Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 251 Dua bahagian, dua sial


**Jangan lupa untuk menekan tombol like..Like ya kakak-kakak reader, terima kasih 💞💞


Happy reading guys**..


*****


Rodrick gelisah menunggu Jessie keluar dari dalam kamar mandi.


"Apa yang dilakukannya didalam kamar mandi?" Rodrick gelisah diatas ranjang, sudah hampir setengah jam Jessie berada di dalam kamar mandi.


"Apa dia ketiduran didalam kamar mandi?"


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka, Jessie keluar dari dalam kamar mandi.


Senyum terlihat dari raut wajah Rodrick, tapi tiba-tiba. Senyum di wajah Rodrick berubah seketika, saat melihat rupa Jessie ketika keluar dari dalam kamar mandi.


"Apa yang kau lakukan dengan badanmu itu ?" sontak Rodrick bangkit dari ranjang.


"Ini?" Jessie menunjuk badannya.


"Iya, kenapa badanmu penuh lumpur kuning begitu. Dan bau lagi ." Rodrick menutup hidungnya.


"Wangi begini, hidung Pak dokter itu bermasalah ya?" Jessie tidak terima dikatakan bau oleh Rodrick, karena bedak yang dibalurkan ketubuhnya.


"Sangat bau!" Rodrick menjauhi Jessie, ketika Jessie mendekati Rodrick.


"Jangan dekat-dekat!" ucap Rodrick seraya menutup hidungnya.


"Baiklah, jika Pak dokter tidak mau dekat-dekat Jessie. Jessie mau tidur saja" kata Jessie sambil merebahkan tubuhnya kekasur.


"Jessie, mandi sana. Kau bau sekali." titah Rodrick kepada Jessie.


"Mandi? ini obat Pak dokter, badan Jessie sakit semua. Karena jatuh ke sawah tadi" kata Jessie.


"Obat apa bau begitu? lihat, badanmu seperti masyarakat pedalaman. Cepat sana mandi." titah Rodrick.


"Nggak! ini obat, kalau tidak pakai ini. Besok badan Jessie bertambah sakit." Jessie tetap Keukeh tidak ingin mandi, agar bedak yang berada di sekujur tubuhnya hilang.


"Kalau kau tidak mau mandi, apa sampai besok kau tetap memakai itu Jess?" tanya Rodrick.


"Iya, sampai besok pagi. Mandi pagi baru hilang" sahut Jessie menjawab pertanyaan Rodrick.


"Terus, aku tidur mana? aku tidak tahan tidur di dekatmu, dengan bau menyengat dari...ah! apa itu..!" seru Rodrick seraya menunjuk badan Jessie.


"Tahan-tahan kan saja Pak dokter, ayo kita tidur" ujar Jessie, kemudian menarik selimut sampai ke dagunya.


"Tahan...tahan! hidung ini nggak tahan, siapa penemu yang kau pakai itu Jessie?" tanya Rodrick.


Pertanyaan Rodrick tidak dijawab oleh Jessie, napas Jessie terlihat seperti napas orang yang sudah masuk kedalam dunia mimpi.


"Hih! tidur, dia enak-enakan tidur. Aku menjadi pria kesepian, diantara pria-pria yang gembira malam ini ." Rodrick bicara sendiri, seraya mengambil bantal dan selimut tebal, untuk dijadikannya alas tidur dilantai.


"Drick..Drick, nasibmu sungguh malang. Bukan ibu tiri saja yang ada, ternyata istri tiri juga ada" ucap Rodrick telentang diatas selimut yang dibentangkannya dilantai.


Tangannya diletakkannya dibawah kepalanya, dijadikannya bantal. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Sesekali matanya menatap kearah Jessie.


"Bagaimana dia tidur itu." Rodrick melihat, Jessie tidur dengan posisi yang berantakan. Selimutnya sudah berada di ujung kakinya, bantal sudah berpindah fungsi. Yang tadinya bantal di kepala, sekarang bantal berada dalam pelukan. Sedangkan guling sudah tergeletak dilantai.


"Gila gadis ini, tidur tidak ada yang benar. Nggak ada feminim-feminimnya, Vely yang krasak-krusuk saja. Jika tidur ada manis-manisnya, ini orang." ngedumel sendiri Rodrick melihat cara tidur Jessie.


"Apa benar ini anak cewek? jangan-jangan anak ini kelamin ganda?" ngoceh sendiri Rodrick.


Sampai tak terasa, matanya terpejam dengan sendirinya. Karena letih ngomel sendiri.


****


Dalam kamar Dama, Vely tertawa cekikikan. Karena Dama terus menggoda Vely dengan cara menggelitik area sensitif Vely, yaitu telinga Vely. Vely tidak tahan, jika ada orang yang mengelus dan meniup area telinganya. Vely akan merinding dan cekikikan.


"Hihihi..! kak Dama cukup!" pinta Vely seraya menjauh dari sisi Dama.


"Habisnya kakak gemas, kenapa harus sekarang. Tamu tak di undang itu datang, cancel tadi undangannya. Undurkan sampai Minggu depan, atau bulan depan" ucap Dama asal bicara.


"Kakak! itu sudah jadwalnya, mana bisa main cancel-cancel saja." bibir Vely ngerucut.


Melihat bibir Vely manyun, membuat Dama semakin gemas.


"Jangan buat begitu bibirnya, jangan mancing-mancing ya!" seru Dama.


"Hahahaha!" Vely tertawa sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Jangan keras-keras tertawanya, nanti dikira Tante ada temannya" ucap Dama usil.


"Tante? Tante siapa?" bingung Vely.


Dengan tatapan mata yang bingung, Vely menunggu apa yang akan dikatakan oleh Dama mengenai Tante yang ditanyakan oleh Vely.


"Tante yang memakai gaun putih panjang, dan suka cekikikan diatas pohon," ucap Dama dengan suara yang pelan, membuat Vely yang mendengar beringsut menggeser kan tubuhnya mendekati Dama.


"Malam-malam jangan tertawa cekikikan, apalagi kita ini dikampung. Sudah, sini kita tidur saja. Hanya bisa tidur kita, baru buka satu kali. Harus puasa seminggu" ucap Dama sambil menarik Vely untuk masuk kedalam dekapannya.


"Koq tahu kakak puasa seminggu, hih..kakak kepo ya periode bulanan cewek?" tuduh Vely.


"Kakak itu pernah sekolah ya, disekolah dipelajari," kata Dama.


"Hehe! Vely lupa" ucap Vely.


"Delove, pulang dari sini kita tinggal dirumah sendiri ya," kata Dama.


"Kak Dama sudah ada rumah?" tanya Vely.


"Rumah didekat kampus " kata Dama.


"Yang itu "


"Nggak apa-apa ya, walaupun kecil tapi dekat kampus" kata Dama.


"Nggak apa-apa kak, bagus kecil. Nggak capek bersihkannya " ucap Vely.


"Ternyata, istriku kecilku pemalas ." ledek Dama.


"Kenapa? kak Dama menyesal menikah dengan Vely?"


"Tidak ada kata menyesal dalam kamus Dama, Delove tidak bisa masak. Ini bisa masak " ujar Dama, dengan menunjuk dirinya.


"Delove? kenapa tidak Vely saja kak ?"


"Delove panggilan kesayangan" sahut Dama.


"Bagaimana jika Dalove saja ," kata Vely.


"Dalove? apaan itu?" tanya Dama.


"Dama lovely" sahut Vely.


"Dama lovely? bagus, mulai detik ini panggilan kesayangan kita Dalove ya," kata Dama.


"Seperti mommy dan Daddy," kata Vely.


"Iya, kita harus seperti orang tua kita. Bersama sampai azal memisahkan" kata Dama.


"Amin" sahut Vely.


Berbeda dengan Dama, Keane masih berpacu diatas tubuh polos istrinya. Keringat membasahi badannya, udara dingin di pedesaan tidak membuat badan keduanya dingin. Karena aktivitas ranjang yang mereka lakukan, membuat kedua bermandikan keringat.


Setelah merasa tenaga terkuras habis, Keane menyingkir dari atas tubuh Mada. Dengan bertumpu pada siku lengannya, Keane menatap wajah Mada yang terpejam karena merasa letih.


Senyum terlihat dari wajah Keane, saat melihat hasil karya bibirnya. Bercak-bercak kemerahan seperti digigit serangga terlihat diarea dada dan sekitar area paha.


Tangan Keane membelai hasil karya bibirnya, membuat mata Mada yang terpejam terbuka. Karena merasakan ada elusan jemari di dada dan perutnya.


"Kak Keane." sontak Mada menarik selimut, setelah mengetahui tubuh polosnya masih terpampang jelas.


"Untuk apa ditutupi." Tangan Keane meraih selimut yang dipakai Mada untuk menutupi tubuhnya, dan melemparkannya jauh dari jangkauan tangan Mada.


"Kak !" Mada seketika mendekati Keane, dan memeluknya. Sehingga tubuhnya menempel tanpa jarak dengan badan Keane.


"Ah..sayank! apa mau lagi?" goda Keane.


"Tidak!" sahut Mada dengan wajah yang merona merah.


"Kalau mau lagi, kakak masih sanggup ini. Jiwa muda masih menggelora" kata Keane.


"Sakit ini" ujar Mada.


"Masih sakit? maaf ya, kakak kira sudah tidak sakit lagi" ujar Keane.


Cup


Cup


Keane mendaratkan kecupan di rambut Mada, dan kemudian mengangkat Mada kedalam kamar mandi. Untuk membersihkan diri.


Mada tidak membantah diangkat oleh Keane, karena tidak ada gunanya. Keane akan tetap menggendongnya ke dalam kamar mandi


🌟


🌟


🌟


Bersambung


Jangan lupa untuk menekan tombol like..like terima kasih atas dukungan atas cerita ini.