Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 256 Cemburu


**Jangan lupa untuk selalu menekan tombol like kakak-kakak, terima kasih atas dukungannya.


Happy reading guys ❤️**.


**


Dama mencari Vely didalam kamar, dia mendengar ada suara dari dalam kamar mandi.


Tok tok


Dama memanggil Vely sembari mengetuk pintu kamar mandi.


"Vely !" panggilan suara Dama, membuat Vely yang berada didalam kamar mandi membuka pintu kamar mandi.


"Kakak sudah pulang?" tanya Vely dengan ekspresi biasa saja, dia tidak tahu. Dapur telah menjadi korban kecerobohannya, dan mungkin jika tidak ketahuan. Akan menyebabkan kebakaran satu bangunan, mungkin seluruh bangunan yang berada didekatnya.


"Vely tidak apa-apa?" kedua tangan Dama memegang pundak Vely, dan melihat dari atas sampai ujung kaki badan Vely. Apakah ada yang cedera, atau luka.


"Tidak apa-apa kak, hanya kena cipratan minyak goreng" kata Vely.


"Heh! kenapa kakak tahu Vely kena cipratan minyak goreng?" tanya Vely.


"Waduh... gawat!" teriak Vely.


Tiba-tiba, Vely tersadar. Telah melupakan apa yang dilakukannya didapur tadi.


"Aduh..! ayam goreng ku !" secepatnya Vely ingin berlari dari dalam kamar menuju dapur, tetapi cekalan tangan Dama menghentikan langkah kakinya.


"Kak Dama! Vely lagi goreng tadi" Vely ingin melepaskan pegangan tangan Dama ke tangannya, setelah terlepas.


Vely berlari secepatnya menuju dapur, sampai didapur hanya tersisa bau gosong.


"Ayamku !" Vely menatap wajan dengan tatapan mata nelangsa, ayam gorengnya sudah gosong.


Vely mengangkat ayam goreng yang sudah berwarna coklat kehitaman dari wajan, dan meletakkannya diatas piring.


Dama hanya bisa menatap Vely yang sedang menatap piring berisi ayam goreng yang tidak bisa dikatakan berwarna apa, apa coklat atau kehitaman.


"Kak Dalove, ayam Vely hitam." terlihat kesedihan di wajah Vely.


Dama tidak tega mengeluarkan omelannya, melihat kesedihan diraut wajah Vely.


"Luarnya saja gosong, dalamnya mungkin masih layak konsumsi" Dama mengambil ayam tersebut, dan mengoyak ayam tersebut menjadi dua dengan bersusah payah. Karena ayam tersebut sangat keras, begitu terkoyak menjadi dua. Didalam ayam goreng itu berwarna coklat gelap.


Dama mengambil secuil dan memasukkan kedalam mulutnya.


"Kak, itu sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Buang saja ” kata Vely.


"Masih enak, walaupun agak keras. Tapi tidak seperti rasa daging ayam lagi." ujar Dama setelah selesai merasakan ayam goreng hasil masakan Vely .


"Ternyata, memasak itu pekerjaan yang menyulitkan juga. Vely kira, tinggal hidupkan kompor. Naikkan wajan dan masukkan ayam kedalam minyak. Lalu selesai" kata Vely.


"Sebenarnya tidak begitu sulit, tapi jangan kita tinggalkan jika kita sedang masak . Walaupun mau kita tinggal, matikan kompornya. Bisa juga kecilkan" kata Dama.


"Vely sungguh bodo, hanya goreng ayam. Itu juga tidak lulus, jika mommy tahu. Pasti Vely di beri ceramah" Vely duduk dan mengamati ayam goreng yang berada dihadapannya.


"Sudahlah, baru sekali mencoba. Semua itu butuh proses, yang kedua nanti pasti makin mahir" ucap Dama.


"Laparkan? ayo kita ke cafe saja "


"Ini bagaimana?" Vely menunjuk dapur yang berantakan, hasil perbuatannya.


"Nanti kita bersihkan, sekarang kita isi perut dulu" Dama membawa Vely menuju cafe.


***


Berbeda dengan Vely, Mada hari ini tidak kuliah. Mada yang kuliah tata boga, sudah bisa masak. Walaupun tidak semahir Dama dan David dalam memasak.


Hari ini dia berkutat didapur, dibantu oleh Neneng. Walaupun Neneng hanya membantu memotong sayuran yang mau di masak oleh Vely.


"Neng, kenapa semua menu serba tempe?" tanya Neneng.


"Ini menu sehat mbak, lihatlah. Ada oseng-oseng tempe, bacem tempe" kata Mada dengan bangga, melihat hasil masakannya.


"Neng, kuliah masak ini?" tanya Neneng.


"Iya, kang Mamat. Coba masakan Mada, apa ada yang kurang" titahnya kepada Mamat yang masuk kedapur.


"Yang mana Neng?" tanya Mamat.


"Semua, mau Mada bawa kekantor untuk kak Keane" kata Mada.


Mamat mencoba semua masakan hasil olahan tangan Mada.


"Mantap Neng!" Mamat mengacungkan kedua jempolnya.


"Betulkah?" tidak yakin Mada dengan hasil masakannya.


"Betul Neng, sudah bisa buka restoran. Untuk menyaingi Den Dama" kata Neneng.


"Mbak Neneng, ada-ada saja" ujar Mada.


"Mbak, tolong masukkan kedalam wadah ya. Mada mau bersiap dulu "


Skip..


Sampai di perusahaan, Mada langsung naik keatas. Karena para karyawan sudah tahu, bahwa dia istri dari pemilik perusahaan. Sehingga dia tidak perlu melaporkan kedatangannya terlebih dahulu.


"Selamat siang nyonya." sapa Jack sembari membungkukkan badannya sedikit.


Mada kaget, sontak melihat kearah belakang.


"Tidak ada orang" gumamnya.


"Siapa Nyonya?" tanya Mada kepada Mada.


Jack menunjuk jemarinya kearah Mada.


"Me?"


"Iya, apa ada nyonya Keane yang lain" ujar Jack.


"Hahaha! kak Jack, jangan panggil nyonya, Mada seperti berusia lima puluh tahun. Mada masih muda! no nyonya, cukup panggil Mada saja." titahnya kepada Jack.


"Baiklah, Mada. Silakan masuk, Keane sudah lapar itu" ujar Jack seraya membukakan pintu untuknya.


"Terima kasih kak" Mada masuk, Keane masih fokus menatap layar monitor laptopnya. Dia tidak menyadari kedatangan Mada.


"Heemm!" dehem Mada.


Keane mengangkat pandangan matanya, dari layar laptop kearah suara dehem Mada.


"Sudah datang?" Keane mematikan laptopnya, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Mada . Mengambil tas berisi makanan yang ditentengnya.


"Sibuk kak ?"


"Biasa, sudah mau akhir tahun. Ada proyek yang harus sudah selesai, karena ada kendala. Terpaksa undur penyelesaiannya" cerita Keane.


Mada membuka kotak makanan yang dibawanya.


Keane menelan salivanya, saat melihat menu yang dibawa Mada.


"Ini serba tempe?"


"Iya, biar sehat" sahut Mada.


"Ini oseng-oseng tempe, ini tempe bacem. Ini goreng telur ala Thailand, isinya ada tempe dan sea food" ujar Mada.


"Tempe semua?" batin Keane.


"Tidak ada yang lain?" tanya Keane.


Keane merasa kenyang seketika, saat melihat makanan yang dibawa Mada. Bahan dasarnya tempe semua.


"Oh..ada, ini ada sop sum-sum" Mada membuka termos, dan menuangkan sop kedalam mangkuk yang dibawanya dari rumah.


"Ada juga yang tidak dari tempe." gumam Keane .


"Ada apa kak?" Mada mendengar sayup-sayup gumanan Keane .


"Tidak apa-apa, kakak surprise melihat masakan Mada. Ini semua hasil dari kuliah ya?"


"Tidak kak, kuliah masa belajar masak tempe"


"Ini" Mada menyerahkan sepiring nasi lengkap dengan lauk serba tempe.


Keane melahap nasi dan lauk serba tempe, tidak ada protes dari dalam bibirnya. Dia tahu, niat Mada baik. Walaupun sudah kenyang dulu, Keane berusaha untuk menghabiskan makannya.


***


Jessie mondar-mandir didalam kamar, sejak makan malam tadi. Jessie langsung masuk kedalam kamar.


"Sudah jam sembilan, kemana Pak dokter ini. Pasti pergi dengan Donita, pasti mereka lagi bernostalgia" gerutunya.


"Telepon tidak ya, kalau aku telepon. Nanti dikiranya aku cemburu, seharusnya Pak dokter kasih kabar."


Jessie berjalan menuju balkon kamarnya, dan menatap kearah jalan yang sepi.


Jessie melihat mobil Jeep yang dikendarai Rodrick mendekati pagar depan.


"Pak Dokter!" Jessie bergegas masuk kedalam, dan menutup pintu balkon.


"Tidur saja, heh..aku belum mempersiapkan baju tidur Pak dokter"


Jessie berlari cepat ke walk in closed, mengambil baju untuk Rodrick dan menggantungkannya dikamar mandi. Dengan cepat Jessie loncat keatas tempat tidur, dan berpura-pura tidur.


Pintu kamar terbuka, Rodrick masuk kedalam kamar.


"Pura-pura tidur, baru saja berdiri dibalkon." batin Rodrick.


Rodrick menyimpan tasnya dan langsung masuk kedalam kamar, karena hari ini pekerjaannya sampai menyita tenaganya.


"Untung aku sudah mengisi bathtub dengan air panas, mungkin sekarang tidak panas lagi. Pak Dokter bisa berendam" gumam Jessie.


🌟


🌟


🌟


Bersambung guys ❤️