
Tetap semangat dan selalu jaga kesehatan keluarga.
Happy reading guys ❤️**
***
Pembicaraan dengan David, Dony sore tadi. Membuat malamnya, Richard tidak bisa memejamkan matanya. Badannya miring kiri dan kanan, membuat Aisha yang sudah mulai tertidur menjadi bangun.
"Mas say...!" Aisha duduk dan melirik Richard yang telentang.
"Ada apa ?" tanya Richard.
"Aish yang mau tanya? ada apa?" tanya Aisha.
"Ada apa ?" bingung Richard dengan pertanyaan Aisha.
"Apa yang ada dalam pikiran mas say ? kenapa bolak-balik. Tidak tidur?" tanya Aisha.
Richard bangkit dan duduk disamping ranjang, dan menceritakan apa yang mereka bahas sore tadi bersama dengan David dan Dony.
Aisha tertawa, tidak menyangka. Richard sudah memikirkan tentang pernikahan Vely, yang sekarang masih berusia 16 tahun.
"Mas, Vely. Putri kita itu masih kecil mas, untuk menikah masih jauh. Tamat sekolah saja belum ," kata Aisha, dan memberikan tepukan dilengan Richard.
"Aish, coba kau tanyakan pada Vely. Apakah ada pria yang disukainya disekolah ?" tanya Richard.
"Pria ? sepertinya tidak ada. Vely menceritakan semua apa yang dialaminya disekolah ," jawab Aisha.
"Mungkin saja, mengenai anak laki-laki yang disukainya.Tidak diceritakannya," kata Richard.
"Sudahlah Mas, tidak usah dipikirin dulu. Sekarang kita tidur dulu, besok Aish akan kerumah sakit lagi ," kata Aisha.
"Mas agak siangan kerumah sakit, bagaimana Papa hari ini ?" tanya Richard.
"Sudah tidak muntah lagi ," jawab Aisha.
"Papa juga, sudah tahu perutnya tidak bisa makan yang pedas-pedas. Masih juga dimakan ." Richard merebahkan tubuhnya.
"Sesekali, tidak apa-apa kan Mas ." Aisha ikut merebahkan tubuhnya.
"Tadi kak Chintya kerumah sakit ?" tanya Richard.
"Iya, tapi tidak ketemu ." Aisha memejamkan matanya.
"Mas, tidur ya ," ujar Aisha.
***
Hari yang ditunggu-tunggu Mada akhirnya tiba, hari ini adalah hari kelulusan.
Mada dan teman-temannya bergembira, tiga tahun di SMA terbayar hari ini.
"Akhirnya! kita lulus juga !" Mada merentangkan tangannya ke udara sembari berteriak.
"Mada, kau mau kuliah kemana ?" tanya Alia.
"Aku sepertinya akan kuliah ke negeri Cina ," jawab Mada.
"Cina? orang itu kuliah ke Inggris, atau juga Amerika. Lah..kau kenapa ke Cina? apa kau mau sekolah kung Fu," kata Maureen.
"Kan ada pribahasa, carilah ilmu ke negeri Cina. Kalau ke Inggris atau Amerika, carilah suami ke Amerika!" Mada tertawa ngakak.
Maureen dan Alia juga ikut tertawa.
"Suasana begini yang aku rindukan," kata Maureen.
"Kalau rindu, bagaimana kalau setahun lagi kita di SMA ?" usul Mada kepada kedua temannya tersebut.
"Ah..kau saja Mada, kami malas pakai putih abu-abu ," kata Alia.
"Ayo, temani aku cari brosur untuk kuliah ." Mada menarik tangan kedua temannya.
Di depan sekolah ada pameran pendidikan yang dilakukan oleh university yang ada di Indonesia dan diluar negeri untuk menarik minat anak-anak yang baru saja melepas seragam abu-abunya untuk mendaftarkan untuk masuk ke universitas yang ikut dalam pameran.
Mada mengambil semua brosur untuk dipilihnya, akan melanjutkan kuliahnya kemana dirinya.
"Mada, kalau hanya untuk sekolah masak. Untuk apa kuliah keluar negeri, Papa mu jago masak ," kata Maureen.
"Papaku tukang baso ," ujar Mada.
Kedua temannya tertawa, mendengar Mada mengatakan Papanya hanyalah tukang baso.
"Jangan merendahkan diri Mada, kami tahu. Restoran Papa mu ada di seluruh Mall ," kata Alia.
"Hus.. bukan seluruh, hanya ada beberapa ." tegaskan Mada.
***
Karena sudah libur sekolah, Vely ikut kekantor bersama dengan Daddy-nya.
"Belum tahu Dad, sepertinya seru juga ya. Jika Vely membuat satu rancangan rumah, dan rancangan rumah yang Vely rancang disukai," kata Vely.
Vely duduk di sofa, dan melihat maket yang ada didepannya.
"Mode rumahnya bagus Dad ." puji Vely.
"Minat dengan dengan arsitektur ?" tanya Richard sambil memeriksa file-file yang ada di komputernya.
"Belum tahu, mungkin minat dan bisa juga tidak ," kata Vely.
Tok..tok..
Pintu terbuka dengan kemunculan Tony, melihat keberadaan Vely. Tony menyapa Vely.
"Nona Vely " sapa Tony.
"Om Tony, kan sudah Vely katakan. Jangan panggil Vely dengan Nona, Cukup panggil dengan Vely !" protes Vely.
"Baik Vely," kata Tony.
"Pak, Nona Livi sudah datang," kata Tony kepada Richard.
"Suruh masuk ," kata Richard kepada Tony.
Tony keluar dan masuk kembali, dan dibelakangnya ada seorang gadis yang berpakaian cukup glamor.
"Selamat datang Nona Livi ." Richard bangkit dari duduknya dan beranjak menyambut kedatangan Livi.
Richard mengulurkan tangannya, Livi menyambut uluran tangan Richard. Dan Luvi juga melakukan cipika-cipiki, membuat Richard keget. Tetapi Richard tidak bisa mengelak, karena Livi Main nyosor saja.
"Gawat !" batin Richard, karena Richard takut Vely ngadu ke Aisha.
"Dasar perempuan ganjen, enak saja main nyosor pipinya Daddy.Tidak bisa dibiarkan ini, mau jadi pelakor Tante ini ." batin Vely.
Vely bangkit dari duduknya dan beranjak mendekati Daddy-nya, Vely berdiri tidak jauh dari tempat Richard berdiri.
Dia tidak melakukan tindakan yang membuat Daddy-nya malu, tetapi keberadaannya didekat Richard membuat wanita itu melihat keberadaan Vely.
"Siapa gadis kecil ini Rich ?" tanya Livi dengan suara yang lembut.
"Hoek..! mau muntah, dengar suaranya. Rich..Rich..!" ngedumel batin Vely.
"Lovely Hutama !" Vely maju kedepan Richard dan mengulurkan tangannya untuk memberikan salam kepada Livi.
Livi menyambut uluran tangan Vely, tetapi tiba-tiba Livi berteriak dan melihat telapak tangannya basah dengan lendir.
"Aww....!" Livi melihat kearah telapak tangannya dan jijik melihat lendir yang lengket.
"Apa ini ?" Livi mengibaskan tangannya dengan perasaan yang jijik.
"Ada apa ?" tanya Richard.
"Ada apa Nona Livi?" tanya Tony.
"Lendir, anak ini sungguh nakal!" teriak Livi dan terlihat marah menatap Vely yang menampilkan barisan gigi putihnya.
"Vely ?" Richard menatap wajah Vely.
"Vely tidak melakukan apapun Daddy, serius!" Vely menunjukkan wajah dan mata puppy eyes kepada Richard.
"Bohong Rich, pasti anak nakal ini yang melakukannya." Livi mengeluarkan tisu, untuk membersihkan tangannya.
"Bukan salah Vely Daddy, hidung Vely tidak berhenti mengeluarkan ingus." Vely berpura-pura ingusan dan menutup hidungnya dengan sapu tangan.
"Apa ! ini ingus ?" Livi makin jijik melihat tangannya.
"Iya, maaf ya Tante. Ingus Vely, tidak bisa bekerja sama. Ingusnya mau keluar terus, lihatlah ! sapu tangan Vely juga sudah basah ." Vely mendekatkan sapu tangan yang ada ditangannya, kedepan wajah Livi.
"Gila..! anak ini benar-benar sangat nakal !" seru Livi, dan mundur menjauhkan dirinya dari sapu tangan yang dikibas-kibaskan Vely didepan wajahnya.
"Vely, minta maaf ." titah Richard kepada Vely.
"Tidak! Vely tidak bersalah, yang bersalah itu ingus Vely. Biar ingus ini yang minta maaf sama Tante. Boleh ?" Vely tidak mau menuruti apa yang diperintahkan oleh Richard.
"Permisi, kita undurkan kerja sama kita ." Livi kemudian keluar dari dalam ruangan kerjanya Richard.
Sepeninggal Livi, Richard menatap wajah Vely. Untuk menunggu pembelaan apa yang akan dikatakan oleh Vely.
*
*
*
*
🌟 Bersambung 🌟