Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 72 Maaf


Hai jumpa lagi, happy reading guys


***


Begitu selesai dengan kegiatan yang sedari tadi ingin dilakukannya, Aisha berkaca. Dan melihat kearah badannya.


"Aman, tidak ada totol-totol seperti selesai kena gigitan lebah. Sepertinya Om...duh lupa lagi kan ." Aisha memukul mulutnya, karena menyebutkan Om lagi.


"Mas say..mas say, ingat mulut. Kau ini harus manggil mas say, jika tidak kau juga yang akan menjadi mangsa bibir mas say ." Aisha berbicara sendiri didepan kaca.


Ketika ingin melakukan ritual mandinya, Aisha teringat Dia tidak membawa baju ganti.


"Bagaimana mau mandi, baju ganti tidak bawa. Oh no Aisha, jangan keluar dengan memakai jubah mandi. Nanti kau bisa-bisa diterjang oleh mas say, seperti dalam novel-novel " ucap Aisha sendiri, dan mengingat setiap novel yang dibacanya sang wanita lupa bawa baju ganti. Dan mata sang pria seperti mau loncat dari tempatnya, melihat kemolekan tubuh sang wanita.


"Aku harus ambil baju dulu, baru mandi. Biar aman ." dengan hati-hati, Aisha membuka pintu kamar mandi. Dan sedikit menjulurkan kepalanya keluar, untuk melihat apa yang sedang dilakukan mas say.


"Aman, mas say sedang bobok manis ," ucap Aisha, setelah melihat Richard masih berada ditempat tidur dengan mata yang terpejam.


Dengan langkah kaki seperti melayang, Aisha keluar dari dalam kamar mandi. Untuk mengambil baju gantinya.


"Mana koperku ." mata Aisha celingukan mencari keberadaan kopernya.


"Mungkin sini." Aisha memasuki satu ruangan dan melihat kopernya berada didalam ruangan tersebut.


"Akhirnya ." Aisha membuka kopernya dan mengambil baju terusan, yang panjangnya sampai dibawah lutut.


Aisha kembali keluar, dan dilihatnya Richard masih dalam keadaan posisi seperti tadi.


"Masih tidur ." Aisha berlari menuju kedalam kamar mandi.


Richard membuka matanya lebar, dan terlihat senyum dibibirnya. Sebenarnya Dia tidak tidur, saat Aisha keluar tadi. Richard melihat dan memejamkan matanya, dengan berpura-pura tidur.


"Ah.. sungguh lucu kau Asay ." guman Richard dan senyuman mengembangkan dibibirnya.


****


Hari ini, Josh kembali berencana untuk menemui Larasati. Josh berusaha agar Larasati mau memberikan kepada dirinya, untuk bertemu dengan Aisha.


Josh hanya ditemani Adam untuk pergi bertemu dengan Larasati.


Dengan wajah yang kusut, Josh menunggu kedatangan Adam di lobby hotel untuk pergi menemui Larasati.


Josh memandangi orang-orang yang berlalu-lalang dihadapannya, pandangannya memandang kedepan tapi pikirannya melayang-layang.


"Josh ." Adam menyapanya.


"Josh..!" ulang Adam kembali, setelah panggilan pertamanya. Tidak direspon oleh Josh.


"Kau sudah datang ?" ujar Josh, setelah tersadar dari lamunannya.


"Sudah dari tadi aku memanggil dirimu, apa yang kau lantunkan ?" tanya Adam.


"Apa Larasati mau menemuiku ?" tanya Adam.


"Aku tidak tahu, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Jika tidak kita coba kembali untuk menemuinya " kata Adam.


"Ayo kita berangkat .'


Dalam perjalanan, Josh terus bertanya tentang Aisha. Dan Adam menceritakan tentang kejadian yang menimpa Aisha.


"Kurang ajar, siapa orang itu. Aku harus memberikan pelajaran kepada orang itu, jangan dikiranya putriku tidak didampingi seorang ayah. Dia bisa-bisanya membully putriku." terdengar suara Josh yang marah .


"Tenang Josh, sekarang sudah ada Richard. Suami Aisha yang melindungi dirinya ," kata Adam.


"Putramu cukup akrab dengan putriku ?" tanya Josh.


"Pacar Dony, sahabat Aisha ," kata Adam .


"Dan suami Aisha, menantimu adalah paman pacar Dony ." Adam menerangkan silsilah hubungan Dony, Alana dengan Richard dan Aisha.


"Hubungan yang rumit, jadi suami Aisha sudah sangat dewasa. Tetapi tidak kelihatan," kata Josh.


"Belum terlalu tua, sekitar umur 30 an ," kata Adam.


"Aku harapkan, sebelum aku kembali. Aku bisa memeluk putriku dan mendengar suaranya memanggil aku dengan sebutan Daddy, seperti Edward memanggil ku," kata Josh.


"Semoga," kata Adam.


****


"Laras." sapa ibunya, saat dilihatnya Larasati hanya melamun.


"Laras ." ulang ibunya kembali.


"Ya Bu ." Laras gelagapan, saat mendengar suara ibunya yang kedua kalinya.


"Apa yang kau lamunkan?" tanya nenek.


"Bu, apa yang Laras lakukan sudah benar ?"


"Yang mana ?" tanya ibunya.


"Yang menutupi keberadaan ayahnya kepada Aisha," kata Laras.


" Ibu juga memikirkannya, bagaimana jika kau beritahukan saja kepada Aisha. Biar Aisha saja yang menentukan, apa Dia ingin mengenal ayahnya atau tidak," kata ibunya.


"Biar hidup kita tenang ," sambung Ibunya.


"Iya Bu, Laras juga berpikir. Untuk apa membawa benci, mungkin jodoh kami tidak panjang," kata Laras.


"Kau pasti sakit hati melihat Dia membawa istrinya ?"


"Jujur, awalnya sakit Bu. Tapi begitu melihat istrinya yang begitu tegar mengetahui masalalu suaminya, pasti istrinya orang yang baik," kata Laras.


"Hidup ini sangat kejam." suara Laras terdengar lirih.


"Bukan kejam Laras, ini sudah suratan takdir yang harus dijalani setiap umat manusia. Setiap orang itu akan menjalani ujian, dan ujian yang kau hadapi ya ini. Sanggup tidak kau menghadapinya, jika sanggup. Kehidupan mu akan bahagia," kata ibunya.


"Hadapi dengan lapang dada." ibunya menepuk pundak Laras sebelum pergi meninggalkan Laras.


"Nek..nek..!" Janah berlari masuk kedalam rumah dengan berteriak memanggil nenek.


"Ada apa Janah, kenapa kau lari-lari. Apa mantan suamimu datang lagi?" tanya nenek kepada Janah.


"Ini yang datang bukan mantan Janah nek, tapi mantannya mbak Laras," kata Janah.


"Panggil Laras, suruh mereka masuk ," kata nenek.


Nenek mengambil ponselnya dan menghubungi Wisnu yang pergi kekantor kelurahan, setelah berbicara dengan Wisnu. Nenek keluar dari dalam kamar.


Nenek melihat Josh dan Adam sudah duduk diruang tamu.


"Kalian datang lagi ?" tanya nenek.


"Saya akan terus datang Bu, sampai saya mendapatkan maaf dari Laras dan ibu. Dan ada yang ingin juga saya tanyakan," kata Josh.


"Apa yang ingin kau tanyakan ?" tanya Larasati yang datang dari luar.


"Laras " Josh menoleh kearah belakang, dan melihat Laras berdiri didepan depan pintu. Dan dibelakangnya ada Wisnu.


Laras dan Wisnu masuk, dan duduk disamping kiri dan kanan nenek.


"Aisha " ujar Josh.


Laras melihat kearah Adam, begitu Josh menyebutkan nama Aisha.


"Tidak Laras, aku tidak ada mengatakan apapun juga mengenai Aisha ," kata Adam, saat melihat Laras melihat kearah dirinya.


"Adam tidak ada mengatakan apapun juga, saat melihat Aisha. Aku seperti melihat mommy ku, Aisha seperti foto copy mommy ku " kata Josh.


Laras menghela nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Josh.


"Iya, Aisha putrimu," ucap Laras.


"Kenapa kau tidak katakan Laras ," ujar Josh.


"Katakan ? kepada siapa harus aku katakan, kau pergi dan tidak pernah kembali lagi !" seru Laras.


"Aku kembali Laras, aku kembali !" seru Josh


Bersambung..


Apakah terbuka pintu maaf untuk Josh dari Laras ?