Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 47 Mengunjungi Aisha


Jumpa lagi dengan author receh nih..


Apalagi yang terjadi.


***


Rombongan Richard terus melaju menuju kampung Aisha, mereka hanya berhenti untuk mengisi lambung mereka yang minta diisi.


"Al, ingin makan apa ?" tanya Dony.


"Aku nggak mau yang berat, apa disini ada salad ?" tanya Alana.


"Hei Non, ini rumah makan Padang. Mana ada yang kau cari, daun singkong disiram kuah santan mau. Itu sudah mirip salad ," ucap Mayang.


"Hih..kau kira aku embek ." balas Alana.


"Al, pecal ada. Mau ?" tanya Om Richard.


"Hemh..maulah ," jawab Alana.


"Kau mau batu kerikil ?" tanya David kepada Mayang.


"Kau saja makan itu ," ujar Mayang dengan mata setengah melotot menatap David.


David hanya tertawa melihat Mayang melotot menatap dirinya.


"Kenapa kalian berdua tidak bisa berdamai, apa perlu ku nikahkan kalian ?" tanya Dony yang sudah senewen melihat Mereka berdua ribut dari mobil sampai keluar.


"Dia, No..!" tolak David dengan membuat tanda silang dengan tangan depan dadanya.


"Aku juga nolak seribu persen, daripada dengannya. Lebih bagus aku ngejomblo ." balas Mayang.


"Jangan terlalu saling membenci kalian berdua, nanti saling bucin ." sindir Alana.


Hih..!" Mayang bergidik memandang David, begitu juga sebaliknya.


"Kenapa teman-teman Nona Alana belum pada makan pak, sebentar lagi kita mau berangkat ?" kata Tony kepada Richard yang sudah hampir habis makanan diatas piringnya.


Richard melihat kearah meja, dimana Alana dan temannya duduk.


"Biar saja, siapa yang lama. kita tinggalkan saja ," jawab Richard dengan meneruskan makannya.


Setelah selesai makan, Richard bangkit dan berjalan keluar. Tiba didekat Alana dan teman-temannya duduk Richard berhenti dan berkata kepada Alana dan teman-temannya.


"Ayo kita berangkat ," ucap Richard singkat dan kemudian keluar menuju kearah mobilnya terparkir.


"Apa..! kita belum selesai, Om mu makan pakai mulut apa Alana ," kata David sambil makan dengan terburu-buru.


"Pakai mulut manusia, kau kira Om Richard alien ," kata Alana yang sudah menyelesaikan makannya.


"Aku sudah selesai ," kata Alana.


"Aku ke toilet dulu ya ," ucap Dony.


"Ayo Al, aku antar ," kata Mayang dan mendorong kursi roda Alana.


"Hei.. tunggu !" seru David, ketika dilihatnya hanya tinggal dia yang belum menyelesaikan dengan makanan.


"Rasain..!" Mayang tertawa melihat David yang berdiri sambil minum.


"David, kau sudah selesai ?" tanya Dony, sekembalinya dari toilet.


"Belum, tapi bagaimana. Si tua itu sudah selesai, aku heran kenapa cepat sekali dia makan. Apa dia tidak menguyah makanan itu semua, apa dia menelannya saja ?" kata David sambil berjalan mengikuti Dony keluar dari restoran.


"Pertanyaan mu sangat lucu ," ucap Dony yang tertawa mendengar ucapan David.


"Apa kau tidak heran, hanya lima menit dia sudah selesai makan," ucap David.


"Kau tanyakan saja padanya ." Dony masuk kekursi pengemudi.


"Kau yang bawa ?" tanya David.


"Iya, apa kau tidak letih ?" tanya Dony.


"Untuk bertemu dengan Aisha, tidak ada kata letih dalam kamus David. Hei..mana cewek jutek itu ?" David tidak melihat Mayang.


"Tu.." Dony menunjuk Mayang yang baru keluar dari toilet.


"Hei.. cepat masuk, apa mau kami tinggal kau disini !" seru David dari dalam mobil.


"Iya.. iya, dasar cerewet ," ngedumel Mayang.


Dua mobil kemudian melanjutkan perjalanannya, yang tinggal sekitar satu jam sudah sampai kekampung Aisha.


****


Aisha kembali bertemu dengan psikiater, dan meluapkan keluhannya yang selama ini terpendam.


"Kenapa mereka menghina Aisha, apa salah jika Aisha tidak mempunyai ayah. Aisha juga ingin punya ayah ."


"Siapa yang mengatakan itu semua ?" tanya Psikiater yang bertugas di Yayasan.


"Teman kuliah, waktu orang itu menculik Aisha. Aisha sempat mendengar orang itu menyebutkan namanya, sebelum Aisha benar-benar tidak sadar ," ucap Aisha.


"Dok, apa benar saya..." Aisha tidak meneruskan ucapannya.


"Benar, kau tidak dilecehkan." Dokter tahu apa yang ingin ditanyakan Aisha.


Aisha menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Allah masih memberikan perlindungan kepadaku ," ucap Aisha.


"Aisha, kau harus melaporkan orang itu ." kata Dokter.


"Apa yang bisa saya lakukan Dok, orang itu mempunyai orang tua yang sangat berkuasa. Hukum tidak akan bisa menyentuhnya," kata Aisha.


"Tidak ada yang tidak tersentuh, tidak ada orang yang kebal dengan hukum ," kata Dokter Yuni.


"Bukti untuk melaporkannya tidak ada, apa polisi mau mendengarkan dari orang yang setengah sadar ," kata Aisha.


"Betul juga," kata Dokter Yuni.


"Sudah, sekarang tenangkan dulu pikiran mu. Semoga kita bisa menemukan bukti-bukti agar orang itu tidak bisa bebas," kata Dokter Yuni.


***


Dari kejauhan terlihat debu berterbangan, karena dua mobil baru saja melintasi jalanan aspal yang berdebu.


Ketika mendekati rumah Aisha, nenek yang sedang duduk menjadi kaget melihat dua mobil secara beriringan memasuki area pekarangan rumahnya.


"Siapa mereka, musuh atau teman ?" nenek berdiri dan mengambil tongkatnya.


Kedua mobil tersebut, berhenti tidak jauh dari tempat nenek berdiri.


Mobil yang dikendarai Richard berhenti dan turun Richard dan kemudian Richard membantu Alana untuk turun.


"Nek ." Dony keluar dari mobil dan langsung memberikan salam.


"Dony ," nenek kaget melihat kedatangan Dony, yang sudah lama tidak bertemu dengan dirinya.


"Apa kabar nek, nenek sehat ?" tanya Dony.


"Alhamdulillah, nenek sehat, bagaimana dengan orangtuamu. Apa mereka sehat-sehat saja ?" tanya nenek .


"Sehat nek, nek ini teman-teman Aisha. Kami ingin bertemu dengan Aisha nek ," ucap Dony.


Ketika nama Aisha disebut, terlihat perubahan dari raut wajah nenek. Nenek menatap raut-raut wajah teman Aisha, dan menatap wajah Alana. Yang pernah dilihatnya gambar Aisha dan Alana menghiasi dinding kamarnya.


"Kita masuk saja dulu," ucap nenek dan menyuruh tamunya untuk masuk.


Setelah duduk, nenek memanggil Janah.


"Janah." panggil nenek, dan dengan cepat Janah datang dari belakang.


"Pergi panggil Laras, dan Wisnu kemana ?" kata nenek.


"Mas Wisnu pergi nek ," kata Janah.


"Kemana ?"


"Tidak tahu Nek, pergi dengan Dokter Rafa tadi ," kata Janah.


"Laras saja dulu kau panggil."


Dengan cepat Janah pergi untuk memanggil Larasati.


"Nek, saya teman kuliah Aisha. Dan ini Om saya " kata Alana.


"Saya teman Aisha saat SMA nek ," Mayang mengenalkan dirinya.


Nenek menganggukkan kepalanya, dan menatap wajah tamunya satu persatu.


"Saya calon..." tetapi ucapan David terhenti karena Mayang menyikut David agar menghentikan ucapannya.


"Apa..?" bulat sempurna mata David memandang Mayang.


"Jangan lebay, apa kau mau dipukul nenek pakai tongkat kepala naga itu ," tunjuk Mayang dengan mulutnya kearah tongkat yang berada digenggaman nenek Aisha.


David melihat tongkat nenek, dan bergidik membayangkan tongkat itu mampir kepalanya.


"Bakalan bocor kepalaku ." David mengusap kepalanya.


Larasati datang dan heran melihat banyak tamu dirumahnya.


"Apa Bu ?" tanya Laras, dan dilihatnya ada Alana dan Dony diantara tamunya.


"Alana ." Larasati menghampiri Alana dan memeluknya.


"Ibu, mana Aisha. Apa yang terjadi dengan Aisha Bu ?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Alana.


***Bersambung..


Please Like like like