Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 226 Tahan apa tidak??


Semangat selalu ya, dan tetap menjaga kesehatan keluarga.


Happy reading guys


***


Mobil Dama keluar dari area kampus, Vely mengira Mada akan membawa dirinya menuju restoran yang berdekatan dengan lokasi kampus. Tapi tidak, mobil melaju menuju jalan yang belum pernah dilihat oleh Vely, membuat Vely menoleh kearah Dama. Dan bertanya kemana tujuan mereka.


"Kita mau kemana kak ?" tanya Vely seraya melihat Dama yang fokus dengan kemudinya.


"Honeymoon," jawab singkat Dama.


Tapi jawaban singkat Dama telah berhasil membuat Vely panik, mendengar kata honeymoon.


"Honey.... honeymoon!?" sontak Vely kaget, wajahnya memerah.


"Iya honeymoon, dua orang suami istri liburan ditempat romantis. Makan berdua dibawah payung langit, diterangi cahaya rembulan. Hemh.. romantis kan?" ucap Dama sembari memberikan kecupan sekilas di pipi Vely.


"Kak Dama!" sontak Vely kaget, karena Dama main kecup dipipinya saat mengendarai mobil.


"Apa ?" Dama tidak merasa bersalah telah main kecup saja.


"Bahaya kak, bagaimana jika tiba-tiba ada mobil. Saat kakak melakukan itu tadi," ujar Vely.


"Melakukan itu apa?" pura-pura tidak tahu Dama.


"Hih...!" kesal Vely.


"Ok...maaf ya, kakak tidak akan melakukan itu lagi saat di mobil. Tapi diluar mobil nggak janji ya," ucap Dama.


"Kita mau kemana? kepantai?" tanya Vely penasaran, setelah melihat laut disepanjang jalan.


"Honeymoon," sahut Dama.


Sepanjang mata memandang, laut yang terlihat dengan batu-batu besar dibibir jalan. membuat Vely kembali bertanya. Karena tadi Vely merasa Dama hanya main-main menyebutkan honeymoon. Tapi saat ini Vely curiga, Dama mengatakan yang sebenarnya.


"Kak Dama punya restoran dipinggir pantai?" tanya Vely penasaran.


"Kita mau honeymoon" kata Dama.


"Serius kak Dama !" Vely mencebikkan bibirnya, kesal mendengar Dama mengatakan honeymoon.


"Serius ! apa ada tampang wajah menipu di wajah kakak ini ," sahut Dama.


"Bohong! pasti kak Dama ada kerjaan disini? ya kan ?" kata Vely.


"Kerjaan, sekaligus honeymoon" kata Dama.


"Honeymoon.. honeymoon terus!" sewot Vely.


"Sebel!" ngedumel Vely.


Vely menyandarkan kepalanya, kaca mobil dibukanya. Sehingga angin masuk memainkan helai demi helai rambutnya, membuat rasa kantuk datang menyerang Vely. Lama kelamaan, mata Vely perlahan-lahan terpejam.


Dama melihat kearah Vely, dan tersenyum begitu melihat Vely sudah nyaman masuk kedalam mimpinya.


"Syukurlah, akhirnya tidur juga." gumam Dama.


Saat Vely tertidur, Dama menghubungi Richard.


Sambungan telepon tersambung, dan terdengar suara Richard diseberang telepon.


"Dad, Vely sekarang bersama Dama ini. Dama mau mengunjungi restoran yang mau dibuka di daerah pantai timur," ucap Dama kepada Richard.


"Pulang kan ?" tanya Richard.


"Pulang Dad, kalau tidak ada masalah di restoran. Kalau sudah kemalaman, mungkin tidak pulang Daddy" kata Dama.


"Boleh tidak pulang, tapi ingat apa yang Daddy katakan dulu." kata Richard.


"Ingat Dama, apa yang Daddy katakan dulu sebelum menikah" sambung Richard.


"Iya Dad," sahut Dama.


"Apa aku bisa tahan? ada tubuh sudah halal, kenapa harus disia-siakan. Tuhan juga akan marah, berhubungan suami istri itu juga ibadah. Jika kita tidak melakukan ibadah, Tuhan juga akan marah. Maaf Dad, aku tidak mau menerima murka Tuhan" Dama berbicara sendiri.


***


Mobil Rodrick memasuki pelataran parkir, Aisha langsung berjalan menuju depan. Setelah mendengar suara mobil memasuki halaman.


Pintu mobil Rodrick terbuka, Josh. Daddy Aisha turun, diikuti oleh Edward dan Rodrick.


"Daddy !" Aisha berhambur memeluk Josh dengan gembira.


"Aish " Josh membalas pelukan Aisha.


"Daddy sehat?" tanya Aisha seraya mengamati wajah putih Daddy-nya.


"Sehat, begitu mendengar cucu-cucu Daddy mau menikah. Tubuh Daddy semakin sehat, dan Daddy menolak untuk sakit" jawab Josh.


"Sister!" Edward memeluk Aisha.


"Mana Laura, katanya mau ikut?" tanya Aisha kepada Edward, mengenai adik iparnya Laura.


"Sorry sis, tahun depan sister akan mempunyai keponakan lagi" ujar Edward.


"OMG! Laura hamil?" tanya Aisha.


"Ya" sahut Edward.


Aisha menggandeng tangan Edward dan Daddy-nya untuk masuk kedalam rumah.


"Belum pulang dari kantor Dad" sahut Aisha.


"Anak-anak? Kenway, Keane dan Vely?" tanya Josh.


"Semua belum pulang, ada yang bekerja. Sedangkan Vely berangkat ke kampus.


Tak terasa, mereka sudah dewasa. Dan sudah akan menikah, Daddy senang. Masih diberikan kesempatan untuk melihat mereka menikah," ucap Daddy Aisha dengan sangat terharu.


"Daddy pasti bisa melihat mereka mempunyai anak, Daddy sehat" Aisha memeluk lengan Josh.


"Ada apa ini?" Edward datang dengan membawa barang-barang mereka.


"Mau tahu saja," ujar Aisha.


"Sister, anakmu itu nakal. Lihatlah, apa yang dilakukannya tadi saat dia menjemput tadi," kata Edward dengan menunjukkan kertas bertuliskan.


Menunggu grandpa dan uncle Edward penjajah.


"Rodrick!" teriak Aisha selesai membaca apa yang ditulis Rodrick.


"Mommy! just kidding !" seru Rodrick sambil tertawa.


"Bercanda ." gerutu Aisha.


***


Sampai ditempat yang dituju, Vely belum juga membuka matanya. Cuaca yang sejuk membuat Vely semakin lelap dalam tidurnya.


"Selamat datang Nak Dama." seorang laki-laki paruh baya keluar menyambut kedatangan Dama.


Dama menghampiri laki-laki tersebut, dan mengulurkan tangannya. Laki-laki tersebut menyambut uluran tangannya.


"Pak Yusuf, tolong bawa kedalam ya." Dama menyerahkan tas berisi pakaiannya dan pakaian Vely kepada pak Yusuf.


"Baik" kemudian pak Yusuf, membawa tas yang diberikan oleh Dama.


Dama membuka pintu bagian Vely duduk, dengan sangat hati-hati. Dama menggendong Vely. Membawanya masuk kedalam kamar, dengan sangat pelan. Dama merebahkan tubuh Vely ke ranjang, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Vely.


Dama memberikan kecupan di kening Vely sebelum keluar dari dalam kamar.


"Nak Dama, ini buku laporan keuangan restoran" Pak Yusuf memberikan buku besar kepada Dama.


Dama mengambil buku yang diberikan pak Yusuf, sambil duduk. Dama membaca laporan tersebut.


"Bagaimana perkembangan menu baru Pak?" tanya Dama.


"Alhamdulillah Nak Dama, pengunjung sangat suka. Karena semakin banyak pilihan menu" jawab pak Yusuf.


"Nanti saya periksa Pak, tolong persiapkan makanan didepan ya Pak," kata Dama seraya meletakkan buku keatas meja.


Didalam kamar, Vely menggeliat. Dan matanya terbuka tiba-tiba, Vely bangkit dan menjadi duduk diranjang. Matanya awas menatap dimana saat ini dia berada.


Vely melihat ke tubuh bagian bawah, dengan menyibakkan selimut.


Vely menarik napas lega, saat melihat badannya masih memakai baju.


"Lihat apa?" tanya Dama, saat Vely menyibakkan selimut yang menutupi sebagian badannya.


Vely melihat Dama yang berada didepan pintu.


"Nggak ada" sahut Vely .


Dama ikut merebahkan tubuhnya disamping Vely.


"Kak kita dimana?"


"Tepi pantai," jawab Dama dengan mata yang terpejam.


"Namanya?"


Dama menyebutkan nama, dimana saat ini mereka berada .


Vely melihat kearah pintu, dan melihat kamar yang mereka tempati langsung terhubung ke pantai.


Secara perlahan, Vely beringsut turun dari ranjang.


"Mau kemana?" tanya Dama dengan menatap Vely.


"Mau melihat pantai" sahut Vely.


"Jangan turun ke pantai ya, ombak lagi besar" kata Dama.


"Iya"


Vely beranjak menuju pintu kaca yang menghadap ke pantai.


"Ngeri" gumam Vely, saat melihat ombak yang bergulung-gulung, dan angin menggoyang pepohonan yang tumbuh ditepi pantai.


Vely kembali masuk kedalam kamar, dan melihat Dama keadaan tidur.


*


*


*


Bersambung dolo


Maaf Typo yang bertebaran, maklum yang nulis mata empat. Dan mata keduanya sudah harus nambah min🤭