Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 84 Maaf aku ?


**Orang melarang ada baiknya,. penyesalan datang terlambat.


Happy reading guys...


****


Gaby duduk dilantai, dia menyesalkan apa yang terjadi terhadap dirinya.


"Mark..! aku..aku harus menghubungi Mark ." Gaby mencari ponsel dan tas.


Gaby melihat tas nya berada dilantai tidak jauh dari tempat dia duduk. Gaby beringsut dan meraihnya, dengan tangan yang gemetar Gaby mengeluarkan isinya dan terlihat ponselnya.


Gaby mencari nomor Mark dan menghubungkannya.


"Mark !" begitu tersambung dengan Mark, Gaby langsung menyebut namanya dibarengi dengan suara tangisan.


"Gaby ! Gaby, kenapa ? kenapa kau menangis ?" tanya Mark dengan setengah panik, karena dia tidak pernah mendengar Gaby menangis selama ia mengenalnya.


"Mark tolong aku ," ucap Gaby masih dengan menangis.


"Kau dimana ? apa kau tidak dirumah, apa kau pergi juga setelah ku larang ?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Mark.


"Aku di hotel Mark, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku ," ucap Gaby.


"Apa maksudmu, apa kau..? shit..! kau sudah ku ingatkan jangan pergi. Apa tidak bisa kau gunakan otakmu untuk mendengarkan perkataan orang Gaby !" seru Mark dengan suara yang keras dan terdengar marah.


"Hotel mana kau sekarang, biar aku menjemputmu ?" tanya Mark masih dengan nada suara yang keras.


"Aku tidak tahu Mark, dimana aku sekarang ," jawab Gaby sambil menangis.


"Sharelock tempat mu sekarang!" seru Mark masih dengan suara yang keras dan emosi.


Gaby mengirim sharelock hotel mana ia sekarang berada.


"Tunggu aku " Mark menutup sambungan teleponnya.


Gaby bangkit dan memunguti bajunya yang berserakan dilantai dan masuk kedalam kamar mandi.


Gaby berdiri di bawah shower, Dia menangis meratapi nasibnya.


"Apa yang harus kulakukan, bagaimana jika papa dan mama mengetahui kejadian ini ." rintihan keluar dari dalam bibirnya, dibawah guyuran shower menerpa sekujur tubuhnya.


"Aku kotor ! aku kotor !" Gaby menggosok-gosok sekujur tubuhnya dengan keras, sehingga terlihat badannya memerah.


***


***


Dengan langkah ragu-ragu Aisha memasuki ruangan tempat Josh dirawat.


"Sis, nggak apa-apa. Jika kau belum bisa menerima Daddy, tapi berikanlah Daddy maaf sedikit saja. Please !" ucap Edward, sebelum mereka berangkat ke rumah sakit.


Walaupun Aisha sudah bisa menghadapi keberadaan Edward sebagai saudara, tetapi untuk menerima keberadaan Josh sebagai ayah. Aisha tidak bisa, karena ia mengingat penderitaan yang dialaminya saat kecil.


Nenek dan ibunya juga tidak memaksa Aisha untuk menerima keberadaan Josh, mereka menyerahkan semua keputusan kepada Aisha. Untuk menerima keberadaan Josh dalam hidupnya.


Aisha melihat kearah Richard yang selalu berada di sisinya.


"Asay, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jangan lakukan, jika dihatimu penuh dengan keraguan," ujar Richard.


"Iya ," jawab Aisha, dan Aisha melanjutkan langkahnya menuju ruang tempat Josh berada.


Edward berjalan didepan Aisha dan membuka pintu dan terlihat Josh sudah duduk ditepi tempat tidur, Josh terlihat sudah rapi dan raut wajahnya terlihat sudah segar.


"Edward ." sapa mommynya, saat dilihatnya Edward berdiri didepan pintu.


"Mana Adam son, Daddy sudah bisa keluar hari ini," ujar Josh kepada Edward.


"Om Adam diluar Dad, ada yang ingin bertemu dengan Daddy ," ujar Edward, dan ia bergeser. Terlihat Aisha berdiri di belakangnya.


"My daughter ." Josh terlihat senang, saat melihat Aisha.


Josh berjalan mendekati Aisha, yang masih berdiri didepan pintu.


"Ayo Asay masuk ," ucap Richard kepada Aisha.


Aisha melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit, Josh makin mendekati tempat Aisha berdiri.


"My daughter, maafkan Daddy !" Josh langsung memeluk Aisha.


Aisha tegang saat mendapatkan pelukan dari Josh dengan tiba-tiba, tetapi dia tidak menolaknya dan dia tidak membalas pelukan tersebut.


Josh melerai pelukannya, dan memandangi wajah Aisha.


"Putriku, kau sangat cantik. Maafkan Daddy.. maafkan Daddy..!" seru Josh dengan suara yang lirih dan airmata mengalir dari kedua sudut bola matanya.


"Maaf, aku akan memaafkan mu. Tapi, aku belum bisa menerima mu sebagai ayahku. Aku butuh waktu, aku mengetahui bahwa aku punya ayah baru dua hari. Aku..aku..." Aisha tidak bisa melanjutkan ucapannya, air matanya sudah mengalir.


" Sudah, jangan menangis. Daddy sudah bisa memelukmu seperti ini, Daddy sudah sangat senang. Apalagi Aisha sudah mau memberikan maaf kepada Daddy, itu saja sudah cukup berharga buat Daddy," ucap Josh dengan perasaan yang gembira.


Edward dan Evelyn juga gembira melihat pertemuan dan pelukan pertama yang didapatkan Josh dari putri yang baru diketahuinya keberadaannya.


Josh sudah cukup senang, karena Aisha sudah memberikannya kesempatan untuk memeluknya. Walaupun Aisha belum mau memanggilnya dengan sebutan Daddy, Josh tidak masalah.


"Sudah cukup tangis-tangisannya, sekarang kita happy-happy saja. Benarkan little uncle ," Alana masuk kedalam ruangan dan langsung menggoda Edward, yang jengkel dipanggil little uncle.


"Penganggu datang ." gerutu Edward.


dr Sony masuk kedalam ruangan Josh.


"Mau keluar sekarang ?" tanya Sony.


"Iya Dokter ," jawab Evelyn.


"Jangan terlalu capek dulu, dan jaga emosi. Oh ya, kapan meninggalkan Indonesia ?" tanya Sony.


"Dua hari lagi Dokter ," jawab Josh.


"Ok, harap jaga kesehatan sebelum kembali. Jangan terlalu banyak kegiatan yang dilakukan."


"Baik " jawab Josh.


Sebelum keluar, Sony bertanya kepada Aisha.


"Aisha kapan kembali kekota ?"


"Belum tahu ," jawab Aisha.


"Mungkin sore Om," jawab Richard.


"Apakah ibumu akan ikut?" tanya Sony.


"Tidak Om, ibu akan tinggal bersama dengan nenek di desa ," kata Aisha, yang tidak heran mendengar pertanyaan Sony. Hanya satu orang yang heran dengan pertanyaan Sony, yaitu Josh.


"Kenapa Dokter ini menanyakan Larasati dengan begitu perhatian, apa dia tertarik dengan Larasati." terbersit rasa cemburu yang menyerang Josh, melihat perhatian Sony terhadap Larasati.


"Ah.. nggak perasaan ini begitu sakit, melihat perhatiannya terhadap Larasati. Aku harus rela, bahwa peluangku untuk kembali kepada Laras sudah tertutup." monolog dalam pikiran Josh.


Richard menatap Om Sony dengan tatapan yang penuh arti, dan mendekati Sony dan berbisik.


"Om, semangat ," ujar Richard kepada Sony.


"Wismilak.." balas Sony.


Dari rumah sakit, Josh singgah kerumah Larasati sebelum kembali kekota.


Perasaan Josh sedikit lega, karena sudah mendapatkan maaf dari Larasati dan keluarga. Walaupun Aisha belum memanggilnya dengan sebutan Daddy, tapi Josh sudah cukup bahagia. Karena Dia mengharapkan dengan seiringnya waktu, Aisha akan memanggil dirinya Daddy. Walaupun dia tidak tahu kapan itu terwujud, Josh akan selalu berusaha melalui hubungan Edward dan Aisha yang sudah mulai dekat.


***


Ciitttt...


Kendaraan Mayang berhenti mendadak, saat ia baru saja ingin keluar dari parkiran rumah sakit.


"Hei setan..!" seru Mayang sembari turun dari motornya, menghampiri mobil yang menghalanginya jalan motornya.


Mayang memukul-mukul kaca mobil, dan terlihat wajah yang nyengir. Begitu kaca mobil turun.


"Kau..! ingin membunuhku?" ujar Mayang dengan gemasnya, saat melihat wajah David.


"Tidak mungkin baby..!"


"Baby..baby.. minggir !"


"Melihat mu marah-marah baby membuatku hidup kembali baby ," ujar David seraya turun dari mobilnya.


"Oh..God ! apa salah Hamba mu ini," ujar Mayang.


"Tidak ada yang salah, yang salah. Kenapa Tuhan menganugerahkan wajah yang imut kepadamu baby," ujar David dengan mengikuti Mayang menuju sepeda motornya.


Bersambung...