Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 110 Gercep


**Jumpa lagi dengan author recehan rengginang 🤭.


Happy reading guys ❤️


****


Mayang mengitari rumah yang baru dibeli David, terlihat dari wajahnya. Mayang sangat menyukainya.


"Bagaimana, suka ?" tanya David yang mengikuti Mayang menyusuri halaman depan, samping dan belakang.


"Iya, suka. Halamannya luas, bisa untuk bercocok tanam ," ujar Mayang.


David membuka pintu belakang dan masuk melalui dapur.


Mayang ikut masuk dan melihat kondisi dapur yang bersih dan layak pakai.


"Ini semua, baru selesai direnovasi !" kata David.


"Penghuni lamanya kemana, jangan bilang mereka..!" jemari Mayang menunjuk kearah atas.


"Tidak! mereka pindah keluar pulau, dari pada kosong. Mereka bersepakat untuk menjualnya," kata David.


Mayang naik kelantai atas setelah melihat ruang makan, dan ruang keluarga. Dan kamar tamu dilantai bawah .


"Ini kamar kita dan disebelah kamar putri atau putra kita," ucap David**.


"Anak, gol gawangnya aja belum." dalam benaknya Mayang.


**Mayang mendekati area balkon dan saat pagi akan mendapatkan sinar matahari dari samping.


"Kamar ini ?"


Mayang tertawa begitu melihat, kearah rumah tetangga depan mereka.


"Kita akan ramai, bertetangga dengan orang yang kita kenal. Apalagi itu rumah calon menantu kita." kekeh David.


"Rumah samping kita kosong, nanti aku bujuk Dony untuk membelinya ," kata David.


"Makin pusing mas Rich nanti, mengetahui bahwa David menjadi Tetangganya !" tertawa Mayang, membayangkan apa yang terjadi jika mengetahui bahwa mereka saling bertetangga .


"Kenapa kau suka sekali menganggu mas Rich ?" tanya Mayang.


"Dulu aku jengkel, karena Dia menikung gebetanku Aisha. Tapi aku sadar, bahwa Aisha bukan ditakdirkan untuk ku. Ternyata takdirku temannya Aisha ." tertawa David.


"Sekarang ini, aku menganggap Om besan sebagai teman. Sesama teman nggak apa-apa saling menjahili ." sambung David.


"Kau tidak ada perasaan lagi kepada Aisha ?" tanya Mayang.


"Aku sudah punya istri, untuk apa mengharapkan isteri orang. Dosa !"


"Apalagi istriku ini sungguh seksi ! hemhh..aumm..!" David menunjukkan gerakan mencakar.


"Hih...!" Mayang meninggalkan David.


"Yang..! kapan bisa ehem.. ehem..?" rengek David.


"Lima hari lagi ." Mayang menunjukkan lima jarinya.


" Nggak bisa dipersingkat Yang ?"


"Memang sudah dari sono begitu, kau kira perjalanan. Ada jalan pintas ."


***


Alana dan David sedang mencari desain undangan, untuk pernikahan mereka nanti. Sesekali terdengar perdebatan diantara mereka, karena membahas tema pernikahan dan bentuk undangan.


"Aku mau yang ini !" Alana menunjukkan contoh undangan bergambar boneka .


"Al, apa tidak kekanak-kanakan ," kata Dony.


"Tidak, kan lucu. Lihat imutnya wajah boneka Marsa ," kata Alana.


"Lucu dari mana, ngeselin iya !" ujar Dony, saat melihat gambar Marsa.


"Al, ini lebih cocok untuk undangan ulang tahun. Dari pada untuk pernikahan ," kata Dony.


"Ini untuk ulang tahun anak kita saja nanti ," kata Dony.


"Masih lama !" Alana mencebikkan bibirnya.


Cup..


Dony mencium bibir Alana sekilas, setelah melihat tidak ada orang yang melihat.


"Hei..main nyosor saja !" delik Alana.


"Bibir mu Al, membuat ku khilaf !" kekeh Dony.


"Sana jauh !" Alana mendorong Dony , agar menjauhinya.


"Pelit ! baru singgah sebentar Al, belum berlama-lama disitu ." Dony menunjuk kearah bibir Alana.


"Singgah bentar, kalau tuh bibir nggak mau lepas bagaimana? yang rugi bibir Alana !" ngerucut bibir Alana.


"Entar lagi halal Al, nggak apa-apa coba dikit ," ujar Dony.


"Tunggu halal baru Alana kasih, awas ya. Jangan main nyosor !" seru Alana.


"Baik Nyonya ," sahut Dony.


"Nona ! belum Nyonya !" tegaskan Alana.


"Iya..iya Nona Alana !"


"Ini saja ya Al undangannya, simpel. Anggap saja mereka ini kita." Dony menunjukkan undangan bergambar dua orang dipantai.



Akhirnya, soal memilih tema dan bentuk undangan telah selesai.


"Menikah seperti David dan Mayang tadi bagus ya, nggak ribet milih undangan. Fitting baju ," kata Alana.


"Aku tidak mau Al, ini pernikahan sekali seumur hidup. Harus berkesan, dan menjadi kenangan kita sampai kita menjadi kakek dan nenek " kata Dony .


"Benar juga ," sahut Alana.


****


"Dokter ingin bicara apa ?" nenek kepada Sony.


"Panggil saja Sony Bu , jangan Dokter ," kata Sony kepada nenek.


"Jadi ada maksud apa bertemu dengan ibu ?" tanya nenek.


"Itu Bu.. saya..mau ." Sony gugup untuk mengutarakan niatnya.


"Katakan saja, jangan ragu-ragu ," kata nenek kepada dokter Sony.


"Saya ingin menjalin hubungan dengan Larasati Bu, saya serius. Kalau Larasati mau. Saya ingin Langsung menikahinya!" ucap Dony dengan suara yang tegas, dan wajahnya menunjukkan ketegangan.


"Hahaha..." nenek tertawa, melihat wajah Sony yang tegang dan berkeringat.


"Kenapa aku setegang ini, waktu ujian ngambil gelar dokter saja tidak segugup ini ." dalam benaknya Sony.


" kamu serius dengan ucapan mu, kau tahu Laras pernah kecewa dan Dia juga janda beranak satu," kata nenek kepada Sony.


"Serius Bu, saya tidak mempermasalahkan hal itu semua. Saya sudah sejak lama menyukainya ," kata Sony.


"Sejak kapan ?" tanya nenek.


"Sejak jaman kuliah Bu ."


Sony menceritakan kisahnya kepada nenek, tentang perasaannya kepada Larasati. Dan kekecewaan yang dialaminya, saat mengetahui Larasati menikah .


"Dan kau tidak menikah sampai sekarang ?" tanya nenek.


"Tidak Bu, belum ada yang bisa menarik perhatian hati dan otak ini ." Sony menunjuk kearah dada dan kepalanya.


"Laras bisa menarik hati dan perasaan Sony ?" tanya nenek.


"Sejak dulu Bu ," jawab Sony.


"Kalau pendapat ibu, tergantung Laras saja. Ibu setuju jika kamu mau mendekati Laras, tapi jangan torehkan luka lagi. Kalau kau tidak serius, jangan mulai !" tegas ucapan nenek.


"Saya serius nenek !" ucap Sony dengan suara yang tegas.


"Orang tua bagaimana, Laras tidak sendiri. Apa mereka tidak keberatan dengan statusnya ?" ada rasa khawatir dalam benaknya ibu Laras.


"Kedua orangtua saya sudah tidak ada Bu, saya hanya punya kakak satu dan Dia seperti Laras Bu. Pernah tersakiti ," kata Sony.


"Dan orang tua Richard, adalah sepupu saya Bu ," kata Sony.


"Oh..ya, baru tahu ," kata nenek, mengenai hubungan Sony dan Richard.


"Ibu akan merestui niat mu untuk mendekati Laras."


"Terimakasih Bu ." terlihat wajah Sony yang gembira.


"Aisha, tidak usah khawatir. Dia pasti ingin ibunya bahagia " kata nenek.


"Richard mengatakan, bahwa Aisha tidak keberatan saya mendekati ibu. Bu ," kata Sony.


"Baguslah, semoga pintu hati Laras terbuka untuk memulai hubungan baru ," kata nenek.


***


Richard memasukkan semua barang-barang yang ingin dibawa Aisha.


"Sudah semua Aish, tidak ada lagi yang ingin dibawa pulang ?" tanya ibu Aisha.


"Hemhh..! " Aisha berpikir.


"Tidak ada lagi Bu ," sahut Aisha, setelah merasa apa yang diinginkan sudah masuk kedalam mobil.


"Aish, kenapa pakai baju begitu. Apa Aish kedinginan ?" tanya ibunya, setelah melihat Aisha memakai Jeans dan jaket Hoodie.


"Tidak dingin Bu, ingin saja pakai baju begini ," sahut Aisha.


"Sudah masuk semua barangnya mas say ?" tanya Aisha.


"Sudah " sahut Richard.


Aisha dan ibunya keluar, dan melihat nenek sudah duduk di teras depan.


"Sering-seringlah pulang, jika tidak sibuk ," kata nenek.


"Iya nek " jawab Aisha.


Richard memberikan Salim kepada nenek dan Larasati, begitu juga dengan Aisha.


"Bu, pikirkan mengenai Om Sony. ibu juga berhak berbahagia ," kata Aisha sebelum masuk kedalam mobil.


"Iya ."


Aisha masuk kedalam mobil.


"Da.da..da nenek, ibu !" Aisha melambaikan tangannya.


Richard melirik Aisha dan terlihat senyum dibibirnya.


"Asay, kenapa memakai pakaian seperti ini ?" Richard menyentuh jaket Hoodie Aisha.


"Ada maniak mas say, mungkin saja orang itu menghentikan mobilnya ditengah jalan dan melakukan itu.itu. !" seru Aisha dan melirik Richard.


"Hahahaha..!" pecah tawa Richard, mendengar sindiran Aisha.


*


*


*


*


*


Bersambung guys ❤️ ❤️