Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 230 Penganggu


Happy reading guys ❤️


***


Dama dengan sigap menggendong Vely seperti menggendong bayi koala, kedua kaki Vely melingkar dipinggang Dama.


Bibir Dama kembali melahap bibir Vely yang tipis, seraya berjalan menuju kursi yang ada didepan kamar.


Dama melerai bibirnya, matanya menatap wajah Vely dengan dalam.


Begitu tersadar dengan cara duduknya, Vely ingin turun dari atas paha Dama, saat melihat betapa intimnya cara dia duduk.


Pahanya terbuka lebar, ngangkang diatas paha Dama.


"Mau kemana?" tanya Dama, kedua tangannya memeluk tubuh Vely.


"Paha Vely sakit" alasan Vely, agar Dama mengizinkannya untuk turun dari pangkuannya.


Dama mengangkat bokong Vely, untuk memperbaiki caranya duduk. Tetapi tetap mengangkang. Posisi duduknya sekarang semakin membuat daerah sensitif keduanya makin mendekat, membuat tubuh Vely semakin melayang-melayang.


Dama kembali melekatkan bibirnya, dan sedikit memberikan gigitan kecil dibibir bawah Vely, sehingga bibir Vely yang tadinya terkatup sekarang terbuka. Dama mengeksplorasi rongga mulut Vely dengan lidahnya.


Bibir beraksi, tangan Dama tidak tinggal diam. Tangannya dengan lembut membuka resleting gaun Vely, dengan perlahan-lahan tangannya menurun gaun tersebut sehingga turun sampai kedaerahan dada.


Vely tidak sadar, apa yang dilakukan oleh Dama. Karena Vely begitu menikmati sensasi yang dibuat oleh bibir Dama, yang baru pertama sekali dirasakan olehnya.


Begitu merasakan pasokan oksigen menipis, Dama melepaskan tautan bibirnya.


Baru Vely tersadar, begitu membuka matanya. Dia melihat bajunya sudah melorot sampai bagian dada, sepasang gunung kecilnya yang masih berada didalam penutupnya sudah terlihat sedikit.


"Ahhhh...!" teriak Vely, begitu sadar.


Vely buru-buru ingin menaikkan bajunya kembali, tetapi tangan Dama menahannya.


"Kak Dama..!"


Tarik-menarik terjadi, akhirnya sang pemenang berhasil menahan agar gunung kembar Vely tidak menutup.


Dama juga berhasil membuat penutup gunung kembar Vely kehilangan penutup terakhirnya.


"Kakak nakal!" tangan Vely berusaha untuk menutupi area gunung kembarnya.


"Nakal dengan milik sendiri tidak apa-apa, asal jangan nakal dengan milik istri orang."


Dama memegang kedua tangan Vely yang berada depan gunung kembarnya, setelah berhasil membuat tangan Vely tidak berada di gunung kembarnya.


Mulut Dama melahap gunung kembarnya Vely, secara bergantian Mulut Dama mengemut dan mengisap daerah gunung kembar Vely.


"Aw...sakit kak !" Vely meringis, saat gigi Dama tanpa sengaja mengigit ujung gunung kembar yang berwarna pink tua.


"Maaf... maaf!" Dama melepaskan emutannya.


Dama melihat gigitannya tadi, dan melihat ada luka tergores sedikit.


"Sakit ?" Dama mengelus luka akibat perbuatannya itu.


"Perih" sahut Vely.


"Sini Kak Dama obati"


Dama menjulurkan lidahnya, dan menyapukannya kearah luka yang dibuatnya.


Secara berulang-ulang, lidah Dama menyapu daerah luka. Membuat Vely memejamkan matanya, badannya menggeliat. Dan secara spontan bokongnya menekan daerah sensitif Dama.


Dama tidak dapat lagi menahan hasratnya untuk segera melakukan penyatuan dengan gadis yang sudah sah menjadi istrinya tersebut, dengan cepat bangkit dari kursi dan membawa Vely keatas tempat tidur.


Dama langsung menindih tubuh Vely, bibir dan tangannya terus bergerilya. Tidak ada tempat yang terbebas dari gerakan tangan Dama.


Sekarang tubuh keduanya sudah hampir polos, hanya tertinggal segitiga Bermuda yang yang menutupi area sensitif keduanya.


Segitiga renda putih Vely hampir turun, tetapi tiba-tiba...


Tok...tok...


"Nak Dama...Nak Dama...!" suara ketukan dipintu kamarnya, membuat wajah Dama yang tadinya berada diarea pusar. Dan sedikit lagi berada di daerah tengah-tengah antara dua paha Vely, akhirnya terangkat.


"Damn...!" umpat Dama.


Vely ingin bangkit, tapi tangan Dama. Menahannya.


"Buka pintunya kak, mungkin ada perlu dengan kakak," kata Vely.


Dama tidak menyahut, napasnya naik turun.


"Nak Dama..!" panggil Pak Yusuf.


"Ya Pak " sahut Dama dengan kesal, setelah napasnya stabil.


"Ada tamu Nak Dama." beritahu Pak Yusuf.


"Tamu? siapa malam-malam datang?" Dama berpikir, siapa yang menganggunya malam-malam begini.


" Ada Papa nak Dama, dan ada dua orang bule. Dan Papa Non Vely." beritahu Pak Yusuf.


"Kenapa bisa sampai disini?" tanya Dama, tapi tidak ada yang menjawab. Didalam kamar hanya ada Vely yang panik.


"Daddy?" Vely juga panik.


Dengan terburu-buru dia memakai **********, kemudian bajunya kembali.


"Oh... Daddy! kenapa kau datang tidak tunggu aku gol dulu!" seru Dama seraya merentangkan tangannya kearah atas.


"Hih..kak Dama!" melotot Vely menatap Dama.


"Daddy Richard tidak pengertian" gerutu Dama.


Setelah selesai berpakaian, kedua keluar dari dalam kamar.


Vely keluar dengan wajah biasa, Dama keluar dengan wajah ditekuk.


"Opa bule!" Vely berlari memeluk Josh.


"Apa Opa menganggu kalian?" tanya Josh.


"Tidak Opa, Vely sedang nonton film tadi, kak Dama bekerja" kata Vely.


"Uncle Edward." Vely memeluk uncle Edward.


"Ternyata keponakan uncle sudah besar," ujar Edward.


Richard menatap wajah Vely dan Dama, sepertinya dia mencari. Apakah ada keanehan antara keduanya.


"Daddy, mommy tidak ikut?" tanya Vely.


"Mommy besok ada urusan membahas resepsi" kata Richard.


"Sini" Richard menepuk kursi kosong disampingnya.


"Jam berapa tadi sampai?" tanya Richard kepada Vely.


"Jam 4 " jawab Vely.


"Ngapain saja sampai disini?" selidik Richard.


"Di dapur, terus lihat matahari terbenam. Nunggu kak Dama bangun tidur, terus makan malam. Daddy datang" kata Vely.


Dama mendengar Vely menceritakan semua kegiatannya di villa, menjadi panas dingin. Dia takut Vely keceplosan bicara.


Sambil mendengarkan Vely bicara, Dama memberi salam, dengan mencium tangan Josh. Begitu juga dengan Edward.


"Anak muda maaf, jika kami menganggu ," ucap Edward dengan berbisik pada Dama, kemudian mengedipkan sebelah matanya.


Dama menggaruk tengkuknya.


"Sepertinya uncle Edward, tahu apa yang terjadi pada kami. Sebelum mereka datang." batin Dama.


"Dama, Opa ingin tahu mengenai restoran terapung kita. makanya Papa bawa Opa kesini " kata David.


"Ternyata Papa sendiri penghianat!" ngedumel batin Dama.


"Besok pagi kita kesana, jika malam kesana terlalu ramai," kata Dama.


"Dam, suruh masak istri Pak Yusuf. Kami belum makan ." titah David kepada Dama.


" Biar Dama saja yang masak, karena ada tamu istimewa. Suatu kehormatan " kata Dama, kemudian berjalan kearah dapur.


Tidak lama Dama memasak, karena semua bahan sudah tersedia.


"Ternyata masakan mu sudah enak Dama." puji Edward.


"Betul, sangat enak." Josh juga memuji masakan Dama.


Biasanya Edward dan Josh makan dengan menggunakan alat makan seperti garpu, pisau dan sendok. Kali ini mereka melupakan alat makan tersebut, karena makan ikan bakar sangat nikmat dengan menggunakan jari tangan langsung.


Richard juga sangat menikmati makanan yang dimasak oleh Dama.


"Vely tidak makan?" tanya Richard, karena Vely hanya mengamati saja.


"Vely sudah makan Daddy" jawab Vely.


"Kau Dama?" tanya Richard.


"Dama juga sudah makan Daddy"


"Ayo semua makan, habiskan. Jangan kecewakan koki yang memasaknya," kata Dama, terlihat smirk disudut bibirnya.


*


*


Bersambung 😘


Apa yang dilakukan Dama??😂✌️