Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 170 Kabur


Sayangi keluarga kita, tetap jaga jarak aman. Kesehatan adalah nomor satu.


Happy reading guys ❤️


***


Setiap hari libur, semua berkumpul dikediaman Richard. Seperti Minggu ini, semua berkumpul membawa pasangan masing-masing dan anak-anak mereka.


"Vely, tolong bakar ikan ini ." titah Rodrick kepada sang adik.


"Kenapa tidak kakak saja, nanti kulit mulus Vely kena bara api ." tolak Vely , dan menjauh dari Rodrick.


"Ih..anak ini, yang dipikirin kulit mulus ." ketus Rodrick.


"Siapa yang bisa membantu? hemhh..Ivan sepertinya mau. Van !" panggil Rodrick.


"Ya Om ." Ivan mendekati Rodrick.


"Tolong panggang ikan ini ya, Om tidak tega melihat mereka diatas bara api ," kata Rodrick, yang tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari mahluk hidup.


"Om ini, bilang saja malas ." gerutu Ivan, tetapi tetap menurut apa yang diperintahkan oleh Rodrick.


Aisha, Mayang dan Alana duduk berkelompok. Sepertinya mereka tidak pernah bertemu saja, ada saja yang dibicarakan. Padahal mereka setiap hari bertemu, saat sang suami dan anak pergi. Sang istri dirumah melakukan kegiatan yang sangat mereka sukai, ngerumpiin yang bisa dirumpiin.


"Mas Rich, minta nambah anak," ujar Aisha tiba-tiba.


Dua pasang mata melotot sempurna, menatap wajah Aisha.


"Om Richard sudah mempunyai anak laki dan perempuan, dan masih menginginkan seorang bayi lagi ?" tanya Alana.


"Mungkin Mas Richard, hanya bergurau," kata Mayang.


"Serius !" kata Aisha.


"Seru ya, jika kita punya baby lagi. Aku itu ingin punya anak cewek, bisa ada teman untuk menghabiskan uang suami ," kata Alana .


"Untuk teman menghabiskan uang suami, tidak perlu anak Al, cukup kau ajak kami. Kami mau bantu habiskan uang Dony ," kata Aisha.


"Beda kalau dengan anak, kalau dengan teman. Pasti tidak bisa pergi lama, kalian pasti sibuk ngurusin anak dan suami ," kata Alana.


"Sepertinya, Alana ingin punya baby lagi ," kata Mayang.


"Betul Al ?" kali ini Aisha yang bertanya.


"Kalau diberi kepercayaan lagi untuk mengandung, aku akan senang. Aku tidak pakai kontrasepsi! memang rahim ku saja tidak mau bekerja sama," ujar Alana, yang sangat mengharapkan mempunyai seorang anak perempuan.


"Apa Dony ingin punya anak perempuan juga ?" tanya Mayang.


"Dia tidak pernah membahasnya," jawab Alana.


"Kalau aku, anak perempuan dan laki-laki sama saja," kata Mayang.


"Karena kau sudah memiliki anak perempuan, jika tidak tadi. Pasti kau seperti aku, sangat menginginkan anak perempuan," kata Alana.


Pembicaraan sang Mama berhenti, ketika Vely dan Mada datang menghampiri mereka.


"Mom, boleh kami keluar sebentar ?" tanya Vely kepada Aisha.


"Mau kemana ?" tanya Aisha.


"Mall ," ujar Vely dengan bergelayut dilengan mommynya.


"Hanya kalian berdua ?" tanya Mayang kepada putrinya Mada.


"Iya ," jawab Mada.


"Tidak boleh ! kalau hanya kalian berdua, mommy tidak mengizinkan hanya kalian berdua !" Aisha tidak mengizinkan keduanya hanya pergi berdua.


"Mommy ! kami itu sudah besar, sudah bisa menjaga diri ," ujar Vely.


"Vely itu masih 16 tahun ya, dan Mada baru 17 tahun. Masih kecil !" seru Aisha.


"Minta antar kak Dama, atau kak Rodrick. Baru mommy izinkan ," kata Aisha.


Karena tidak mendapatkan izin, Vely dan Mada ngambek dan mengurung dirinya didalam kamar.


"Kapan kita dewasa, kalau ke Mall saja harus ditemani," kata Vely.


"Betul itu, mau kemana-mana harus bawa kakak..!" Mada juga ngedumel.


"Alasannya, nanti ada yang culik. Siapa yang mau menculik kita, makan kita banyak. Rugi orang yang mau menculik kita !" ketus Vely.


"Mada !" panggil Vely.


"Apa ?" sahut Vely.


"Bagaimana jika kita..!" bola mata Vely bermain-main, naik-turun.


"Kita menyelinap ?" memastikan Mada, apa yang ada didalam benaknya Vely.


"Iya, sesekali kita jadi anak baik. Bagaimana menurut mu ?" tanya Vely, senyum dibibirnya.


"Oke, kita jadi anak baik. Tidak merepotkan kakak-kakak kita, kita berdua harus mandiri !" ucap Vely dengan bersemangat.


"Bagaimana kita menyelinap ?" tanya Mada.


"Hemhh..kita pura-pura saja mau kerumah mu ." usul Vely.


"Setuju ."


Akhirnya keduanya keluar dari dalam kamar, dan melakukan apa yang dikatakannya tadi.


Begitu keluar dari dalam rumah, keduanya bergegas memesan taxi. Begitu taxi datang kedua masuk kedalam taxi dengan perasaan yang gembira, karena merasa dirinya sudah bebas. Tapi mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang mengikuti keduanya.


***


Di mall, Keduanya menuju kebagian pakaian renang. Keduanya mempaskan ketubuh mereka pakaian renang yang sangat aneh.


"Vely, bagaimana kalau aku memakai baju renang seperti ini ." Mada menunjukkan baju renang yang sangat minim.


"Apa yang bisa ditutupi, kalau baju renang seperti ini ?" Vely memandang baju renang itu dengan heran.


"Kain segitu, tidak bisa menutupi bokong ku ," kata Mada sembari tertawa kecil.


"Nah..ini baru bagus !" Vely menunjukkan baju renang jaring-jaring.


"Kalau yang ini, tidak usah pakai saja," kata Mada.


Semuanya tidak ada yang bagus ditubuh kurus kalian berdua !" suara dari belakang membuat Mada dan Vely sontak kaget.


"Kak Dama !" teriak keduanya, begitu melihat Dama berdiri sembari tangan bersedekap.


"Ternyata kalian berdua sangat pandai menyelinap ya !" suara lagi terdengar.


"Kak Keane !" teriak Vely dan langsung bersembunyi dibalik tubuh Mada.


"Apa yang kalian lakukan disini ?" tanya Keane.


"Vely nemani Mada ," jawab Velt.


"Mada temani Vely ," ujar Mada.


"Ternyata, kalian saling mencari teman ya ?" tanya Dama.


Keduanya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa es krim tahu kita menyelinap keluar ?" tanya Vely kepada Mada.


"Mana ku tahu, mungkin saja. Tubuh mu ada alat pelacak." balas Mada .


"Ayo kita pulang, kalian berdua akan di sidang ," kata Keane.


Keane dan Dama berjalan duluan, dibelakangnya. Vely dan Mada mengikuti dengan perasaan yang kesal.


"Keane..!" terdengar suara yang memanggil Keane.


Keane dan Dama menghentikan langkahnya.


"Keane apa kabar ?" seorang gadis mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Keane.


"Baik-baik saja, dan kau Lusia ," jawab Keane .


"Aku masih seperti yang dulu, selalu menunggu mu !" kata gadis yang bernama Lusia.


Keane hanya diam, dan tidak menanggapi ucapan Lusia.


"Sejak lulus kuliah, kita tidak pernah berjumpa lagi ," ucap gadis itu.


"Aku sibuk bekerja ," jawab Keane.


Mada dan Vely yang berdiri dibelakang Keane, berbisik.


"Hih.. cewek ganjen !" gumam Vely, yang tidak menyukai Lusia. Karena Lusia selalu nyamperin Keane sampai kerumah.


"Lihatlah dandanannya, seperti Tante -tante saja," sambung Vely kembali.


"Hai Dama, kau masih seperti yang dulu irit bicara dan irit senyum ," kata Lusia kepada Dama.


Vely maju kedepan dan langsung mengandeng tangan Keane.


"Hai kak Lusia, kakak masih seperti yang dulu ya! oh... tidak ! kakak semakin terlihat tua ," ujar Vely.


"Vely !" tegur Keane, karena merasa Vely tidak sopan.


"Ayo Mada kita pulang !"


Vely dan Mada langsung berlalu dari hadapan Keane dan Dama.


"Maaf Lusia, kami mengejar mereka dulu ," kata Keane.


"Keane, untuk apa mereka dikejar. Mereka sudah besar, dan tidak mungkin mereka hilang," kata Lusia.


"Keane, biar aku yang mengejar mereka," kata Dama.


"Tidak! kita bersama."


Keane dan Dama kemudian berlalu dari hadapan Lusia.


"Anak itu, tidak dulu dan sekarang. Masih sama saja, nyebelin !" ngedumel Lusia terhadap Vely.


\*



\*



\*



🌟 **Bersambung**🌟