Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 265 Hamil berjamaah


Terima kasih atas dukungannya, sehingga cerita ini sampai bab beratus. Sebenarnya cerita ini, awalnya hanya sampai tiga sahabat melahirkan. Sudah itu ending dah.


Terima kasih semua reader 😘


Happy reading guys ❤️.


❤️❤️❤️


Kenway duduk didekat Vania, tangannya merengkuh bahu sang istri.


"Jangan sedih" bisik Kenway.


"Nggak koq kak" sahut Vania.


"Kita masih punya baby Julio" tunjuk Kenway pada baby Julio yang duduk anteng dengan cemilan ditangannya, diatas pangkuan Richard.


Karena baby Julio sekarang ini sudah tinggal bersama dengan Kenway dan Vania dikediaman keluarga Richard.


Vania ingin bangkit dari duduknya, tapi di cegah oleh Kenway.


"Mau kemana?" tanya Kenway.


"Ambil Julio, nggak enak sama Daddy. Julio membuat Daddy repot" kata Vania.


"Nggak apa-apa, lihatlah. Daddy juga santai memangku Julio" kata Kenway.


Dari tempat mereka duduk, mereka mendengar celotehan baby Julio yang belum pas sekali kalimat yang keluar dari dalam mulutnya.


"De pa, emam" baby Julio memasukkan cemilan yang dipegangnya kedalam mulut Richard, sehingga Richard yang sedang berbicara dengan David langsung menerima cemilan yang dimasukkan Julio kedalam mulutnya.


"Hahaha.." tawa David dan Dony melihat mulut Richard penuh dengan cemilan, karena baby Julio terus menerus menyodorkan cemilan kedalam mulut Richard.


"Lio, Daddy Opa mu itu sudah kenyang. Lihatlah, perut dan pipinya sudah kembung begitu" kata David.


Baby Julio memanggil Richard dengan panggilan Daddy Opa, karena mendengar orang-orang dirumah memanggil Richard dengan Daddy. Sehingga dia juga mengikuti apa yang dia dengar sehari-hari.


"Om, baby Julio dekat dengan Om ya" kata Alana.


"Mungkin karena Om ganteng" narsis Richard keluar.


"Aku lebih ganteng mas besan, masih muda lagi" David tidak mau kalah membanggakan diri sendiri.


"Anak kecil itu tahu, mana yang baik dan pura-pura baik " kata Richard.


"Maksud mas besan itu, aku pura-pura baik ?" tanya David.


"Sudah! malah ribut, lihat tuh..baby Julio. Heran dia melihat aki-aki ribut" Aisha menengahi dua besan yang setiap bertemu ribut, tidak ketemu saling mencari.


"Kami tidak ribut, cuma melepas rasa kangen. Sudah dua hari kami tidak bertemu" kata David.


"Dua hari? seminggu" ucap Richard.


"Kau denganku tidak rindu?" tanya Dony pada David.


"Kau itu terlalu pendiam, tidak ada yang bisa dirindukan dari dirimu " kata David.


"Sial kau, aku temanmu dari seragam abu-abu ya" kata Dony.


"Dony, jaga bicaramu. Tidak lihat ada burung beo itu" tunjuk David pada baby Julio, yang dengan mata kecil menatap wajah David dan Dony secara bergantian.


"Baby, jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh kedua Opa itu ya" kata Richard.


Baby Julio mendongak menatap wajah Richard, dan tertawa.


Hampir lima belas menit, ketiga pasangan berada didalam kamar masing-masing.


Vely yang sibuk membaca cara menggunakan tespeck didalam kamar mandi, sehingga ketukan dipintu kamar mandi menyadarkannya.


"Iya kak, Vely bingung" suara Vely dari dalam kamar mandi.


"Kakak masuk ya Love" ucap Dama.


"Tidak usah, sebentar lagi ini selesai kak" sahut Vely yang sedang menunggu hasil tespeck.


Tok.. tok..


"Kakak mau lihat juga" ucap Dama dibarengi dengan suara ketukan dipintu kamar mandi.


Ceklek..


Pintu terbuka, Dama masuk kedalam kamar mandi.


"Mana?" tanya Dama.


"Tuh.." bibir Vely menunjuk kearah tespeck.


Keduanya melihat kearah gelas yang berisi air seni, dengan tidak berkedip Dama dan Vely menatap tespeck.



"Love, kalau hamil berapa garis?" tanya Dama.


"Ntar dulu, baca dulu" Vely membaca petunjuk.


"Dua garis, itu berapa garis ?" tanya Vely.


"Habis aku dibunuh oleh Daddy, Love" ucap Dama dalam lirih, setelah melihat dua garis di tespeck.


"Kenapa dibunuh? apa Daddy mau buat anaknya ini jadi janda diusia baru mau 18 tahun?"


"Daddy belum izinkan Love hamil" kata Dama.


"Ini sudah hamil, terus anaknya mau diapakan?"


"Jangan khawatir, kakak akan menanggung semua kemarahan Daddy" kata Dama sembari memegang kedua bahu Vely.


Didalam kamar Keane juga tidak berbeda jauh, Keane menggedor-gedor pintu kamar mandi. Agar dia bisa ikut masuk kedalam kamar mandi.


"Bagaimana, apa hasilnya?" begitu pintu kamar mandi terbuka.


"Mada takut, Mada belum berani lihat. Tuh.." jemarinya menunjuk kearah wastafel.


Keane melihat gelas kecil yang berisi Ais seni dan tespeck.



Keane menarik keluar tespeck dari dalam gelas.


"Kalau hamil apa yang terjadi pada tespeck ini?" tanya Keane .


"Ada dua garis kak" kata Mada.


"Ini satu apa dua? sepertinya satu" kata Keane .


"Satu kak ? betul satu ?" antusias Mada bertanya kepada Keane.


"Iya satu " kata keane.


"Aku tidak hamil kak " kata Mada.


"Tidak" lesu Keane, yang mengharapkan Mada hamil.


"Kenapa kak?" tanya Mada, melihat Keane lesu.


"Apa kau tidak ingin punya baby ?" tanya Keane .


"Bukan tidak ingin kak? Mada merasa belum siap saja mendapatkan anugerah untuk menjaga baby. Mada takut, apa mampu" ucap Mada.


"Baiklah, ayo kita keluar" kata Keane.


"Apa ini kita bawa" Mada mengambil tespeck tersebut.


"Bawa saja, sebagai bukti. Bahwa Mada tidak hamil.


"Sudah cepat" titah Rodrick pada Jessie yang masih sibuk membaca cara kerja tespeck.


"Sabar mas Rosay, Jessie tidak pernah memakai ini. Baca dulu petunjuknya" kata Jessie.


"Tidak usah baca-baca, isi dengan air seni ini" Rodrick memberikan gelas plastik kemasan kepada Jessie.


"Air seni siapa?" tanya Jessie.


"Air seni mu Jessie, bukan air seni ku..!" seru Rodrick.


"Oh.."


"Jangan lihat, balik badan" Jessie memutar badan Rodrick untuk tidak melihat kearahnya. Saat dia menampung air seninya.


"Tidak usah malu, aku sudah lihat semua. Dibawah pusar ada tahi lalat, dibawah tahi lalat ada lobang kenikmatan" ucap Rodrick sambil tertawa kecil.


"Mesum! diam, kalau nggak diam. Ini gelas plastik akan melayang kearah Pak dokter!" ancam Jessie.


"Ya sudah diam, sudah " Rodrick membalikkan badannya.


"Mana ?"


Jessie menyerahkan gelas plastik kemasan isi air seninya.


Rodrick mengambil tespeck dan memasukkan kedalam gelas berisi air seni tersebut.


"Ayo...ayo... baby, garis dua. Ayolah garis dua, please.." Rodrick menangkupkan kedua telapak tangannya.


Jessie tidak berani melihatnya, dia juga sangat mengharapkan dia akan hamil. Karena setiap menjenguk Mamanya, Mamanya selalu ingin melihat cucu dari anak satu-satunya tersebut. Sebelum ajal menjemput.


"Yeaah!" teriak Rodrick, membuat Jessie kaget dan mengelus dadanya.


"Ada apa? apa apa?"


"Jessie..! Jesay! dalam sini ada benihku " kata Rodrick sambil mengelus perut Jessie.


"Betul? apa Jessie hamil?" tidak percaya Jessie.


"Lihatlah dua garis, walaupun satu garis masih samar-samar" kata Rodrick.



Akhirnya ketiganya keluar dari dalam kamar masing-masing, hanya wajah Rodrick yang cerah.


"Bagaimana ?" tanya Aisha, begitu melihat ketiga pasangan keluar.


"Bagaimana? bagaimana ?" David antusias sekali.


Dama hanya menunduk, dia tidak berani menatap wajah Richard.


"Rodrick hebat !" seru Rodrick sembari memberikan tespeck kepada Aisha.


"Apa ? Jessie hamil ?" tanya Alana.


Jessie menganggukkan kepalanya.


"Selamat" Aisha memeluk Jessie.


"Selamat sayang, jaga kandungannya. Jangan lakukan hal yang aneh-aneh" ucap Mayang.


"Kau Drick, jangan nyeleneh lagi kelakuanmu" kata Aisha.


Rodrick hanya menampilkan senyum kecil dibibirnya.


"Kalian?" tanya Mayang pada Mada dan Vely.


"Ini punya Vely" Vely memberikan tespeck kepada Aisha.


Sedangkan Dama berada dibelakang tubuh Keane, takut dia melihat wajah Richard.


Aisha, Mayang dan Alana melihat tespeck yang diberikan oleh Vely.


"Sayang, kau hamil !" ketiganya memeluk Vely secara bersamaan.


"Hamil? Vely hamil! hahaha!" tawa lebar keluar dari mulut David.


"Vely akan mati, sebelum anak ini lahir " ujar Vely sembari berusaha melepaskan diri.


"Maaf !" ketiganya mengurai pelukannya.


"Mas besan, anakku hebat." David menarik Dama dari belakang tubuh Keane.


"Boy, selamat ya" pelukan diberikan David kepada Dama.


"Selamat Dam" kata Dony.


Kenway mengambil Julio dari dalam gendongan Richard.


Richard beranjak mendekati Dama, suasana hening seketika.


Semua menunggu apa yang akan dilakukan Richard kepada Dama.


Setelah dekat, Richard menatap Dama dengan intens.


"Akhir hidup ku" batin Dama.


Richard mengulurkan tangannya, Dama merasa tubuhnya ingin luruh kelantai.


Tangan Richard menepuk pundak Dama dan berkata.


"Jaga Vely" ucap Richard disertai dengan tepukan dipundaknya.


"Daddy tidak marah?" tanya Dama dengan perasaan yang ketar-ketir.


"Pemberian Tuhan, tidak mungkin kita marah" kata Richard.


"Terima kasih Dad" kata Dama senang.


"Kau boy bagaimana?" tanya Richard kepada Keane.


Keane menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, kalian masih muda" kata David.


"Mana tespeck nya?" tanya Mayang.


Mada memberikan kepada Mamanya.


Mayang, Aisha dan Alana melihat tespeck Mada.


Ketiga saling bertukar pandangan.


"Mada tidak hamil?" tanya Mayang.


Mada dan Keane menganggukkan kepalanya.


"Ini dua garis punya siapa?" kata Aisha.


"Dua garis?" Keane dan Mada mendekati Aisha, dan melihat tespeck yang tadinya satu garis. Sekarang berubah menjadi dua garis.


"Mada hamil!" seru Keane dengan gembira.


Akhirnya drama hamil mama muda berakhir.


🌟Bersambung...🌟


Jangan lupa untuk selalu menekan like


Like


Like