
Cerita hasil halu, apa yang dialami dalam cerita ini. Tidak bisa dipungkiri, sering dialami orang tua yang mempunyai anak yang masih labil. Yang ngeyel diberitahukan agar menjaga diri, rambut sama hitam. Tapi otak tidak sama.
Bukan niat author untuk memberikan rasa resah dengan adanya cerita ini, lebih baik kita sedikit mengekang. Daripada menyesal dibelakang hari.
Happy reading ❤️.
***
Brankar membawa tubuh David menyusuri lorong rumah sakit, Mayang terus menangis mengikuti brankar yang membawa David.
"Yang, tenanglah. David tidak apa-apa," ujar Aisha.
Sedangkan Keane menenangkan Mada, yang terjatuh di pintu ruangan tempat dia tadi diperiksa. Kakinya tiba-tiba terasa tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.
Keane menaikkan Mada ke kursi roda, Keane memberikan pelukan.
"Hus..! sudah jangan nangis, Om David tidak akan apa-apa. Om David kuat ," ujar Keane seraya mengusap-usap pucuk kepala Mada.
Vely datang menghampiri Mada dengan setengah berlari, dia pergi ke Mall yang ada disebelah rumah sakit. Untuk membelikan Mada baju, atas permintaan Keane tadi.
"Ini bajunya kak," kata Vely.
"Antarkan Mada untuk berganti pakaian." Keane mengambil baju yang dibelikan Vely untuknya, dia sudah merasa tidak nyaman hanya mengunakan dalaman berwarna putih.
"Belum dicuci bajunya kak." ingatkan Vely, bahwa baju yang baru dibelinya masih kotor.
"Biarlah, daripada pakaian ku begini terus ." Keane mengedikkan bahu, tanda tidak perduli. Bahwa baju tersebut mungkin ada kuman.
Vely mengambil alih kursi roda dari tangan suster.
"Biar saya saja suster," kata Vely.
"Kalau mau ganti baju, keruangan itu saja Nona. Kalau kamar mandi mungkin tidak nyaman," kata suster dan menunjuk satu ruangan.
"Terima kasih suster " kata Vely.
"Kakak ke toilet dulu, selesai ganti baju. Kalian berdua langsung ke IGD." titah Keane kepada Vely.
Mada, hanya berdiam diri. Dia hanya menunduk
Vely mendorong kursi roda menuju ruangan yang ditunjukkan oleh suster.
Setelah Vely dan Mada masuk kedalam, baru Keane beranjak menuju toilet untuk memakai baju yang dibelikan oleh Vely.
Didepan IGD, semua menunggu dengan perasaan yang cemas. Mayang masih terisak dalam pelukan Aisha.
"Maa, Papa tidak akan kena apa-apa." Dama jongkok didepan Mamanya yang duduk, menunggu kabar dari dalam ruang IGD.
Pintu IGD terbuka, dua orang dokter keluar dan satu suster.
"Bagaimana dengan suami saya dokter?" Mayang langsung bangkit dari duduknya, begitu dokter keluar dari dalam IGD.
"Keluarga pasien Bapak David Alamsyah ," ujar suster.
"Iya suster, saya istrinya," sahut Mayang.
"Bagaimana keadaan Papa saya ?" tanya Dama.
Terlihat wajah cemas, Richard. Aisha dan juga Dama. Mayang tidak bisa dikatakan lagi, wajahnya sudah kusut. Air matanya terus mengalir.
"Bapak David terkena serangan jantung, kita harus ambil tindakan dengan melakukan operasi secepatnya. Terjadi penyumbatan pembuluh darah, sehingga aliran darah dari jantung tidak stabil." beritahu dokter.
"Serangan jantung!?" Mayang kaget, kedua jemarinya menutup mulutnya.
"Suami saya masih muda dokter, 47 tahun," kata Mayang.
"Serangan jantung tidak memandang usia Bu, sekarang ini. Usia muda yang sering mengalami penyakit ini. Ada pasien saya, 35 tahun kena serangan jantung. Gaya hidup, membuat ini dialami oleh orang yang lebih muda," kata Dokter.
"Benar-benar serangan jantung dokter?" tanya Richard, belum yakin dengan apa yang didengarnya tadi.
"Benar Pak, sebenarnya. Bapak David ini, sudah dua bulan ini menjadi pasien saya. Dia datang dengan keluhan sering merasa nyeri di area dadanya, sudah saya sarankan untuk mengurangi aktivitas dan kontrol asupan makanan yang masuk kedalam badan ." apa yang dikatakan oleh Dokter, membuat Mayang teringat. Bahwa David sering mengeluh sesak dan nyeri didadanya.
"Apa yang harus dilakukan dokter?" tanya Dama.
"kita harus lakukan operasi pemasangan stent, agar aliran darah kembali normal," kata dokter.
"Apa stent harus dipasang dokter? apa tidak ada alternatif lain?" tanya Richard.
"Tidak ada Pak, sudah saya sarankan dua bulan yang lalu. Tapi bapak David mengatakan ingin berpikir dahulu." beritahu dokter.
"Pemasangan stent dilakukan, bertujuan untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit atau tersumbat pada bagian jantung," kata Dokter.
"Lakukan dokter, saya serahkan keselamatan suami saya kepada dokter. Lakukan yang terbaik," kata Mayang.
"kami akan melakukan yang terbaik Bu, serahkan semua pada Tuhan. Tangan Kami hanya perantara," ucap dokter.
Kedua dokter dan suster kembali masuk kedalam ruangan.
Kemudian seorang suster keluar.
"Saya suster," ucap Mayang cepat.
"Mayang, jangan nangis. Nanti David khawatir melihatmu menangis ," kata Aisha.
Aisha menghapus bekas air mata di pipi Mayang.
Mayang menganggukkan kepalanya.
Mayang masuk kedalam bersama dengan Richard.
Suster membawanya masuk kedalam ruangan, dan terlihat David tidak memakai baju. Di atas dadanya terlihat alat elektroda menempel didada David, untuk memantau gelombang denyut jantung. Tekanan darah, oksigen yang diserap tubuh dan juga frekuensi nafas. Alat itu tersambung ke layar monitor yang berada di atas kepala David.
"mas David !" panggil Mayang.
"May, jangan nangis." ingatkan Richard.
David membuka matanya, dan melihat kearah Mayang dan Richard.
"Yang, aku tidak apa-apa. Aku kuat, aku masih ingin hidup." suara David pelan.
"Mas, harus kuat. Aku nggak mau sendiri mengurus anak-anak kita."
"Aku hebat kan mas besan, lihatlah. Dadaku dipenuhi dengan wayar." David berusaha untuk melucu.
"Tidak hebat, lebih hebat jika kau keluar dari dalam sini. Ingat dua Minggu lagi kita akan menikahkan anak-anak kita ," kata Richard.
"Mas besan, aku akan operasi nanti malam. Aku tidak tahu, apa besok aku masih bisa bernapas. Andai aku..."
"Cukup mas David !" Mayang memotong ucapan David.
"Yang, mas hanya berandai-andai saja. Itu tidak akan terjadi," kata David.
"Apa yang ingin kau katakan," kata Richard.
"Aku ingin Dama dan Vely menikah sebelum aku operasi, dan apakah Keane mau menikahi Mada. Setelah apa yang dialaminya?"
"Mas !" sontak Mayang kaget mendengar permintaan David.
"Yang, kita tidak tahu hari esok. Tapi aku ingin melihat anak-anak kita menikah. Mas besan tolong, penuhi keinginanku ini." pinta David.
"Tenanglah David, kau tidak akan apa-apa. Operasi pemasangan stent itu, operasi yang sudah sering dilakukan oleh pasien sakit jantung. Jika kau ingin memajukan pernikahan anak-anak kita, tidak apa-apa. Aku akan mengurus semuanya," kata Richard.
"Terima kasih mas besan, resepsi nanti. Aku pasti sudah sehat," ucap David.
"Aku keluar dulu, untuk mengurus surat-surat pernikahan anak-anak kita" kata Richard.
"Sudah Yang, jangan merenggut terus. Kecantikanmu jadi pudar ." goda David.
Mayang tidak merespon godaan David.
***
Richard membicarakan apa yang menjadi keinginan David kepada Dama dan Keane.
"Dama tidak masalah Om" sahut Dama.
"Vely, bagaimana?" tanya Aisha kepada putrinya.
"Sekarang dan dua Minggu lagi tidak ada bedanya mommy, Vely akan mengikuti keinginan Om David." Vely juga mengiyakan keinginan David.
"Keane?" Richard menatap putranya.
"Keane juga akan mengabulkan keinginan Om David" sahut Keane.
"Mada?" Aisha menghampiri Mada yang terus menangis.
"Mada, turuti keinginan Papa ya," kata Aisha.
"Iya Tante" jawab Mada dengan suara hampir berbisik.
Akhirnya, jam tujuh malam. Pernikahan dadakan dilakukan didalam ruangan tempat David terbaring.
Mada meminta izin menikah kepada Papanya dengan cucuran air mata yang berlinang dipipinya.
"Mada, setelah ini. Kau harus menuruti Keane ," ucap David, tangannya yang bebas dari infus mengelus rambut putrinya.
*
*
*
*
**Bersambung 😘
Jangan lupa untuk selalu menekan tombol like ya kakak-kakak, biar author semangat ✍️**.