak Caesar saja ?" tanya Alana.
"Aisha ingin normal ," kata Mayang.
"Apa bisa ? yang pertama Caesar. Apa yang ini tidak harus Caesar ?" tanya Alana.
"Bisa ," jawab Oma.
Richard berlari menuju ruang bersalin.
"Bagaimana dengan Aisha, apa sudah lahir ?" tanya Richard dengan napas yang tersengal-sengal, karena berlari dari depan menuju ruangan bersalin.
"Masih didalam ."
Richard langsung ingin masuk, tetapi ditarik oleh Papanya.
"Mau kemana ?" tanya Papanya.
"Mau lihat Aish dan anak Rich Paa," jawab Richard.
"Kau berani lihatnya, jangan-jangan kau buat repot suster didalam," kata Papa Richard.
"Richard akan berani Paa, Richard tidak akan kabur dari dalam," kata Richard.
"Apa Om Richard masih takut melihat darah ?" tanya Alana.
"Hahaha..! badan saja yang besar, tapi nyali tidak ada ." ledek Alana.
Tangan Richard langsung menyentil kening Alana, yang sudah lama tidak diterima oleh Alana.
"Ihh..! Om Richard, nggak bosan nyentil kening Alana. Malu kalau anak Al lihat kan !" Alana menyentuh keningnya.
Pintu ruang bersalin terbuka dan muncul suster dengan memanggil nama Richard.
"Suami ibu Aisha..!" panggil suster.
"Saya..saya suster ," jawab Richard.
"Ibu memanggil bapak ," kata suster.
"Oke suster ," Jawab Richard.
"Yakin Ingin masuk ?" tanya Mama Richard.
"Alhamdulillah..! yakin 💯 % Maa ." Richard mengikuti suster masuk kedalam.
"Mama khawatir dengan Richard, apa dia kuat ?" Mama Richard khawatir.
"Kalau tidak kuat, keluar saja Oma ," kata Alana.
"Kalau bisa jalan keluar, bagaimana kalau pingsan ditempat ?" kata Chintya.
"Tinggal di gotong keluar ," jawab Alana.
Dalam ruangan, Richard melihat Aisha masih merintih kesakitan.
"Aish..!" Richard memeluk Aisha dan memberikan kecupan sekilas dikening nya Aisha.
"Mas ! kenapa lama datang ?" tanya Aisha.
"Maaf, ponselnya ketinggalan tadi." Richard mengelus rambut dan pipi Aisha.
"Tenang ya Bu, baby sudah kelihatan. Dorong ya Bu, jangan terlalu bersemangat dorongannya Bu. Santai saja. Jangan bersemangat mendorong, seperti saat bapak membuat baby ya ," kata Dokter Hana, yang berusaha untuk membuat lucu. Agar suasana dalam ruangan bersalin tidak kaku.
Wajah Richard sudah kelihatan pucat, mendengar rintihan yang keluar dari dalam bibir Aisha.
Tangan Aisha mencekam tangan Richard, sehingga tangan Richard terdapat bekas cakaran kuku Aisha.
"Sayang..!" Richard meringis, tapi Richard menahannya. Dia memberikan tangannya untuk menjadi pelampiasan Aisha.
Tidak lama kemudian terdengar suara yang nyaring, memecahkan keheningan didalam ruangan dengan suara tangisan bayi yang baru lahir.
Aisha menghela napas lega, butiran keringat mengalir di dahinya. Aisha memejamkan matanya, untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang lemas.
Richard melihat kearah babynya yang berlumuran darah.
Dan tiba-tiba pandangan Richard buram, dan kepalanya pusing.
Brakkk...
Richard jatuh disamping ranjang Aisha.
Aisha yang mendengar suara orang jatuh langsung membuka matanya, dan Richard sudah tidak ada disisinya.
"Mana suami saya ?" tanya Aisha heran, Richard pergi tanpa mengatakan apapun juga kepada dirinya.
"Ini Nyonya ." seorang suster jongkok di samping Richard, untuk menyadarkan Richard dari pingsannya.
Aisha sedikit mengangkat kepalanya, dan menoleh kelantai. Dan melihat badan Richard telentang di lantai.
"Mas Rich ! kenapa Mas Richard !" panggil Aisha panik.
"Tidak apa-apa Bu, sepertinya bapak tidak bisa melihat darah ." beritahu Dokter.
"Apa ?" baru tahu Aisha dengan kelemahan Richard, selama ini Aisha mengira bahwa Richard tidak ada kekurangannya.
"Bawa keluar ." titah Dokter.
Richard diangkat keatas brankar, dan dibawa keluar.
Pintu ruang bersalin terbuka, dan brankar untuk membawa Richard keluar.
Keluarga, mengira Richard keluar dengan berjalan. Ternyata Richard keluar dengan memakai brankar.
"Richard..!" panggil Mamanya.
"Bapak pingsan Bu, sepertinya tidak tahan melihat darah ." beritahu suster.
"Hihh..anak memalukan !" tepuk Papa ke tangan Richard.
*
*
*
**Bersambung 😘
Jangan lupa untuk tekan like 🥰
Terima kasih**...