
**Jumpa lagi dengan author receh 😀,
maaf jika ceritanya garing. Nggak ada selingkuh 😀✌️.
***
Hampir lima belas menit, Laras duduk bersama dengan Evelyn. Belum ada yang membuka suaranya.
"Maaf, aku tidak bisa bahasa Indonesia," ucap Evelyn pertama kali.
"Tidak apa-apa, aku mengerti bahasa Inggris," jawab Laras.
"Oh.." ujar Evelyn.
"Anak yang ceria ya ," ucap Evelyn, saat melihat Aisha masih dengan keasyikannya mengendong anak kambing kecil bersama dengan Alana.
"Iya " jawab Laras.
"Pasti sulit ya, mengasuh anak sendiri ?"
"Tidak sulit, jika kita menerima dengan ikhlas. Apa yang sudah ditentukan oleh Tuhan kepada kita" kata Laras.
"Wanita Indonesia, sungguh wanita yang sangat kuat " kata Evelyn.
"Bagaimana perasaan mu terhadap Josh ?" tanya Evelyn, tatapan matanya beralih melihat wajah Laras.
"Aku sudah menghapus dirinya, sejak ia tidak kembali lagi," kata Laras.
"Secepat itu menghapusnya dari hatimu," kata Evelyn.
"Untuk apa kita mengingat orang yang tidak mengingat kita," kata Laras.
"Hidup harus terus melangkah kedepan, apa lagi aku sudah punya putri. Hidupku sudah cukup lengkap, aku tidak membutuh sosok ayah untuk putriku ."
"Waktu pulang dari Indonesia, Dia tidak menemukan keberadaan mu. Dia seperti orang gila, hidupnya kacau. Apalagi saat itu keadaan keluarganya juga sedang tidak baik-baik saja, perusahaan yang dirintis keluarganya sedang dalam keadaan bermasalah. Saat itu juga Daddy-nya meninggal dan Mommy juga sedang sakit, Josh membutuhkan orang disisinya. Saat mommy menginginkan kami menikah, awalnya Josh menolak. Tapi aku berkata, bahwa pernikahan ini akan berakhir. Jika Dia menemukan istrinya di Indonesia, kau tahu, karena aku terlalu egois. Setiap malam aku selalu memohon agar Josh tidak menemukan istrinya, ternyata Doa ku didengar dulu. Tetapi sekarang tidak lagi." Evelyn terus bercerita, sedangkan Laras hanya menjadi pendengar saja. Dia tidak memotong apa yang sedang diceritakan oleh Evelyn.
""Sekarang Josh sudah bertemu dengan istrinya, janjiku kepada Josh dulu akan kulakukan. Setelah pulang dari sini, aku akan mengajukan gugatan cerai. Kembalilah kepada Josh, Dia sangat kasihan" kata Evelyn.
Laras sungguh terkejut mendengar perkataan Evelyn, Dia tidak menyangka Evelyn berniat mempersatukan ia dengan Josh.
"Maaf, aku tidak bisa menerima niat baikmu. Di hati ini sudah tidak ada lagi tempat untuk Dia, kau yang lebih lama mendampinginya. Dia bersamaku hanya setahun, Apa lagi kalian sudah memiliki anak yang masih membutuhkan kedua orang tuanya," kata Laras.
"Kau juga memiliki putri, Dia juga membutuhkan kedua orangtuanya ," kata Evelyn.
"Putriku sudah ada yang menjaganya, Dia tidak membutuhkan seorang ayah sekarang ini ."
"Lihatlah, Dia masih bisa tertawa. Padahal Dia baru tahu masih punya ayah hari ini," ujar Laras dengan menunjukkan Aisha dan Alana yang tertawa gembira, mengelus-elus anak-anak kuda pony.
"Hahaha..lucu sekali, apa kita bisa memeliharanya di rumah ?" tanya Alana kepada Aisha.
"Apa yang ingin kau bawa pulang ? kuda imut itu atau kambing ini ." kata Aisha kepada Alana.
"Ais, sepertinya ini bukan kambing," ujar Alana sembari mengamati hewan kecil yang berbulu keriting.
"Aku rasa juga bukan, sepertinya ini hewan unta ," jawab Aisha dan kemudian tertawa.
"Bukan unta Ais, ini gajah ." jawaban asal dari Alana, membuat keduanya tertawa senang. lupa mereka apa yang terjadi hari ini.
"Lihatlah, putriku tidak membutuhkan seorang ayah ," kata Laras.
"Tapi Josh membutuhkan putrinya, berilah kesempatan kepada Josh untuk mengenal putrinya lebih dekat. Please, kembalilah kepada Josh. Aku rela melepaskannya, asal Dia bahagia."
"Untuk kembali kepada Josh, aku minta maaf. Aku tidak bisa mengabulkan keinginan baikmu. Kalau masalah Aisha, aku akan memberikan pengertian kepada dirinya. Untuk membukakan pintu maaf untuk Josh ."
"Maafkan aku ," ucap Evelyn kembali.
"Sudahlah, kita tutup lembaran lama. Setelah Josh sehat nanti, bawalah Dia kembali." selesai berkata Laras beranjak meninggalkan Evelyn dan berjalan mendekati Aisha dan Alana.
"Maaf Josh, aku tidak berhasil menyakinkan Laras untuk kembali kesisimu ." monolog dalam benaknya Evelyn.
Evelyn bangkit dan kembali masuk kedalam rumah sakit.
****
"Hanya ada satu orang yang mungkin bisa membuat Dia melunak," kata Sony.
"Siapa Om ?"
"Togar, walaupun kelihatan orangnya kasar. Tetapi Dia bisa memberikan nasihat yang bijak kepada orang," kata Sony.
"Apa betul Om ?" tanya Richard.
"Kita coba saja."
Setelah berbincang dengan Togar, akhirnya Richard membawa Aisha bertemu dengan Togar.
Richard bersama Aisha dan Alana, juga Sony bertemu dengan Togar di toko roti Zul.
"Kalian pengantin baru ?" tanya Togar.
"Iya Om, baru tiga hari Om," jawab Richard.
"Jangan panggil Om, panggil aku Ayah Togar ," ujar Togar.
"Dan aku Ayah Zul ." timpal Zul sambil meletakkan roti keatas meja.
"Ayo silahkan di makan, jangan malu-malu. Ini murah semua, tapi bukan murahan ," ujar Zul menjajakan rotinya.
"Ah...kau ini Zul, jualan kau ini. Kami kira gratis ya kau kasih," ujar Togar.
"Untuk keponakannya dr Sony, gratis aku kasih kawan. Untuk kau, bayarlah. Kan kau sudah banyak uangmu ." balas Zul kepada Togar.
"Mata duitan nya kau ini ."
"Hahaha..!" tawa Zul.
"Sudah, makan rotinya. Jangan khawatir. ini gratis, anggap saja ini hari Jum'at barokah ," ujar Zul dan kembali masuk kedalam.
"Terimakasih kawan, semoga selamanya Jum'at barokah!" seru Togar.
"Enak kau, nggak enak ke Aku ." balas Zul, dari dalam.
"Aish, sepertinya seru ya. Jika kita tinggal disini ." bisik Alana.
"Apa kau ingin menikah dengan Ayah Togar, Dia seorang duda. Kau bisa tinggal disini, jika menikah dengannya." balas Aisha.
"Kau ini." Aisha menyikut lengan Alana, dan keduanya tertawa.
Betul kata Larasati, Aisha tidak bersedih. Aisha sepertinya tidak perduli ada Ayah atau tidak sekarang ini, karena Dia sudah menemukan orang untuk tempatnya bersandar.
"Apa yang kalian tertawakan ?" tanya Richard, melihat dua orang asuhannya tertawa saling sikut.
"Tidak ada Mas say." Aisha menggelengkan kepalanya, begitu juga dengan Alana.
Togar dan Sony tertawa juga melihat kelakuan Aisha dan Alana, yang menurut Togar. Mirip dengan kelakuan Runrun dulu, sedikit petakilan. Tapi itu terjadi karena asuhan dirinya dan Zul.
"Aisha ." Togar membuka suaranya.
"Iya Ayah.." suara Aisha lembut menyebutkan Ayah, karena seumurnya sampai saat ini. Baru kali ini terucap kata Ayah dari dalam mulutnya.
Richard meraih jemari Aisha dan menggenggamnya, Dia tahu dari suara Aisha. Dia terharu karena bisa menyebutkan kata Ayah, walaupun orang itu bukan Ayah kandungnya.
"Ayah ingin cerita, ada kisah yang lebih sedih. Mau dengar ?" tanya Togar.
"Mau Yah !" seru Aisha dan Alana secara serentak.
"Kalian berdua sangat kompak ya ," ujar Sony dengan tertawa.
"Sampai kompaknya Om, Richard sampai pusing menjaga keduanya Om," kata Richard.
**Bersambung....
Terimakasih kk reader yang sudah bantu like 🥰🥰🙏**