Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 197 Tidak romantis


Happy reading guys ❤️


Vania masuk kedalam kamarnya, dibawanya baby Julio keatas tempat tidurnya.


"Aku suka! ih.. nggak ada romantis.. romantis nya, apa karena dikiranya aku sudah punya baby. Mendengar dia bilang suka, aku sudah loncat kegirangannya." Vania mengomel dikamarnya.


"Aku punya baby, tapikan bukan aku yang mengandung. Aku juga ingin merasakan suasana yang romantis, saat pria menyatakan perasaannya kepadaku ." sambungnya lagi


"Ya kan baby, mama baby ini ingin ditembak dengan suasana yang romantis. Tidak perlu dengan candle light dinner, hanya dikasih Pampers untuk baby saja mama sudah senang ." gurau Vania seraya mendaratkan kecupan dipipi baby Julio.


Pintu kamarnya terbuka sedikit, wajah sedih mengintai dari pintunya yang terbuka.


"Maafkan Mama Van, Mama belum bisa menerima kehadiran anak itu. Semoga kehadirannya tidak membuat kehidupan mu ****terganggu****, dan mau menerima anak itu juga." batin Mama Vania.


Pintu kamar Vania tertutup kembali, Mamanya berlalu dari depan pintu kamar putrinya tersebut.


**


Dalam mobil hanya ada keheningan, Vely tidak berani membuka suaranya. Dia masih kaget melihat kemarahan Dama.


Dama mengambil cairan antiseptik dan memberikan kepada Vely.


"Ini ." Dama menyodorkan cairan antiseptik kepada Vely.


Vely mengambilnya dan melihat, apa yang diberikan Dama kepadanya.


"Cairan antiseptik." gumamnya.


"Untuk apa kak ?" tanya Vely.


"Bersihkan bekas tangan orang itu ." titah Dama.


"Bersihkan?" Vely belum ngerti apa yang harus dibersihkan.


"Tangan yang dipegang pria tadi bersihkan!" ulang Dama.


Vely melihat kearah tangannya, dan terlihat pergelangan tangannya yang merah. Bekas cekalan tangan Roy.


Vely menuruti ucapan Dama, cairan antiseptik disemprotkan Vely kedua tangannya.


"Kak, ini bukan ke rumah kost Vely?" begitu menyadari, mobil Dama tidak menuju tempat kostnya.


"Kak !" Vely memegang lengan Dama.


"Kita singgah di satu tempat dulu, baru kita ke tempat kost," kata Dama.


"Kak Rodrick akan menjemput Vely ," kata Vely.


"Rodrick tidak bisa datang, ada urgent katanya ," kata Dama.


"Kenapa kak Rodrick tidak bilang pada Vely."


"Mungkin lupa ."


Mobil Dama kembali kearah kampus, tidak jauh dari kampus. Mobil memasuki satu tempat tongkrongan mahasiswa.


"Kenapa kita kesini? apa Kak Dama lapar ?" Vely melihat kearah Dama, yang ditanya hanya diam.


Dama tidak menjawabnya, mobil terus menuju belakang. Dama menghentikan mobilnya.


"Ayo turun ." titah Dama.


Vely membuka pintu mobil, kemudian ikut keluar dari dalam mobil.


Dama masuk kebagian belakang, Vely terus mengikutinya.


Dama membawa Vely masuk kebagian dapur, Vely berhenti. Dan teringat saat dia dan Mada di suruh Dama cuci piring.


"Apa aku disuruh cuci piring lagi ?" dalam benak Vely.


Melihat Vely berhenti melangkah, Dama mendekatinya dan meraih jemari tangan Vely dan membawanya masuk kedalam saru ruangan yang lumayan luas.


"Duduk." Dama menyuruh Vely untuk duduk, dan Vely menurut saja apa yang diperintahkan Dama.


Tok..tok...


Seorang pria memakai baju chef mengetuk pintu.


"Masuk ." titah Dama kepada pria tersebut.


"Pak Dama, menu baru kita sangat disukai oleh mahasiswa ." beritahu pria tersebut.


"Kalau begitu, besok perbanyak stok bahan-bahan. Jangan sampai kehabisan," kata Dama.


"Baik Pak," ujar pria tersebut.


Kemudian pria itu meninggalkan Ruang kerja Dama.


Dama beranjak mendekati Vely, dan duduk dikursi depan Vely duduk.


Dama duduk dan kedua tangannya bersedekap didadanya, matanya menatap wajah Vely.


"Siapa pria tadi ?" tanya Dama.


"Kakak senior dikampus," jawab Vely dengan menundukkan kepalanya.


"Apa kalian ada hubungan ?" tanya Dama.


"Kalau tidak ada hubungan, kenapa dia mau membawamu kedalam mobilnya?"


"Vely tidak tahu kak, Vely tidak pernah menanggapi orang itu kak." beritahu Vely.


"Ingat Vely, kau itu sudah kakak beri tanda. Tidak ada yang bisa memilikimu !" tekan Dama.


"Kakak tidak suka dengan gadis labil, untuk apa kak Dama marah. Kalau Vely dengan cowok lain !" ketus Vely.


"Gadis labil? siapa gadis labil ?" tanya Dama.


"Kak Dama bilang, Vely itu anak kecil yang masih labil ," ujar Vely.


"Kapan? kakak tidak ada merasa mengatakannya ," kata Dama.


Vely menceritakan apa yang didengarnya, kepada Dama.


Tangan Dama menyentil jidat Vely.


"Aduh..!" teriak Vely, tangannya memegang jidatnya yang baru menjadi korban jemari Dama.


"Jangan suka mendengarkan pembicaraan orang, kalau mau dengar juga. Jangan setengah-setengah !" Dama beranjak duduk disamping Vely.


Dama memegang bahu Vely dan menggeser menghadap kearahnya.


"Saat itu, bukan Vely yang kakak bilang labil. Tapi saudara teman kakak, yang berniat ingin mengenalkan saudaranya." cerita Dama.


"Kak Dama suka dengan yang dikenalkan oleh teman kakak itu ?" tanya Vely.


"Bagaimana kak Dama bisa pindah kelain hati, sejak dalam kandungan. Kak Dama ini sudah di wanti-wanti oleh Papa, harus menikah dengan putri Om Richard ." ujar Dama sembari tertawa kecil.


" Kak Dama bohong ! masa dalam kandungan sudah tahu, kalau tahu . Kak Dama bisa menolaknya kan !" seru Vely.


"Untuk menolak dan mencari yang lain, kalau didepan rumah sudah ada yang menunggu untuk dilamar ." goda Dama.


"Ih.. siapa yang nunggu dilamar, kak Dama sok kegeeran ya !" Vely mencebikkan bibirnya.


"Tidak usah kembali ke kost ," kata Dama.


"Kalau tidak kembali kekost, Vely bagaimana. Tidak mungkin Vely menempuh jarak yang lumayan jauh ," kata Vely.


"Tinggal disini, biar kak Dama yang antar jemput kuliah ," kata Dama.


"Cafe punya kak Dama ?" tanya Vely.


"Bukan, punya papa " sahut Dama.


"Punya Om, punya kakak juga kan. Sudah lama buka kak Dam?" Vely melihat keluar melalui jendela yang terbuka lebar.


"Baru setahun " sahut Dama.


"Itu rumah pegawai " tunjuk Dama.


"Kak Dama sering berada disini ?" tanya Vely.


"Baru sebulan ini, kakak tinggal disini," jawab Dama.


Vely menoleh kearah Dama.


"Jangan bilang, kak Dama menguntit Vely !" tuduh Vely.


"Kalau kak Dama tidak menguntit, mungkin Vely sudah dibawa pria tadi entah kemana !"


Vely mengingat kembali apa yang dialaminya tadi.


"Kak Dam, jangan beritahu mommy dan Daddy ," kata Vely.


"Mereka sudah tahu " jawab Dama.


"Kak Dama! kenapa beritahu mommy dan Daddy " ujar Vely.


"Kita tidak boleh merahasiakan itu, bagaimana jika dia mengulangi perbuatannya itu lagi. Entah apa yang ada di otak orang itu !" keras suara Dama.


Vely diam dan pandangan matanya menatap kearah lantai.


"Ayo, kita ambil barang " ujar Dama.


***


Tiga keluarga menunggu diteras depan, terlihat mata Aisha yang sembab. Dia teringat kembali, apa yang pernah dialaminya dahulu. Hampir dilecehkan oleh orang, untung dia tidak ternoda. Tidak dapat dibayangkan Aisha, bagaimana jika Dama tidak melihat kejadian itu. Mungkin Vely mengalami nasib seperti dia dahulu.


"Mas, kenapa mereka lama sekali sampai ?" tanya Aisha.


"Dama singgah dulu ke cafe dulu " Mayang yang menyahut.


"Asay, tenanglah. Putri kita tidak apa-apa" ujar Richard, berusaha untuk menenangkan Aisha.


*


*


*


Bersambung 😘..