
Hai jumpa lagi dengan Aisha, apa lagi yang terjadi kepada Aisha dan teman-temannya.
Happy reading guys.
***
Dari kampus, David langsung meluncur kerumah Aisha. Mobil David melambat saat sudah mendekati area rumah Aisha.
David menghentikan mobilnya, dan keluar dari mobil. Dia melihat suasana rumah Aisha yang sunyi. David melihat gerbang terkunci.
"Apa tidak ada orangnya, kenapa sangat sunyi. Seperti tidak ada penghuninya ." David berbicara sendiri.
David celingukan, dia mencari orang untuk mendapatkan informasi. Mengenai Aisha dan keluarganya.
"Kenapa tidak ada orang yang lewat, rumah tetangganya juga sepi. Apa semua penghuni rumah di daerah sini semua menghilang ." heran David melihat sekitar rumah Aisha yang sunyi seperti tidak ada penghuninya.
"Kenapa pikiranku menjadi ngelantur, seperti kejadian dalam film. Semua penduduk hilang diculik alien." ngekeh David membayangkan apa yang ada dalam otaknya saat ini.
"Sadar David, itu hanya ada dalam film saja ." David berbicara sendiri untuk dirinya sendiri.
David duduk diatas kap mobilnya, untuk menunggu siapa yang bisa dimintainya keterangan mengenai Aisha."
"Kenapa tidak ada yang lewat ." ketika celingukan, dia melihat ada sepeda motor besar menuju ketempat mobilnya terparkir.
"Pasti orang ini ingin mencari Aisha, siapa pemuda ini. Apa saingan ku juga ?" pertanyaan dalam benaknya David, saat sepeda motor itu berhenti didepan Aisha. Dan orang yang naik sepeda motor tersebut turun dan berjalan mendekati David.
"Kalau kau ingin bertemu dengan Aisha juga, dia tidak ada ." langsung David berkata, sebelum orang tersebut bertanya dan membuka helmnya.
Orang tersebut tidak menjawabnya, dia membuka helmnya dan terlihat siapa wajah yang berada dibalik helm merah tersebut.
"Wow..!" David kaget begitu helm terbuka dan muncul seraut wajah orang yang setiap mereka bertemu selalu berdebat.
"Apa !" melotot Mayang melihat David yang tertawa melihatnya.
"Aku kira sainganku yang berada diatas sepeda motor itu, ternyata cewek jutek ." ledek David dengan tertawa lebar.
"Awas..!" Mayang mendorong David dan berjalan menuju pintu gerbang rumah Aisha.
"Ais...Aisha..!" panggil Mayang, tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah Aisha.
"Teriaklah terus, sampai tenggorokan mu kering juga tidak akan ada yang menyahut. Tidak kau lihat, rumah ini terlihat sepi. Seperti tidak ada penghuninya," kata David kepada Mayang.
"Hemh..iya juga ya, apa Aisha tidak ada dirumah ?" tanya Mayang.
"Tidak ada orang dirumah, semua orang juga tahu. Jika sepi begitu, pasti tidak ada penghuninya ," kata David.
"Kemana Aisha ?" tanya Mayang kepada David.
"Kalau tahu, tidak perlu aku berdiri disini untuk bertanya kepada para tetangga ?" kata David.
"Apa kata tetangganya ?"
"Lihat, apa tidak kau lihat rumah tetangganya terlihat sepi semua ." David menunjuk kearah rumah tetangganya Aisha yang terlihat sepi.
"Apa mereka semua pindah rumah? sungguh sangat mengherankan ." Mayang mengusap-usap dagunya sambil berpikir, seperti seorang detektif saja gayanya saat ini.
"Huh.. perasaan jadi detektif kau ." celetuk David, sembari mendorong lengan Mayang. Sehingga Mayang agak sempoyongan.
"Biarin, kita harus menyelidikinya ," ucap Mayang dengan penuh semangat, tidak terpengaruh dengan dorongan tangan David yang membuat dirinya hampir jatuh.
"Kita ? kau aja keles, aku malas," kata David.
"Kau ini..! kau suka dengan Aisha, tapi untuk mencarinya kau tidak mau ," ucap Mayang dengan jengkel dan kedua tangannya berada dipinggangnya dan matanya membulat dengan sempurna.
"Aku akan mencari pujaan hatiku, tapi tidak bersama denganmu. Aku akan mencari Aisha sekuat tenaga, tetapi sendiri saja. Kalian itu penghianat, kalian ingin menjodohkan Aisha dengan Om Alana yang sudah tua itu ," ucap David dan kemudian masuk kedalam mobilnya, David meninggalkan Mayang yang masih berdiri melihat mobil David yang makin menjauh dari tempatnya berdiri.
"Dasar pria otak sempit..!" seru Mayang sambil mengacungkan tangannya kearah mobil David yang sudah hilang dari pandangan matanya.
"Kenapa aku teriak sendiri disini seperti orang gila ." kemudian Mayang menaiki sepeda motor besarnya, dan sepeda motornya melaju kencang meninggalkan rumah Aisha.
Sedangkan dalam mobil, David berpikir. Apa yang harus dilakukannya saat ini.
"Pertama-tama, aku harus ke kantor Dony. Dia sudah lama mengenal Aisha, mungkin saja Aisha pergi kerumah saudaranya ," ucap David sendiri dalam mobil.
"Aisha...! I'm coming.." teriak David dalam mobilnya.
"Hih.. kenapa seperti orang gila aku ." ngekeh David dan tangannya menepuk-nepuk setir mobilnya, mengikuti irama lagu dalam mobilnya.
"Aku hubungi Dony dulu, mungkin saja dia tidak dikantornya." David menghubungi ponsel Dony.
"Don, ada dikantor ?" begitu ponsel Dony menjawab.
"Nggak, aku lagi meluncur kerumah Alana ," jawab Dony dari seberang teleponnya.
"Yeah...." David kecewa, begitu mengetahui Dony tidak ada dikantornya.
"Ada apa ?" tanya Dony.
"Ada yang ingin kukatakan," kata David.
"Nanti aku hubungi, jika aku pulang dari rumah Alana ," kata Dony.
"Alana belum memaafkan dirimu ?' tanya David.
"Belum," jawab Dony dari sambungan telepon.
"Rekaman bukti suara Sarah sudah kau perdengarkan kepada Alana ?" tanya David.
"Belum," jawab Dony.
"Kenapa tidak kau perdengarkan, itu bukti bahwa itu semua adalah rencana Sarah. Kau sungguh bodo..," kata David.
"Kenapa aku bisa lupa ya ," ujar Dony sembari menepuk jidatnya.
"Perdengarkan kepadanya, pasti dia tidak akan marah lagi ," kata David.
"Trims Dav..." Dony langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"He..Dony..." suara David terhenti, karena Dony sudah mengakhiri sambungan teleponnya.
"Yeh..ni anak, main putus saja. Aku belum habis ngomong." ngomel David, begitu Dony memutuskan sambungan teleponnya.
***
Perkembangan jiwa Aisha makin tidak terkendali, membuat nenek dan Larasati semakin sedih.
"Papa..!" Aisha bangkit dari ranjangnya, dan berlari memeluk Wisnu yang masuk kedalam Kamar Aisha.
"Papa..?!" Nenek dan Larasati keget, begitu juga dengan Wisnu yang mendapatkan pelukan Aisha secara tiba-tiba.
"Aisha ." Wisnu meleraikan pelukannya dan memegang kedua bahu Aisha dan menatap wajah Aisha.
"Wis, apa yang terjadi dengan Aisha ?" tanya Larasati.
"Kenapa Wisnu, kenapa dia memanggil dirimu papa ?" tanya nenek juga.
"Apa selama ini dia rindu dengan ayahnya ?" lirih suara Larasati.
"Ais, ini mas Wisnu ," kata Wisnu dengan posisi masih memegang kedua bahu Aisha, dan matanya menatap netra abu-abu Aisha.
"Papa ." Aisha terus memanggil Wisnu dengan papa dan memeluknya kembali.
"Wisnu, panggil Rafa ." perintah nenek.
Wisnu ingin melepaskan pelukan Aisha, tetapi tidak bisa . Karena Aisha memeluknya dengan erat, tidak ingin berpisah dengan Wisnu.
"Ais, mas lepas dulu ya ," ucap Wisnu, dan berusaha melepaskan pegangan tangan Aisha dipinggangnya.
"Nggak mau, nanti papa pergi. Ada orang jahat pa ," ucap Aisha dan matanya nyalang menatap keluar jendela kamarnya.
Nenek dan Larasati menangis sesungukan, dia kaget dan shock melihat kondisi Aisha yang semakin memperihatinkan.
Bersambung..