Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 188 Menghindar


Tetap semangat dan selalu menjaga jarak, dengan mengikuti protokol kesehatan. Kita menjauhkan keluarga kita dari virus.


Happy reading guys ❤️.


🌟🌟


Hari kelulusan Vely dari baju putih abu-abu akhirnya terjadi, Vely sangat senang. Karena merasa dia sudah dewasa, padahal. walaupun dia tidak memakai baju putih abu-abu lagi, kedua orangtuanya dan kakak-kakaknya tetap menganggap Vely sebagai adik kecil yang harus dijaga.


"Akhirnya, aku sudah besar !" seru Vely begitu tiba dirumah, setelah dari sekolah untuk menerima hasil pengumuman kelulusannya.


"Vely, walaupun sudah tamat SMA. Kau itu tetap anak kecil, diantara kami." ledek Rodrick.


"Hih..kak Rodrick..!" Vely memanyunkan bibirnya.


"Vely, mau kuliah dimana? jangan keluar negeri ," ujar Keane.


"Vely mau ambil arsitektur, biar bisa bantuin kak Keane," ujar Vely.


"Bagus itu, Daddy dukung ," kata Richard.


"Arsitektur, bukannya itu dunia laki-laki?" tanya Aisha.


"Tidak Mom, arsitektur bukan dunia untuk kaum laki-laki saja." beritahu Keane.


"Vely, mau ketempat Mada ya ," ujar Vely.


Vely menuju kerumah Mada, karena sudah sering kerumah Mada. Vely langsung nyelonong saja masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar Mada.


Tiba didekat kamar Dama, Vely berhenti didepan pintu kamar Dama yang tidak tertutup rapat. Vely mendengar suara Dama sedang berbicara dengan seseorang.


"Hahaha..! kau kira aku suka dengan anak kecil, dia masih labil ." suara Dama berbicara dengan seseorang ditelepon.


"Kalau ada yang dewasa untuk apa anak kecil," ucap Dama lagi.


"Apa kak Dama membicarakan aku ?" batin Vely.


Terlihat wajah Vely yang sedih, Vely merasa kecewa. Dama ternyata menolak keinginan Papanya, untuk di jodohkan dengannya.


Vely membatalkan niatnya untuk bertemu dengan Mada, Vely berlari kembali menuju rumahnya.


Vely langsung menuju kelantai atas, dimana kamarnya berada. Begitu masuk kedalam kamar, Vely tidak lupa mengunci pintu dan langsung telungkup diranjangnya.


Air mata Vely berderai tanpa bisa dibendung lagi.


"Kenapa kak? kenapa kak Dama begitu? Vely suka dengan kakak Dama, padahal Vely sudah membentengi hati ini hanya untuk nama kak Dama !" ujar Vely.


"Kenapa cinta pertama ku harus berakhir seperti ini?" gumam Vely dengan air mata yang bercucuran.


"Kalau berada dirumah ini terus, aku pasti tidak bisa melupakan kak Dama. Aku harus menjauh, tapi kemana? kalau kuliah di luar negeri, pasti Daddy dan mommy tidak beri izin." dengan air mata yang masih mengalir, Vely memikirkan kemana dia harus melanjutkan pendidikannya.


Ditempat kamar Dama, orang yang membuat Vely mengucurkan air mata. Masih berbicara dengan temannya melalui sambungan telepon, tanpa tahu. Bahwa ada orang yang mendengar perbincangan mereka tadi.


"Jadi benar, kau tidak mau berkenalan dengan adik sepupuku?" tanya orang tersebut melalui sambungan telepon.


"Aku sudah kenalkan? adik sepupu mu yang kita ketemu di cafetaria itu kan ?" tanya Dama kepada temannya.


"Kau masih ingat, bagaimana? cantik kan?" tanya temannya melalui sambungan telepon.


"Cantik! semua gadis itu cantik, tidak ada yang jelek ," kata Dama.


"Ayolah Dam, datang ya. Kami tunggu di club." desak temannya tersebut.


"Maaf ! aku tidak bisa, begini ya. Aku katakan saja. Aku itu sudah di jodohkan ," kata Dama, karena temannya terus mendesak Dama untuk datang ke club' untuk bertemu dengan sepupu temannya tersebut.


"Hahaha..! jaman sudah maju, kau masih mau di Carikan jodoh." ledek temannya.


"Tidak ada yang salah, aku sudah tahu dia dari kecil. Jadi tidak seperti membeli kucing dalam karung," ujar Dama.


"Sepupuku gadis baik Dam, aku sudah mengenalnya sejak kecil juga. Sepupuku itu hanya suka kumpul-kumpul dengan temannya saja, tidak suka minum. Walaupun suka bersama dengan teman ke club'," kata Noel.


"Kau mengenalnya, aku tidak Bro. Sudahlah Noel, bilang kepada sepupumu aku sudah diikat. Dan tidak bisa lari lagi, walaupun bisa lari. Aku juga tidak mau, kau pasti kenal dengan Keane kan. Gadis yang di Jodohkan dengan ku, adalah adik Keane ." beritahu Dama.


"Apa dia tidak masih kecil juga, sama dengan sepupuku ," kata Noel.


"Baru tamat SMA." beritahu Dama.


"Masih labil juga !" seru Noel.


"Tidak! dia sudah lebih dewasa, dia tidak suka pergi clubing. Walaupun dia sedikit nakal, sama dengan Mada ," kata Dama kepada Noel.


"Itu kelemahan sepupuku, dia suka keluyuran malam. Walaupun hanya berkumpul dengan teman-temannya saja ," kata Noel.


"Aku tidak suka dengan gadis yang..." Dama menghentikan ucapannya, dia tidak ingin menyinggung perasaan temannya tersebut.


"Ok, aku akan katakan kepada sepupuku. Kau sudah sold out." ledek Noel.


***


Saat makan malam, tidak seperti biasanya. Vely makan dengan senyap, tidak terdengar suara Vely yang ribut dengan ketiga kakak-kakaknya.


"Daddy, apa boleh Vely kuliah ditempat grandfa?" tanya Vely tiba-tiba.


"Swiss?" kaget Richard.


Bukan hanya Richard, Aisha dan ketiga kakaknya juga kaget.


"Kenapa Dek?" tanya Keane.


"Kenapa apanya ?" Vely balik bertanya.


"kenapa tiba-tiba, ingin kuliah di Swiss?" Rodrick yang bertanya kepada Vely.


"Apa grandfa yang menawarkan untuk kuliah disana ?" tanya Aisha.


"Nggak tiba-tiba dan grandfa juga tidak mengajak Vely untuk kuliah disana , Vely ingin mandiri saja ," jawab Vely.


"Mommy tidak setuju!" Aisha tidak mengizinkan Vely untuk kuliah jauh dari rumah, walaupun di Swiss ada Daddy-nya.


"Daddy juga tidak mengizinkan," ujar Richard dengan tegas.


"Drick juga ."


"Dek, kakak pindah kerja disini. Masa adek mau pergi dari rumah ," kata Kenway, yang sudah menerima pekerjaan di maskapai penerbangan Indonesia.


"Ada apa? kakak curiga, apa ada teman yang mengajak kuliah disana ?" tanya Keane.


"Tidak ada," jawab Vely dan menundukkan kepalanya.


"Mommy tidak setuju, Vely harus kuliah disini ," kata Aisha.


"Dek, universitas disini juga bagus-bagus. Kapan pengumuman universitas negeri?" tanya Keane.


"Dua Minggu lagi ," kata Vely.


"Apa Adek sudah pasti tidak lulus universitas negeri ?" tanya Rodrick.


Vely diam, tidak menjawab pertanyaan Rodrick.


Aisha dan Richard saling pandang, mereka merasa. Ada yang ditutupi oleh Vely, tapi Richard dan Aisha tidak ingin memaksakan Vely untuk menceritakan apa yang ada didalam benaknya.


Richard dan Aisha menunggu, Vely sendiri yang akan menceritakan apa yang membuat dia ingin kuliah diluar.


***


Sudah seminggu Vely tidak tinggal dirumah, Vely tinggal dirumah Omanya.


Bukan hanya keluarga saja yang kehilangan sosok Vely yang periang, Mada juga sangat kehilangan. Apa lagi saat ini libur kuliah, sehingga Mada merasa bosan dirumah saja. Tidak ada teman untuk diajak bercerita.


Tok..tok


"Masuk ." suara dari dalam kamar Dama .


"Kak, keluar jalan-jalan. Malam Minggu berkurung dirumah, bosan!" Mada mengajak Dama keluar rumah.


"Kenapa tidak ngajak Vely, biasanya kalian berdua selalu bersama," kata Dama .


"Vely tidak bisa dihubungi," kata Mada .


"Kalau tidak bisa dihubungi, tinggal pergi saja kerumahnya. Lima langkah saja sudah sampai."


"Vely tidak tinggal disini kak ," kata Mada.


Mendengar perkataan Mada, Dama mengangkat pandangan matanya dari komputer. Dan kini menatap wajah Mada.


"Dimana ?" tanya Dama.


"Tempat Oma, sudah seminggu. Kakak itu sibuk kerja terus !"


"Kenapa dia tinggal disana? apa Opa sakit lagi ?"


Mada menggelengkan kepalanya.


Dama mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Vely, dan nomor yang dihubunginya diluar jangkauan.


"Sepertinya, ponselnya tidak aktif kak ," kata Mada .


*


*


Bersambung 😘


**Maaf jika ceritanya tidak sesuai dengan selera reader, dan masih banyak typo ya.


Kalau ada yang janggal dengan penulisannya, mohon koreksinya ya. Biar di revisi.


Terima kasih atas komentar para reader, cerita ini berhasil karena bantuan dari komentar para reader 🥰🥰**