Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 41 Takut


**Jumpa lagi dengan Aisha, apa yang akan terjadi pada Aisha dan teman-temannya pada bab ini.


Happy reading ya


****


Aisha terus memegang lengan Wisnu, dan matanya terus menatap kearah jendela. Ada rasa ketakutan yang terlihat dari dalam bola matanya.


"Bu, apa yang terjadi dengan anak Laras Bu ?" Larasati menangis menatap Aisha.


"Ais, ini mas Wisnu ," ucap Wisnu sembari merengkuh tubuh Aisha kedalam pelukannya, dia juga merasa sangat sedih. Karena tidak bisa melindungi adiknya.


"Jika aku terus dikota bersama denganmu, hal ini pasti tidak akan terjadi. Bagaimana pun juga aku akan mencari siapa yang bertanggung-jawab membuatmu menjadi seperti ini ," ucap Wisnu sambil mengelus rambut Aisha yang masih berada dalam pelukannya.


Aisha terus berucap ada orang jahat yang mengintainya dari luar jendela.


"Mereka jahat.. mereka jahat !" teriak Aisha dengan menunjukkan jemarinya keluar jendela dan Aisha langsung duduk dilantai sembari menangis histeris.


"Ais...!" Larasati berlari memeluk Aisha yang menangis histeris, begitu juga dengan nenek.


Wisnu menghubungi Rafa untuk datang, dan tidak begitu lama Rafa sudah datang dan langsung mengeluarkan alat andalannya untuk membuat Aisha tenang. Yaitu obat penenang, setelah suntikan diberikan Aisha berangsur-angsur tenang dan matanya mulai sayu dan dia mulai tertidur.


"Rafa, apa yang terjadi. Kenapa Wisnu dipanggilnya papa ?" tanya nenek.


"Apa ? kapan mulainya ?" tanya Rafa yang juga merasa kaget, melihat kondisi Aisha yang semakin memperihatinkan.


"Baru mulai hari ini," kata Wisnu.


"Sepertinya dia merindukan sosok papa, yang tidak pernah dirasakannya. Dia merasa bahwa sosok papa dapat melindungi dirinya dari orang yang berniat jahat terhadap dirinya ," kata Rafa, karena dia tahu mengenai kehidupan Aisha yang tidak pernah mengenal sosok ayah dalam kehidupannya.


Larasati makin menangis, membayangkan Aisha yang sangat merindukan ayahnya. Walaupun dia tidak pernah menanyakannya.


"Selama ini dia tidak pernah bertanya ," kata ibu Aisha.


"Dia tidak bertanya, mungkin saja karena dia tidak ingin menyakiti perasaan Tante ," kata Rafa.


Larasati semakin menangis, dan matanya menatap Aisha yang tidur. Dikarenakan efek obat penenang yang disuntikkan Rafa tadi.


"Maaf Tante, saya sudah membuat Tante semakin sedih. Saya dan Dokter yang lain akan berusaha untuk membuat Aisha kembali normal ," kata Rafa.


Wisnu dan Rafa keluar dari dalam kamar Aisha, dan nenek juga ikut keluar.


"Wisnu, jika kau ingin membawa Aisha ke Yayasan. Bawalah, nenek takut dia semakin tidak terkendali," ucap nenek yang sudah pasrah dan menyetujui Wisnu, agar membawa Aisha ke Yayasan yang didirikannya dengan Rafa dan teman-temannya yang lain.


"Terimakasih nek, Wisnu akan berusaha untuk mengembalikan keceriaan dalam diri Aisha," ucap Wisnu dan memeluk neneknya.


"Kau harus membawa Aisha ku kembali Wisnu ," kata nenek.


"Iya, Aisha kita akan kembali ceria nek ."


****


Dony duduk diruang tamu menunggu kedatangan Alana, sudah hampir setengah jam Dony menunggu Alana. Tetapi yang ditunggu tidak juga menunjukkan wujudnya.


"Ah..Alana, betapa sulitnya untuk meraih hatimu ," ucap Dony.


Dony melihat kearah suara langkah kakinya, dia mengharapkan langkah itu langkah kaki Alana. Dia lupa bahwa Alana belum bisa berjalan mengunakan kakinya sendiri.


Wajah Dony berubah sendu, saat melihat langkah kaki itu milik maid yang bekerja dirumah Alana.


Maid meletakkan teh dan cemilan yang dibawanya.


"Silakan Den ," ucap maid tersebut kepada Dony.


"Mbak, dimana Alana nya ?" tanya Dony.


"Masih didalam kamar Den, bersama dengan Nyonya ," ucap maid tersebut.


"Terimakasih ," ucap Dony kepada maid tersebut, kemudian maid tersebut kembali ke dapur.


"Alana, ayolah... keluar ," ucap Dony, matanya terus memandangi pintu yang berada disisi kirinya. Ketika dia hampir putus asa, matanya melihat Alana duduk dikursi roda dengan didorong oleh mama.


"Al, akhirnya kau mau menemui diriku ." Dony bangkit dan menghampiri Alana dan jongkok didepan kursi roda, tangannya menggenggam jemari Alana.


"Jangan senang dulu, aku belum memaafkan dirimu," ucap Alana dengan suara yang ketus.


"Selesaikan masalah kalian, jangan sampai berlarut-larut. Sayang, dengarkan apa yang ingin dikatakan Dony. Beri dia kesempatan untuk membela dirinya, mama kebelakang dulu. Jangan ribut ya ," ucap mama Alana, kemudian meninggalkan Alana dan Dony untuk menyelesaikan masalah mereka.


"Hei..mau kau bawa kemana aku !" kata Alana.


"Aku ingin menculikmu ." Dony terus mendorong kursi roda Alana menuju teras.


"Kenapa kau bawa aku kesini, aku tidak mau disini ," ucap Alana tetapi Dony tidak mengindahkannya.


"Sekarang, dengarkan apa yang yang ingin kukatakan ." Dony menarik kursi yang didudukinya untuk dekat ke Alana.


"Silahkan, kebohongan apa yang ingin kau sampaikan ," kata Alana.


"Al, aku tidak ada hubungan dengan Sarah. Aku sudah memecat dirinya," kata Dony.


"Oh ya, kenapa kau memecatnya. Biar tidak ada yang mengetahui hubungan kalian ," ucap Alana dengan sinis.


"Al, please..! dengarkan penjelasan ku dulu, aku memecatnya karena dia telah berpura-pura sakit. Dia ingin kita berpisah ," ucap Dony.


Alana melihat ke wajah Dony, untuk mencari kebenaran dalam setiap ucapannya.


"Ternyata, waktu itu dia tahu kedatangan dirimu kekantor ."


Dony menceritakan semua apa yang direncanakan Sarah, dan Dony juga mendengarkan rekaman suara Sarah yang direkam salah satu karyawan.


"Dasar gadis tidak tahu malu, awas dia jika aku sembuh nanti . Akan aku Jambak rambutnya, biar dia tahu berurusan dengan siapa ," ucap Alana dengan menggebu-gebu, tangannya terkepal.


"Sudahlah, jangan marah-marah. Kita damaikan ?" bibir Dony tersenyum menatap Alana.


"Tidak, kita masih berperang. Itu karena kamu terlalu baik dengan gadis-gadis karyawan mu ."


"Al, ayolah..! kita genjatan senjata ya, capek perang terus. Please..damai ." Dony menunjukkan jari kelingkingnya.


"Damai..damai ya, aku rindu kecerewetan mu Alana ."


"Apa..! kau bilang aku cerewet.."


Bug..bug...bug..


Tangan Alana memukul dada Dony yang dekat dengan dirinya.


"Aduh..Al, jantungku sakit ." Dony memegang dadanya yang kena pukulan tangan Alana.


"Dony..Dony..!" melihat Dony kesakitan, Alana menghentikan pukulannya.


"Aduh..." terlihat senyum dibibirnya Dony, dan sempat terlihat oleh Alana.


"Kamu menipuku..!" seru Alana dengan jengkel, karena baru tahu bahwa Dony mengerjainya.


"Maaf Yang..," ucap Dony.


"Yang..yang..." jengkel Alana.


"Aku rindu ," ucap Dony, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alana.


"He..he..mau apa ?" Alana mendorong wajah Dony yang tepat berada didepan wajahnya.


"Kiss dikit ya ." Dony mengerucutkan bibirnya kearah wajah Alana.


"Hih...genit, sana.." tangan Alana mendorong wajah Dony dari depan wajahnya.


"Dikit aja Al, mumpung ngak ada yang lihat ," ucap Dony, dan bibirnya kembali ngerucut.


"Nggak ada yang lihat ya, tuh.. banyak yang lihat ," ucap Alana, sembari menunjuk kearah langit yang biru cerah.


"Siapa ?" tanya Dony, matanya celingukan kesana-kesini.


"Malaikat mengawasi kita, belum muhrim. Tidak boleh main nyosor saja, apa mau jadi angsa. Main nyosor ," ucap Alana dan matanya bulat sempurna.


"Yeahh.. payah, ini kalau pacaran dengan calon ustazah ," ucap Dony dengan pelan.


"Apa..!" mata Alana mendelik menatap Dony.


"Nggak.. please, damai ya ." Dony menunjukkan dua jari nya.


Bersambung..