Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 101 Tuan posesif


**Happy reading guys..


***


Mayang, yang biasanya somplak dan jutek. sekarang duduk manis seperti si meong dipangkuan tuannya.


"Hahaha..!" tawa papanya David pecah menatap wajah kedua pasangan baru yang gelisah, bukan keduanya. Tetapi hanya Mayang, karena David terus tersenyum seperti sedang memenangkan kontes senyum terindah.


"Boy...kau sungguh-sungguh putra papa !" papanya menunjuk kearah David dengan raut gembira.


"Ternyata orangtua David, seperti David juga ada sedikit-dikit..oh otak ini. Sempat-sempatnya berpikir jelek kepada calon mertua, hei bukan calon sudah jadi mertua. Didalam tas sudah ada buku nikah ." suara batin Mayang.


"Papa, kenapa papa terus mengatakan bahwa David benar-benar anak papa. Apa papa ragu bawah David putra Danilo Alamsyah ?"


"Selama ini papa ragu, kenapa sampai berumur 25 tahun kau tidak berhasil mendapatkan seorang gadis. Gadis yang kau incar sejak lama saja terbang, sekarang cara menikahmu sama dengan papa. Papa jadi percaya kau itu putra Danilo !" papa David menepuk dadanya.


"Hei orang tua, kalau memang David bukan putra mu . Kau kira aku ini selingkuh ?" pukulan bertubi-tubi dari dari belakang membuat papa David kaget dan langsung menghindari pukulan istrinya.


"Mama, bukan selingkuh. Tapi putra kita tertukar dirumah sakit !" seru papa David untuk menghentikan pukulan tangan istrinya.


Mayang bengong melihat kedua orangtua David.


"Jangan heran, mereka berdua selalu begini ." bisik David.


"Papa ingin cerita ," ujar Papa David.


"Paa, jangan buka aib. Malu kan !" seru Melati, mama David.


"Untuk apa malu maa, itu sebagai kenang-kenangan. Agar apa yang kita alami jangan dialami anak cucu kita "


"Anak kita sudah mengalaminya paa !"


"Kalau begitu cucu kita ."


"Hih..cucu, mana mau aku kasih cucu. Aku aja belum yakin dengan pria tengil ini ," suara batin Mayang.


"Dulu, papa dan mama juga menikah seperti kalian berdua."


"Apa..?" David kaget, Dia tidak tahu cerita kisah orang tuanya tersebut.


"Nurun jadinya ." monolog dalam benaknya Mayang.


"Waktu itu, saat universitas. Papa dan mama sedang mengikuti study tour ke Malaysia, disana itu tidak bisa berdua-duaan laki dan perempuan yang tidak bersuami istri. Saat itu papa dan mama sedang apes, saat kendaraan yang kami tumpangi sedang mogok dan pengemudinya pergi mencari bantuan. Datang polisi, akhirnya dinikahkan kami malam itu juga. Makanya harus hati-hati dimana pun kita berada, setiap daerah itu ada adat istiadat yang berbeda."


"Tapi papa dan mama bahagiakan ?" tanya David.


"Papa yang bahagia, lah..mamamu nggak suka dengan papa. Tapi lebih baik kita menikah dengan orang yang mencintai kita, daripada dengan orang yang kita cintai. Kemungkinan untuk orang yang mencintai kita kecil untuk menyakiti kita ," kata papa David.


Mama David menghampiri Mayang, dan berkata.


"Terimalah ini semua, mama sudah bicara ke mama dan nenek kamu Mayang. Mama dan papa berjanji kepada mereka, akan selalu menyayangi Mayang. Dan akan menganggap Mayang sebagai putri kami sendiri ." mama Mayang memeluk Mayang.


"Mama..!" David ikut-ikutan memeluk Mayang dan mamanya.


"Sana anak nakal, kau peluk pria tua itu !" tangan mamanya menepis pelukan tangan putranya.


"Mama, ini putramu !" seru David.


"Bukan, ini putriku !" ujar mamanya.


Perasaan Mayang menjadi hangat, mengetahui orangtua David menerimanya. Selama ini Dia takut orang akan menolak dirinya, karena Dia hanya anak kampung .


****


Hari pertama Aisha ke kampus, sudah dihebohkan dengan kedatangan Alana kerumah untuk menjemputnya.


"Assalamualaikum...!" teriakan Alana membuat Richard yang sedang sarapan menjadi terhenti.


"Lama-lama Aku akan terkena serangan jantung mendengar suara Alana !" seru Richard.


"Keponakan mas say tuh..!" ujar Aisha.


"Kenapa betah berteman dengannya ?"


Yang diceritain sudah nongol dengan membawa rantang.


"Bawa apa itu Al, apa kau berencana camping ?" tanya Richard.


"Ini, titipan mama ." Alana meletakkan rantang yang dibawanya.


"Apaan Al ?" tanya Aisha .


"Lihat saja, tapi hati-hati makannya ya. Mama masih belajar !" ucap Alana terus tertawa.


Aisha membuka rantang yang dibawa Alana, dan melihat dimsum.


"Ini buatan kakak Al ?" tanya Richard.


"Iya Om, tapi hati-hati awas keracunan. Hahahaha..!" Alana kembali tertawa.



"Sepertinya enak Al ." Aisha mencomot, dan memakannya.


Dua pasang mata menunggu ekspresi wajah Aisha saat memakannya.


"Enak, serius. Benaran enak mas say, ayo coba ." Aisha mengambil lagi dan memakannya lagi


Richard turut mengambil dan memakannya sedikit, setelah merasakan dan enak. Richard memasukkan potongan besar kedalam mulutnya.


"Enak, sepertinya kak Chintya sudah bisa masak ," kata Richard.


"Memang kak Chintya, tidak bisa masak ?" tanya Aisha.


"Rebus telur aja, telurnya sampai netas !"


"Ini anak, durhaka kepada mamanya ," kata Richard.


"Beneran kan Om, mama rebus telur sampai air rebus telur tidak tersisa. Dan telurnya tinggal cangkangnya !" ujar Alana.


"Isinya kemana ?" tanya Aisha.


"Nggak tahu kemana, mungkin sudah jadi anak ayam ."


"Ayo Aish, kita berangkat ." Alana bangkit dari duduknya.


"Selesai dari kampus, jangan kemana-mana. Langsung pulang, jangan makan disembarang tempat." titah Richard kepada Aisha dan Alana.


"Om, banyak sekali larangannya ?" tanya Alana.


"Al, jangan ajari istri Om nakal ya !"


"Om, kami ini anak baik ya. Hanya sedikit nakal ."


Aisha menghampiri Richard, dan menyalim Richard.


"Jadi istri yang baik ya, jangan ikuti anak nakal itu ." Richard memberikan kecupan sekilas dikening Aisha.


"Om Salim," ujar Alana dan mengambil tangan Richard dan bawanya kekeningnya.


"Jangan nakal ," kata Richard kepada Alana.


"Sedikit boleh kan ?" goda Alana.


"Sedikit juga nggak boleh, jaga istri Om ya. Bilang kepada pria-pria di kampus, Aisha sudah ada yang ngikat !" ujar Richard, saat Alana dan Aisha masuk kedalam mobil.


"Mas say !" mata Aisha mendelik, mendengar ucapan Richard.


"Ya Om, jangan khawatir. Alana akan buat spanduk di badan Aisha nanti !" balas Alana.


"Dah..mas say, Aish pergi dulu ." Aisha melambaikan tangannya, dibalas oleh Richard.


"Kenapa aku seperti posesif sekali ." Richard bicara sendiri, sembari memandang mobil yang dikendarai Alana dan Aisha menjauh dari tempat Richard berada.


Richard masuk kedalam mobilnya, untuk berangkat kekantor.


Dalam kendaraan, Alana bertanya kepada Aisha mengenai hubungannya dengan Richard.


"Bagaimana hubunganmu dengan Om Richard Aish, apakah kau terbiasa dengan Om Richard ?"


"Aku nyaman, mas say sangat baik. Aku seperti mendapatkan sosok ayah dalam dirinya ," kata Aisha.


"Tapi Dia bukan ayahmu ," kata Alana.


"Kau kira aku lupa, dengan statusku"


"Aku kira mungkin kau lupa, Om Richard itu suamimu " tawa Alana.


"Kau nggak marah, Om Richard terlalu mengekang mu ?"


"Mas say nggak mengekang ," kata Aisha.


"itu tadi, nggak boleh begini. Nggak boleh begitu ," kata Alana.


"Itu juga kebaikan dalam berumah tangga, aku sudah menikah. Harus membatasi diri, nanti kau jika sudah menikah juga harus begitu Al. Biar tidak ada keributan dalam rumah tangga ," kata Aisha.


"Idih..sudah pintar ya .". goda Alana.


"Aku baca buku, hahaha..!" Aisha tertawa.


"Pinjamin Aku Aish, mungkin aku juga butuh itu ," kata Alana .


"Selesai aku baca ya."


🌟Bersambung...🌟