Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 85 insiden merah


**Cerita ini hanya untuk hiburan semata, cerita untuk reader yang lagi berada dirumah. Happy fun guys.


***


Mayang ingin menaiki kembali motornya, David terus berada disisinya. Seperti tidak ingin jauh dari Mayang sedetik juga.


"David, please. Pergilah, kenapa kau terus mengejar aku ?" tanya Mayang dengan mata setengah melotot, karena David memegang sepeda motornya.


"Karena aku sudah jatuh...jatuh..jatuh cinta kepadamu baby !" ucap David sembari mengerlingkan matanya.


"Hei ! kenapa matamu? apa rusak ?" tanya Mayang, melihat mata David sebelah yang bergerak-gerak.


"Ya, baby. Mata ini tidak berhenti bergerak. karena melihat keindahan ciptaan Tuhan didepan mata," ucap David.


"Oh..motor ini memang indah dan bagus, makanya aku membelinya ," ujar Mayang.


"Motor ? bukan motornya baby, tapi yang ada diatas motor yang indah baby." David terus mengeluarkan rayuan mautnya, sehingga Mayang semakin jengkel.


"Ada apa neng, apa ada masalah ?" seorang pria yang berpakaian petugas keamanan datang menghampiri mereka dan bertanya kepada Mayang.


"Tidak pak ." David yang menjawabnya.


"Apa pemuda ini menganggu neng ?" tanya petugas itu kembali.


"I...' Mayang tidak bisa meneruskan ucapannya, karena David memotong perkataannya.


"Tidak pak, ini pacar saya !" ujar David.


"What !?" kaget Mayang.


"Bapak sudah menikah ?" tanya David kepada petugas keamanan tersebut.


"Belum," jawab petugas keamanan tersebut dengan heran, atas pertanyaan David.


"Belum, pak. Wanita ini calon istri saya, jangan bapak lirik-lirik ya. Saya trauma dengan pria tua yang ingin mengambil calon istri saya, jangan sampai dalam setahun ini saya kehilangan calon istri dua kali," ucap David.


Sedangkan petugas keamanan hanya dapat bengong mendengar peringatan David terhadap dirinya.


"Sudah gila ini orang !" dalam benaknya petugas keamanan.


"David..! kau ini sungguh-sungguh tidak waras ya !" kemudian Mayang mengegas motornya, tinggallah David dengan mata setengah mendelik menatap motor Mayang yang makin menjauh.


"Gara-gara bapak, calon istri saya kabur. Dan satu lagi ya pak, jika bapak mau menikah. Jangan ambil yang masih muda, ambil yang seumuran dengan bapak." selesai berkata, David berjalan menuju mobilnya.


"Apa aku setua itu, umurku baru 24 tahun ." guman petugas keamanan, sambil menggaruk-garuk kepalanya.


'Ah..mumet, menghadapi pemuda stress ." petugas keamanan tersebut kembali ke post nya.


***


"Akhirnya, aku kembali !" seru Alana, begitu tiba didepan rumahnya.


"Om, Tante kecil. Nggak singgah ?" tanya Alana, melihat Richard tidak turun dari mobilnya.


"Mas say ?" Aisha ingin turun, dan sudah membuka pintu mobil.


"Tidak Al, Om ada kerjaan ," jawab Richard.


Aisha kembali menutup pintu mobil.


"Aish, besok masuk kuliah kan ?" tanya Alana kepada Aisha.


"Masuklah, aku sudah rindu suasana kampus ," jawab Aisha.


"Om balik ya, bye..bye !" ucap Richard dan terlihat senyum smirk disudut bibirnya, dan tidak ada yang melihat senyum tersebut.


"Bye..bye !" balas Alana.


Alana menatap kepergian mobil yang membawa Aisha dan Richard dari hadapannya.


"Al, kenapa Richard dan Aisha tidak singgah ?" tanya mamanya begitu melihat Alana.


"Om buru-buru maa, ada urusan penting. Katanya, maa ini ada kiriman dari nenek ." Alana menyerahkan bungkusan yang dibawanya sedari tadi.


"Apa ini ?" mama Alana menerima bungkusan tersebut dan melihat isinya.


"Ada pepaya dan pisang ," ucap mamanya.


"Mirip lagu maa, pepaya mangga pisang jambu. kurang mangga dan jambu saja ," ujar Alana.


"Besarnya pepaya ini ." mama Alana mengeluarkan pepaya dari dalam bungkusan.


"Iya maa, ini tangan Al sakit bawanya ," ucap Alana.


"Yang bawa kan mobil, baru bawa dari luar kedalam sudah capek ." gerutu mamanya sambil berjalan menuju dapur.


****


"Suara apa itu, apa ada tikus ?" Aisha bangkit dari baring dan duduk menatap kearah walk in closet.


"Masa rumah sebagus ini, ada tikus ?" Aisha bangkit dan berjalan dengan pelan-pelan menuju asal suara berasal.


Aisha membuka sedikit pintu walk in closet, dan melihat punggung Richard sedang membungkuk didepan koper yang terbuka.


"Mas say !"


"Asay, sudah bangun ?" Richard melihat Aisha dan kembali melanjutkan kesibukannya.


"Aish tidak tidur, hanya melempangkan badan saja ," kata Aisha.


"Itu baju Aish, untuk apa dimasukkan kedalam koper mas say ?" tanya Aisha saat melihat bajunya berada didalam satu koper.


"Untuk dipakai, apa Asay nanti nggak mau pakai baju ?" goda Richard.


"Hih..Aish serius nanya, untuk apa bajunya dimasukkan kedalam koper ?" bibir Aisha manyun.


Richard bangkit dan memegang bahu Aisha, wajahnya didekatnya kewajah Aisha.


"Kita mau pergi honeymoon ," ucap Richard, dan kemudian memberikan kecupan sekilas dikening Aisha.


"Honeymoon, tapi Aisha sudah janji dengan Alana. Besok mau kembali kuliah."


"Yang janji Asay kan, mas say tidak. Tidak ada bantahan, besok kita honeymoon. Dan satu lagi, jangan beritahukan kepada Alana," ujar Richard, dan menutup kopernya.


"Kenapa mas say ?"


"Nanti Dia minta ikut, kita ini mau honeymoon. Bukan refreshing keluarga." Richard membuka lemari tempat pakaian tidur dan pakaian dalam Aisha berada, dan Richard berdiri lama menatapnya.


"Ais, mau bawa pakaian dalam yang mana ?" tanya Richard.


"Mas say !" Aisha menarik tangan Richard, dan mendorongnya dari tempat pakaian dalamnya berada.


"Kenapa ?" tanya Richard sembari tertawa kecil, melihat wajah Aisha yang semburat merah merona.


"Soal ini, biar Aish yang urus ." Aish mendorong Richard dari dalam walk in closet.


Setelah Richard keluar, Aisha menghela napas.


"Asay, bawa yang warna merah ya !" seru Richard dari luar sembari tertawa.


"Hih..!" Aisha melihat kearah pakaian dalamnya yang berwarna merah.


"Mas say sudah melihat ini ." Aisha mengambil pakaian dalam warna merah tersebut, menggulungnya dan menggenggamnya dengan erat kearah dadanya.


"Kau ini membuat malu saja, kenapa kau harus didepan ." gerutu Aisha kepada pakaian dalam warna merahnya.


"Jangan lupa bawa juga lingerie yang merah juga ." terdengar suara Richard dari luar kembali.


"Kau lagi !" Aisha menarik lingerie warna merah yang dikatakan Richard, hadiah dari Alana.


"Alana juga, kenapa beri kado pakaian dalam warna merah begini. Kalau ada banteng, apa aku sudah habis dibuat banteng tersebut ." Aisha memasukkan pakaian dalam dan lingerie warna merah tersebut kedalam koper, dan mengambil beberapa pasang lagi. Dan kemudian menutup kopernya.


Aisha keluar dari dalam walk in closet, dan tidak melihat keberadaan Richard.


"Syukur, mas say tidak ada didalam kamar ." Aisha masih malu dengan insiden pakaian dalam warna merahnya.


****


Pintu kamar tempat Gaby berada terbuka, terlihat Mark masuk dengan seorang staf hotel.


"Sudah, pergilah. Aku akan menuntut hotel kalian ini !" seru Mark dengan wajah yang penuh dengan emosi.


"Maaf Tuan, pria yang membawa wanita ini. Mengatakan bahwa istrinya sedang sakit," ucap staf hotel dengan menundukkan kepalanya.


"Pergi!"


Staf hotel bergegas keluar, dan menutup pintunya.


"Gaby..Gaby ! kau didalam ?" Mark mendengar suara air mengalir.


Cklek...


"Gaby....


**Bersambung....


Thanks ya yang sudah Sudi mampir untuk membaca dan memberikan like n komentar yang membangun 🥰🥰🙏**