
Masa lalu biarlah menjadi masa lalu, jangan diungkit-ungkit lagi.
***
Pandangan mata Josh terus menatap wajah Aisha, begitu juga dengan Evelyn. Sehingga membuat Aisha menjadi jengah.
"Josh, ayo. Ada yang mau beri selamat juga ." bisik Adam kepada Josh, yang tertegun lama menatap Aisha.
Setelah sedikit menjauh dari tempat Aisha berada.
"Adam, terus terang lah. Pengantin tadi putri Laras ?" tanya Josh kepada Adam.
Adam tidak menjawabnya, Dia bingung apa yang harus dijawabnya.
"Adela, please !" mohon Josh kepada Adela istri Adam.
"Tidak perlu kami menjawabnya, kau lihat saja dari perawakannya ," ujar Adam.
"Oh my God, why did this happen ?" terlihat wajah sesal di raut wajah Josh.
"Apa seperti yang kita kira ?" tanya Evelyn kepada Josh, karena Dia tidak memahami apa yang dikatakan Adam.
Josh menganggukkan kepalanya, atas pertanyaan istrinya.
"Mom ?" Edward heran melihat Daddy-nya yang terlihat frustasi, dan memandang kearah Aisha yang sedang tertawa bersama dengan teman-temannya.
"Ed, pengantin wanita itu ada saudara perempuan mu ," ucap Evelyn.
"Dia putri Daddy, my sister?" kata Edward.
"Ya," jawab singkat mommynya.
"Aku harus kesana, aku akan mengatakan kepadanya. Bahwa aku ini adalah Daddy-nya ." Josh ingin menghampiri Aisha, tetapi dengan cepat Adam menarik tangan Josh. Agar menghentikan niatnya tersebut.
"Josh, jangan kau lakukan. Laras akan semakin membenci dirimu, kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Laras dahulu ," kata Adam.
"Aku punya putri ? aku punya putri sebesar itu, dan baru aku ketahui saat ini. Daddy seperti apa aku ini, sudah sewajarnya Laras marah begitu besar kepada diriku ini " ujar Josh.
"Dad." Edward menghampiri Daddy-nya.
"Ed, lihat. Itu saudara perempuan mu, kau punya saudara ," ujar Josh, dan terlihat kedua bola matanya sudah tergenang air mata dan sebentar lagi akan meluncur.
"Josh, ayo. jangan disini, lihat orang-orang masih banyak disini. Jangan buat kacau pernikahan Aisha," ujar Adam.
"Ayo Josh, nanti sudah tenang. kita datang lagi ," ujar Adela, mama Dony.
"Ayo Josh, kita pergi." Evelyn juga berusaha untuk membujuk Josh.
Setelah diberikan pengertian, akhirnya Josh mengurungkan niatnya untuk kembali menemui Larasati.
****
Kita lihat dulu Gaby, apa yang dilakukannya.
Gaby tidak berhenti mengirimkan gambar-gambar Aisha kepada Alana, dengan disertai kalimat yang berupa ancaman.
Alana yang menerima pesan tersebut tidak memberitahukan nya kepada Om Richard, atau pun Aisha. Hanya kepada Dony dan Mayang Dia membahasnya.
Akhirnya mereka memutuskan tidak mengatakan pesan-pesan tersebut, mereka akan memberitahu kepada Om Richard Setelah pernikahan selesai.
"Gaby, apa yang kau lihat di ponselmu itu. Apa ada yang menarik ?" tanya Mark.
"Sangat menarik, hiburan. Kalau aku sudah merasa jenuh. Aku sangat suka melihat orang ini sengsara," ujar Gaby sembari tertawa senang.
"Dasar orang edan, lihat orang sengsara malah senang. Ingat Gaby, Tuhan itu tidak tidur ," kata Mark.
"Woow.. hahaha ! kau sudah bertobat ." Gaby menertawakan Mark.
"Aku suka keluar malam, tapi tidak pernah mau mencelakai orang," kata Mark.
"Baik pak Ustadz, aku akan bertobat. Tapi bukan saat ini ." Gaby kemudian pergi menuju area bartender dan mengambil minuman yang biasa dikonsumsinya.
"Sungguh disayangkan, cantik-cantik Jahat ." ngedumel Mark.
****
Setelah hari semakin sore, tamu undangan masih banyak berdatangan. Karena kebiasaan dikampung, pesta semakin sore semakin banyak undangan yang datang.
"Capek ?" tanya Richard, setelah dilihatnya. Aisha memijat-mijat betisnya.
"Nanti malam, suami Aisha ini akan memberikan pijatan yang tidak terlupakan," ujar Richard sembari mengedip-ngedipkan matanya, membuat Aisha malu. Dan mengalihkan pandangannya dengan cepat.
Richard tertawa melihat Aisha yang malu-malu.
Tawa Richard terhenti, saat dilihatnya David dan Dony datang menghampiri Dirinya dan Aisha.
"Om, Aisha. kami pamit ya ," kata Dony.
"Iya, apa Alana ikut bersama kalian ?" tanya Richard.
"Tidak Om, Alana bersama Om dan Tante nanti ," kata Dony.
"Aish, aku pulang ya. Aish, jika nanti kau bosan dengan pak tua ini. Pelukan ku ini masih terbuka lebar ," ujar David dengan merentangkan kedua tangannya, seperti ingin memeluk Aisha.
"Kau ! bocah tengil ." pelototan mata Richard tidak membuat David gentar, Dia menampilkan senyum lebar dibibirnya.
Aisha dan Dony tertawa, mereka tahu bahwa David hanya ingin membuat Richard meradang.
"Kau, bocah tengil. Cari wanita lain, jangan yang sudah ada yang punya kau kejar-kejar !" seru Richard, seraya mengarahkan telunjuknya ke arah David.
"Om, yang sudah ada stempel itu yang paling menarik ." balas David, dengan menampilkan senyum jahil dibibirnya.
"Sudah sana kau pulang, makin lama disini. Makin pusing aku melihat mu ," ujar Richard.
"Ok Om, Aish. Ingat aku akan menunggumu." selesai berkata David langsung ngacir, begitu melihat Richard ingin mengejarnya.
***
Ada pertemuan dan ada juga perpisahan, Aisha menangis. Begitu akan berangkat meninggalkan ibunya dikampung. Karena selama ini Dia tidak pernah berpisah dengan ibunya.
"Aish, baik-baik dirumah suamimu ya. Ingat Aisha, kau harus nurut dengan suami. Jangan membantah suami, Kalau mau pergi harus seizin suami ya ." nasihat nenek kepada Aisha.
"Iya nek ," jawab Aisha, dan matanya sudah mengalir air mata.
"Bu !" Aisha memeluk ibunya dengan erat, Dia tidak ingin berpisah dengan ibunya.
"Ais, jangan nangis nak. Kota dan sini tidak jauh, ibu bisa datang dan Aish jika libur kuliah bisa pulang kesini ." ibunya menenangkan Aisha yang berat berpisah dengan dirinya.
"Oh.. ada yang ingin ibu kasih Aish," Larasati setengah berlari masuk kedalam kamarnya.
Richard yang melihat Aisha menangis, datang menghampirinya dan merengkuhnya kedalam pelukannya.
"Aish, nanti kita bawa ibu tinggal dengan kita ." bisik Richard ketelinga Aisha.
Bisikan Richard membuat Aisha senang dan memandang Richard dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa terimakasih.
"Nanti kita bujuk ibu, tapi tidak sekarang. Sekarang ini, pasti ibu tidak akan mau ," kata Richard.
Ibunya kembali dan memberikan buku tabungan kepada Aisha.
"Apa ini Bu ?" tanya Aisha.
"Ini hasil penjualan rumah kita di kota, ibu tabung atas nama Ais. Ibu pikir untuk biaya kuliah Aish," kata ibunya.
"Bu, sekarang ini. Aisha sudah menjadi istri saya, biaya kuliah dan semua mengenai kehidupan Aisha sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai Suami ," kata Richard.
"Bu, Aish kembali kepada ibu ya. Uang ini punya ibu ," kata Aisha juga.
"Tapi Aish ," ujar ibunya.
"Ibu simpan ya ." Aisha memberikan buku tabungan tersebut ketangan ibunya kembali.
"Baiklah, ibu akan simpan," ujar Larasati dengan terpaksa.
"Aish, walaupun Aisha sudah menikah. Kalau ada masalah apapun juga beritahu mas Wisnu ya ," kata Wisnu.
"Ya mas, mas tolong jagakan ibu ya ," kata Aisha sembari memeluknya.
"Ibu juga ibu ku Aish, mas akan jaga ibu dan nenek. Jangan khawatir, mas Richard. Tolong jaga Aisha ya ," kata Wisnu kepada Richard.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga dan menyayanginya," ujar Richard.
*****
Bersambung dulu guys..