
Lanjut kita **ketawa-ketiwi bersama keluarga besan.
Happy reading guys ❤️.
🌟🌟🌟🌟🌟
Dama masuk kedalam kamarnya, dengan langkah setapak demi setapak. Matanya awas menatap kearea sekitar kamar, belum sanggup dia menerima kejutan lagi.
"Kenapa harus begini? baju chef ku warna hitam, masa tidur juga harus memandangi warna hitam" gumam Dama.
Dama menarik kopernya menuju area walk in closet, dia menggeser pintu walk in closed sedikit demi sedikit.
"Ah..walk in closet cantik, warna putih dan biru. Kenapa kamar tidur nuansa hitam yang ada, putih hanya karpet."
"Kenapa tidak karpet yang hitam" sambung Dama seraya berjalan mengitari area kamarnya.
"Bersih, tidak ada hewan didalam kamar. Jangan sampai Love terkontaminasi Rodrick"
Dama merebahkan tubuhnya ditempat tidur yang baru, dulu tempat tidurnya tidak sebesar ini. Sekarang tempat tidurnya bisa menampung lima orang dewasa.
***
Mada dan Vely tiba dirumah, mobil sampai didepan pagar. Mobil Papa David keluar dari dalam rumah.
"Sebentar mas, mau bilang Dama sudah pulang kepada Vely" kata Mayang kepada David, agar David menghentikan mobilnya.
"Tidak dibilang juga mereka tahu, Yang. Aku sudah pulang" kata David.
"Mungkin saja kan, Vely mengira mas pulang sendiri. Dama tidak" kata Mayang.
David menghentikan mobilnya, Mayang bergegas turun dan berlari menuju kearah rumah Richard.
"Mama, kenapa lari-lari?' tanya Mada sembari mengeluarkan belanjanya dari bagasi mobil.
"Mau bilang Dama sudah pulang" kata Mayang.
"Kak Dama sudah pulang? kenapa tidak bilang-bilang?" kata Vely baru turun dari dalam mobilnya.
"Mau buat surprise Vely" kata Mada.
"Dama yang dapat surprise" dalam benak Mayang.
"Mama mau kemana?" tanya Mada.
"Mau ketempat Opa, Papa ada bawa obat herbal untuk Opa" kata Mayang.
"Mama pergi ya, Vely. Sediakan makan siang untuk Dama, dia belum makan siang. Sejak pulang belum turun, mungkin tidur" kata Mayang sebelum keluar dari dalam pekarangan rumah Richard.
"Baik ma" sahut Vely.
"Hati-hati" kata Mada.
"Ya " sahut Mamanya.
"Sana, urus suami dulu" titah Mada pada Vely.
"Ini belanjaan?" Vely menunjuk belanjaan mereka yang banyak didalam bagasi mobil.
"Tenang saja, tenagaku masih sanggup untuk dua kali ulang-alik membawa barang-barang ini" kata Mada.
"Terima kasih Kakak ipar!" seru Vely sebelum berlari kecil menuju rumah depan.
"Senangnya suami pulang, kak Keane kapan ya. Rindu" gumam Mada.
"Perlu di bantu Non?" tanya kang Mamat.
"Perlu kang, Mada nggak sanggup bawa sendiri. Tuh Vely, sudah lari kerumah. Kak Dama sudah pulang" kata Mada.
Hih..Mada, tadi bilangnya sanggup. Minta tolong juga kan, tapi nggak apa-apa Mada. Biar kak Dama dan Vely merasakan kamar barunya.
Vely berlari menaiki tangga, dia menaiki tangga seperti loncat saja. Kebiasaannya sejak kecil tidak berkurang, yaitu berjalan seperti berlari.
Sampai didepan kamar, tangannya langsung memegang handle pintu dan membuka.
Vely melihat Dama tidur dengan telungkup, karena saat telentang. Dama kurang nyaman melihat dinding kamarnya berwarna hitam, sehingga Dama telungkup. Baru matanya terpejam.
"Kak Dalove!" Vely langsung duduk di atas punggung Dama, tanpa permisi pada yang punya punggung.
Dama kaget, mendapatkan serangan tiba-tiba. Sehingga matanya sontak terbuka.
"Kenapa kakak pulang tidak kasih kabar?" Vely merebahkan tubuhnya diatas punggung Dama, hal ini sudah lama tidak dilakukannya. Dulu saat dia kecil, melihat ketiga kakaknya dan juga Dama. Begitu juga Daddy-nya telungkup, Vely kecil selalu duduk diatas punggung mereka.
"Aduh..!" ujar Dama.
"Kak, kenapa pulang tidak kasih kabar? mau kasih kejutan ya?"
"Mau kasih kejutan, yang ada kakak yang terkejut " jawab Vely.
"Kakak terkejut? terkejut apa?" tanya Vely.
"Love, kenapa sekarang tambah berat? apa selama kakak tidak ada, Love senang ya ?" tanya Dama yang masih dalam keadaan posisi telungkup, Vely masih rebahan dipunggung nya.
"Kakak bilang Vely gendut begitu?" tangannya memukul lengan Dama, kemudian turun dari punggung Dama.
Vely duduk didekat Dama, matanya menatap Dama dengan kesal. Karena dibilang Dama tubuhnya berat.
Dama memutar badannya, sekarang dia menjadi telentang.
"Hei, kenapa?" Dama menarik badan Vely, agar merapat kedekatnya.
"Sana, Vely tidak mau dekat-dekat. Vely kan gendut!' bibir Vely ngerucut, mata setengah melorot menatap Dama.
"Hahaha.. marah ya? maaf, kakak suka koq. Walaupun Vely gemuk, lihatlah. Ini semakin berisi." Dama menunjuk kearah dua bukit kembar Vely.
Vely langsung meletakkan tangannya didepan bukit kembarnya.
"Mesum !"
Tapi suka kan ?" kedua alis Dama naik turun.
"Sebel !" Vely beringsut untuk turun dari ranjang.
"Mau kemana?" tanya Dama.
"Kakak sudah makan tadi, oh ya. Kenapa warna cat kamar kita menjadi warna hitam begini? tahu nggak, mata kakak tidak bisa tertutup" kata Dama.
"Kan warna favorit kak Dalove, baju chef kakak hitam. Mobil hitam" kata Vely.
"Kakak suka dengan warna hitam, tapi. Jangan kamar juga hitam begini, mengerikan" beritahu Dama.
"Terus mau diapakan? apa ditukar warnanya?" tanya Vely.
"Apa Vely suka dengan hasilnya?" tanya Dama.
Vely menganggukkan kepalanya, tanda dia menyukai dekorasi kamar ini.
"Tapi kalau kakak tidak nyaman, nggak apa-apa. Kita ganti saja " kata Vely.
"Betul boleh ?" tanya Dama.
"Iya kak, lagi pula. Kita tidur disini hanya sesekali" kata Vely.
"Kamar dirumah Daddy juga di renovasi?"
Vely menganggukkan kepalanya.
"Kak Dama mau lihat?" tanya Vely.
"Boleh, apa hitam seperti ini?" tanya Dama.
"Lihat sendiri" kata Vely.
Keduanya keluar dari dalam kamar menuju kerumah depan.
Sampai didepan kamar Vely, Dama sedikit ragu untuk membuka pintu kamar.
"Ayo kak " Vely membuka pintu kamarnya.
"Wow..!" mulut Dama bulat.
Penampakan kamar Vely guys.
Walaupun ada nuansa hitam, tapi tidak seseram kamar Dama.
"Bagus, sepertinya. Kita harus tidur disini"
Dama kemudian merebahkan tubuhnya, diikuti oleh Vely.
***
Rodrick dan Jessie sedang tidur-tiduran, terlihat wajah yang puas dikedua nya.
Penampakan kamar tidur Rodrick dan Jessie, Rodrick menuruti keinginan Jessie ingin nuansa gold dalam kamar.
"Bagus kan ?" tanya Jessie pada Rodrick.
"Baguslah, ide siapa dulu!" seru Rodrick menyombongkan diri.
"Haish..! ini ide Jessie ya, lihatlah. Kamar kita penuh dengan emas, jika kita tidak ada uang. Bisa kita jual " kata Jessie.
Rodrick bangkit dari tidurnya, berjalan Kedinding yang berwarna keemasan.
"Apa ini emas ?" pura-pura bego Rodrick.
"Iyalah " sahut Jessie.
"Besok kita jual" kata Rodrick.
"Kakak mau kemana?" tanya Jessie, melihat Rodrick mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"Umar kirim pesan, ada hewan yang butuh penanganan langsung."
"Ikut" kata Jessie.
"Tidak usah, wajahmu pucat begitu. Istirahat saja" kemudian Rodrick keluar dari dalam kamar dengan cepat.
Tengah malam, disaat semua sudah terlelap dalam mimpi indahnya.
Keane baru tiba dirumah, setelah melakukan tugas keluar kota.
Terlihat wajahnya yang letih, karena tugasnya ini. Dia terpaksa menempuh perjalanan udara dengan dua kali transit ganti pesawat.
Keane memegang handle pintu dan membuka, matanya terbuka lebar melihat pemandangan dalam kamar. Keane mundur keluar dari dalam kamar, dia takut salah kamar.
"Tidak salah" gumamnya.
Keane kembali masuk, dan melihat tempat tidur seperti belum ditiduri. Masih terlihat rapi.
"Kenapa kamarnya feminim sekali?" tanya Keane pada diri sendiri.
Penampakan kamar Keane.
"Dan ini, rumah boneka siapa?" Keane melihat ada rumah boneka didalam kamar.
"Bunga ini, bagaimana mau tidur? jika ada bunga disini. Mana Mada ?"
Keane menuju walk in closed, untuk mengganti bajunya.
Setelah selesai bersihkan diri, Keane bergegas kerumah depan. Untuk menemui Mada.
*
*
*
🌟🌟🌟🌟
Bersambung guys ❤️