
Cerita hanyalah untuk hiburan semata, nyantai saja bacanya.
*****
Kekesalan mama Richard, membuat Richard menjadi korban pukulan tangan mamanya.
Richard tidak perduli mama dan kakaknya kesal melihatnya.
Sedangkan Richard masih bereforia, mendengar istrinya hamil.
Dokter Widya masih berada ditempat.
"Sudah berapa bulan kehamilan istri saya dokter ?" tanya Richard.
"Nanti kunjungin spesialis obgyn, untuk mengetahui lebih jelas ya Pak ," kata dokter Vidya.
Untuk sekarang ini, karena kondisi pasien masih lemas. Biar pasien istirahat satu hari dirumah sakit ," sambung Dokter Vidya.
"Sekarang istri saya dimana dokter?" tanya Tanya Richard.
"Urus dulu ruangannya ya pak, biar ibu kita masukkan ke ruangan " ucap suster yang mendampingi dokter Vidya.
"Sana urus Rich, biar mama dengan yang lain menunggu disini ." titah mama Richard.
"Kenapa Richard maa, Rich ingin nunggu istri Richard juga !" seru Richard, yang menolak untuk pergi.
"Apa harus mama yang mengurusnya ?" tanya mamanya kepada Richard.
"Sudah! biar Chintya saja dengan Alana dan Mayang ." Chintya melerai perdebatan antara mamanya dan Richard.
"Al, May. Ayo temani mama kebagian administrasi ," kata Chintya.
Ketika ingin pergi, Chintya melihat asisten Richard berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Rich, kau bawa asisten. Kenapa tidak kau suruh Dia mengurusnya ," kata Chintya.
Richard melihat kearah Tony, dan memanggilnya.
"Tony, kau urus semua. Cari kamar yang paling bagus, di antara yang terbagus !" seru Richard kepada Tony, yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Richard.
"Rich, hanya satu hari ini. Tidak perlu kamar yang besar ," kata mama Richard.
"Tidak maa, harus kamar yang besar dan nyaman. Biar istri dan anak Richard nyaman beristirahat ," kata Richard.
"Sudah maa, biarkan saja " kata Chintya.
Richard memberikan arahan kepada Tony, baru Tony pergi meninggalkan Richard.
"Pasti, kita tidak boleh lagi pergi keluar bersama dengan Aisha ," kata Alana.
"Benar sekali, bye...bye Mall ." tawa Mayang.
"Jangan-jangan, Aisha tidak boleh menjadi Bridesmaids dalam pernikahan ku nanti ?" Alana memandang wajah Mayang.
"Nggak mungkin sampai segitunya ," kata Mayang.
"Kau tidak mengenal Om Richard, orangnya aneh ." gerutu Alana.
"Seperti keponakannya ini ." Mayang menyikut lengan Alana.
"Aku mana aneh, kau yang aneh !" balas Alana.
Richard berjalan didepan UGD, dengan perasaan yang tidak sabar.
"Kenapa lama sekali maa, apa Aisha belum sadar juga ?" tanya Richard kepada mamanya yang duduk bersama dengan yang lain dikursi tunggu.
"Sabar Richard, ini juga gara-gara kamu juga yang tidak bisa menjaga istri. Kalau kau tahu bahwa istrimu hamil, Aisha tidak mungkin pingsan !" seru mamanya.
"Maa, mana Richard tahu. Aisha tidak ada muntah-muntah," jawab Richard.
"Oma, Om Richard itu hanya tahu membuatnya saja ." ledek Alana.
"Kau bocah nakal !" Richard mendekati Alana dan menyentil kening Alana.
"Hih.. Om Richard !" Alana mengelus-elus keningnya.
Pintu UGD terbuka, Richard bergegas mendekat dan terlihat brankar keluar dan diatasnya terbaring Aisha.
"Suster, apa istri saya belum sadar ?" tanya Richard, tangan Richard menggenggam tangan Aisha.
"Sudah pak, sekarang pasien sedang tidur ," jawab suster tersebut sembari mendorong Aisha menuju kamar inap.
*****
Nenek berjalan cepat menuju Yayasan, setelah mendapatkan telepon dari Richard tadi.
Dalam perjalanan menuju Yayasan, orang yang mengenal nenek. Menyapa nenek dan bertanya mengapa nenek jalan tergesa-gesa.
"Mau kemana nek, kenapa nenek jalan cepat sekali. Pelan-pelan nek, nanti nenek jatuh ." ingatkan Tetangga yang mengenal nenek.
"Mau menjemput Laras, nenek lagi senang. Cucu nenek di Aisha hamil !" seru nenek dengan gembira.
"Alhamdulillah nek, kami ikut senang ," jawab tetangga nenek.
"Iya..ya.. terimakasih !" nenek mengambil dompetnya dari balik jarik nya dan mengeluarkan uang merah tiga lembar dan memberikan kepada tetangganya tersebut.
"Tidak usah nek, kami sudah sering menerima kebaikan dari keluarga nenek ." tolak Tetangga nenek.
"Sudah, terima ini. Doa kan semoga cicitku sehat-sehat selalu ," kata nenek dan melanjutkan perjalanannya kembali.
"Terimakasih nek !"
"Ya.." jawab nenek.
****
Kita lihat Gaby dulu ya, apa yang terjadi dengannya.
Keadaan Gaby makin memprihatinkan, Eline dan Lily tidak pernah datang lagi sejak terakhir kali mereka kerumahnya.
Mark yang selama ini menemaninya ke club, telah dikirim oleh Papa nya untuk mengurus usaha mereka diluar pulau. Tinggallah Gaby sendiri.
Kedua orangtuanya sibuk dengan urusannya sendiri, Gaby hanya tinggal bersama dengan pembantu.
Tok..tok..
Ketukan dipintu kamarnya, tetapi tidak ada sahutan dari dalam kamar.
"Bibi masuk ya Non !" pembantu yang selalu mengantarkan makanan kedalam kamarnya, membuka pintu.
"Non ini makanannya " pembantu tersebut meletakkan nampan yang dibawanya keatas nakas, dan melihat nampan yang dibawanya semalam masih belum disentuh.
"Kenapa tidak di makan Non ?"
Tidak ada sahutan dari mulut Gaby.
Bi San melihat kearah Gaby, tidak ada pergerakan dari anak majikannya tersebut.
"Non..!" Bi San memegang punggung Gaby, Bi San merasakan badan Gaby dingin.
Dengan tangan yang gemetar, Bu San membalikkan badan anak majikannya tersebut. Dan terlihat wajah Gaby yang pucat. Seperti tidak bernyawa lagi.
Bi San berlari sambil berteriak-teriak, memanggil pembantu yang lain.
"Non Gaby..Non Gaby ! tolong !"
"Ada apa Bi San ?" tanya satpam yang selalu menolong Gaby keluar malam.
"Bibi nggak tahu, ayo "
Mereka masuk kedalam kamar Gaby , dan memeriksa keadaan Gaby.
"Bi, panggil Dokter..!" perintah satpam tersebut.
"Apa tidak kita bawa ke rumah sakit saja ?" tanya bi San.
"Nanti Tuan marah ."
Dokter yang dihubungi akhirnya datang, setelah diperiksa. Atas perintah dokter Gaby langsung dibawa kerumah sakit.
"Nanti orangtuanya Non Gaby marah dokter ," kata Bi San.
"Kalau mereka sayang dengan putri nya, mereka harusnya tidak marah. Waktu saya datang kesini terakhir kali, saya sudah katakan. Tolong perhatikan putri mereka." terlihat wajah dokter yang gusar.
"Ayo angkat ."
Sampai dirumah sakit, Gaby langsung dilakukan tindakan medis.
"Apa yang terjadi dengan Gaby Bi ?" tanya papa Gaby.
"Saya juga nggak tahu Tuan, saya tadi membawakan sarapan seperti biasanya. Tapi Non Gaby tidak bergerak, wajah Non Gaby pucat. Dan badannya dingin ." cerita Bi San
"Paa, apa Gaby baik-baik saja !" seru mamanya dengan wajah yang panik.
"Bi San, kenapa Gaby dibawa kerumah sakit. Kenapa tidak panggil dokter kerumah ?" tanya papa Gaby.
"Kami sudah panggil dokter Tuan, tapi dokter yang menganjurkan untuk membawa Non Gaby kerumah sakit ," jawab Bi San.
"Pasti Gaby parah paa, mama tidak mau kehilangan Gaby !" mama Gaby menangis.
"Sudah maa, anak kita tidak akan apa-apa ." papa Gaby memeluk istrinya yang menangis.
Pintu ruangan UGD terbuka dan dokter yang membawa Gaby kerumah sakit tadi keluar.
"Bagaimana dengan anak kami Dokter ?" tanya papa Gaby.
"Dok, bagaimana dengan Gaby ?" tanya mama Gaby.
"Kami sudah berusaha Pak, Bu. Tapi Tuhan berkehendak lain, kami tidak bisa menyelamatkan putri itu. Saat dirumah tadi putri ibu sebenarnya sudah tiada, Putri ibu terkena serangan jantung ," ucap Dokter kepada kedua orangtuanya Gaby yang terdiam, tidak percaya apa yang didengarnya tadi.
Akan ada yang datang dan akan ada yang pergi, hukum dunia.
*
*
*
Bersambung...