Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 218 Besan vs besan


Tetap semangat dan selalu menjaga jarak aman, virus tidak mengenal tua muda. Sultan dan no sultan.


Happy reading guys ❤️


***


Pagi tiba, suara kicauan burung tidak berhasil membangkitkan nyonya muda. Apalagi Mada, yang baru berhasil memejamkan matanya begitu hari memasuki subuh tiba.


Bayangan peristiwa yang menimpanya, membuat dia sulit untuk memejamkan matanya.


"Hemhm...!" Vely menggeliat, telinganya mendengar suara ketukan halus dipintu kamar.


Vely bangkit dari ranjang, dengan mata yang masih setengah terpejam. Vely merangkak turun dari ranjang untuk melihat siapa yang telah membuat tidurnya terganggu.


"Kak Keane!" Vely melihat sosok kakak tertuanya berada didepan pintu, dengan keadaan yang sudah rapi.


"Kenapa kakak datang malam-malam, istri kakak tidak apa-apa. Hanya tidak bisa tidur," ujar Vely dengan suara yang serak khas bangun tidur, dan matanya sayu menatap wajah Keane.


"Aduh...!" sentilan dikeningnya membuat mata Vely terbuka lebar.


"Kak Keane, sakit..!" Vely menyentuh keningnya yang menjadi korban jemari tangan Keane.


"Lihatlah keluar jendela, matahari sudah bersinar," ujar Keane.


Mata Vely melihat kearah jendela yang ada didekat pintu kamar Mada, terlihat matahari pagi sudah menyeruak masuk di sela-sela jendela.


"Sudah pagi, kami baru tidur." gumam Vely.


"Baru tidur? apa yang kalian lakukan? apa kalian berdua ngobrol sepanjang malam?" tanya Keane.


"Vely tidak bisa tidur, tuh..! istri kak Keane. Krasak-krusuk sepanjang malam." Vely ngerucutkan bibirnya menunjuk kearah ranjang, dimana Mada masih dalam keadaan tidur.


"Kenapa? apa dia menangisi Papa David?" tanya Keane.


"Mada tidak bilang." Vely mengedikkan bahunya.


"Cepat bangun Mada, biar kita cepat pergi. Mama Mayang sudah pergi dua jam yang lalu ." beritahu Keane.


"Mama Mayang sudah pergi! kenapa kami tidak dibangunkan," ujar Vely.


"Tangan Mama Mayang sudah sakit, mengetuk-ngetuk pintu kamar. Kalian berdua tidur sudah seperti orang pingsan."


Keane membalikkan badannya, melangkah meninggalkan Vely. Baru beberapa langkah, Keane berhenti dan memutar badannya kembali menghadap kearah Vely yang masih berdiri dipintu kamar.


"Kak tunggu dirumah, jangan lama." titah Keane.


"Ya !" Vely menutup pintu kamar, mendekati ranjang untuk membangunkan Mada.


***


Di rumah sakit, jam 5:30 pagi. Mayang sudah sampai di rumah sakit, bersama dengan Aisha dan Richard.


Mereka membawa sarapan, dan baju ganti untuk ketiga putra mereka yang berada di rumah sakit. Kenway, Dama dan juga Rodrick.


Ketiganya tidur dengan posisi duduk.


"Kway, bangun !" Aisha menggoyang-goyangkan lengan Kenway.


Kenway membuka matanya.


"Pagi mommy !" sapa Kenway, melihat siapa yang ada dihadapannya.


"Pagi " sahut Aisha.


"Daddy mana ?" Kway tidak melihat keberadaan Daddy-nya.


"Ngambil barang di mobil, ada yang ketinggalan," jawab Aisha.


Mayang membangunkan Dama dan Rodrick, keduanya tidak sulit untuk dibangunkan.


"Mandi sana, biar sarapan." titah Mayang kepada ketiganya.


Richard kembali dengan membawa satu bungkusan, yang berisi bubur untuk David.


"Terima kasih mas say." Aisha mengambil bungkusan tersebut dari tangan Richard.


"Terima kasih Asay..." balas Richard.


Mayang melirik pasangan suami istri yang terlihat mesra, dimana pun berada. Tidak seperti dirinya, yang masih terlihat malu-malu menghadapi David yang terkadang kumat mesra didepan umum.


Pintu ruangan terbuka, suster keluar.


"Keluarga pasien bapak David Alamsyah" panggil suster tersebut.


"Saya...saya suster !" Mayang langsung bangkit dan berjalan cepat menuju suster yang memanggilnya.


"Apa ada masalah dengan suami saya sus..?" Mayang gugup.


"Tenang May..." Aisha memegang lengan Mayang, untuk memberikan kekuatan kepada sahabatnya tersebut.


"Tidak ada apa-apa Bu, bapak sudah bisa keluar dari ruang pemulihan. Kondisinya sudah stabil." beritahu suster.


"Ibu sudah bisa memesan kamar, biar sebentar lagi. Bapak masuk kedalam kamar," ucap suster.


"Iya suster " Richard yang menyahut.


Suster kembali masuk kedalam ruangan pemulihan.


"Mana tanda pengenal David, biar mas yang kebagian administrasi," ucap Richard.


Mayang mengambil tanda pengenal David, memberikannya kepada Richard.


***


Mata David masih terpejam, beberapa pasang mata terus menatap wajah yang masih berada dalam kondisi tidur.


Saat dipindahkan dari ruangan pemulihan, David sudah keadaan bangun. Begitu didorong masuk kedalam kamar, David merasa ngantuk kembali. Mungkin karena efek obat yang dikonsumsinya, sehingga David bawaannya ingin tidur.


"Aish, kenapa belum bangun juga?" tanya Mayang, terlihat dari wajahnya ada kecemasan.


"Papa masih ngantuk Ma." Dama merangkul pundak Mamanya.


Terdengar suara dari dekatnya, mata David sedikit terbuka. Tetapi terpejam kembali.


"Hei pemalas ! bangun!" suara Richard membuat mata David terbuka lebar.


"Mas besan! apa kau menungguku di surga? atau kau mengikuti ku juga?" tanya David dengan pertanyaan asal.


"Surga..surga..! kau itu masih di neraka!" seru Richard lagi.


"Mas say!" Aisha menepuk lengan Richard, karena Richard mengusili David. Yang masih dalam keadaan belum stabil kesadarannya, karena efek bangun tidur.


"Aisha! kau juga?" mata David mengitari sekitar tempat tidur, dan melihat Mayang dan Dama juga berada di sana. Sedangkan Kenway dan Rodrick sudah kembali, karena keduanya ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda.


"Mayang, Dama. Apa kalian mengikuti aku juga?" tanya David dengan suara yang belum bertenaga.


"Mas..! kau itu di rumah. sakit !" seru Mayang.


"Rumah sakit? aku belum meninggal?" tanya David.


"Tidak Paa, Papa ini di rumah sakit." beritahu Dama.


"Hehehe..!" tawa kecil David.


"Aku kira, aku sudah berada di surga. Dan mas besan mengikuti aku ke surga."


"Untuk apa aku mengikutimu, aku masih sayang istriku ini ." Richard merengkuh Aisha kedalam rangkulannya.


"Hih..mas ini." Aisha menepuk pelan dada Richard.


"Dama, mana istrimu? semalam pernikahanmu kan ?" tanya David.


"Papa ingat?" tanya Dama.


"Kenapa Papa lupa? Papa tidak kehilangan ingatan. Papa hanya operasi jantung, bukan operasi otak."


"Vely di rumah Pa." beritahu Dama.


"Hehe...! anak nakal, apa kau membuat Vely tidak bisa berjalan? semoga, Papa sebentar lagi dapat kabar gembira." godaan David membuat wajah Dama merona merah, menahan malu. Sekilas dia melirik Richard, yang tepat berada didepannya.


"Hei.. yang kau bicarakan itu anakku!" seru Richard.


"Anakku belum boleh disentuh sampai dia berusia 20 tahun." sambung Richard.


"Mas besan, kita negoisasi ya. Bagaimana jika kami selaku pihak laki-laki minta discount menjadi 18 tahun saja," ujar David kepada Richard.


"Kau kira belanja, pakai discount." gerutu Richard tidak mau kalah.


"Mas say, kenapa malah ribut yang tidak perlu diributkan." Aisha melerai perdebatan yang tidak jelas menurut Aisha.


"Mas ini lagi, ingat! itu dada baru selesai dibongkar. Jangan ngajak berdebat dulu ." Mayang memarahi David.


"Kami tidak berdebat, kami hanya bertukar argumen. Ya kan mas besan," ucap David kepada Richard.


"Iya, welcome back. Aku takut, teman debatku pergi begitu saja kemarin ," ucap Richard.


"Aku belum mau pergi mas besan, belum puas aku bertetangga dengan mas besan," ujar David.


Richard mengulurkan tangannya, David menyambut uluran tangan Richard.


Keduanya saling berjabat tangan dengan erat .


*


*


*


**Bersambung 😘


Jangan lupa untuk selalu menekan tombol like... trims**