
Cerita hanyalah untuk hiburan semata, bawa santai bacanya guys..
Happy reading guys..
****
**Suara burung dan ayam saling bersautan, begitulah kehidupan di desa. Jam untuk membangunkan warga desa berbeda dengan warga kota, hanya mendengarkan suara ayam. Warga desa sudah bangun untuk memulai aktifitas.
Aisha menggeliat, tetapi tidak bisa. Karena ada tangan kekar memeluknya dengan erat.
"Aduh..remuk badanku, mas say ini. Tenaganya seperti tenaga turbo !" Aisha menggeser tangan Richard yang berada diatas dadanya.
"Ini tangan, tidur saja masih mesum. Bergerilya kemana-mana, baru tangan. Belum lagi bibir ini !" Aisha gemas melihat bibir Richard yang diatas dan bawahnya, ditumbuhi bulu-bulu halus.
Tangan Aisha mengelus bibir dan dagu Richard dengan pelan, takut yang punya bibir terbangun.
"Mas say..Aish mencintai mas say !" ucap Aisha dengan suara yang pelan, kalimat yang tidak pernah diucapkannya. Baru kali ini keluar dari dalam mulutnya.
"Mas juga mencintai Aish ." balas Richard, yang ternyata sudah bangun dan pura-pura tidur .
"Mas say..!" Aisha mundur, karena kaget mendengar ucapan Richard.
"I love you..I love you..!" Richard menarik Aisha, dan badan Aisha menempel di dada Richard.
Richard mendapatkan kecupan bertubi-tubi ke wajah Aisha, sehingga Aisha kegelian.
"Cukup !" ucap Aisha dengan terengah-engah.
"Tidak, kenapa tangan ini menganggu macan tidur!"
Dua tubuh yang masih dalam keadaan polos menempel, membuat jiwa mesum Richard bangkit kembali. Dan apa yang terjadi tadi malam kembali terulang, dengan diiringi musik kukuruyuk dan burung bernyanyi di pagi hari. Olahraga malam, kini kembali terjadi di pagi hari .
Setelah selesai olahraga pagi, Richard berbisik sembari memeluk Aisha kedalam dekapannya.
"Semoga benih Hutama bersarang disini ." Richard memberikan kecupan sekilas di rambut Aisha.
Sedangkan Aisha kembali tertidur, karena terlalu letih melayani tenaga turbo Richard.
****
Dikamar pengantin baru, berbeda dengan Richard dan Aisha.
David yang sudah kebelet tidak bisa menyalurkan hasratnya, karena Mayang sedang palang merah. Padahal Mayang sudah bersedia merelakannya untuk David.
πFlashback π
David selesai mandi dan Mayang sudah mengambil posisi tidurnya, seperti hari-hari sebelumnya. Guling dan bantal menjadi pembatas antara mereka.
Tapi hari ini, David akan berusaha untuk membujuk Mayang untuk ehemm.. ehem π.
David naik keranjang dan duduk menghadap Mayang yang sedang bermain gawainya.
"Yang, tahu nggak. Kalau istri tidak melayani suaminya, istri tidak akan mencium surga Lo..," ujar David.
"Kalau tidak masuk surga, masuk mana ?" tanya Mayang dengan polos dan serius menatap David.
"Nunggu dipintu surga, Mas David nanti di surga. Ada bidadari yang menjaga dan melayani mas ini, sedangkan Yayang. Nongkrong di pintu surga ," ujar David dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin, karena akan berpisah dengan Mayang di surga nanti.
"Terus ! kapan Mayang masuk surga ?" tanya Mayang.
"Kalau Yayang mau melayani suami di bumi ini, Yayang akan masuk surga bersama mas mu ini Lo Yang !" ucap David dengan bersemangat.
"Apa Yayang mau menunggu terus di pintu surga, mengintip kedalam surga. Mas didalam bersama dengan para bidadari lo ," ucap David.
"Nggak mau lah !" seru Mayang.
"Kalau begitu, ayo kita ehemm.. ehem Yang !" ucap David.
"Ayolah..dari pada Mayang ngintip di pintu surga ," kata Mayang.
"Yesss..!" dalam benaknya, David bergembira. sebentar lagi akan Gogol gawang .
David ingin beraksi, dan menyingkirkan guling dan bantal yang membatasi mereka tidur.
"Ayo Yayang !" seru David.
"Sepertinya, tidak bisa malam ini !" seru Mayang.
"Kenapa Yang ?" tanya David.
"Aku lagi palang merah !" kata Mayang, dengan menunjukkan wajah tanpa dosa.
"Apes dah..!" David menjatuhkan tubuhnya keranjang dan menutup wajahnya dengan guling.
"Bagaimana ?" tanya Mayang.
"Ayo kita tidur ." suara David pelan dan lesu terdengar dari bawah guling.
****
Pagi sekali, Alana sudah merepotkan para maid dirumahnya.
Alana hari ini mulai turun kedapur, untuk belajar memasak.
"Hari ini, jangan ada yang masak. Biar Alana !" seru Alana, begitu tiba didapur.
Para maid kaget, mendengar pengumuman Alana.
"Obat sakit perut ku habis ." bisik maid yang biasa memasak di dapur.
"Minum rebusan daun jambu saja, dikampung ku itu obat sakit perut." balas rekannya yang lain.
"Bu Marni, tolong ambilkan telur. Al ingin masak nasi goreng istimewa !" seru Alana.
Yang dipanggil Bu Marni memberikan telur kepada Alana.
"Bagaimana hidup ini Bu ?" tanya Alana, karena tidak tahu menghidupkan alat masak.
"Ini tekan Non !"
"Mana gas nya Bu ?" Alana tidak melihat ada tabung gas didekat kompornya.
"Ini tidak pakai tabung Non, ini kompor listrik ," kata Bu Marni.
"Oh iya, Al lupa. Jangan tertawa !" Alana mendengar maid yang ada didapur tertawa.
Alana memijat, seperti yang dikatakan Bu Marni. Kemudian menaruh wajan.
Setelah panas, Alana memberikan margarin. Seperti yang dikatakan dalam Chanel memasak yang dilihatnya tadi malam.
Syiiingg...
Alana memecahkan telur, ala-ala chief internasional.
Bhuss...
"Aw....!" Alana kaget, karena telur beserta cangkangnya berada didalam wajan.
"Lah.. Non, cangkangnya jangan di goreng juga. Nanti nasi gorengnya menjadi terlalu istimewa!" seru Bu Marni dan menolong Alana untuk mengeluarkan cangkang telur dalam wajan.
Setelah hampir satu jam memasak nasi goreng istimewa, Akhirnya Alana menyelesaikan masakan.
" Bu, antarkan kedepan ya. Biar papa dan mama menikmati nasi goreng istimewa Alana !" seru Alana dengan gembira, dan berkacak pinggang menatap nasi goreng istimewanya.
"Baik Non ."
Dua pasang mata menatap nasi goreng, yang dikatakan Bu Marni sebagai hasil masakan putri tersayang mereka.
Alana datang dari dapur, kemudian menarik kursi dan duduk.
"Kenapa dilihatin saja maa, paa. Ini hasil masakan Alana, nasi goreng istimewa ala chef Alana !" kekeh Alana.
"Paa, apa layak konsumsi ?" bisik mama Alana kepada suaminya.
"Kita coba saja maa ." mama Alana menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya dan ke piringnya sendiri.
"Al nggak makan ?" tanya namanya.
"Al diet maa, takut nanti saat pernikahan Alana gendut. Al makan ini saja." Alana menunjukkan salad buah dan sayur.
"Mama dan papa mulai memasukkan nasi goreng istimewa buatan putrinya.
Langsung keduanya mengeryit dan ingin mengeluarkan nasi goreng istimewa tersebut, tetapi tatapan mata Alana membuat mereka menelannya dengan bantuan air putih.
"Bagaimana maa, paa. Enakkan ? setiap pagi nanti, Al yang akan membuat sarapan !" seru Alana.
"Apa !" seru papa Alana.
"Al, apa tidak lebih bagus Alana menyerahkan tugas memasak kepada Bu Marni saja. Nanti Bu Marni sedih, nanti dikiranya kita mau memecatnya ," kata mamanya.
"Tapi Al ingin belajar masak maa ," kata Alana.
"Bagaimana, kalau kita ikut kursus memasak saja kepada pakar memasak ," kata mama Alana.
"Hemhh..boleh juga maa ," sahut Alana.
"***Selamat..." dalam benaknya papa Alana.
π
π***
Bersambung guys....